Pasar keuangan Indonesia diperkirakan masih akan bergerak volatil pada perdagangan hari ini, Kamis (25/6/2026). Selengkapnya mengenai sentimen pasar hari ini bisa dibaca pada halaman 3 artikel ini.
IHSG anjlok dalam pada perdagangan Rabu kemarin, setelah MSCI mempertahankan pasar modal Indonesia dalam kategori pasar negara berkembang atau Emerging Market, tetapi masih memberikan sejumlah catatan.
Pada akhir perdagangan sesi kedua, IHSG anjlok 3,56% atau turun 217 poin ke level 5.883,88. Sepanjang perdagangan, IHSG bergerak di rentang 6.171 hingga 5.876.
Nilai transaksi pada perdagangan Rabu mencapai Rp15,15 triliun, dengan volume perdagangan sebanyak 26,94 miliar saham dalam 2,03 juta kali transaksi.
Dari sisi pergerakan saham, sebanyak 98 saham menguat, 611 saham melemah, dan 104 saham bergerak stagnan. Kondisi ini menunjukkan tekanan jual terjadi cukup luas di pasar saham domestik.
Mengutip data Refinitiv, seluruh sektor perdagangan berakhir di zona merah. Koreksi paling dalam dicatatkan oleh sektor barang baku, energi, dan kesehatan.
Saham-saham blue chip berkapitalisasi besar hingga saham yang terafiliasi dengan kelompok bisnis konglomerat juga kompak melemah signifikan.
Secara spesifik, saham yang menjadi pemberat utama kinerja IHSG adalah PT Mora Telematika Indonesia Tbk (MORA), BBRI, BBCA, PT Bumi Resources Minerals Tbk (BRMS), BMRI, PT Amman Mineral Internasional Tbk (AMMN), PT Sinar Mas Multiartha Tbk (SMMA), PT Barito Pacific Tbk (BRPT), PT Energi Mega Persada Tbk (ENRG), dan PT Bumi Resources Tbk (BUMI).
Tekanan terhadap IHSG terjadi setelah MSCI merilis hasil MSCI 2026 Market Classification Review. Indonesia memang tetap dipertahankan dalam kategori Emerging Market, tetapi MSCI masih menyoroti sejumlah isu, terutama terkait transparansi kepemilikan saham, free float, dan dugaan perdagangan terkoordinasi.
Di pasar valuta asing, nilai tukar rupiah kembali mengakhiri perdagangan Rabu kemarin dengan koreksi terhadap dolar AS. Tekanan terjadi di tengah tren penguatan dolar AS di pasar global.
Sepanjang perdagangan Rabu, rupiah bergerak di rentang Rp17.900-Rp17.955/US$. Pergerakan tersebut membuat rupiah kembali panas karena semakin dekat dengan level psikologis Rp18.000/US$.
Menguatnya dolar AS di pasar global masih menjadi faktor utama yang menekan nilai tukar rupiah. Penguatan greenback membuat ruang gerak mata uang negara lain, termasuk rupiah, semakin terbatas.
Dolar AS terus menguat hingga berada di level tertinggi dalam lebih dari setahun. Penguatan tersebut terjadi seiring penyesuaian ekspektasi pasar terhadap arah kebijakan bank sentral AS (The Federal Reserve/The Fed) yang dinilai semakin hawkish.
Rapat kebijakan The Fed atau Federal Open Market Committee (FOMC) pekan lalu, yang menjadi rapat pertama di bawah Ketua The Fed Kevin Warsh, dibaca pasar sebagai sinyal bahwa bank sentral AS masih membuka ruang kenaikan suku bunga pada tahun ini.
Ekspektasi kenaikan suku bunga The Fed pun meningkat tajam. Berdasarkan CME FedWatch, peluang kenaikan suku bunga minimal 25 basis poin pada rapat Juli naik menjadi 36,3%, dari sebelumnya 8,5% sepekan lalu.
Sementara itu, peluang kenaikan suku bunga pada rapat September naik menjadi 69,1%, dari sebelumnya 29,1% sepekan sebelumnya.
Dari pasar obligasi, yield SBN tenor 10 tahun melemah 0,71% ke level 7,167% pada perdagangan Rabu.
Penurunan yield menunjukkan harga SBN sedang naik. Kondisi ini biasanya mencerminkan adanya aksi beli di pasar obligasi, karena imbal hasil dan harga obligasi bergerak berlawanan arah.
Dari pasar saham Amerika Serikat (AS), bursa Wall Street ditutup beragam pada perdagangan Rabu atau Kamis dini hari waktu Indonesia.
Saham ditutup bervariasi di tengah aksi jual saham teknologi yang dipimpin oleh pelemahan saham Micron Technology. Pelaku pasar kini menantikan laporan keuangan perusahaan pembuat chip memori tersebut yang dijadwalkan dirilis setelah penutupan pasar.
