MARKET DATA
NEWSLETTER

Bikin Cemas! Deretan 7 Kabar Genting yang Bisa Guncang RI Pekan Ini

Elvan Widyatama,  CNBC Indonesia
20 July 2026 06:23
Seorang Karyawan berdiri di depan logo Bank Indonesia (BI) di Jakarta, Kamis (11/9/2025). (CNBC Indonesia/Muhammad Sabki)
Foto: Seorang Karyawan berdiri di depan logo Bank Indonesia (BI) di Jakarta, Kamis (11/9/2025). (CNBC Indonesia/Muhammad Sabki)

Memasuki perdagangan awal pekan, Senin (20/7/2026), pelaku pasar keuangan Tanah Air akan mencermati sejumlah agenda penting dari dalam dan luar negeri sepanjang pekan ini.

Kebijakan suku bunga bank sentral masih menjadi tema utama. Dari dalam negeri, Bank Indonesia (BI) akan menentukan arah suku bunga setelah sebelumnya melakukan pengetatan agresif. Sementara dari luar negeri, perhatian pasar tertuju pada keputusan suku bunga China, European Central Bank (ECB), serta data ekonomi Jepang.

Ketegangan di Timur Tengah, lonjakan harga energi, dan gangguan rantai pasok juga masih menjadi latar belakang utama yang dapat mempengaruhi arah rupiah, IHSG, SBN, hingga pasar keuangan global.

1. China Loan Prime Rate

People's Bank of China (PBoC) akan mengumumkan Loan Prime Rate atau LPR tenor satu tahun dan lima tahun pada Senin (20/7/2026).

Pasar memperkirakan LPR satu tahun akan dipertahankan di level terendah sepanjang sejarah sebesar 3%. Sementara itu, LPR lima tahun yang menjadi acuan utama untuk suku bunga hipotek juga diproyeksikan bertahan di 3,5%.

Jika sesuai ekspektasi, ini akan menjadi bulan ke-14 bagi PBoC mempertahankan kedua suku bunga tersebut. Keputusan menahan bunga akan menunjukkan bahwa bank sentral China masih berhati-hati menghadapi risiko inflasi energi, pelemahan yuan, dan ketidakpastian akibat konflik Timur Tengah.

Di sisi lain, ekonomi China masih membutuhkan dukungan. Penjualan ritel pada Mei secara mengejutkan mengalami kontraksi untuk pertama kalinya sejak Desember 2022. Harga rumah baru juga terus menurun, menandakan tekanan di sektor properti belum sepenuhnya berakhir.

2.Neraca Perdagangan Jepang Juni 2026

Jepang dijadwalkan merilis data neraca perdagangan Juni 2026 pada Rabu (22/7/2026).

Konsensus pasar memperkirakan Jepang mencatat defisit perdagangan sebesar JPY120 miliar. Angka tersebut jauh lebih baik dibandingkan defisit JPY378,7 miliar pada Mei 2026.

Namun, perkiraan Trading Economics justru menunjukkan defisit dapat melebar hingga JPY700 miliar. Perbedaan proyeksi yang cukup besar ini membuka ruang bagi volatilitas yen dan pasar saham Jepang.

Pada Mei 2026, ekspor Jepang tumbuh 17% secara tahunan, menjadi pertumbuhan tertinggi sejak November 2022. Kinerja tersebut terutama ditopang permintaan global terhadap semikonduktor.

Impor juga meningkat 12,5%, sejalan dengan penguatan permintaan domestik setelah stimulus pemerintah pada akhir 2025.

Neraca perdagangan yang lebih baik dari perkiraan dapat memperkuat yen karena menunjukkan ketahanan sektor eksternal Jepang. Data yang kuat juga dapat meningkatkan ekspektasi bahwa Bank of Japan (BOJ) memiliki ruang lebih besar untuk menormalisasi kebijakan moneternya.

Sebaliknya, defisit yang lebih lebar dari perkiraan dapat menekan yen dan kembali memunculkan kekhawatiran terhadap tekanan impor, terutama di tengah harga energi global yang masih tinggi.

3.Suku Bunga Bank Indonesia

Keputusan suku bunga Bank Indonesia akan menjadi agenda utama bagi pasar domestik pada Rabu (22/7/2026).

BI diproyeksikan mempertahankan suku bunga acuannya di level 5,75%. Menguatnya rupiah serta inflasi yang masih terjaga dalam rentang sasaran membuat bank sentral diperkirakan tidak memiliki urgensi untuk kembali menaikkan suku bunga.

Rupiah mulai menunjukkan perbaikan setelah sempat berada dalam tekanan cukup berat. Pada perdagangan Jumat (17/7/2026), rupiah ditutup menguat ke level Rp17.885/US$, menjadi posisi terkuat dalam lebih dari dua pekan.

Perkembangan tersebut menunjukkan bahwa rangkaian kenaikan suku bunga BI mulai memberikan dukungan terhadap stabilitas nilai tukar.

BI telah menaikkan suku bunga sebesar total 100 basis poin sejak Mei 2026. Kenaikan terakhir sebesar 25 basis poin dilakukan pada 18 Juni 2026, setelah sebelumnya BI juga menggelar rapat di luar jadwal pada 9 Juni untuk merespons tekanan terhadap rupiah.

Dari sisi harga, inflasi Indonesia masih berada dalam rentang sasaran BI sebesar 2,5% plus-minus 1%, atau 1,5%-3,5%.

Dengan rupiah yang mulai stabil dan inflasi masih terkendali, BI diperkirakan memilih untuk mengevaluasi dampak pengetatan sebelumnya terhadap perekonomian. Kenaikan bunga tambahan berisiko memberikan tekanan lebih besar terhadap konsumsi, permintaan kredit, investasi, dan pertumbuhan ekonomi.

