BEI Rilis Daftar Saham HSC, Akhirnya Kabar Baik Datang dari AS & China
- Pasar keuangan RI ditutup beragam IHSG dan Rupiah menguat sementara SBNÂ melemah.
- Wall Street kompak menguat di tengah melandainya inflasi AS
- Hasil Inflasi AS, Rilis data PDB China, testimoni Warsh, dan SULNI menjadi penggerak utama pasar hari ini.
Jakarta, CNBC Indonesia - Pasar keuangan dalam negeri ditutup beragam. bursa saham dan rupiah menguat sementara harga Surat Berharga Negara (SBN) turun.
Pasar keuangan Indonesia diperkirakan akan kembali menghadapi tantangan pada hari didorong oleh masih banyak pengumuman penting pada hari ini yang patut diwaspadai dan sentimen perang yang kian memanas.
Selengkapnya mengenai proyeksi pasar hari ini bisa dibaca pada halaman 3 artikel ini.
Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) ditutup nyaris tidak bergerak pada perdagangan kemarin, Selasa (14/7/2026).
IHSG masih bergerak dengan volatilitas tinggi kemarin. Setelah melonjak 1,92% pada akhir perdagangan kemarin, IHSG sempat mengawali perdagangan di zona merah.
Pada perdagangan intraday, IHSG sempat menyentuh level tertinggi di 6.95,02, tetapi tidak mampu bertahan sebelum akhirnya memangkas penguatan dan kembali nyaris ke level perdagangan sebelumnya.
Nilai dan volume transaksi hari melonjak cukup tinggi dibandingkan dengan rata-rata perdagangan hari-hari sebelumnya. Nilai transaksi mencapai Rp16,83 triliun, melibatkan 37,59 miliar saham dalam 2,81 juta kali transaksi.
Pada pekan lalu rata-rata nilai transaksi harian hanya Rp 10,27 triliun. Volume transaksi tercatat 20,49 miliar saham.
Pasar juga tercatat menutup perdagangan masih dalam posisi net foreign outflow pada sesi perdagangan kemarin sebesar Rp 830,34 miliar mengindikasikan net foreign outflow secara year to date sebesar Rp 77,42 triliun.
Mengutip Refinitiv, pergerakan IHSG kemarin tertahan oleh koreksi emiten bank jumbo. Hal ini juga tercermin dari sektor finansial yang anjlok paling dalam, yakni 1,71%.
Bank Rakyat Indonesia (BBRI), Bank Central Asia (BBCA), dan Bank Mandiri (BMRI) kompak menjadi pemberat IHSG dengan bobot masing-masing -10,22 poin, -8,82 poin, dan -7,35 poin.
Sementara itu, emiten konglomerat, khususnya milik Bakrie dan Prajogo Pangestu mencoba mengatrol IHSG tetapi tidak kuat. Bumi Resources Mineral (BRMS) berkontribusi 6,7 poin, Barito Renewables Energy (BREN) 5,8 poin, dan Energi Mega Persada (ENRG) 5,23 poin.
Â
Sebagai informasi, pada perdagangan kemarin emiten bank jumbo mendorong IHSG melaju kencang pada akhir sesi. Hal itu seiring dengan pengumuman dari lembaga rating Standar & Poor's (S&P) yang mempertahankan rating investment grade dan outlook stabil mereka. Keputusan ini menjadi kabar baik setelah sebelumnya lembaga rating tersebut dikabarkan akan menurunkan outlook Indonesia.
Nilai tukar rupiah berakhir menguat terhadap dolar Amerika Serikat (AS) pada perdagangan Selasa (14/7/2026). Penguatan terjadi pasca lembaga pemeringkat global S&P Global Ratings yang mempertahankan peringkat kredit Indonesia serta outlook-nya.
Merujuk data Refinitiv, mata uang Garuda berakhir di zona hijau dengan penguatan 0,11% ke level Rp18.080/US$. Sepanjang perdagangan, rupiah bergerak cukup dinamis. Mata uang Garuda mengawali perdagangan secara stagnan di level psikologis Rp18.100/US$, lalu berbalik bergerak positif hingga penutupan perdagangan.
Sementara itu, indeks dolar AS (DXY), yang mengukur kekuatan greenback terhadap enam mata uang utama dunia, per pukul 15.00 WIB terpantau melemah tipis 0,04% ke level 101,197.
