S&P Bawa Kabar Baik! Jangan Sampai Amerika Rusak Pesta IHSG & Rupiah
- Pasar keuangan RI ditutup beragam IHSG dan SBNÂ menguat sementara Rupiah melemah.
- Wall Street ambruk berjamaah
- Inflasi AS, testimoni Warsh, dan neraca dagang China menjadi penggerak utama pasar pada hari ini.
Jakarta, CNBC Indonesia -Â Pasar keuangan dalam negeri ditutup beragam. bursa saham menguat sementara rupiah ditutup melemah.
Pasar keuangan Indonesia diperkirakan akan lebih lega dan siap melanjutkan reli pada hari ini ditopang sentimen positif di pasar domestik walaupun masih banyak pengumuman penting pada hari ini yang patut diwaspadai.
Selengkapnya mengenai proyeksi pasar hari ini bisa dibaca pada halaman 3 artikel ini.
Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) melesat kencang pada akhir perdagangan kemarin, Senin (13/6/2026). Setelah mengalami volatilitas tinggi sepanjang hari, IHSG tiba-tiba melambung 20 menit sebelum pasar tutup hingga akhirnya parkir di level 6.037,84.
IHSG ditutup naik 113,48 poin atau 1,92%. Sebanyak 377 emiten naik, 250 turun, dan 107 stagnan. Nilai transaksi pada akhir sesi 2 mencapai Rp 12,2 triliun dengan volume 25,10 miliar saham yang berpindah tangan dalam 2,68 juta kali transaksi. Kapitalisasi pasar pun naik menjadi Rp 10.510 triliun.
Pasar juga tercatat menutup perdagangan masih dalam posisi net foreign outflow pada sesi perdagangan kemarin sebesar Rp 437,65 miliar mengindikasikan net foreign outflow year to date sebesar Rp 76,59 triliun.
Mengutip Refinitiv, pada akhir sesi nyaris seluruh sektor berada di zona hijau. Hanya kesehatan yang masih koreksi tipis.
Bahan baku, energi, utilitas, dan finansial memimpin penguatan dengan masing-masing naik 3,74%, 2,58%, 2,39%, dan 1,69%.
Tercatat saham perbankan dan konglomerat kompak mendongkrak IHSG. Bank Mandiri (BMRI), Bank Rakyat Indonesia (BBRI), dan Amman Mineral (AMMN) menjadi pendorong utama dengan bobot 13,88 poin, 11,68 poin, dan 11,37 poin.
Adapun IHSG melompat naik di menit-menit akhir perdagangan setelah Lembaga pemeringkat internasional S&P Global Ratings memutuskan mempertahankan peringkat kredit Indonesia pada level BBB untuk jangka panjang dan A-2 untuk jangka pendek. Sementara itu, prospek (outlook) Indonesia tetap berada pada level stabil.
Dalam laporan yang dirilis pada 13 Juli 2026, S&P menilai pelemahan sejumlah indikator ekonomi Indonesia, baik dari sisi fiskal maupun eksternal, masih bersifat sementara dan berpotensi membaik dalam beberapa tahun ke depan.
Lanjut ke mata uang Garuda, Nilai tukar rupiah harus mengakhiri perdagangan awal pekan ini di zona merah terhadap dolar Amerika Serikat (AS). Tekanan terjadi di tengah menguatnya indeks dolar AS.
Merujuk data Refinitiv, mata uang Garuda berakhir di level Rp18.100/US$ atau melemah 0,30% pada perdagangan Senin (13/7/2026). Posisi tersebut membuat rupiah kembali berada di level terlemah dalam sebulan terakhir.
Sepanjang perdagangan, rupiah sejatinya sudah berada dalam tekanan sejak pagi. Mata uang Garuda dibuka melemah di level Rp18.075/US$, sebelum koreksinya semakin dalam hingga menembus level psikologis Rp18.100/US$. Rupiah bahkan sempat menyentuh level terlemah harian di Rp18.140/US$.
Sementara itu, indeks dolar AS (DXY), yang mengukur kekuatan dolar AS terhadap enam mata uang utama dunia, per pukul 15.00 WIB terpantau menguat tipis 0,04% ke level 100,985.
Pelemahan rupiah kemarin terutama dipengaruhi oleh tingginya permintaan terhadap dolar AS di tengah ketidakpastian global yang kembali meningkat.
