MARKET DATA

Beda Pandangan S&P, Fitch & Moody's Soal RI, Siapa Layak Dipercaya?

Elvan Widyatama,  CNBC Indonesia
14 July 2026 11:50
Gedung Standard & Poor's di distrik keuangan New York 5 Februari 2013. (REUTERS / Brendan McDermid/File Foto)
Foto: Gedung Standard & Poor's di distrik keuangan New York 5 Februari 2013. (REUTERS / Brendan McDermid/File Foto)

Jakarta, CNBC Indonesia - Sepanjang 2026, pasar keuangan Indonesia beberapa kali dikejutkan oleh kabar dari lembaga pemeringkat global. Arah kebijakan, tekanan fiskal, pelemahan rupiah, hingga beban utang membuat prospek kredit Indonesia menjadi salah satu isu yang cukup diperhatikan investor.

Kekhawatiran itu muncul sejak awal tahun. Moody's Ratings lebih dulu menurunkan outlook Indonesia dari stable menjadi negative pada Februari 2026, meski tetap mempertahankan rating Indonesia di level Baa2.

Setelah itu, Fitch Ratings juga mengambil langkah serupa dengan merevisi outlook Indonesia dari stable menjadi negative, sembari mempertahankan rating di level BBB.

Di tengah bayang-bayang tersebut, kabar lebih positif datang dari S&P Global Ratings. Pada 13 Juli 2026, S&P mempertahankan peringkat kredit Indonesia di level BBB untuk jangka panjang dan A-2 untuk jangka pendek. Outlook peringkat jangka panjang Indonesia juga tetap bertahan di level stabil.

Keputusan S&P menjadi penting karena lembaga tersebut tidak mengikuti langkah Moody's dan Fitch yang lebih dulu menurunkan outlook Indonesia. Dengan keputusan ini, Indonesia masih mempertahankan status investment grade dari tiga lembaga pemeringkat global utama.

S&P menilai outlook stabil mencerminkan ekspektasi bahwa penerimaan pemerintah akan terus pulih tahun ini. Penerimaan ekspor juga diperkirakan membaik seiring kenaikan harga komoditas. Selain itu, S&P masih melihat komitmen menjaga defisit fiskal di bawah 3% dari produk domestik bruto (PDB) sebagai jangkar penting kebijakan pemerintah.

Namun, penilaian dari tiga lembaga pemeringkat tersebut masih menyisakan perhatian khusus bagi Indonesia.

Moody's dan Fitch menyoroti masalah prediktabilitas kebijakan, kredibilitas fiskal, dan meningkatnya ketidakpastian kebijakan. S&P juga tetap memberi sejumlah catatan, mulai dari tekanan rupiah, kenaikan harga minyak, perang Timur Tengah, penutupan Selat Hormuz, hingga beban pembayaran utang dan kebutuhan pembiayaan eksternal Indonesia.

CNBC Indonesia telah merangkum isi peringatan serta prospek ekonomi Indonesia dari tiga lembaga pemeringkat global tersebut.

Moody's Ratings

Moody's menjadi lembaga pemeringkat pertama yang memberi sinyal kurang nyaman untuk Indonesia pada 2026. Rating Indonesia memang tetap dipertahankan di level Baa2, tetapi outlook diturunkan dari stabil menjadi negatif.

Keputusan ini menunjukkan bahwa Indonesia masih berada di level investment grade. Namun, Moody's mulai melihat risiko yang lebih besar dari sisi kebijakan, fiskal, dan tata kelola.

Catatan utama Moody's ada pada menurunnya prediktabilitas kebijakan.

Proses pengambilan keputusan yang dinilai kurang konsisten, ditambah komunikasi kebijakan yang belum optimal, berisiko menekan kepercayaan investor.

Moody's juga menyoroti tekanan belanja pemerintah, basis penerimaan negara yang masih lemah, serta ketidakpastian awal terkait tata kelola Danantara.

