In This Economy! IPO Ditinggal, Obligasi Jadi Buruan
Jakarta, CNBC Indonesia - Aktivitas penghimpunan dana korporasi di pasar modal Indonesia melambat sepanjang semester I-2026. Penurunan paling dalam terjadi pada pasar penawaran umum perdana saham atau initial public offering (IPO), sedangkan penerbitan surat utang masih relatif bertahan.
Data Pefindo menunjukkan penerbitan surat utang korporasi mencapai Rp87,35 triliun pada semester I-2026. Nilainya turun 3,91% dibandingkan Rp90,90 triliun pada periode yang sama tahun sebelumnya.
Sementara itu, jumlah perusahaan yang masuk dalam gelombang IPO semester I-2026 mencapai tujuh emiten dengan total dana sekitar Rp2,16 triliun.
Angka ini memasukkan enam perusahaan yang telah mengumumkan dan memulai proses IPO pada Juni, meskipun tanggal pencatatan sahamnya berlangsung pada 7-10 Juli 2026.
Sebagai perbandingan, pada semester I-2025 terdapat 14 perusahaan yang menggelar IPO dengan total dana Rp7,01 triliun. Dengan demikian, jumlah IPO turun 50%, sedangkan dana yang dihimpun merosot 69,17%.
Angka Rp2,16 triliun berasal dari IPO PT BSA Logistics Indonesia Tbk (WBSA) serta enam perusahaan yang proses penawarannya dimulai pada penghujung Juni. BEI mencatat ketujuh perusahaan tersebut telah menghimpun dana sekitar Rp2,16 triliun sampai 10 Juli 2026.
Dua IPO lain yang masuk dalam perhitungan semester I-2026 adalah PT Niramas Utama Tbk (JELI), dengan dana Rp239,40 miliar, serta PT Prodia Diagnostic Line Tbk (PRDL) sebesar Rp62,75 miliar. Nilai masing-masing transaksi dihitung dari jumlah saham yang ditawarkan dikalikan harga penawaran final berdasarkan data e-IPO.
Lima IPO terbesar pada semester I-2025 mengumpulkan sekitar Rp5,98 triliun atau 85,3% dari keseluruhan dana IPO periode tersebut.
Perbandingan tersebut menunjukkan penyusutan ukuran transaksi. Semester I-2025 memiliki CBDK dan YUPI yang masing-masing menghimpun lebih dari Rp2 triliun. Sementara itu, IPO terbesar pada semester I-2026 hanya menghasilkan sekitar Rp610 miliar.
Artinya, perlambatan pasar IPO bukan hanya disebabkan berkurangnya jumlah perusahaan yang melantai di bursa, tetapi juga hilangnya transaksi berukuran jumbo.
Pegadaian hingga MBMA Pimpin Penerbitan Surat Utang
Untuk melihat perusahaan penerbit terbesar, perhitungan berikut menggunakan data obligasi dan sukuk baru yang tercatat di BEI, kemudian dijumlahkan berdasarkan nama penerbit.
Angka penerbitan Pefindo sebesar Rp90,90 triliun dan Rp87,35 triliun memiliki cakupan lebih luas, termasuk obligasi, sukuk, medium-term notes dan sekuritisasi.
Sementara itu, ranking perusahaan di atas hanya menggunakan obligasi dan sukuk baru yang tercatat di BEI. Karena itu, total keduanya tidak dapat dicocokkan secara satu banding satu.
Pasar Obligasi Melambat, tetapi Tetap Aktif
Penurunan surat utang sebesar 3,91% belum menunjukkan pasar obligasi korporasi mengalami kontraksi berat. Basis semester I-2025 memang tinggi karena penerbitan saat itu melonjak 48,31% secara tahunan.
Rasio penerbitan baru terhadap surat utang yang jatuh tempo bahkan naik dari 140,3% menjadi 158,2%. Artinya, nilai penerbitan baru masih jauh lebih besar daripada pokok surat utang yang harus dilunasi.
Multifinance menjadi sektor paling aktif pada semester I-2026 dengan penerbitan Rp12,93 triliun atau 14,8% dari keseluruhan pasar. Berikutnya adalah pulp dan kertas Rp12,84 triliun, perusahaan holding Rp11,87 triliun, perbankan Rp11,69 triliun dan pertambangan Rp11,58 triliun.