Tekanan muncul setelah pasukan Amerika Serikat (AS) dan Iran kembali saling melancarkan serangan rudal dan drone pada akhir pekan. Iran menargetkan fasilitas AS di sejumlah negara Teluk pada Minggu, sekaligus menyatakan kembali menutup Selat Hormuz, jalur penting bagi perdagangan energi dunia.
Perkembangan tersebut langsung mengangkat harga minyak pada awal perdagangan Asia. Harga minyak Brent tercatat naik 3,3% ke level US$78,49 per barel.
Kenaikan harga minyak menjadi perhatian karena dapat menambah tekanan inflasi global. Inflasi yang kembali meningkat bisa memperbesar peluang kenaikan suku bunga bank sentral AS (The Federal Reserve/The Fed).
Lanjut ke pasar obligasi, imbal hasil Surat Berharga Negara (SBN) tenor 10 tahun turun ke 7,184% pada Senin (13/7/2026), dari hari sebelumnya yang ditutup di 7,221%.
Turunnya nilai imbal hasil ini mengindikasikan bahwa investor mulai membeli obligasi tersebut sehingga harga naik.
Dari pasar saham Amerika Serikat (AS), bursa Wall Street ditutup melemah pada Senin atau Selasa dini hari waktu Indonesia. Bursa saham emelmah setelah Presiden Donald Trump mengumumkan bahwa ia kembali memberlakukan apa yang disebutnya sebagai blokade terhadap pelayaran Iran melalui Selat Hormuz. Kebijakan tersebut memicu lonjakan harga minyak.
Indeks S&P 500 turun 0,79% dan ditutup di level 7.515,34, sementara Nasdaq Composite anjlok 1,55% menjadi 25.873,18. Adapun Dow Jones Industrial Average melemah 138,37 poin atau 0,26% ke posisi 52.498,64.
"Kami memberlakukan kembali BLOKADE IRAN, dinamakan demikian karena hanya menghentikan kapal-kapal Iran atau pelanggan Iran untuk masuk atau keluar," tulis Trump dalam unggahan di Truth Social, dikutip dari CNBC International.
"Mulai saat ini Amerika Serikat akan dikenal sebagai 'PENJAGA SELAT HORMUZ' (The Guardian of the Hormuz Strait). Sebagai bentuk keadilan, kami akan menerima penggantian biaya sebesar 20% atas seluruh kargo yang dikirim untuk menutupi seluruh biaya yang diperlukan dalam menjalankan tugas menjaga keselamatan dan keamanan di kawasan dunia yang sangat bergejolak ini," lanjut Trump.
Harga minyak melonjak setelah pengumuman tersebut. Minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) AS naik 9,4% hingga menembus US$78 per barel. Sementara itu, minyak mentah Brent, yang menjadi acuan internasional, menguat 9,6% hingga melampaui US$83 per barel.
Eskalasi terbaru ini terjadi setelah Iran dan AS saling melancarkan serangan udara sepanjang akhir pekan.
Teheran menyerang fasilitas-fasilitas AS di beberapa negara Teluk dan menyatakan Selat Hormuz ditutup. Namun, Trump membantah klaim tersebut pada Minggu dengan menyatakan jalur pelayaran strategis itu tetap terbuka untuk lalu lintas komersial.
Pada Sabtu, Trump memerintahkan serangan udara terhadap Iran setelah Teheran menyerang sebuah kapal dagang yang melintasi Selat Hormuz.
"Pasar akan tetap bergerak dalam kisaran terbatas hingga ada solusi nyata terhadap konflik di Timur Tengah," kata CEO WEBs Investments, Ben Fulton.
Saham-saham sektor semikonduktor juga berada di bawah tekanan. Saham SK Hynix yang diperdagangkan di AS merosot 9% setelah baru melantai di Nasdaq pada Jumat lalu dan sempat melonjak 13% pada hari debutnya.
Saham Micron Technology ditutup turun 4%, sementara Sandisk anjlok 12%. Seagate Technology melemah 5%. Di sisi lain, Advanced Micro Devices (AMD) turun 4%, sedangkan Intel terkoreksi 6%.
"Saya merasa pergeseran pasar ini sudah bergerak terlalu jauh. Namun saya tetap yakin tren investasi di sektor kecerdasan buatan (AI) masih kuat," ujar Fulton.