Wacana perubahan kerangka fiskal dan pembahasan mandat Bank Indonesia ikut menambah daftar risiko yang perlu dicermati.

Meski memberi outlook negatif, Moody's masih menilai ekonomi Indonesia cukup tangguh. Penopangnya datang dari sumber daya alam, demografi, serta kebijakan fiskal dan moneter yang selama ini relatif hati-hati.

Pertumbuhan ekonomi Indonesia juga diperkirakan tetap berada di kisaran 5% dalam jangka pendek hingga menengah.

Selama disiplin fiskal tetap dijaga, defisit bertahan di bawah 3% PDB, dan tata kelola Danantara semakin jelas, tekanan terhadap rating Indonesia bisa lebih terkendali.

Fitch Ratings

Fitch Ratings juga mengambil langkah serupa dengan Moody's.

Lembaga pemeringkat global ini masih mempertahankan rating Indonesia di level BBB, tetapi menurunkan outlook dari stable menjadi negative.

Nada Fitch cukup tegas. Risiko terbesar yang dilihat adalah meningkatnya ketidakpastian kebijakan, tekanan fiskal, dan potensi melemahnya kredibilitas bauran kebijakan.

Fitch menilai ambisi pemerintah mengejar pertumbuhan ekonomi 8% bisa mendorong kebijakan fiskal dan moneter menjadi lebih longgar. Kondisi ini perlu dijaga agar tidak mengganggu stabilitas makro dan pasar keuangan.

Fitch juga menyoroti tekanan belanja sosial, penerimaan negara yang masih rendah, serta peran Danantara yang dinilai perlu tetap transparan. Risiko eksternal seperti arus modal keluar, pelemahan rupiah, dan defisit transaksi berjalan juga masuk dalam perhatian utama Fitch.

Meski outlook diturunkan, Fitch masih melihat fondasi ekonomi Indonesia cukup kuat. Pertumbuhan ekonomi diperkirakan tetap berada di sekitar 5% pada 2026-2027, jauh lebih tinggi dibanding median negara dengan rating BBB.

Rasio utang pemerintah juga masih lebih rendah dibanding negara selevel. Selain itu, cadangan devisa dinilai masih cukup menopang, sementara inflasi diperkirakan tetap berada dalam rentang sasaran Bank Indonesia.

S&P Global Ratings

Berbeda dari Moody's dan Fitch, S&P Global Ratings memberi kabar yang lebih positif. Lembaga ini mempertahankan rating Indonesia di level BBB untuk jangka panjang dan A-2 untuk jangka pendek, dengan outlook tetap stable.

Keputusan ini penting karena S&P tidak ikut menurunkan outlook Indonesia. Meski begitu, penilaian S&P tetap memuat sejumlah catatan risiko yang perlu diperhatikan.

S&P mencatat tekanan pasar keuangan Indonesia cukup besar pada paruh pertama 2026. Rupiah melemah, sementara pasar saham kehilangan kapitalisasi pasar dalam jumlah besar.

Risiko eksternal juga meningkat, terutama dari perang Timur Tengah dan penutupan Selat Hormuz. Kondisi ini menjadi perhatian karena Indonesia masih menjadi net importir minyak mentah dan BBM olahan. Di sisi lain, beban bunga utang dan kebutuhan pembiayaan eksternal juga masih tinggi.

Namun, S&P tetap melihat prospek ekonomi Indonesia cukup solid.

Ekonomi diperkirakan tumbuh 5,1% pada 2026 dan rata-rata 4,9% per tahun pada periode 2026-2029.

S&P juga menilai penerimaan pemerintah berpeluang terus pulih, didukung kenaikan harga komoditas, royalti sektor sumber daya alam, serta kebijakan hilirisasi.

Komitmen menjaga defisit fiskal di bawah 3% PDB turut menjadi faktor penting yang membuat outlook Indonesia tetap stabil.

CNBC INDONESIA RESEARCH 

[email protected]

(evw/evw) Add logo_svg as a preferred
source on Google



Most Popular