MARKET DATA

S&P Sentil RI Soal Bunga Utang, Benarkah Sudah Masuk Zona Bahaya?

Elvan Widyatama,  CNBC Indonesia
27 February 2026 14:30
The S&P Global logo is seen outside a building in Washington, DC, on July 25, 2019. (Photo by Alastair Pike / AFP)
Foto: AFP/ALASTAIR PIKE

Jakarta, CNBC Indonesia - Lembaga pemeringkat global kembali menyoroti meningkatnya tekanan fiskal Indonesia. Peringatan ini datang dari S&P Global Ratings dalam webinar kawasan Asia Pasifik pada Kamis (26/2/2026).

Dalam kesempatan tersebut, analis sovereign S&P Global Ratings Rain Yin mengatakan pembayaran bunga utang Indonesia berpotensi menembus batas kunci 15% dari pendapatan pemerintah.

Yin menambahkan, bila rasio tersebut bertahan di atas 15% dalam periode yang berkelanjutan, S&P bisa memandang prospek peringkat Indonesia dengan lebih negatif.

Menurut Yin, jika rasio itu bertahan di atas 15% dalam beberapa waktu ke depan, S&P dapat melihat prospek peringkat Indonesia dengan lebih negatif.

Sejalan dengan peringatan tersebut, pantauan CNBC Indonesia menunjukkan rasio pembayaran bunga utang pemerintah terhadap pendapatan negara memang sudah berada di atas 15%. Pada 2024, rasio ini tercatat sekitar 17%.

Angka tersebut merujuk pada Laporan Keuangan Pemerintah Pusat (LKPP) 2024, dengan total pembayaran bunga utang mencapai Rp488,4 triliun, sementara pendapatan negara tercatat sebesar Rp2.850,61 triliun.

Meski demikian, S&P Global sampai saat ini masih belum mengubah outlook Indonesia di Stabil, serta peringkat kredit Indonesia masih berada di level BBB.

Namun, pernyataan itu memperlihatkan kekhawatiran yang kian melebar soal ruang fiskal Indonesia.

S&P juga menyinggung realisasi defisit tahun lalu yang mencapai 2,9% dari Produk Domestik Bruto (PDB) lebih tinggi dari perkiraan, terutama akibat pendapatan yang kurang kuat. Padahal, Indonesia memiliki aturan fiskal yang membatasi defisit maksimal 3% dari PDB.

Perkembangan defisit yang mendekati batas itu dinilai membuat risiko penurunan terhadap jalur fiskal Indonesia "bergerak naik lebih cepat."

S&P mengingatkan ke depan akan terus mengawasi khususnya akan dua hal. Pertama, apakah kerangka fiskal jangka menengah tetap berpijak pada aturan fiskal yang sudah mapan. Kedua, bagaimana arah penerimaan negara dalam beberapa waktu ke depan.

"Dua perkembangan yang kami perhatikan sangat cermat adalah kerangka fiskal jangka menengah dan perkembangan pendapatan," kata Yin.

Sebelumnya, pada awal Februari, Moody's mengubah outlook Indonesia menjadi negatif dari stabil dengan alasan pelemahan tata kelola serta meningkatnya risiko fiskal di bawah pemerintahan Presiden Prabowo Subianto. Meski demikian, Moody's masih mempertahankan peringkat Indonesia di level Baa2.

Selain S&P dan Moody's, Fitch Ratings juga menjadi rujukan utama investor global dalam membaca risiko sebuah negara dalam memenuhi kewajiban utangnya.

Untuk Indonesia, Fitch terakhir kali mengumumkan penilaiannya pada 11 Maret 2025 dengan peringkat BBB dan outlook stable. Artinya, Indonesia masih berada di kategori investment grade versi Fitch, sementara outlook stabil menandakan faktor-faktor penopang peringkat dinilai masih cukup terjaga.

Apa Pentingnya Lembaga Rating Bagi Indonesia?

Rating utang menjadi rujukan penting bagi investor global. Banyak investor institusi seperti pengelola dana pensiun, perusahaan asuransi, hingga reksa dana obligasi memiliki aturan internal yang membatasi mereka hanya boleh membeli aset dengan peringkat tertentu. Karena itu, peringkat sebuah negara ikut menentukan seberapa luas basis investor yang bisa masuk ke pasar obligasinya.

Ketika rating Indonesia kuat dan berada di kategori investment grade, ruang investor biasanya lebih besar dan biaya pendanaan cenderung lebih murah.

Sebaliknya, di bawah investment grade ada kategori speculative grade yang kerap disebut non investment grade atau junk karena risikonya dinilai lebih tinggi.

Jika sebuah negara berada di level ini, investor umumnya meminta kompensasi imbal hasil yang lebih besar, sehingga biaya pendanaan ikut naik.

Lembaga pemeringkat juga tidak sekadar memberi angka. Mereka menilai fondasi ekonomi suatu negara dari berbagai sisi. Mulai dari kekuatan mesin ekonomi, yakni seberapa solid pertumbuhan dan seberapa tahan ekonomi menghadapi guncangan global.

Lalu kesehatan fiskal, yang tercermin dari kemampuan APBN menahan tekanan belanja, defisit, dan kenaikan biaya utang.

Mereka juga mencermati rasio utang terhadap PDB untuk melihat seberapa berat beban utang dibandingkan ukuran ekonomi, serta stabilitas politik dan kebijakan untuk menilai konsistensi arah pemerintah dan kredibilitasnya di mata pasar.

Terakhir, prospek pertumbuhan ke depan turut menjadi perhatian, termasuk apakah ekonomi masih memiliki ruang dan "bahan bakar" untuk terus melaju dalam beberapa tahun mendatang.

Agar lebih mudah melihat posisi rating Indonesia di antara standar global, perlu dipahami bahwa setiap lembaga pemeringkat memiliki skala dan penamaan yang berbeda, meski maknanya relatif sejalan. Karena itu, berikut ini skala peringkat S&P Global Ratings, Moody's Ratings, dan Fitch Ratings dari level tertinggi hingga terendah sebagai acuan.

CNBC INDONESIA RESEARCH

[email protected]

(evw/evw) Add as a preferred
source on Google



Most Popular