IHSG Bersiap! BI, China hingga ECB Putuskan Suku Bunga Pekan Depan
Jakarta, CNBC Indonesia — Pasar keuangan global berpotensi kembali bergejolak pada pekan depan, 20-24 Juli 2026. Sejumlah agenda ekonomi penting dari China, Jepang, Indonesia, dan kawasan Eropa akan menjadi perhatian pelaku pasar.
Fokus utama pasar tertuju pada kebijakan suku bunga bank sentral. Bank Indonesia (BI) akan menentukan arah suku bunga setelah melakukan pengetatan agresif, sementara European Central Bank (ECB) akan memutuskan apakah akan kembali menaikkan suku bunga setelah kenaikan pertamanya sejak 2023.
China juga akan mengumumkan suku bunga acuannya di tengah perlambatan konsumsi dan krisis sektor properti. Sementara itu, data perdagangan dan inflasi Jepang berpotensi memengaruhi pergerakan yen serta ekspektasi terhadap kebijakan Bank of Japan (BOJ).
Di saat yang sama, ketegangan di Timur Tengah, lonjakan harga energi, dan gangguan rantai pasok akan menjadi latar belakang utama yang membayangi seluruh agenda tersebut.
Berikut sejumlah sentimen penting yang perlu dicermati pelaku pasar pekan depan.
China Loan Prime Rate
People's Bank of China (PBoC) akan mengumumkan Loan Prime Rate (LPR) tenor satu dan lima tahun pada Senin (20/7/2026).
Pasar memperkirakan LPR satu tahun akan dipertahankan di level terendah sepanjang sejarah sebesar 3%. LPR lima tahun, yang menjadi acuan utama untuk suku bunga hipotek, juga diproyeksikan bertahan di 3,5%.
Jika sesuai ekspektasi, ini akan menjadi bulan ke-14 PBoC mempertahankan kedua suku bunga tersebut. Keputusan menahan bunga akan menunjukkan bahwa bank sentral masih berhati-hati menghadapi risiko inflasi energi, pelemahan yuan, dan ketidakpastian akibat konflik Timur Tengah.
Di sisi lain, ekonomi China masih membutuhkan dukungan. Penjualan ritel pada Mei secara mengejutkan mengalami kontraksi untuk pertama kalinya sejak Desember 2022. Harga rumah baru juga terus menurun, menandakan belum berakhirnya tekanan pada sektor properti.
Neraca Perdagangan Jepang Juni 2026
Jepang dijadwalkan merilis neraca perdagangan Juni pada Rabu (22/7/2026).
Konsensus pasar memperkirakan Jepang mencatat defisit perdagangan sebesar JPY120 miliar. Angka tersebut jauh lebih baik dibandingkan defisit JPY378,7 miliar pada Mei.
Namun, perkiraan Trading Economics justru menunjukkan defisit dapat melebar hingga JPY700 miliar. Perbedaan proyeksi yang cukup besar ini membuka ruang bagi volatilitas yen dan pasar saham Jepang.
Pada Mei, ekspor Jepang tumbuh 17% secara tahunan, menjadi pertumbuhan tertinggi sejak November 2022. Kinerja tersebut terutama ditopang permintaan global terhadap semikonduktor. Impor juga meningkat 12,5%, sejalan dengan penguatan permintaan domestik setelah stimulus pemerintah pada akhir 2025.
Neraca perdagangan yang lebih baik dari perkiraan dapat memperkuat yen karena menunjukkan ketahanan sektor eksternal Jepang. Data yang kuat juga dapat meningkatkan ekspektasi bahwa BOJ memiliki ruang untuk menormalisasi kebijakan moneternya.
Suku Bunga Bank Indonesia
Keputusan suku bunga Bank Indonesia (BI) akan menjadi agenda utama bagi pasar domestik pada Rabu (22/7/2026).
BI diproyeksikan mempertahankan suku bunga acuannya di level 5,75%. Menguatnya rupiah serta inflasi yang masih terjaga dalam rentang sasaran membuat bank sentral tidak memiliki urgensi untuk kembali menaikkan suku bunga.
Rupiah tercatat menguat ke kisaran Rp17.730 per dolar Amerika Serikat (AS) pada 17 Juli 2026, atau menguat sekitar 0,76% dibandingkan posisi akhir Mei. Perkembangan tersebut menunjukkan bahwa rangkaian kenaikan suku bunga BI mulai memberikan dukungan terhadap stabilitas nilai tukar.