Keputusan mempertahankan BI Rate di 5,75% berpotensi menjadi sentimen positif bagi IHSG, terutama saham perbankan, properti, otomotif, dan sektor konsumsi.

Namun, pelaku pasar tetap akan mencermati pernyataan Gubernur BI mengenai arah rupiah, prospek inflasi, dan kemungkinan perubahan kebijakan pada pertemuan berikutnya.

Meski peluang kenaikan bunga dinilai mengecil, BI diperkirakan tetap mempertahankan nada kebijakan yang hati-hati. Risiko lonjakan harga minyak, ketegangan di Timur Tengah, serta perubahan arah kebijakan bank sentral global masih dapat mempengaruhi stabilitas rupiah dan inflasi domestik.

4. Suku Bunga ECB

European Central Bank akan mengumumkan keputusan suku bunganya pada Kamis (23/7/2026). Sebelumnya, ECB Bank Lending Survey akan dirilis pada Selasa (21/7/2026).

Pasar memperkirakan ECB mempertahankan suku bunga di level 2,4%. Pada pertemuan Juni 2026, ECB menaikkan bunga sebesar 25 basis poin, menjadi kenaikan pertama sejak 2023.

Risalah pertemuan terakhir menunjukkan para pejabat ECB tidak ingin memberikan panduan tegas mengenai arah suku bunga berikutnya. Bank sentral memilih menggunakan pendekatan berbasis data dari satu pertemuan ke pertemuan berikutnya.

Perhatian pasar kemungkinan bukan hanya pada keputusan suku bunga, tetapi juga pernyataan Presiden ECB Christine Lagarde.

Pelaku pasar akan mencari petunjuk apakah kenaikan Juni merupakan awal dari siklus pengetatan baru atau hanya respons satu kali terhadap tekanan inflasi energi.

Berdasarkan data yang tersedia, pasar memperhitungkan probabilitas sekitar 70% untuk kenaikan suku bunga pada September. Ekspektasi tersebut meningkat setelah lonjakan harga minyak menyusul kembali memanasnya konflik AS dan Iran.

Pernyataan yang cenderung hawkish dapat memperkuat euro dan mendorong kenaikan imbal hasil obligasi Eropa, tetapi berpotensi menekan pasar saham. Sebaliknya, komunikasi yang lebih lunak dapat melemahkan euro sekaligus memberi ruang bagi aset berisiko.

5. Inflasi Jepang Juni 2026

Jepang akan merilis data inflasi Juni 2026 pada Jumat (24/7/2026) pukul 06.30 WIB.

Inflasi utama diperkirakan meningkat menjadi 1,7% secara tahunan dari 1,5% pada Mei 2026. Meski masih berada di bawah target BOJ sebesar 2%, percepatan inflasi dapat menghidupkan kembali ekspektasi normalisasi kebijakan moneter.

Inflasi Jepang pada Mei meningkat tipis dari 1,4% menjadi 1,5%. Kenaikan terjadi ketika penurunan harga listrik dan gas mulai berkurang setelah berakhirnya sejumlah subsidi pemerintah.

Inflasi inti tercatat sebesar 1,4%, masih bertahan di bawah target BOJ selama empat bulan berturut-turut.

Karena itu, pasar tidak hanya akan mencermati inflasi utama, tetapi juga perkembangan inflasi inti dan tekanan harga jasa.

Inflasi yang lebih tinggi dari proyeksi 1,7% dapat memperkuat yen dan menaikkan imbal hasil obligasi Jepang karena peluang pengetatan BOJ akan meningkat.

Sebaliknya, data yang lebih rendah dari perkiraan dapat melemahkan yen dan mendukung saham eksportir Jepang.

6. Perkembangan Uang Beredar Juni 2026

Bank Indonesia (BI) akan merilsi data uang beredar periode Juni pada Kamis (23/7/2026).
Sebagai catatan, BI mencatat uang beredar dalam arti luas (M2) pada Mei 2026 mencapai Rp10.415,9 triliun, tumbuh 10,8% secara tahunan (year on year/yoy). Angka tersebut lebih tinggi dibandingkan pertumbuhan April 2026 yang sebesar 9,2% (yoy).

Kenaikan uang beredar ditopang oleh pertumbuhan uang beredar sempit (M1) yang melesat 15,3% (yoy) serta uang kuasi yang meningkat 6% (yoy).

BI menjelaskan, penguatan likuiditas terutama didorong oleh akselerasi penyaluran kredit dan kenaikan aktiva luar negeri bersih. Penyaluran kredit tumbuh 10,8% (yoy) pada Mei 2026, meningkat dari 9,4% (yoy) pada April. Sementara itu, aktiva luar negeri bersih tumbuh 5,2% (yoy), lebih tinggi dibandingkan bulan sebelumnya yang sebesar 3,7% (yoy).

7. Rapat Dengar Pendapat DPR

Hari ini, Komisi XI Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) menggelar sejumlah rapat penting. Di antaranya
dengan Menteri Keuangan dan Menteri Investasi dan Hilirisasi membahas final RUU tentang Pusat Finansial Internasional Indonesia (PFII) serta bersama Komite Stabilitas Sistem Keuangan (KSSK) membahas kinerja perekonomian nasional semester I tahun 2026 di ruang rapat Komisi XI DPR, Senayan, Jakarta Pusat.


Rapat ini sangat ditunggu agar public lebih tahu arah yang jelas mengenai target PFII dan scenario ke depan.
Rapat Bersama KSSK juga penting untuk mengetahui sikap dan kebijakan pemangku keuangan menghadapi paruh kedua 2026 di tengah ketidakpastian global.

(evw/evw) Add logo_svg as a preferred
source on Google


Most Popular
Features