Indeks Nasdaq Composite melemah 0,43% ke level 25.476,64. Sementara itu, S&P 500 turun tipis 0,10% menjadi 7.358,22. Berbeda dengan dua indeks tersebut, Dow Jones Industrial Average justru naik 182,06 poin atau 0,35% ke posisi 51.848,90.
Harga minyak juga melanjutkan tren penurunan. Kontrak berjangka Brent turun 4,33% dan ditutup di US$73,74 per barel, level terendah sejak sebelum Amerika Serikat dan Israel melancarkan serangan udara ke Iran pada akhir Februari.
Sementara itu, West Texas Intermediate (WTI) merosot 3,92% menjadi US$70,34 per barel, setelah sempat menyentuh level terendah sejak awal Maret.
Turunnya harga minyak turut mendorong penurunan imbal hasil (yield) obligasi pemerintah AS. Yield US Treasury tenor 10 tahun kembali turun ke bawah level 4,5%.
Saham-saham sektor energi ikut tertekan. Saham Exxon Mobil, Chevron, ConocoPhillips, dan SLB masing-masing terkoreksi lebih dari 2%. Sementara ETF sektor energi Energy Select Sector SPDR (XLE) turun lebih dari 1%.
Di sektor semikonduktor, saham Micron sempat memangkas pelemahannya, namun tetap ditutup turun 0,3%. Saham produsen memori lainnya, Sandisk, anjlok 2,5%. Pada sesi sebelumnya, kedua saham tersebut telah merosot hingga 13%. Sementara itu, VanEck Semiconductor ETF (SMH) ditutup melemah tipis.
Micron dijadwalkan mengumumkan kinerja keuangan terbarunya setelah penutupan perdagangan Rabu.
Berdasarkan konsensus analis yang dihimpun FactSet, perusahaan diperkirakan membukukan laba sebesar US$20,83 per saham dengan pendapatan mencapai US$35,75 miliar.
Pergerakan pasar pada Rabu terjadi setelah aksi jual besar-besaran di sektor teknologi menyeret S&P 500 dan Nasdaq pada perdagangan Selasa.
Investor melepas saham-saham yang terkait industri semikonduktor, sehingga ETF chip SMH ditutup anjlok sekitar 7%.
"Penurunan saham teknologi merupakan koreksi yang sehat karena banyak saham di sektor ini sudah mengalami kenaikan yang terlalu tinggi," kata Rick Gardner, Chief Investment Officer di RGA Investments.
Menurutnya, koreksi tersebut menunjukkan investor mulai menyadari bahwa ekspektasi laba perusahaan teknologi sudah sangat tinggi. Hal itu membuat perusahaan akan menghadapi tantangan lebih besar untuk memenuhi harapan pasar ketika musim laporan keuangan dimulai kembali pada Juli. Ia menilai pelemahan ini lebih merupakan proses penyesuaian ulang ekspektasi investor.
Sepanjang 2026, saham Micron mencatat reli luar biasa. Sahamnya sempat mencetak rekor tertinggi sepanjang masa pada Senin dan ditutup di level US$1.051,77 pada Selasa. Namun, Jay Woods, Chief Market Strategist di Freedom Capital Markets, memperingatkan saham tersebut masih berpotensi terkoreksi setelah laporan keuangan dirilis.
Menurut Woods, harga saham Micron bisa turun hingga sekitar US$1.000. Meski terlihat sebagai penurunan yang cukup besar, level tersebut akan menjadi perhatian para pelaku pasar karena sejalan dengan posisi rata-rata pergerakan (moving average) 20 hari.
Di sisi lain, saham Alphabet sempat menguat, tetapi akhirnya ditutup turun 0,2% setelah S&P Global mengumumkan bahwa perusahaan induk Google tersebut akan segera menggantikan Verizon sebagai salah satu anggota indeks Dow Jones Industrial Average.
Memasuki perdagangan Kamis (25/6/2026), pelaku pasar keuangan Tanah Air akan mencermati sejumlah sentimen penting dari dalam dan luar negeri.
Dari dalam negeri, perhatian masih tertuju MSCI setelah pengumuman mereka yang mempertahankan Indonesia dalam klasifikasi Emerging Market. Sementara dari eksternal, pasar menanti rilis inflasi PCE dan klaim pengangguran mingguan yang dapat mempengaruhi arah dolar AS, yield Treasury, serta aliran modal ke negara berkembang.
Lonjakan indeks dolar hingga menembus posisi 101,609 menjadi tekanan berat bagi rupiah dan IHSG untuk bangkit. Belum lagi jika data inflasi PCE Amerika kembali menguat maka tekanan makin besar.
OJK: Investor Global Masih Percaya RI
Otoritas Jasa Keuangan (OJK) menyambut positif hasil kajian MSCI 2026 Market Classification Review yang kembali menempatkan Indonesia dalam kategori Emerging Market atau pasar berkembang.
