Trump Makin Buntu, Iran Masih Pegang 'Kartu As' Hormuz
Jakarta, CNBC Indonesia - Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump kembali menemui jalan buntu dalam upayanya membuka Selat Hormuz.
Kesepakatan awal perdamaian dengan Iran yang diteken bulan lalu mulai goyah, sementara serangan kembali terjadi di salah satu jalur perdagangan energi terpenting dunia itu.
Mengutip The Economist, Trump sebelumnya menyebut kesepakatan tersebut telah memenuhi seluruh tujuan AS. Perang di kawasan Teluk diharapkan berakhir dan Selat Hormuz bisa kembali dibuka untuk pelayaran.
Namun, belum sampai satu bulan, pertempuran kembali pecah. Lalu lintas kapal yang melewati Selat Hormuz pun turun tajam. Salah satu pemicunya adalah perbedaan tafsir antara AS dan Iran terhadap isi memorandum of understanding atau nota kesepahaman yang telah mereka buat.
Pada malam 13 Juli 2026, rudal Iran menghantam dua kapal tanker berbendera Uni Emirat Arab yang sedang melintasi Selat Hormuz. Serangan tersebut menewaskan satu orang.
AS kemudian membalas dengan menyerang sejumlah sasaran militer di Iran. Teheran tidak tinggal diam dan meluncurkan rudal serta pesawat nirawak ke beberapa negara Arab.
Sejak 7 Juli 2026, serangan balasan antara kedua pihak sudah berlangsung selama lima malam. Konflik terbaru ini bermula ketika Iran menyerang tiga kapal di Selat Hormuz.
Meski ketegangan meningkat, AS dan Iran sejauh ini masih mencoba membatasi serangan. Washington lebih banyak menyasar wilayah selatan Iran, sedangkan Teheran belum menyerang infrastruktur sipil di kawasan Teluk.
Kedua negara tampaknya belum ingin kembali terlibat dalam perang besar. Namun, sebagian besar isi kesepakatan yang sebelumnya dibuat kini sudah tidak berjalan.
Beda Tafsir soal Pengelolaan Selat Hormuz
AS sudah mencabut pengecualian sanksi yang sebelumnya membuat Iran masih bisa menjual minyak. Pada 13 Juli, Trump juga mengatakan akan kembali memblokade pengiriman kapal Iran.
Trump sempat punya ide lain. AS ingin menarik biaya dari kapal-kapal yang melintasi Selat Hormuz sebagai imbalan atas pengamanan yang diberikan. Namun, rencana itu kemudian dibatalkan pada 14 Juli.
Trump memang ingin Selat Hormuz kembali dibuka. Masalahnya, tidak ada pilihan yang benar-benar mudah untuk mewujudkannya.
Map Foto: The Economist |
Perselisihan antara AS dan Iran berawal dari perbedaan membaca isi nota kesepahaman. Dalam paragraf kelima, Iran disebut akan menyiapkan pengaturan agar kapal-kapal komersial bisa melintas dengan aman.
Kalimat tersebut cukup umum sehingga bisa dimaknai berbeda oleh kedua pihak. AS menilai Iran harus membersihkan ranjau dan membuka kembali jalur pelayaran. Sementara itu, Iran menganggap kesepakatan tersebut juga memberinya hak untuk mengatur lalu lintas kapal.
Jalur utama di Selat Hormuz dikenal sebagai Traffic Separation Scheme. Jalur ini merupakan koridor selebar sekitar enam mil atau 9,7 kilometer yang berada di bagian terdalam selat.
Masalahnya, keberadaan ranjau membuat jalur tersebut berbahaya. Kapal-kapal akhirnya harus mencari rute lain, baik ke arah utara melalui perairan Iran maupun ke arah selatan melalui perairan Oman.
Selama beberapa pekan terakhir, Angkatan Laut AS membantu mengawal kapal tanker yang melewati jalur selatan. Perserikatan Bangsa-Bangsa juga mendorong perusahaan pelayaran untuk memakai rute tersebut.
