NEWSLETTER

Adu Sentimen Global & Domestik Hari Ini: Dolar Naik, Perang - RUU PFII

Elvan Widyatama, CNBC Indonesia
Selasa, 21/07/2026 06:25 WIB
Foto: Infografis/ Nah Lho! 2 Negara Ini Diramal Kena Krisis Ekonomi di 2024/ Ilham Restu
  • Pasar keuangan RI ditutup beragam, IHSG menguat nyaris 1% sementara rupiah kembali melemah
  • Wall Street ambruk dipicu ketegangan kembali Timur Tengah
  • Pasar hari ini akan mencermati RDG BI, perkembangan RUU PFII, kondisi perbankan RI, hingga ketegangan baru di Timur Tengah.

Jakarta, CNBC Indonesia - Pasar keuangan Indonesia bergerak beragam pada perdagangan awal pekan, Senin (20/7/2026). Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) menguat nyaris 1%, tetapi rupiah kembali melemah terhadap dolar Amerika Serikat (AS), sementara imbal hasil Surat Berharga Negara (SBN) tenor 10 tahun naik.

Pasar keuangan Indonesia diperkirakan masih akan bergerak volatil pada perdagangan hari ini, Selasa (21/7/2026). Selengkapnya mengenai sentimen pasar hari ini bisa dibaca pada halaman 3 artikel ini.

IHSG menguat nyaris 1% pada akhir perdagangan Senin kemarin, yang didorong oleh aksi beli yang terjadi hampir di seluruh sektor. Penguatan terjadi di tengah sikap wait and see pelaku pasar menjelang sejumlah agenda penting bank sentral pekan ini.

Berdasarkan data Bursa Efek Indonesia (BEI) melalui IDX Mobile, IHSG berakhir di level 6.231,78 pada Senin kemarin, melonjak 56,24 poin atau 0,91% dibandingkan penutupan perdagangan sebelumnya.

Penguatan indeks juga diikuti membaiknya market breadth. Tercatat sebanyak 399 saham menguat, 210 saham melemah, sementara 185 saham bergerak stagnan.

Nilai transaksi mencapai Rp17,16 triliun dengan volume perdagangan 35,57 miliar saham dalam 2,39 juta kali transaksi. Investor asing akhirnya mencatat net buy sebesar Rp 93,47 miliar.

Mengutip data Refinitiv, mayoritas sektor perdagangan di bursa menguat. Hanya sektor industri, teknologi, dan utilitas yang terkoreksi.

Sementara itu, sektor barang baku menjadi penopang utama dengan kenaikan 2,76%, disusul sektor energi yang naik 1,86%, serta sektor konsumer primer yang menguat 1,26%.

Dari sisi saham, PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk (BBRI) menjadi penggerak utama IHSG dengan kontribusi kenaikan 7,3 indeks poin.

Selanjutnya, PT Barito Pacific Tbk (BRPT) menyumbang 6,09 indeks poin, disusul PT Telkom Indonesia (Persero) Tbk (TLKM) sebesar 4,61 indeks poin.

Saham BBRI juga tercatat menjadi saham yang paling banyak diborong investor asing pada sesi pertama dengan net buy senilai Rp117 miliar. Saham TLKM juga dibeli asing senilai Rp18 miliar.

Secara keseluruhan investor asing kembali membukukan aksi beli bersih atau net buy sebesar Rp93,47 miliar di pasar saham Indonesia.

Beralih ke pasar valuta asing, rupiah masih belum mampu mempertahankan momentum positifnya terhadap dolar AS pada perdagangan awal pekan ini.

Merujuk data Refinitiv, nilai tukar rupiah ditutup melemah 0,25% ke posisi Rp17.930/US$.

Pada pembukaan perdagangan pagi, rupiah terdepresiasi 0,42% ke level Rp17.960/US$, kemudian sempat melemah lebih dalam hingga menyentuh Rp17.990/US$.

Rupiah perlahan memangkas pelemahannya menjelang penutupan. Pergerakan ini berbanding terbalik dengan perdagangan akhir pekan lalu, Jumat (17/7/2026), ketika rupiah menguat tajam 0,53% ke posisi Rp17.885/US$.

Eskalasi konflik di Timur Tengah kembali meningkatkan kehati-hatian investor, sekaligus mendorong kenaikan harga minyak. Kondisi tersebut membuat permintaan terhadap dolar AS sebagai aset aman masih berada di level tinggi.

Ruang penguatan mata uang negara berkembang, termasuk rupiah, pun menjadi lebih terbatas. Dari sisi kebijakan moneter, pasar masih memperkirakan bank sentral AS (The Federal Reserve/The Fed) akan mempertahankan suku bunga pada pertemuan 29 Juli mendatang.

Berdasarkan CME FedWatch Tool, peluang The Fed menahan suku bunga mencapai 85,6%, meningkat tajam dibandingkan 61,5% pada sebulan lalu.

Namun, arah kebijakan The Fed masih dibayangi perbedaan pandangan di antara para pejabatnya. Presiden The Fed Cleveland Beth Hammack pada Jumat lalu bergabung dengan sejumlah pejabat lain yang menilai suku bunga mungkin perlu dinaikkan untuk meredam tekanan inflasi yang masih tinggi.

Pernyataan tersebut membuka peluang terjadinya perdebatan sengit dalam pertemuan The Fed mendatang, sekaligus kemungkinan munculnya perbedaan suara pada rapat kedua Kevin Warsh sebagai Ketua The Fed.

Dari pasar obligasi, yield SBN tenor 10 tahun melonjak 0,32% ke level 7,290% pada perdagangan kemarin. Kenaikan yield menunjukkan harga SBN sedang turun. Kondisi ini mencerminkan adanya tekanan jual di pasar obligasi, karena imbal hasil dan harga obligasi bergerak berlawanan arah.


(evw/evw) Add as a preferred
source on Google
Pages