Selain itu, saham bank-bank besar AS seperti JPMorgan Chase, Goldman Sachs, Morgan Stanley, Bank of America, dan Citigroup turut melemah menjelang rilis laporan keuangan kuartalan mereka pekan ini. Investor juga menantikan hasil kinerja Netflix, Johnson & Johnson, dan UnitedHealth.
Ekspektasi terhadap musim laporan keuangan cukup tinggi. Berdasarkan data FactSet, analis memperkirakan laba perusahaan-perusahaan anggota S&P 500 pada kuartal II tumbuh lebih dari 23% secara tahunan (year-on-year/yoy).
Pada hari ini Selasa pagi waktu AS, pasar juga akan mencermati rilis data Indeks Harga Konsumen (Consumer Price Index/CPI) bulan Juni. Ekonom yang disurvei Dow Jones memperkirakan inflasi bulanan turun 0,2%, tetapi secara tahunan meningkat 3,8%.
Ketua Federal Reserve, Kevin Warsh, juga dijadwalkan memberikan kesaksian di hadapan House Financial Services Committee terkait laporan kebijakan moneter semesteran bank sentral AS.
Memasuki hari ini, pelaku pasar global dan domestik akan memfokuskan perhatian pada serangkaian rilis data makroekonomi esensial.
Pasar keuangan Indonesia diharapkan kompak menguat pada hari ini setelah lembaga rating Standar & Poor's (S&P) mempertahankan rating investment grade dan outlook stabil mereka. Keputusan ini menjadi kabar baik setelah sebelumnya lembaga rating tersebut dikabarkan akan menurunkan outlook Indonesia.
Pelaku pasar keuangan juga akan diharapkan pada sejumlah pengumuman data penting, terutama dari Amerika Serikat.
Data-data ini diproyeksikan akan memberikan indikasi lanjutan terkait arah kebijakan moneter dari bank sentral utama, efektivitas langkah pemulihan ekonomi, serta dampak dari eskalasi konflik geopolitik di Timur Tengah terhadap stabilitas harga komoditas global. Indikator yang akan dirilis mencakup kinerja perdagangan dan inflasi.
Berikut adalah rincian jadwal rilis data ekonomi yang perlu dipantau oleh para pelaku pasar pada minggu ini.
Perkembangan Perang
Presiden Donald Trump pada Senin mengumumkan bahwa Amerika Serikat (AS) kembali memberlakukan blokade terhadap pelayaran Iran dan akan menjaga Selat Hormuz tetap terbuka, sembari mengenakan tarif 20% atas seluruh kargo yang melintas.
"Selat Hormuz tetap terbuka, dengan atau tanpa Iran. Kami memberlakukan kembali BLOKADE IRAN," tulis Trump di Truth Social.
Trump juga mengancam akan melancarkan serangan baru terhadap Iran dalam beberapa jam ke depan setelah kedua negara saling menyerang menggunakan rudal dan drone. Bahkan, ia menyebut AS siap menghantam Pickaxe Mountain, fasilitas bawah tanah dekat kompleks nuklir Natanz.
Komando Pusat AS (CENTCOM) mengonfirmasi telah memulai malam ketiga berturut-turut serangan terhadap Iran. Media Iran melaporkan terjadi sejumlah ledakan di Bandar Abbas dan Pulau Kish.
Iran membalas dengan mengklaim menyerang kapal serta fasilitas militer AS di kawasan Teluk menggunakan rudal jelajah dan drone. Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araqchi menegaskan Teheran tetap menjadi "penjaga Selat Hormuz" dan menyindir rencana tarif Trump dengan mengatakan, "20% tentu terlalu tinggi."
Sementara itu, Pusat Informasi Maritim Gabungan (JMIC) menyatakan blokade mulai berlaku Selasa pukul 20.00 GMT untuk seluruh kapal yang menuju atau berasal dari pelabuhan Iran. Namun, jalur pelayaran menuju negara lain tetap dibuka dan pengiriman bantuan kemanusiaan tetap diizinkan setelah pemeriksaan.