Iran tidak senang dengan langkah itu. Teheran menilai jalur Oman bisa mengurangi kendalinya atas Selat Hormuz. Iran kemudian menyatakan rute tersebut ditutup, sedangkan AS tetap mengatakan jalur itu masih bisa digunakan.
Namun, keputusan akhirnya tetap berada di tangan pemilik kapal. Selama risiko serangan masih tinggi, banyak perusahaan pelayaran akan memilih tidak melintas dan menganggap Selat Hormuz belum benar-benar aman.
Menurut perusahaan pemantau kapal Kpler, lalu lintas kapal tanker di Selat Hormuz sudah turun ke level terendah sejak 25 Mei 2026.
Data Windward juga menunjukkan penurunan yang tajam. Hanya 11 kapal yang melintasi Selat Hormuz pada 12 Juli, jauh lebih sedikit dibandingkan 36 kapal pada sepekan sebelumnya.
Awalnya, pasar minyak tidak terlalu bereaksi terhadap kembali pecahnya pertempuran. Namun, kekhawatiran mulai terlihat dalam beberapa hari terakhir.
Harga minyak mentah Brent sudah melonjak sekitar 20% sejak 6 Juli dan berada di level US$85 per barel pada perdagangan Rabu (15/7/2026) pukul 09.20 WIB.
Harga minyak mentah West Texas Intermediate atau WTI juga naik ke US$80,12 per barel.
Tekanan Ekonomi Belum Membuat Iran Mundur
Saat nota kesepahaman diteken, Trump berharap janji pelonggaran sanksi bisa mendorong Iran membuka kembali Selat Hormuz.
Iran sendiri memang sedang membutuhkan banyak uang. Pemerintah Iran mengklaim perang telah membuat kerugian hingga US$270 miliar atau setara Rp4.881,6 triliun (asumsi kurs Rp18.080/US$). Kerusakan itu terjadi ketika ekonominya sudah lebih dulu tertekan oleh sanksi selama bertahun-tahun dan buruknya pengelolaan ekonomi.
Kebutuhan dana menjadi salah satu alasan utama Iran mau menandatangani kesepakatan tersebut. Namun, sikap di dalam pemerintahan Iran kini tidak sepenuhnya satu suara.
Kelompok yang lebih pragmatis melihat krisis ekonomi Iran sudah sangat dalam. Sementara itu, kelompok garis keras tetap ingin mempertahankan kendali atas Selat Hormuz.
Karena kesepakatan tak kunjung berjalan, AS kembali memakai tekanan militer. Salah satu pilihan Trump adalah meneruskan serangan terbatas ke lokasi dan peralatan militer Iran. Masalahnya, lebih dari 300 serangan selama lima malam belum juga mengubah sikap Teheran. Tidak ada jaminan serangan pada malam keenam, atau bahkan malam ke-60, akan membuat Iran berubah pikiran.
Iran sebelumnya juga sudah menghadapi serangan AS dan Israel yang jauh lebih besar selama enam pekan. Karena itu, serangan terbatas yang dilakukan saat ini diperkirakan tidak akan banyak mengubah keadaan.
Bahkan jika AS berhasil menghancurkan seluruh peluncur rudal Iran di wilayah pesisir, Teheran masih bisa menyerang kapal dari daratan. Banyak rudal dan pesawat nirawak Iran memiliki jangkauan lebih dari 1.000 kilometer.
Pilihan lain bagi Trump adalah memperbesar skala serangan. Namun, langkah ini membawa risiko besar dan tetap tidak menjamin Selat Hormuz akan kembali dibuka.
Menyerang infrastruktur penting Iran bisa memicu serangan balasan ke negara-negara Teluk dan berpotensi melanggar hukum perang. Sementara itu, rencana mengirim pasukan darat hampir pasti sulit mendapat dukungan di Washington.