Penguatan rupiah pada perdagangan kemarin masih dipengaruhi kabar baik dari lembaga pemeringkat global S&P Global Ratings yang mempertahankan peringkat utang Indonesia pada level BBB dengan outlook stabil.
Keputusan tersebut menegaskan posisi Indonesia tetap berada dalam kategori layak investasi atau investment grade di tengah ketidakpastian ekonomi global yang masih tinggi.
Dalam laporan yang dirilis pada Senin (13/7/2026), S&P menilai pelemahan sejumlah indikator fiskal dan eksternal Indonesia saat ini bersifat sementara. Kondisi tersebut berpotensi membaik seiring stabilnya arah kebijakan pemerintah serta implementasi kebijakan yang lebih efektif.
Â
Dalam laporannya, S&P Global Ratings juga memproyeksikan nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat berada di level Rp17.700/US$ pada 2026.
Menanggapi keputusan tersebut, Gubernur Bank Indonesia Perry Warjiyo menyatakan afirmasi rating dari S&P mencerminkan tetap kuatnya kepercayaan investor dan pemangku kepentingan internasional terhadap perekonomian Indonesia.
Lanjut ke pasar obligasi, imbal hasil Surat Berharga Negara (SBN) tenor 10 tahun naik ke 7,259% pada Selasa (14/7/2026), dari hari sebelumnya yang ditutup di 7,184%.
Naiknya nilai imbal hasil ini mengindikasikan bahwa investor mulai menjual obligasi tersebut sehingga harga beli mengalami penurunan.
Dari pasar saham Amerika Serikat (AS), bursa Wall Street ditutup menguat pada Selasa atau rabu dini hari wkatu Indonesia. Bursa menguat setelah data inflasi AS bulan Juni lebih rendah dari perkiraan, didorong kenaikan saham-saham semikonduktor.
Indeks S&P 500 naik 0,38% ke 7.543,59, Nasdaq menguat 0,9% ke 26.107,01, sedangkan Dow Jones menanjak 0,02% ke 52.508,27. Kenaikan Dow tertahan oleh anjloknya saham IBM hingga 25% setelah perusahaan memperingatkan laba kuartal II akan lebih rendah dari ekspektasi.
Saham semikonduktor bangkit setelah aksi jual sehari sebelumnya. ETF VanEck Semiconductor naik 2,5%, sementara Applied Materials, Teradyne, Lam Research, Micron Technology, dan STMicroelectronics juga mencatat kenaikan.
Data menunjukkan indeks harga konsumen (CPI) AS turun 0,4% secara bulanan pada Juni, sehingga inflasi tahunan melambat menjadi 3,5%, lebih rendah dari perkiraan pasar sebesar 3,8%.
Meredanya inflasi membuat ekspektasi kenaikan suku bunga The Fed berkurang. Peluang kenaikan suku bunga pada pertemuan Juli turun menjadi 17% dari 42% sehari sebelumnya, meski pasar masih memperkirakan peluang sekitar 60% untuk kenaikan suku bunga pada September.
Ketua The Fed Kevin Warsh mengatakan lonjakan inflasi dalam lima tahun terakhir akan menjadi "masa lalu", namun tetap menegaskan komitmen bank sentral untuk mengendalikan inflasi.
Sementara itu, harga minyak masih menguat setelah AS melancarkan serangan baru ke Iran. Minyak WTI ditutup naik 1,5% di atas US$79 per barel, sedangkan Brent naik 1,7% ke atas US$84 per barel, meski sempat turun dari level tertingginya setelah Presiden Donald Trump membatalkan rencana mengenakan biaya 20% bagi kapal yang melintasi Selat Hormuz.
Di sektor perbankan, saham Goldman Sachs melonjak 9% usai membukukan laba di atas ekspektasi. Saham JPMorgan Chase dan Bank of America juga naik lebih dari 2% setelah merilis kinerja kuartal II.
Pada perdagangan hari ini, sentimen pasar global dipengaruhi oleh rilis dua data makroekonomi utama pada hari sebelumnya yang memberikan sinyal pergeseran fundamental.
Penurunan inflasi Amerika Serikat akibat efek gencatan senjata dan rekor surplus perdagangan China menjadi fokus utama para investor. Pernyataan Ketua The Fed Kevin Warsh juga akan menjadi sorotan.