Konflik yang terus memanas mendorong harga minyak melonjak lebih dari 9%, sementara lalu lintas kapal di Selat Hormuz dilaporkan turun sekitar 52% dibandingkan pekan sebelumnya
Afirmasi Peringkat S&P dan Stabilitas Makroekonomi Indonesia
Di tengah derasnya sentimen negatif terhadap prospek ekonomi Indonesia sepanjang tahun ini, akhirnya datang kabar baik dari lembaga pemeringkat global. S&P Global Ratings memutuskan mempertahankan peringkat kredit (sovereign rating) Indonesia di level BBB untuk jangka panjang dan A-2 untuk jangka pendek, dengan outlook tetap stabil.
Keputusan tersebut menjadi angin segar bagi pasar dan pemerintah. Pasalnya, sejak awal 2026 Indonesia beberapa kali mendapat tekanan dari lembaga pemeringkat global, setelah Moody's dan Fitch Ratings lebih dulu menurunkan prospek (outlook) Indonesia. Di tengah berbagai tantangan ekonomi global dan domestik, keputusan S&P menunjukkan kepercayaan terhadap fundamental ekonomi Indonesia masih tetap terjaga.
Dalam laporannya, S&P menyatakan outlook stabil mencerminkan keyakinan bahwa penerimaan pemerintah akan terus pulih, ekspor membaik berkat kenaikan harga komoditas, serta disiplin menjaga defisit fiskal di bawah 3% PDB tetap menjadi jangkar kebijakan.
Di balik keputusan mempertahankan rating Indonesia, S&P menyoroti lima faktor utama:
- Ekonomi tetap kuat, dengan pertumbuhan diproyeksikan 5,1% pada 2026 dan sekitar 4,9% per tahun hingga 2029.
- Penerimaan negara mulai pulih, didukung membaiknya penerimaan pajak dan pendapatan dari sektor sumber daya alam.
- Hilirisasi, Danantara, dan Danantara Sumberdaya Indonesia (DSI) dinilai berpotensi meningkatkan penerimaan negara dan ekspor melalui penguatan tata kelola sektor komoditas.
- Disiplin fiskal tetap terjaga, dengan defisit diperkirakan tetap di bawah batas 3% PDB.
- Stabilitas kebijakan dan institusi masih menjadi kekuatan Indonesia, termasuk independensi Bank Indonesia dalam menjaga stabilitas ekonomi dan rupiah.
S&P menilai indikator fiskal dan moneter dinilai tetap solid. Pemerintah diyakini mampu menjaga defisit fiskal di bawah 3% terhadap Produk Domestik Bruto (PDB), didukung oleh realisasi pendapatan negara yang tumbuh 21,4% secara tahunan pada Semester I-2026 menjadi Rp1.459,4 triliun, serta langkah efisiensi pada pos belanja strategis.
Pada sektor moneter, S&P mengapresiasi independensi operasional Bank Indonesia pasca-revisi UU P2SK dan menilai keputusan penyesuaian suku bunga acuan hingga ke level 5,75% pada Juni 2026 sebagai langkah proaktif yang tepat untuk menjaga stabilitas nilai tukar Rupiah.
Meski demikian, S&P Global turut memberikan catatan penting yang masih perlu diperhatikan:
1. Ekonomi Tumbuh, Pasar Keuangan Tertekan
Ekonomi Indonesia tumbuh 5,6% pada kuartal I-2026. Namun, IHSG kehilangan lebih dari 30% kapitalisasi pasar dan rupiah melemah sekitar 7% terhadap dolar AS.
2. Perang Timur Tengah Jadi Ancaman
S&P menilai konflik di Timur Tengah dan gangguan Selat Hormuz menjadi risiko baru karena Indonesia masih bergantung pada impor minyak.
3. Harga Minyak Jadi Beban
Kenaikan harga komoditas belum mampu menutupi lonjakan harga minyak, sehingga neraca perdagangan memburuk sejak Maret.
4. Risiko Kebijakan Masih Ada
Perubahan kebijakan di sektor sumber daya dinilai berpotensi mengganggu kepercayaan investor, meski pemerintah dinilai tetap fleksibel.
5. Beban Utang Masih Berat
Pembayaran bunga utang diperkirakan tetap tinggi pada 2026-2027, dipicu tingginya yield obligasi dan pelemahan rupiah
6. Posisi Eksternal Melemah
Defisit transaksi berjalan diperkirakan melebar menjadi 2,1% PDB, sementara kebutuhan pembiayaan eksternal juga meningkat.