Pada 8 Juli, Trump kembali mengancam akan mengambil alih Pulau Kharg, lokasi terminal utama ekspor minyak Iran. Namun, langkah itu tidak banyak membantu pembukaan Selat Hormuz karena Pulau Kharg berjarak lebih dari 600 kilometer dari selat.
Pilihan yang terlihat lebih aman adalah kembali memberlakukan blokade. Kondisi ini akan membawa hubungan AS dan Iran kembali seperti pada awal April, saat gencatan senjata pertama kali diumumkan, hingga penandatanganan nota kesepahaman pada 17 Juni.
Saat itu, kedua pihak sama-sama menunggu siapa yang lebih dulu menyerah karena tekanan ekonomi. Hasilnya memang sebuah kesepakatan sementara, tetapi kesepakatan itu sekarang justru mulai runtuh.
Masalahnya, belum tentu Iran mau menerima blokade untuk kedua kalinya. Jika Teheran kembali melancarkan serangan yang lebih besar ke negara-negara Teluk, Trump hanya akan punya dua pilihan, masuk ke perang besar atau mundur.
Dukungan Negara Lain Masih Terbatas
Pilihan ketiga bagi Trump adalah meminta bantuan negara lain. Namun, dukungan yang benar-benar nyata juga tidak mudah didapat.
Rencana pengamanan Selat Hormuz secara bersama-sama sebenarnya sudah disiapkan. Inggris dan Prancis bahkan bersedia bekerja sama dengan Oman untuk membersihkan ranjau disana.
Masalahnya, pertempuran yang kembali pecah bisa membuat sejumlah negara berpikir dua kali untuk mengirim kapal perang. Parlemen Jerman, misalnya, tidak sempat menggelar pemungutan suara mengenai rencana itu sebelum memasuki masa libur musim panas.
Jepang juga belum mengambil keputusan. Sementara itu, negara-negara Teluk cenderung enggan ikut terlibat karena khawatir menjadi sasaran balasan Iran. Kemampuan angkatan laut mereka pun dinilai belum cukup kuat.
China memang sudah meminta Iran membuka kembali Selat Hormuz. Namun, sejauh ini Beijing baru sebatas menyampaikan desakan dan belum mengambil langkah lebih jauh.
Trump akhirnya kembali pada masalah yang sama seperti tiga bulan lalu. Insentif ekonomi belum berhasil membujuk Iran, sementara tekanan militer juga belum membuat Teheran membuka Selat Hormuz. Situasi ini sebenarnya juga merugikan Iran. Kelompok garis keras di Teheran menilai melepas kendali atas Selat Hormuz akan membuat posisi tawar Iran melemah dalam konflik berikutnya.
Namun, selama Iran masih memiliki rudal dan drone, Teheran tetap bisa menutup selat kapan saja. Karena itu, kendali atas Hormuz lebih berguna sebagai alat tawar untuk mendapatkan keuntungan nyata.
Kini, sanksi sudah kembali diberlakukan dan blokade dimulai lagi. Iran pun kehilangan keuntungan langsung yang sempat didapat dari nota kesepahaman.
Iran juga tidak bisa begitu saja memungut biaya dari kapal-kapal yang melintasi selat pada masa damai tanpa persetujuan Oman.
Di sisi lain, sebagian besar minyak mentah yang sempat diekspor Iran pada pekan-pekan awal kesepakatan ternyata belum terjual. Kilang-kilang China justru memilih membeli minyak dari negara-negara Arab yang menawarkan harga lebih murah dibandingkan Iran.
Pada akhirnya, baik AS maupun Iran sama-sama tidak memiliki jalan militer yang jelas untuk mencapai tujuan mereka. Trump tidak bisa membuka Selat Hormuz hanya dengan serangan udara. Iran juga tidak mendapat keuntungan ekonomi jika selat terus tertutup.
Pilihan yang paling masuk akal bagi kedua pihak tetap kembali ke meja kesepakatan. Masalahnya, kesepakatan itu kini justru terus dirusak oleh serangkaian serangan.
CNBC INDONESIA RESEARCH
(evw/evw) Addsource on Google