Memasuki sesi perdagangan hari ini, perhatian pelaku pasar akan beralih pada serangkaian rilis data ekonomi krusial lainnya, termasuk kinerja kuartalan ekonomi China, inflasi tingkat produsen AS, hingga data utang luar negeri dari dalam negeri, serta kelanjutan agenda penting dari bank sentral AS.
Berikut adalah rincian realisasi data ekonomi terbaru dan jadwal rilis data yang perlu dipantau pada hari ini:
Perkembangan Perang
Amerika Serikat (AS) kembali memberlakukan blokade laut terhadap seluruh pelabuhan Iran mulai Selasa (15/7), sekaligus melancarkan serangan baru ke sejumlah target militer Iran. Namun, Presiden Donald Trump membatalkan rencana mengenakan biaya transit 20% bagi kapal yang melintasi Selat Hormuz, hanya sehari setelah mengumumkannya.
Ketegangan memanas setelah Iran kembali menutup Selat Hormuz dan saling melancarkan serangan dengan AS. Konflik yang telah berlangsung sejak Februari itu kembali mengancam pasokan energi global, mendorong harga minyak Brent melonjak sekitar 15% dalam sepekan hingga mencapai sekitar US$85 per barel.
Inflasi Amerika Serikat
AS mengumumkan tingkat inflasi tahunan turun menjadi 3,5% pada Juni 2026. Angka ini menandai penurunan pertama dalam empat bulan terakhir, bergerak turun dari level 4,2% pada bulan Mei, dan berada di bawah proyeksi konsensus yang memperkirakan 3,8%.
Secara spesifik, indeks energi mencatatkan kenaikan tahunan 15,7% dan harga makanan naik 3,0%.
Secara bulanan, Indeks Harga Konsumen (IHK) mengalami penurunan sebesar atau mencatat deflasi 0,4%, melampaui ekspektasi deflasi 0,1%. Ini merupakan deflasi eprtama sejak Mei 2020 dan kontraksi bulanan terbesar sejak April 2020 atau awal Covid-19.
Deflasi didorong oleh biaya energi yang turun 5,7% menyusul tercapainya kesepakatan gencatan senjata antara AS dan Iran, berbalik dari tren kenaikan sebelumnya (3,9% di bulan Mei, 3,8% di April, dan 10,9% di Maret).
Penurunan biaya energi ini mampu menutupi kenaikan pada indeks lain, termasuk perumahan (shelter) dan makanan.
Sementara itu, inflasi inti tahunan (core inflation) melambat menjadi 2,6% dari 2,9%, berada di bawah estimasi 2,8%. Secara bulanan, CPI inti juga mencatatkan penurunan sebesar 0,1%.
Melandainya inflasi AS menjadi kabar baik bagi Indonesia karena bisa mengurangi tekanan terhadap The Fed untuk menaikkan suku bunga.
Neraca Perdagangan China
Otoritas kepabeanan China pada Selasa kemarin melaporkan pelebaran surplus perdagangan menjadi US$ 125,62 miliar pada Juni 2026, meningkat dari US$ 113,84 miliar pada periode yang sama tahun lalu.
Angka ini melampaui proyeksi pasar sebesar US$ 121 miliar dan tercatat sebagai surplus bulanan terbesar kedua dalam sejarah.
Kinerja ini ditopang oleh ekspor yang tumbuh 27% mencapai rekor US$ 412,39 miliar, serta impor yang mengalami kenaikan 36% menjadi US$ 286,76 miliar-peningkatan impor tercepat dalam lima tahun terakhir.
Pertumbuhan eksponensial pada kedua metrik ini didorong secara signifikan oleh lonjakan harga cip (chip) dan tingginya permintaan global terhadap AI data center hardware.
Surplus perdagangan China dengan AS meningkat menjadi US$ 28,9 miliar, sementara surplus dengan Jerman naik lebih dari dua kali lipat, dan dengan Uni Eropa melebar 27% mencapai rekor US$ 32,9 miliar.
Sepanjang semester I-2026, akumulasi surplus perdagangan China berada di level US$ 575,98 miliar.
Lonjakan impor China ini menjadi kabar baik bagi Indonesia karena ada potensi kenaikan permintaan dari Indonesia.
Bos The Fed Kevin Warsh Tegaskan Sikap Perangi Inflasi
Ketua Federal Reserve (The Fed) Kevin Warsh menegaskan komitmennya menekan inflasi dan memastikan kebijakan moneter berjalan tepat.