Indonesia masih menunggu beberapa pengumuman penting, di antaranya:
Berikut ini adalah rangkaian agenda lembaga rating yang akan dirilis hingga akhir tahun 2026:
Danantara Garap 26 Proyek Hilirisasi Senilai Rp225 Triliun
Badan Pengelola Investasi Daya Anagata Nusantara (BPI Danantara) tancap gas menjalankan proyek hilirisasi nasional. Total 26 proyek strategis dengan nilai investasi mencapai Rp225 triliun kini tengah digarap dan diproyeksikan menyerap 37.833 tenaga kerja.
Chief Operating Officer (COO) Danantara Dony Oskaria mengatakan proyek tersebut dijalankan dalam dua tahap. Fase pertama dimulai pada Februari 2026 dengan enam proyek prioritas senilai Rp109 triliun yang diperkirakan menyerap 11.456 pekerja. Sementara fase kedua yang dimulai April 2026 mencakup 10 proyek senilai Rp116 triliun dengan potensi menyerap 26.377 tenaga kerja.
Menurut Dony, hilirisasi tidak hanya bertujuan menarik investasi, tetapi juga meningkatkan nilai tambah sumber daya alam, menggerakkan ekonomi daerah, dan menciptakan lapangan kerja.
"Tidak hanya menghasilkan investasi, hilirisasi ini juga menciptakan lapangan kerja, menggerakkan ekonomi daerah, dan membuat nilai tambahnya dinikmati di dalam negeri," ujar Dony dalam keterangan resmi, Senin (13/7/2026).
Proyek-proyek tersebut mencakup berbagai sektor strategis, mulai dari pembangunan smelter aluminium, baja nirkarat, dan tembaga, hingga pengembangan bioavtur, bioetanol, pengolahan kelapa sawit, industri kelapa, serta peternakan ayam terintegrasi.
Melalui proyek-proyek ini, Danantara berharap hilirisasi mampu memperkuat industri nasional, meningkatkan nilai tambah komoditas, sekaligus mendorong pertumbuhan ekonomi yang lebih berkelanjutan.
Neraca Perdagangan China Juni 2026
Pada hari ini, Selasa (14/7/2026) otoritas kepabeanan China akan mempublikasikan data neraca perdagangan untuk periode Juni 2026. Sebagai catatan, pada Mei 2026, China mencatatkan pelebaran surplus perdagangan menjadi US$ 105,43 miliar dari US$ 102,72 miliar pada periode yang sama tahun sebelumnya.
Angka tersebut melampaui konsensus pasar yang memperkirakan surplus di level US$ 92,1 miliar, dan merupakan pencapaian tertinggi sejak bulan Januari.
Kenaikan surplus tersebut didorong oleh pertumbuhan ekspor yang terakselerasi sebesar 19,4% secara tahunan, mencapai US$ 376,78 miliar.
Pertumbuhan ini tercatat lebih tinggi dari bulan April (14,1%) dan berada di atas estimasi analis (15%). Peningkatan aktivitas ekspor ini sejalan dengan langkah korporasi global yang membangun inventaris untuk mengantisipasi tekanan harga energi akibat konflik Timur Tengah.
Sementara itu, impor China mengalami kenaikan 27,4% yoy menjadi US$ 271,35 miliar, melampaui ekspektasi 25%, yang mengindikasikan upaya pemerintah dalam menstimulasi konsumsi domestik.
Surplus perdagangan China dengan Amerika Serikat juga meningkat menjadi US$ 26,02 miliar pada bulan Mei. Untuk rilis data bulan Juni, konsensus pasar memproyeksikan surplus berada pada kisaran US$ 110 miliar.
Inflasi Konsumen Amerika Serikat Juni 2026
Selanjutnya, Biro Statistik Tenaga Kerja Amerika Serikat akan merilis data Inflasi atau Indeks Harga Konsumen (CPI) periode Juni 2026.
Pada bulan sebelumnya, laju inflasi tahunan AS mencatatkan kenaikan ke level 4,2% dari 3,8% di bulan April. Angka ini merupakan level tertinggi sejak April 2023 dan menunjukkan akselerasi inflasi headline selama tiga bulan berturut-turut.
Faktor utama pendorong inflasi ini adalah peningkatan biaya energi yang mencapai 23,5%, sebagai dampak langsung dari guncangan harga energi imbas konflik dengan Iran.
