Perang Mengubah Segalanya, Emas Kini Jadi Simbol Kedaulatan Negara
Jakarta, CNBC Indonesia - Di tengah perang, sanksi ekonomi, dan meningkatnya rivalitas geopolitik global, emas kini tidak lagi dipandang sekadar sebagai aset investasi atau perhiasan.
Bagi banyak negara, emas telah bertransformasi menjadi instrumen kedaulatan yang berperan penting dalam menjaga stabilitas ekonomi dan ketahanan nasional.
Harga emas melonjak tajam sejak perang Rusia-Ukraina meletus pada 24 Februari 2022. Sejak perang Rusia-Ukraina meletus harga emas sudah melesat 111% dari US$ 1903,144 per troy ons menjadi US$ 4016 per troy ons per Jumat (17/7/2026).
Harga emas global di penutupan bahkan sempat menyentuh ke level US$5.000 per troy ons pada Februari 2026.
Rekor tertinggi harga emas global di intraday adalah US$ 5.594,82 per troy ons pada akhir Januari 2026.
Selain ketidakpastian geopolitik, salah satu pendorong terbesar reli emas datang dari pembekuan lebih dari US$300 miliar cadangan devisa Rusia oleh negara-negara Barat sebagai dampak perang Ukraina.
Langkah tersebut membuat banyak bank sentral mulai mempertanyakan keamanan menyimpan cadangan dalam dolar AS dan euro.
Hasilnya, emas kembali menjadi primadona.
Sejak 2022, pembelian emas oleh bank sentral melonjak di atas 1.000 ton per tahun atau hampir dua kali lipat rata-rata historisnya.
China, Polandia, India, dan Turki menjadi pembeli terbesar. Bahkan, bank sentral Eropa menyebut lonjakan permintaan emas oleh bank sentral pasca perang Rusia-Ukraina sebagai salah satu faktor utama yang mendorong harga emas mencetak rekor demi rekor.
Pembelian emas bukan semata-mata untuk memanfaatkan kenaikan harga emas yang terus mencetak rekor, melainkan sebagai strategi mengurangi ketergantungan terhadap dolar Amerika Serikat (AS) dan memperkuat posisi keuangan nasional.
Berbeda dengan mata uang yang nilainya dipengaruhi kebijakan bank sentral dan pemerintah, emas merupakan aset riil yang tidak bisa dicetak begitu saja. Karakteristik inilah yang membuat emas menjadi aset pelindung ketika dunia menghadapi krisis keuangan, konflik militer, maupun gejolak geopolitik.
Dalam lanskap global yang semakin terfragmentasi, emas juga dipandang sebagai tameng terhadap risiko sanksi ekonomi.
Berbeda dengan aset dalam bentuk dolar atau surat utang yang tersimpan di luar negeri dan berpotensi dibekukan, emas fisik yang berada di bawah kendali negara tetap dapat digunakan sebagai cadangan strategis. Tak heran jika banyak bank sentral menjadikan emas sebagai salah satu fondasi utama cadangan devisa mereka.
Cadangan emas yang besar juga menjadi indikator kekuatan finansial suatu negara.
Semakin besar kepemilikan emas, semakin tinggi pula tingkat kepercayaan investor terhadap stabilitas ekonomi dan mata uang negara tersebut.
Berapa Cadangan Emas BI?
Bank sentral Indonesia yakni Bank Indonesia (BI) tercatat memiliki cadangan emas sebanyak 87 ton.
Dengan jumlah tersebut, BI menempati urutan 44 dari rangking negara/institusi pemilik cadangan emas terbesar di dunia. Posisi pertama ditempati Amerika Serikat dengan jumlah 8.153 ton.
.
Jumlah cadangan emas BI ini terbilang kecil dibandingkan dengan cadangan emas Indonesia yang diperkirakan mencapai 3.600 ton, salah satu yang terbesar di dunia.
Cadangan emas BI setara 8,80% dari total cadangan devisa. Angka tersebut terbilang kecil.
Sebagian analis menilai porsi emas sebesar 10-15% dari total cadangan devisa merupakan level yang sehat untuk negara berkembang.
Dengan kepemilikan sekitar 87 ton, cadangan emas Indonesia juga masih tergolong rendah dibandingkan potensi sumber daya emas nasional yang mencapai sekitar 3.600 ton.
Cadangan tersebut memang masih berada di dalam perut bumi dan belum sepenuhnya menjadi bagian dari cadangan resmi negara.
Data World Gold Council (WGC) menunjukkan BI membeli emas sebanyak 87 ton pada 2025 dan 1,6 ton sepanjang tahun ini.
Pembelian emas pada 2025 adalah yang pertama sejak 2018 atau dalam tujuh tahun.
Deputi Gubernur Senior BI Destry Damayanti, menjelaskan BI harus mempertimbangkan sejumlah faktor dalam membeli atau menjual cadangan emasnya.
"Ada pembelian tetapi memang tidak banyak. Ada standard khusus yang harus dipenuhi (jika ingin menambah cadangan emas)," tutur Deputi Gubernur Senior BI Destry Damayanti, kepada CNBC Indonesia.
Dengan menghitung cadangan emas BI yang kini hanya 87 ton atau 8,8% dari total cadangan, artinya harus ada tambahan sekitar 87 ton lagi jika BI ingin menambah cadangan dua kali lipat atau menjadi 174 ton.
Konsumsi Emas Indonesia
Data World Gold Council (WGC) menunjukkan konsumsi emas Indonesia, di luar bank sentral, menanjak dalam tiga tahun terakhir.
Konsumsi atau permintaan emas sempat mencapai 64,05 ton pada 2018 sebelum melandai karena pandemi tetapi bangkit lagi menembus 48,18 ton pada 2025.
Data WGC juga memberi gambaran yang menarik mengenai permintaan emas di Indonesia. Permintaan emas untuk perhiasan terus melandai tetapi sebaliknya untuk investasi melonjak tajam.
Permintaan emas untuk perhiasan pada 2025 mencapai 16,6 ton sementara untuk investasi dalam bentuk batangan dan koin menembus 31,6 ton.
Dalam lima tahun terakhir, permintaan emas perhiasan turun 20,5% sedangkan untuk investasi melesat 88,4%.
WGC pada 2025 melakukan survei terhadap konsumen Indonesia mengena persepsi investasi.
Hasil survei mengungkap bahwa tabungan masih menjadi instrumen keuangan yang paling banyak dimiliki masyarakat. Sebanyak 74% responden menyatakan memiliki rekening tabungan sebagai sarana utama menyimpan dana.
Namun, setelah tabungan, emas muncul sebagai instrumen investasi paling populer di Indonesia.
Sebanyak 67% responden atau sekitar dua dari tiga investor Indonesia mengaku telah memiliki emas dalam berbagai bentuk, mulai dari perhiasan berkadar tinggi, emas batangan, hingga koin emas.
(mae/mae) Add
source on Google