Dalam pidatonya di Kongres Selasa kemarin, Warsh menyebut inflasi telah menjadi beban bagi masyarakat AS dan berjanji melakukan "perubahan rezim" dalam kebijakan The Fed.
Warsh mengkritik kerangka kebijakan Flexible Average Inflation Targeting (FAIT) yang diterapkan pada 2020. Menurutnya, kebijakan tersebut merupakan kesalahan karena membiarkan inflasi melampaui target.
Meski demikian, Warsh menilai ekonomi AS tetap solid, didorong investasi besar di sektor kecerdasan buatan (AI). Ia meyakini lonjakan investasi AI akan meningkatkan produktivitas dan membantu menekan inflasi dalam jangka panjang.
Meski berjanji menekan inflasi, Warsh menilai ekonomi Amerika Serikat saat ini tetap berada dalam kondisi yang solid. Ia juga menyebut investasi besar-besaran di bidang kecerdasan buatan (AI) akan memberikan manfaat besar bagi pertumbuhan ekonomi dalam jangka panjang.
Warsh mengkritik kebijakan The Fed sebelumnya, khususnya kerangka Flexible Average Inflation Targeting (FAIT) yang diterapkan pada 2020 dan mengizinkan inflasi berada di atas target setelah periode inflasi rendah.
"Bank sentral itu bukan yang pertama meminta sedikit inflasi, tetapi akhirnya mendapatkan inflasi jauh lebih besar. Itu adalah sebuah kesalahan," kata Warsh dikutip dari CNBC International.
Ia menegaskan para pejabat The Fed tidak akan mentoleransi inflasi yang tinggi secara berkepanjangan.
"Inflasi telah menjadi beban yang tidak adil bagi masyarakat dan dunia usaha Amerika. Kami akan menghapus 'pajak' tersebut," ujarnya.
Warsh mengatakan diperlukan perubahan rezim dalam kebijakan moneter, termasuk meninjau kembali berbagai praktik yang selama ini diterapkan oleh bank sentral.
Untuk itu, ia membentuk lima gugus tugas yang akan mengevaluasi berbagai aspek operasional The Fed, mulai dari strategi komunikasi, teknologi, neraca, penggunaan data ekonomi, hingga cara bank sentral mengukur inflasi.
Di sisi lain, Warsh menilai ekonomi AS masih tumbuh dengan baik dan menunjukkan ketahanan. Ia menyoroti lonjakan investasi bisnis, terutama pembangunan pusat data serta permintaan tinggi terhadap perangkat keras dan perangkat lunak berbasis AI.
"Apa yang sekarang disebut investasi AI, pada akhirnya hanya akan disebut sebagai investasi," katanya.
Warsh sebelumnya juga menyatakan bahwa ledakan produktivitas akibat AI berpotensi membantu menekan inflasi dalam jangka panjang, meski pandangan tersebut masih diperdebatkan oleh sejumlah ekonom dan pejabat The Fed lainnya.
ada hari ini, pelaku pasar juga akan mencermati kelanjutan agenda penyampaian pandangan dari Kevin Warsh yang memasuki hari kedua di hadapan Kongres AS.
Pernyataan dan respons yang diberikan akan dianalisis secara ketat oleh investor untuk mendapatkan petunjuk lebih lanjut mengenai arah kebijakan moneter bank sentral ke depan, terutama setelah rilis data inflasi konsumen AS yang menunjukkan tren pendinginan yang lebih cepat dari perkiraan.
FILE PHOTO: Kevin Warsh, Fellow in Economics at the Hoover Institution and lecturer at the Stanford Graduate School of Business, speaks during the Sohn Investment Conference in New York City, U.S., May 8, 2017. REUTERS/Brendan Mcdermid/File Photo Foto: REUTERS/Brendan McDermid |
BEI Tambah Daftar Emiten Berstatus HSC, 37 Saham 'Jumbo' Masuk Daftar
Bursa Efek Indonesia (BEI) merevisi kriteria saham yang masuk dalam High Shareholding Concentration (HSC) List dengan menambahkan indikator price impact ratio. Hasil evaluasi tersebut membuat 37 emiten baru masuk ke daftar HSC sehingga totalnya menjadi 51 saham.
Direktur Utama BEI Jeffrey Hendrik menjelaskan, indikator baru ini diterapkan pada saham berkapitalisasi pasar di atas Rp10 triliun untuk mendeteksi indikasi kepemilikan saham yang terkonsentrasi.