Penggunaan dana untuk investasi juga melonjak lebih dari lima kali lipat, dari Rp3,14 triliun menjadi Rp19,48 triliun. Sebaliknya, penggunaan untuk modal kerja turun menjadi Rp44,77 triliun dan refinancing menurun menjadi Rp23,10 triliun.
Hal tersebut menunjukkan perusahaan besar masih berani membiayai ekspansi melalui surat utang, meskipun biaya pendanaan meningkat.
Mengapa Dana IPO Turun Lebih Dalam?
Pasar IPO lebih sensitif terhadap perubahan harga saham dan persepsi risiko. Perusahaan yang menjual saham ketika pasar sedang tertekan berisiko memperoleh valuasi rendah, sehingga harus melepas kepemilikan lebih besar untuk mendapatkan dana yang sama.
Tekanan terlihat dari IHSG yang ditutup pada level 5.643,19 pada 30 Juni 2026, melemah 34,74% sejak awal tahun. Investor asing juga membukukan penjualan bersih sekitar Rp19,63 triliun sepanjang Juni.
Sentimen global belum kondusif. Ketegangan geopolitik mendorong investor mencari aset aman, sedangkan Bank Indonesia pada Juni 2026 menaikkan BI Rate sebesar 25 basis poin menjadi 5,75% untuk menjaga stabilitas rupiah dan mengantisipasi tekanan inflasi.
Dari dalam negeri, BEI memperketat pemeriksaan kualitas calon emiten. Perubahan Peraturan I-A mulai berlaku pada 31 Maret 2026.
Aturan baru tersebut antara lain menetapkan free float minimum 15%-25% bagi calon emiten, bergantung pada kapitalisasi pasarnya, serta memperkuat persyaratan keuangan seperti saldo laba positif untuk masuk Papan Utama.
Ketentuan ini ditujukan untuk meningkatkan kualitas dan likuiditas saham baru, tetapi dalam jangka pendek membuat proses persiapan serta penyaringan IPO menjadi lebih ketat.
Kemudian, peringatan MSCI mengenai transparansi kepemilikan dan aktivitas perdagangan saham Indonesia turut menambah premi risiko.
MSCI masih mempertahankan Indonesia sebagai emerging market, tetapi membuka kemungkinan konsultasi reklasifikasi apabila tidak ada kemajuan kredibel hingga evaluasi November 2026.
Investor Selektif, Transaksi Jumbo Menghilang
Masuknya tujuh perusahaan dalam perhitungan semester I-2026 menunjukkan pipeline IPO masih tersedia. Namun, penurunan dana sebesar 69,17% memperlihatkan investor dan calon emiten memilih transaksi berukuran lebih kecil.
Komposisi IPO juga menarik karena tiga perusahaan berasal dari ekosistem kesehatan, yakni JECX, EMMI dan PRDL. Hal ini menunjukkan bisnis rumah sakit, klinik dan alat kesehatan masih dianggap memiliki permintaan relatif stabil.
Di sisi lain, pasar obligasi tetap lebih kuat karena memberikan kupon dan kepastian pembayaran kepada investor. Korporasi besar juga dapat menyesuaikan tenor serta tingkat kupon untuk menarik permintaan.
Dengan demikian, pasar modal Indonesia tidak berhenti sepenuhnya. Pasar hanya menjadi lebih selektif: obligasi korporasi besar masih terserap, sedangkan IPO tetap berlangsung tetapi tanpa transaksi jumbo seperti pada semester I-2025.
-
Sanggahan: Artikel ini adalah produk jurnalistik berupa pandangan CNBC Indonesia Research. Analisis ini tidak bertujuan mengajak pembaca untuk membeli, menahan, atau menjual produk atau sektor investasi terkait. Keputusan sepenuhnya ada pada diri pembaca, sehingga kami tidak bertanggung jawab terhadap segala kerugian maupun keuntungan yang timbul dari keputusan tersebut.
CNBC INDONESIA RESEARCH
(gls/gls) Addsource on Google