Harga bensin tercatat naik 40,5%, dan bahan bakar minyak meningkat 58,9%. Selain komponen energi, inflasi juga terlihat pada sektor perumahan (3,4%) dan makanan (3,1%).
Secara bulanan, CPI AS mengalami kenaikan 0,5%, dengan sektor energi menyumbang lebih dari 60% dari total kenaikan tersebut. Untuk inflasi inti (core inflation), laju tahunannya mencapai 2,9%, sedikit meningkat dari 2,8% di bulan April. Rilis data CPI bulan Juni ini diproyeksikan oleh konsensus akan berada di level 3,9%.
Pernyataan Ketua The Fed
Setelah data inflasi dirilis, pasar juga akan memperhatikan kesaksian Ketua The Fed di hadapan Kongres pada Selasa dan Rabu (14-15/7/2026)
Investor akan mencari sinyal mengenai arah suku bunga, risiko inflasi akibat harga energi, serta kemungkinan perubahan kebijakan pada pertemuan September. Ekspektasi kenaikan suku bunga meningkat setelah inflasi AS mencapai level tertinggi dalam tiga tahun dan The Fed menyampaikan sikap hawkish pada rapat Juni.
Walaupun sikap Kevin Warsh sangat berhati-hati pada pernyataan-pernyataannya, dua hari ini menjadi hari sangat penting karena apapun yang keluar dari mulut Ketua The Fed yang baru ini, market akan dengan mudah bereaksi ke pasar domestik maupun internasional.
Berikut sejumlah agenda dan rilis data yang terjadwal untuk hari ini:
- Neraca Perdagangan China Juni 2026
- Inflasi AS Juni 2026
- Testimoni Fed Chair Kevin Warsh
- Pertumbuhan PDB Singapura Q2 2026
-
Rapat Dengar Pendapat Komisi V DPR dengan Direktur Jenderal Perkeretaapian Kementerian Perhubungan di ruang rapat Komisi V DPR, Senayan, Jakarta Pusat
-
Rapat Dengar Pendapat Komisi VII DPR dengan Eselon I Kementerian Perindustrian dan Kementerian Pariwisata di ruang rapat Komisi VII DPR, Senayan, Jakarta Pusat
-
Menteri Perumahan dan Kawasan Permukiman menggelar pertemuan dengan Menteri Agraria dan Tata Ryang di kantor Kementerian ATR, Jakarta Selatan
-
OJK Banking Forum 2026 di Ruang Serba Guna Menara Radius Prawiro, Kompleks Perkantoran Bank Indonesia, Jakarta Pusat. Turut hadir Ketua DK OJK dan Kepala Eksekutif Pengawas Perbankan OJK
-
Rapat Paripurna Dewan Perwakilan Rakyat dengan agenda Tanggapan Pemerintah Terhadap Pandangan Fraksi Atas RUU Tentang Pertanggungjawaban Atas Pelaksanaan APBN TA 2025.
-
Menteri Koordinator Bidang Perekonomian menghadiri Risk and Governance Summit 2026 di Auditorium Binakarna, Hotel Bidakara, Jakarta Selatan
-
OJK menggelar Risk and Governance Summit (RGS) 2026
Berikut sejumlah agenda emiten di dalam negeri pada hari ini:
-
Tanggal Akhir Pelaksanaan Waran PT Gaya Abadi Sempurna Tbk (SLIS)
-
Pemberitahuan RUPS Rencana PT Wulandari Bangun Laksana Tbk (BSBK)
-
Tanggal Pembayaran Dividen Tunai PT Bundamedik Tbk (BMHS)
Berikut sejumlah indikator perekonomian nasional:
-
Sanggahan: Artikel ini adalah produk jurnalistik berupa pandangan CNBC Indonesia Research. Analisis ini tidak bertujuan mengajak pembaca untuk membeli, menahan, atau menjual produk atau sektor investasi terkait. Keputusan sepenuhnya ada pada diri pembaca, sehingga kami tidak bertanggung jawab terhadap segala kerugian maupun keuntungan yang timbul dari keputusan tersebut.
CNBC INDONESIA RESEARCH
(gls/gls) Add
source on Google Next Article Pekan Berat untuk RI, Badai Data dari China dan AS Siap Menghantam