Evaluasi price impact ratio akan dilakukan setiap tiga bulan, sementara pengawasan lainnya tetap dilakukan secara insidental. Menurut Jeffrey, perubahan ini merupakan bagian dari reformasi BEI untuk menjaga perdagangan saham yang teratur, wajar, dan efisien.
Bursa Efek Indonesia (BEI) merevisi kriteria saham yang masuk dalam High Shareholding Concentration (HSC) List dengan menambahkan indikator price impact ratio. Hasil evaluasi tersebut membuat 37 emiten baru masuk ke daftar HSC sehingga totalnya menjadi 51 saham.
Direktur Utama BEI Jeffrey Hendrik menjelaskan, indikator baru ini diterapkan pada saham berkapitalisasi pasar di atas Rp10 triliun untuk mendeteksi indikasi kepemilikan saham yang terkonsentrasi.
Saham yang memiliki price impact ratio tinggi akan melalui proses screening untuk mengidentifikasi ada atau tidaknya indikasi kepemilikan saham yang terkonsentrasi.
Evaluasi price impact ratio akan dilakukan setiap tiga bulan, sementara pengawasan lainnya tetap dilakukan secara insidental. Menurut Jeffrey, perubahan ini merupakan bagian dari reformasi BEI untuk menjaga perdagangan saham yang teratur, wajar, dan efisien.
Price impact ratio sendiri dihitung dengan membandingkan perubahan harga saham terhadap tingkat velocity saham tersebut. Sementara velocity dihitung berdasarkan rata-rata volume transaksi dibandingkan dengan jumlah saham yang beredar di publik atau free float.
"Artinya saham-saham yang aktivitas volume transaksinya rendah Tentu akan menghasilkan velocity yang rendah. Dengan velocity yang rendah tetapi dengan perubahan harga yang besar Tentu akan menghasilkan price impact ratio yang tinggi. Atas saham-saham inilah kami akan melakukan screening Terhadap potensi ada atau tidaknya high shareholding concentration," jelas Jeffrey di konferensi pers BEI, Jakarta, Selasa, (14/7/2026).
Meski demikian, Jeffrey menegaskan faktor pemicu lain yang selama ini digunakan dalam fungsi pengawasan tetap akan diterapkan. Pengawasan tersebut dilakukan untuk mendeteksi indikasi konsentrasi kepemilikan maupun aktivitas perdagangan yang memerlukan perhatian khusus.
Melalui evaluasi terbaru, jumlah emiten yang masuk dalam daftar HSC bertambah menjadi 47 saham, setelah ditambah 37 emiten baru.
Sebelumnya, pada 3 April 2026, BEI mengumumkan data 10 perusahaan berstatus HSC.
Namun, PT Lima Dua Lima Tiga Tbk (LUCY) yang sempat masuk dalam daftar HSC statusnya dicabut oleh Bursa Efek Indonesia (BEI) efektif 29 Juni 2026 dan diumumkan kepada publik pada 2 Juli 2026.
Data yang lebih terbuka ini diharapkan bisa meningkatkan kepercayaan investor pasar modal.
Data ini diambil berdasarkan metodologi penentuan Kepemilikan Saham Terkonsentrasi Tinggi (High Shareholding Concentration) atas struktur kepemilikan Saham dalam bentuk Warkat dan Tanpa Warkat per tanggal 30 Juni 2026.
Telkomsel, Indosat, XLSMART Menang Lelang Frekuensi 700 MHz & 2,6 GHz
ementerian Komunikasi dan Digital (Komdigi) resmi menuntaskan tahapan sanggah dalam proses seleksi pita frekuensi 700 MHz dan 2,6 GHz. Dengan berakhirnya proses tersebut, hasil lelang kini berkekuatan hukum tetap.
Berdasarkan hasil final, Telkomsel, Indosat, dan XLSMART resmi menjadi pemenang seleksi dan berhak mengelola spektrum frekuensi baru di pita 700 MHz dan 2,6 GHz. Tambahan spektrum ini diharapkan mempercepat pengembangan jaringan 5G sekaligus meningkatkan kapasitas dan kualitas layanan telekomunikasi di Indonesia.
Buat PT Telekomunikasi Selular (Telkomsel, frekuensi baru tersebut akan dimanfaatkan untuk memperluas dan memperkuat layanan 5G di Indonesia.
