NEWSLETTER

Awal Semester II Bak Neraka! 9 Sentimen Ini Bisa Guncang IHSG & Rupiah

Emanuella Bungasmara Ega Tirta, CNBC Indonesia
Rabu, 01/07/2026 06:25 WIB
Foto: Pixabay/gerd Altmann
  • Pasar keuangan Indonesia kompak melemah, rupiah dan bursa saham sama-sama di zona  merah
  • Wall Street pesta pora menjelang akhir semester I ditopang saham chip
  • Data ekonomi dalam negeri dan perkembangan perang akan menjadi penggerak pasar hari ini

Jakarta, CNBC Indonesia - Pasar keuangan dalam negeri kompak ditutup melemah pada hari terakhir bulan Juni 2026.

Pasar keuangan Indonesia diharapkan menguat di awal semester II-2026.  Selengkapnya mengenai proyeksi sentiment pasar keuangan Indonesia hari ini bisa dibaca pada halaman 3 artikel ini.

Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) menutup perdagangan Selasa (30/6/2026) dengan penurunan tajam 3,05% atau 177,6 poin ke level 5.643,19. Berdasarkan data Refinitiv, IHSG bergerak di rentang 5.638,57-5.811,67 sepanjang perdagangan dan terus berada di zona merah.

Sebanyak 135 saham menguat, 564 melemah sementara 99 stagnan. Asing mencatat  net sell sebesar Rp 1,04 triliun.

Nilai transaksi tercatat Rp15,3 triliun dengan volume 22,7 miliar saham dalam 1,6 juta kali transaksi. Seluruh sektor berakhir melemah, dipimpin sektor bahan baku yang anjlok 4,35%, sementara sektor kesehatan mencatat koreksi paling kecil sebesar 0,9%. Saham bankI menjadi pemberat utama indeks.

Koreksi ini memperpanjang tren bearish IHSG sejak awal tahun. Secara bulanan, IHSG merosot 7,9% sepanjang Juni dan telah melemah 35,49% secara year-to-date.

Analis MNC Sekuritas Herditya menilai tekanan pasar dipicu oleh pelemahan rupiah serta sikap investor yang menunggu rilis data inflasi Indonesia dan data ketenagakerjaan Amerika Serikat. Di sisi lain, Analis Doo Financial Sekuritas Lukman Leong mengatakan pasar juga masih dibayangi potensi penurunan status pasar Indonesia oleh MSCI.

"Walau rupiah sudah stabil namun potensi downgrade status pasar masih ada," ujarnya kepada CNBC Indonesia.

Sentimen eksternal juga masih membebani pasar, mulai dari ketidakpastian geopolitik di Timur Tengah hingga aksi keluar-masuk investor asing dalam jangka pendek. Sementara itu, Direktur Utama Bursa Efek Indonesia (BEI) Jeffrey Hendrik menilai penguatan pasar modal tidak bisa hanya mengandalkan investor ritel, melainkan juga membutuhkan lebih banyak emiten berkapitalisasi besar dan peningkatan partisipasi investor institusi maupun asing.

Beralih ke pasar valas, nilai tukar rupiah ditutup melemah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) pada perdagangan Selasa (30/6/2026), mengakhiri tren penguatan selama tiga hari beruntun. Berdasarkan data Refinitiv, rupiah ditutup turun 0,22% ke posisi Rp17.875/US$, setelah sejak awal perdagangan bergerak di zona merah.

Mata uang Garuda dibuka melemah 0,08% di Rp17.850/US$ dan sepanjang hari diperdagangkan pada kisaran Rp17.850-Rp17.908/US$. Di saat yang sama, indeks dolar AS (DXY) menguat 0,15% ke level 101,257 pada pukul 15.00 WIB.

Tekanan terhadap rupiah muncul seiring penguatan dolar AS di pasar global menjelang rilis data tenaga kerja Amerika Serikat periode Juni yang dijadwalkan pada Kamis pekan ini. Pasar menantikan data tersebut setelah penciptaan lapangan kerja AS dalam tiga bulan terakhir konsisten melampaui ekspektasi. Kondisi itu dinilai dapat memengaruhi arah kebijakan suku bunga bank sentral AS (The Fed). Berdasarkan CME FedWatch Tool, peluang The Fed mempertahankan suku bunga pada pertemuan 28-29 Juli mencapai 68,5%, sementara peluang kenaikan 25 basis poin berada di 31,5%.

 

Dari dalam negeri, pemerintah bersama DPR, Bank Indonesia (BI), dan Dewan Ekonomi Nasional (DEN) menggelar rapat koordinasi untuk menjaga stabilitas ekonomi di tengah ketidakpastian global. Wakil Menteri Keuangan Juda Agung menegaskan kondisi fiskal Indonesia masih kuat dengan defisit APBN hingga Mei 2026 sebesar 0,7% terhadap PDB dan diperkirakan tetap di bawah batas 3% hingga akhir tahun.

"Kondisi fiskal itu masih sangat terjaga dengan baik. Defisit hingga bulan Mei kemarin 0,7% dan diperkirakan sampai dengan akhir tahun juga masih di bawah 3% jadi masih sangat terjaga," ujar Juda.

 Dari pasar obligasi, imbal hasil Surat Berharga Negara (SBN) tenor 10 tahun melandai ke 7,167% pada perdagangan Selasa kemarin, dari 7,138% pada Senin pekan lalu.


(emb/emb)
Pages