BI telah menaikkan suku bunga sebesar total 100 basis poin sejak Mei. Kenaikan terakhir sebesar 25 basis poin dilakukan pada 18 Juni, setelah sebelumnya BI juga menggelar rapat di luar jadwal pada 9 Juni untuk merespons tekanan terhadap rupiah.
Dari sisi harga, inflasi tahunan Indonesia meningkat menjadi 3,08% pada Mei dari 2,42% pada April. Meski demikian, angka tersebut masih berada dalam rentang sasaran BI sebesar 2,5% plus-minus 1%, atau 1,5%-3,5%.
Dengan rupiah yang mulai stabil dan inflasi yang masih terkendali, BI diperkirakan memilih mengevaluasi dampak pengetatan moneter sebelumnya terhadap perekonomian. Kenaikan suku bunga tambahan berisiko memberikan tekanan lebih besar terhadap konsumsi, permintaan kredit, investasi, dan pertumbuhan ekonomi.
Keputusan mempertahankan BI Rate di 5,75% berpotensi menjadi sentimen positif bagi IHSG, terutama saham sektor perbankan, properti, otomotif, dan konsumsi. Pasar juga akan mencermati pernyataan Gubernur BI mengenai arah rupiah, prospek inflasi, serta kemungkinan perubahan kebijakan pada pertemuan berikutnya.
Meski peluang kenaikan suku bunga dinilai mengecil, BI diperkirakan tetap mempertahankan nada kebijakan yang hati-hati. Risiko lonjakan harga minyak, ketegangan di Timur Tengah, serta perubahan arah kebijakan bank sentral global masih dapat memengaruhi stabilitas rupiah dan inflasi domestik.
Suku Bunga ECB
European Central Bank akan mengumumkan keputusan suku bunganya pada Kamis (23/7/2026). Sebelumnya, ECB Bank Lending Survey akan dirilis pada Selasa (21/7/2026).
Pasar memperkirakan ECB mempertahankan suku bunga di level 2,4%. Pada pertemuan Juni, ECB menaikkan bunga sebesar 25 basis poin, menjadi kenaikan pertama sejak 2023.
Risalah pertemuan terakhir menunjukkan para pejabat ECB tidak ingin memberikan panduan tegas mengenai arah suku bunga berikutnya. Bank sentral memilih menggunakan pendekatan berbasis data dari satu pertemuan ke pertemuan berikutnya.
Sorotan pasar kemungkinan bukan pada keputusan suku bunga, melainkan pernyataan Presiden ECB Christine Lagarde. Pelaku pasar akan mencari petunjuk apakah kenaikan pada Juni merupakan awal dari siklus pengetatan baru atau sekadar respons satu kali terhadap tekanan inflasi energi.
Berdasarkan data yang tersedia, pasar memperhitungkan probabilitas sekitar 70% untuk kenaikan suku bunga pada September. Ekspektasi tersebut meningkat setelah lonjakan harga minyak menyusul kembali memanasnya konflik Amerika Serikat dan Iran.
Pernyataan bernada hawkish dapat memperkuat euro dan mendorong kenaikan imbal hasil obligasi Eropa, tetapi berpotensi menekan pasar saham. Sebaliknya, komunikasi yang lebih lunak dapat melemahkan euro sekaligus memberikan ruang penguatan bagi aset berisiko.
Inflasi Jepang Juni 2026
Jepang akan merilis data inflasi Juni pada Jumat (24/7/2026) pukul 06.30 WIB.
Inflasi utama diperkirakan meningkat menjadi 1,7% secara tahunan dari 1,5% pada Mei. Meski masih berada di bawah target BOJ sebesar 2%, percepatan inflasi dapat menghidupkan kembali ekspektasi normalisasi kebijakan moneter.
Inflasi Jepang pada Mei meningkat tipis dari 1,4% menjadi 1,5%. Kenaikan terjadi ketika penurunan harga listrik dan gas mulai berkurang setelah berakhirnya sejumlah subsidi pemerintah.
Inflasi inti tercatat sebesar 1,4%, bertahan di bawah target BOJ selama empat bulan berturut-turut. Oleh karena itu, pasar tidak hanya akan mencermati inflasi utama, tetapi juga perkembangan inflasi inti dan tekanan harga jasa.
Inflasi yang lebih tinggi dari proyeksi 1,7% dapat memperkuat yen dan menaikkan imbal hasil obligasi Jepang karena peluang pengetatan BOJ akan meningkat. Sebaliknya, data yang lebih rendah dapat melemahkan yen dan mendukung saham eksportir Jepang.
(gls/gls) Add
source on Google