Dalam hasil seleksi pengguna pita frekuensi radio 700 MHz dan 2,6 GHz yang diumumkan Komdigi pada Jumat (10/7/2026), Telkomsel keluar sebagai pemenang di pita 2,6 GHz dengan nilai penawaran mencapai Rp545,8 miliar.
Lelang spektrum 2,6 GHz diikuti oleh tiga operator seluler, yakni Telkomsel, Indosat, dan XLSmart. Kemenangan ini memperkuat posisi Telkomsel dalam pengembangan jaringan 5G, seiring meningkatnya kebutuhan akan layanan internet berkecepatan tinggi di Tanah Air.
CNBC Indonesia Investment Forum
CNBC Indonesia akan menghadirkan Investment Forum 2026 menghadirkan regulator, pelaku industri, investor, dan pemangku kepentingan untuk membahas peluang serta tantangan implementasi P2SK dalam memperkuat posisi Indonesia di sektor keuangan dan ekonomi global. Mereka di antaranya Direktur Utama Bursa Efek Indonesia Jeffrey Hendrik, Wakil Ketua DPR RI Sufmi Dasco Ahmad, dan Ketua Komisi XI DPR RI Mukhamad Misbakhun.
Melalui forum ini, diharapkan tercipta ruang diskusi strategis untuk membahas peran sektor keuangan dalam mendorong pertumbuhan ekonomi, memperkuat pasar modal dan industri strategis nasional, serta mengidentifikasi peluang dan tantangan dalam meningkatkan daya saing Indonesia di tengah dinamika ekonomi global yang terus berkembang.
CNBC Investment Forum 2026 dapat disimak secara eksklusif dan live di CNBC Indonesia TV dan streaming di CNBC Indonesia. Pantau terus cnbcindonesia.com dan CNBC Indonesia TV untuk update informasi seputar ekonomi dan bisnis.
Rilis Produk Domestik Bruto (PDB) China
Hari ini, Biro Statistik Nasional China dijadwalkan mengumumkan data Produk Domestik Bruto (PDB) untuk kuartal kedua tahun 2026.
Pada kuartal pertama sebelumnya, ekonomi China mencatatkan ekspansi sebesar 5,0% yoy, lebih tinggi dari kuartal keempat tahun sebelumnya (4,5%).
Pertumbuhan tersebut didukung oleh stabilitas kinerja ekspor. Walaupun China mampu mempertahankan stabilitas energi di tengah gejolak eksternal awal tahun, momentum ekonomi di sektor konsumsi masih menjadi perhatian.
Konsensus pasar saat ini mengestimasikan PDB China untuk kuartal kedua akan mencatatkan pertumbuhan di level 4,6%.
Rilis Penjualan Ritel China
Bersamaan dengan data PDB, data penjualan ritel China untuk bulan Juni juga akan dipublikasikan hari ini. Pada bulan Mei 2026, penjualan ritel mencatatkan kontraksi sebesar 0,6% yoy, penurunan pertama sejak Desember 2022.
Koreksi signifikan terlihat pada sektor otomotif (-16,1%), peralatan rumah tangga (-15,6%), hingga material bangunan (-13,6%).
Rilis data hari ini akan menjadi indikator krusial mengenai status daya beli konsumen domestik China, dengan konsensus analis memperkirakan pertumbuhan tipis di level 0,2%.
Rilis Indeks Harga Produsen (PPI) Amerika Serikat
Data inflasi dari sisi produsen (PPI) di Amerika Serikat untuk bulan Juni dijadwalkan rilis pada hari ini.
Mengacu pada data bulan Mei 2026, PPI tahunan AS terakselerasi menjadi 6,5%, menandai tren kenaikan selama empat bulan berturut-turut dan mencapai tingkat tertinggi sejak November 2022.
Dengan adanya dinamika penurunan harga energi yang sudah terlihat pada data CPI, pelaku pasar memperkirakan indeks PPI pada bulan Juni akan mencatatkan moderasi dengan konsensus berada pada level 6,3%.
Rilis Statistik Utang Luar Negeri Indonesia (SULNI)
Dari sisi domestik, Bank Indonesia (BI) akan merilis laporan Statistik Utang Luar Negeri Indonesia (SULNI) untuk periode Mei 2026 pada hari ini.
Publikasi ini merupakan referensi utama dalam mengevaluasi stabilitas eksternal makroekonomi Indonesia.
