MARKET DATA

Harga Emas Tiba-Tiba Melejit Lagi, Melonjak 2% Lebih dalam 24 Jam

mae,  CNBC Indonesia
03 July 2026 06:45
Emas
Foto: Pexels/Steinberg

Jakarta, CNBC Indonesia - Harga emas dan perak melonjak setelah data non-farm payrolls Amerika Serikat (AS) yang lebih lemah dari perkiraan meredam ekspektasi kenaikan suku bunga Federal Reserve (The Fed) tahun ini.

Merujuk Refinitiv, harga emas pada perdagangan Kamis (2/7/2026) ditutup di posisi US$ 4122,80 per troy ons. Harganya melonjak 2,3% sehari atau dalam 24 jam saja.

Penguatan ini memperpanjang tren positif emas dengan menguat 2,8% dalam dua hari beruntun.

Harga pada penutupan kemarin juga menjadi yang tertinggi sejak 22 Juni 2026.

 Pada Jumat (3/7/2026) pukul 06.10 WIB, harga emas ada di US$ 4125, 47 per troy ons atau menguat 0,07%.

Di saat yang sama, indeks dolar AS melemah 0,5% ke 100,856 atau terendah dalam sembilan hari terakhir. Kondisi ini membuat logam mulia yang diperdagangkan dalam dolar menjadi lebih murah bagi pemegang mata uang lainnya.

Direktur Perdagangan Logam High Ridge Futures, David Meger, mengatakan data ketenagakerjaan yang lebih lemah dari ekspektasi mengurangi peluang The Fed kembali menaikkan suku bunga pada tahun ini.

"Angka penciptaan lapangan kerja yang lebih rendah dari perkiraan mengindikasikan semakin kecil kemungkinan kenaikan suku bunga pada sisa tahun ini. Seperti yang kita ketahui, emas cenderung berkinerja lebih baik di lingkungan suku bunga yang lebih rendah," ujarnya dikutip dari Reuters.

"Karena itu, pasar emas mencatat reli yang cukup signifikan setelah data tersebut dirilis," tambahnya.

Laporan Departemen Tenaga Kerja AS menunjukkan ekonomi Negeri Paman Sam hanya menambah 57.000 lapangan kerja pada Juni, jauh di bawah proyeksi ekonom yang memperkirakan kenaikan 110.000 lapangan kerja. Sementara itu, tingkat pengangguran berada di 4,2%.

Sehari sebelumnya, laporan juga menunjukkan pertumbuhan lapangan kerja sektor swasta AS pada Juni lebih rendah dari perkiraan.

Berdasarkan CME FedWatch Tool, pelaku pasar kini memperkirakan peluang The Fed menaikkan suku bunga pada September sebesar 51%, turun dari 66% sebelum data ketenagakerjaan dirilis.

Pada Rabu, Ketua The Fed Kevin Warsh mengatakan ekspektasi inflasi maupun risiko inflasi telah menurun dalam beberapa pekan terakhir. Meski demikian, ia kembali menegaskan komitmen bank sentral untuk menurunkan inflasi menuju target 2%.

Sementara itu, World Gold Council (WGC) melaporkan bank-bank sentral kembali aktif menambah cadangan emas pada Mei. Berdasarkan data terbaru, cadangan emas resmi dunia bertambah secara bersih 41 ton selama bulan tersebut.

Dari sisi geopolitik, Iran dan Amerika Serikat mengakhiri putaran terbaru perundingan tidak langsung pada Rabu tanpa menunjukkan kemajuan berarti menuju perdamaian yang berkelanjutan.

Analis Saxo Bank, Ole Hansen, mengatakan harga emas saat ini memang sudah berada di wilayah jenuh beli (overbought) menurut berbagai indikator sehingga membutuhkan fase konsolidasi.

"Jika tren kuartal keempat berupa pelemahan dolar AS, penurunan pasar saham, dan turunnya imbal hasil obligasi berlanjut, emas berpotensi menembus lebih tinggi," ujarnya.

Analis Julius Baer, Carsten Menke, mengatakan pergerakan harga emas dalam mata uang selain dolar AS terutama dipengaruhi oleh kinerja mata uang tersebut terhadap dolar.

"Kami melihat pasar emas sedang berada dalam fase pemulihan jangka panjang yang didorong oleh normalisasi sentimen pasar, pelemahan dolar AS, serta kembalinya minat investasi," katanya.

Meningkatnya minat investor terhadap emas juga tercermin dari kepemilikan SPDR Gold Trust, ETF emas terbesar di dunia, yang naik menjadi 795,31 ton, tertinggi sejak awal Agustus.

Analis UBS, Giovanni Staunovo, menilai gejolak pasar belakangan ini kembali membuktikan bahwa emas tetap menjadi aset safe haven yang efektif dan mampu mengurangi volatilitas portofolio investasi.

"Harga emas bergerak sesuai ekspektasi selama periode ketidakpastian ini, yakni menguat seiring menurunnya ekspektasi kenaikan suku bunga The Fed tahun depan dan melemahnya pasar saham," ujarnya.

Merujuk Refinitiv, harga perak pada perdagangan Kamis (2/7/2026) ditutup di posisi US$ 61,008 per troy ons. Harganya melonjak 3,16%.

Dengan demikian, harga perak sudah terbang 4,6% dalam tiga hari.

Pada Jumat (3/7/2026) pukul 06.13 WIB harga perak melandai 0,01% ke US$ 61 per troy ons.


(mae/mae) Add logo_svg as a preferred
source on Google
Next Article Akhirnya! Ada Kabar Baik Buat Pemilik Emas, Harganya Bangkit


Most Popular
Features