Di Balik Pelemahan Ekonomi China, Ada Bahaya yang Tak Bisa Diabaikan
Jakarta, CNBC Indonesia - Ekonomi China sedang memberi sinyal yang cukup anomali. Dari luar, kinerja perdagangan Negeri Tirai Bambu terlihat masih sangat kuat. Ekspor pada Juni 2026 melonjak lebih dari seperempat secara tahunan dalam denominasi dolar Amerika Serikat.
Kenaikan ekspor sebesar itu biasanya menjadi kabar baik. Apalagi, ekonomi China sedang melambat, konsumsi domestik belum kuat, dan investasi masih tertekan. Permintaan dari luar negeri menjadi salah satu penopang utama agar pabrik-pabrik China tetap bergerak.
Namun, ada cerita lain di balik lonjakan ekspor tersebut.
Mengutip The Economist, surplus dagang China justru mulai menunjukkan tanda telah mencapai puncaknya. Adam Wolfe dari Absolute Strategy Research menilai, selisih besar antara ekspor dan impor China kini tidak lagi melebar seperti sebelumnya.
Penyebabnya, impor China naik lebih cepat dibanding ekspor. Pada Juni 2026, impor China tumbuh 36% secara tahunan. Kenaikan ini membuat surplus dagang China pada semester I-2026 lebih rendah dalam denominasi dolar AS dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.
Kondisi ini menjadi kejutan karena selama ini surplus dagang menjadi salah satu bantalan utama ekonomi China. Ketika konsumsi domestik lemah dan sektor properti masih bermasalah, ekspor membantu China menjaga pertumbuhan.
Tahun lalu, surplus dagang China bahkan menembus lebih dari US$1,2 triliun atau setara Rp21.672 triliun (asumsi kurs Rp18.060/US$1). Angka sebesar itu membuat banyak negara, terutama Uni Eropa, khawatir terhadap gelombang China shock kedua, mirip seperti periode setelah China masuk Organisasi Perdagangan Dunia (WTO) pada 2001.
Surplus Dagang China Foto: The Economist |
Saat itu, barang-barang murah dari China membanjiri pasar global dan mengubah peta industri banyak negara. Kekhawatiran serupa kembali muncul sekarang, terutama karena ekspor China tidak lagi hanya berupa barang murah, tetapi juga mesin, kendaraan, elektronik, dan produk teknologi.
Namun, data terbaru menunjukkan gambarnya lebih rumit. Ekspor memang masih kuat, tetapi impor juga melonjak lebih cepat. Ini membuat surplus dagang China mulai menyempit.
Chip Jadi Penyebab Utama
Perang Iran memang ikut mempengaruhi data perdagangan China. Harga minyak yang lebih mahal membuat China harus membayar impor energi lebih tinggi dibanding tahun lalu.
Namun, faktor minyak bukan penyebab utama menyempitnya surplus dagang China. China memang membayar minyak lebih mahal, tetapi negara itu juga memangkas volume impor minyaknya secara tajam.
Faktor yang lebih besar justru datang dari chip. China selama ini dikenal sebagai eksportir besar produk semikonduktor.
Namun, pada saat yang sama, China juga masih menjadi importir besar komponen tersebut. Pada Mei 2026, nilai impor integrated circuits China naik sekitar 70% secara tahunan dalam denominasi dolar AS.
Kenaikan itu bukan karena volume impor melonjak, melainkan karena harga chip yang lebih mahal. Jadi, meski ekspor China masih kuat, biaya impor komponen penting seperti chip ikut naik dan menekan surplus dagang.
Ini menunjukkan posisi China sebenarnya. Di satu sisi, negara itu menjadi raksasa manufaktur teknologi. Di sisi lain, rantai pasok industrinya masih membutuhkan impor untuk komponen pentingnya.
Kondisi ini muncul ketika ekonomi China sedang kehilangan tenaga. PDB China pada kuartal II-2026 hanya tumbuh 4,3% secara tahunan. Angka ini lebih lambat dari perkiraan dan menjadi yang terlemah sejak 2022, saat China masih menerapkan lockdown akibat Covid-19.
Capaian itu juga di bawah target pertumbuhan China tahun ini yang dipatok di kisaran 4,5%-5%.
Karena konsumsi rumah tangga belum kuat dan investasi masih lemah, ekspor menjadi semakin penting. Masalahnya, jika surplus dagang benar-benar sudah mencapai puncak, maka salah satu penopang utama ekonomi China mulai kehilangan tenaga.
Ini membuat posisi Beijing tidak mudah. China membutuhkan ekspor untuk menjaga pertumbuhan, tetapi ekspor yang terlalu kuat juga memicu ketegangan dengan mitra dagang. Pada saat yang sama, impor yang melonjak, terutama karena chip, membuat surplus dagang tidak lagi sebesar sebelumnya.
China Makin Hati-Hati Belanja Saat Ekonomi Lesu
Ketergantungan China terhadap ekspor sudah lama menjadi perhatian. Karena itu, banyak analis berharap Beijing kembali mendorong stimulus fiskal untuk mengangkat belanja domestik.
Namun, yang terjadi justru sebaliknya. Yu Xiangrong dan Ji Xinyu, ekonom Citigroup, menyebut China sedang masuk ke kondisi de facto austerity atau pengetatan fiskal secara tidak langsung.
Tandanya terlihat dari penerimaan pajak yang naik kuat. Sepanjang Januari-Mei 2026, penerimaan PPN China tumbuh 6,2%, pajak penghasilan pribadi naik 12,2%, sementara bea meterai melonjak 89% karena perdagangan saham yang ramai.
Kenaikan penerimaan ini ikut didorong inflasi dan penegakan pajak yang lebih ketat. Sejak tahun lalu, otoritas pajak China juga mengirim pesan otomatis kepada wajib pajak agar melaporkan pendapatan dan aset luar negeri sejak 2022.
Hasilnya, meski pemerintah pusat membelanjakan lebih banyak uang, penerimaan negara juga naik. Defisit gabungan pemerintah pusat dan daerah bahkan sedikit menyempit dalam 12 bulan terakhir.
Ini berlawanan dengan kebutuhan ekonomi yang sedang lemah. Saat permintaan domestik lesu, China justru bergerak lebih ketat, bukan lebih longgar.
Belanja Sosial Makin Sulit Dihindari
Arah belanja pemerintah China juga menarik. Presiden Xi Jinping selama ini mendorong manufaktur teknologi tinggi dan new productive forces, tetapi belanja sosial justru makin besar.
Menurut ekonom Citi, porsi belanja untuk jaminan sosial meningkat dalam beberapa tahun terakhir. Pos ini mencakup pensiun, asuransi pengangguran, bantuan pengentasan kemiskinan, dan program untuk membantu masyarakat kembali bekerja.
Sementara itu, porsi belanja untuk teknologi dan pendidikan relatif stabil. Belanja infrastruktur justru menurun.
Public Spending China Foto: The Economist |
Kondisi ini menunjukkan tekanan yang sulit dihindari. Saat ekonomi melemah dan penduduk makin tua, kebutuhan lansia, pengangguran, dan kelompok miskin tetap harus dibiayai.
Teknologi China mungkin masih melaju cepat. Namun, ekonominya mulai mendingin dan penduduknya semakin menua.
CNBC INDONESIA RESEARCH
(evw/evw) Addsource on Google