Berdasarkan data historis April 2026, posisi Utang Luar Negeri (ULN) Indonesia tercatat sebesar US$ 439,8 miliar, tumbuh sebesar 1,9% (yoy).
ULN pemerintah pada bulan April 2026 mencapai US$ 216,4 miliar (tumbuh 3,7% yoy), dengan struktur yang didominasi oleh portofolio jangka panjang (99,99%) serta alokasi sektoral terbesar pada jasa kesehatan (22,0%) dan administrasi publik (20,5%).
Sementara itu, ULN swasta tercatat sebesar US$ 193,2 miliar, mengalami kontraksi 0,7% (yoy). Pada sektor perbankan, total ULN mencapai US$ 32,04 miliar, di mana bank swasta nasional mendominasi dengan porsi US$ 21,46 miliar, diikuti oleh bank BUMN sebesar US$ 5,41 miliar.
Data SULNI bulan Mei hari ini akan dipantau secara seksama guna menganalisis pergerakan profil utang di tengah perubahan lanskap suku bunga global.
Berikut sejumlah agenda dan rilis data yang terjadwal untuk hari ini:
- Pertumbuhan PDB China Q2 2026
- Penjualan Ritel China Juni 2026
- Produksi Industri China Juni 2026
- Tingkat pengangguran China Juni 2026
- Inflasi Arab Saudi Juni 2026
- PPI AS Juni 2026
- Keputusan Suku Bunga Bank of Canda
- Testimoni Kevin Warsh
- Statistik Utang Luar Negeri Indonesia (SULNI) Mei 2026
-
CNBC Indonesia Investment Forum 2026 di Main Hall Gedung Bursa Efek Indonesia, Jakarta Selatan
Presiden melakukan kunjungan kerja ke Maluku -
MG Mid-Year Media Gathering di Bengkel Space, SCBD
-
Google Cloud Media Briefing di Grand Hyatt Hotel Jakart
Berikut sejumlah agenda emiten di dalam negeri pada hari ini:
-
Pemberitahuan RUPS Rencana PT Sinar Mas Multiartha Tbk (SMMA)
-
Pemberitahuan RUPS Rencana Semen Indonesia (Persero) Tbk (SMGR)
-
Tanggal Pembayaran Dividen Tunai PT Wilmar Cahaya Indonesia Tbk (CEKA)
-
Tanggal Pembayaran Dividen Tunai Metropolitan Kentjana Tbk (MKPI)
-
Tanggal Pembayaran Dividen Tunai Tembaga Mulia Semanan Tbk (TBMS)
-
Tanggal Pembayaran Dividen Tunai PT Samator Indo Gas Tbk (AGII)
-
Tanggal Pembayaran Dividen Tunai Pakuwon Jati Tbk (PWON)
-
Tanggal Pembayaran Dividen Tunai PT Benteng Api Technic Tbk (BATR)
-
Tanggal Pembayaran Dividen Tunai PT Phapros Tbk (PEHA)
-
Tanggal Pembayaran Dividen Tunai PT Delta Giri Wacana Tbk (DGWG)
-
Tanggal Pembayaran Dividen Tunai Ever Shine Textile Industry Tbk (ESTI)
-
Tanggal Pembayaran Dividen Tunai PT Murni Sadar Tbk (MTMH)
-
Tanggal Pembayaran Dividen Tunai ESSA Industries Indonesia Tbk (ESSA)
-
Tanggal Pembayaran Dividen Tunai Panin Sekuritas Tbk (PANS)
-
Tanggal Pembayaran Dividen Tunai PT Cahayasakti Investindo Sukses Tbk (CSIS)
-
Tanggal Pembayaran Dividen Tunai PT Allo Bank Indonesia Tbk (BBHI)
Berikut sejumlah indikator perekonomian nasional:
-
Sanggahan: Artikel ini adalah produk jurnalistik berupa pandangan CNBC Indonesia Research. Analisis ini tidak bertujuan mengajak pembaca untuk membeli, menahan, atau menjual produk atau sektor investasi terkait. Keputusan sepenuhnya ada pada diri pembaca, sehingga kami tidak bertanggung jawab terhadap segala kerugian maupun keuntungan yang timbul dari keputusan tersebut.
CNBC INDONESIA RESEARCH
(gls/gls) Add
source on Google Next Article IHSG-Rupiah Hari Ini Bertarung Melawan "Panasnya" Ekonomi Amerika