Ketua Dewan Komisioner OJK Friderica Widyasari Dewi mengatakan keputusan tersebut menunjukkan investor global masih percaya terhadap ketahanan ekonomi Indonesia.
"Hal ini menunjukkan kepercayaan investor global terhadap ketahanan ekonomi nasional," ujar Friderica mengutip unggahan media sosial Instagram-nya, Rabu (24/6/2026).
Wanita yang akrab disapa Kiki ini mengatakan OJK akan terus mendorong stabilitas sektor jasa keuangan serta langkah reformasi untuk meningkatkan transparansi, integritas, dan daya saing pasar keuangan Indonesia.
"Kami menghargai pengakuan MSCI atas komitmen Indonesia dalam memperkuat integritas pasar modal, sekaligus mencatat area yang masih menjadi perhatian sebagai bagian dari evaluasi yang membangun," sebutnya.
Kiki menuturkan OJK akan secara konsisten melanjutkan langkah reformasi integritas, terutama dalam aspek penegakan ketentuan. Hal ini dilakukan untuk memastikan seluruh kebijakan yang sudah disiapkan dapat diimplementasikan dengan baik.
Selain itu, dia juga mengapresiasi pemerintah, Komisi XI DPR RI, SRO, pelaku industri, investor, dan seluruh pihak yang dinilai telah bersinergi dalam menjaga pasar keuangan domestik.
"Capaian ini adalah bukti nyata komitmen bersama untuk membangun pasar keuangan yang lebih transparan, berintegritas, dan kompetitif di tingkat global," sebutnya.
Kiki juga berpesan kepada jajaran direksi Bursa Efek Indonesia yang baru agar semakin memperkuat tata kelola, menjaga integritas pasar, dan meneruskan agenda reformasi.
Pemerintah: Status RI Masih Aman di MSCI
Pemerintah juga merespons hasil review MSCI yang mempertahankan Indonesia dalam kategori Emerging Market.
Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto menegaskan pasar modal Indonesia masih dalam kondisi aman setelah MSCI tidak menurunkan klasifikasi Indonesia menjadi Frontier Market.
Sebelumnya, MSCI sempat memberi catatan bahwa pasar modal Indonesia dapat menghadapi risiko penurunan klasifikasi apabila sejumlah persoalan sistemik di pasar modal tidak diselesaikan.
Penurunan status dari Emerging Market ke Frontier Market menjadi perhatian besar karena berpotensi memicu keluarnya dana asing dari pasar saham Indonesia, terutama dari investor institusi global yang menggunakan dana pasif dan mengikuti indeks MSCI.
Meski MSCI masih memberikan catatan dan akan melakukan evaluasi lagi pada November 2026, Airlangga menilai proses evaluasi tersebut bukan masalah.
"Kalau dia mau evaluasi ya silahkan aja. Tiap 3 bulan evaluasi tidak ada masalah. Memangnya bisa kita bilang gak usah ada evaluasi lagi?" ujar Airlangga ketika ditemui wartawan di Jakarta, Rabu (24/6/2026).
Sebagai catatan, MSCI telah mengumumkan hasil MSCI 2026 Market Classification Review pada Rabu dini hari waktu Indonesia. Dalam laporan tersebut, pasar ekuitas Indonesia dipastikan tetap berada dalam kategori Emerging Markets.
Namun, MSCI tetap menyoroti kekhawatiran investor institusi global terkait transparansi struktur kepemilikan saham dan dugaan perilaku perdagangan terkoordinasi di pasar saham Indonesia.
Dua isu tersebut dinilai dapat membatasi kemampuan investor untuk menilai free float yang sebenarnya dan menggunakan harga pasar sebagai acuan dalam menyusun portofolio maupun mereplikasi indeks.
Di sisi lain, MSCI juga mengakui reformasi transparansi yang telah diumumkan OJK, Bursa Efek Indonesia (BEI), dan Kustodian Sentral Efek Indonesia (KSEI).
Reformasi tersebut mencakup peningkatan keterbukaan pemegang saham dengan kepemilikan di atas 1%, klasifikasi investor yang lebih rinci, pengenalan kerangka High Shareholding Concentration (HSC), serta peta jalan kenaikan minimum free float menjadi 15%.
"Meskipun pengumuman ini merupakan langkah ke arah yang benar, yang penting bagi investor institusional internasional adalah implementasi yang konsisten dan efek berkelanjutan dari langkah-langkah ini di seluruh pasar," tulis MSCI dalam laporan terbarunya.
MSCI menyatakan akan terus menilai cakupan, konsistensi, dan efektivitas reformasi tersebut dalam konteks penentuan free float dan investability pasar Indonesia.
"Jika kemajuan yang memadai tidak terlihat pada saat Tinjauan Indeks MSCI November 2026, MSCI akan mempertimbangkan berbagai opsi untuk perlakuan yang tepat bagi pasar Indonesia, yang berpotensi mencakup konsultasi tentang pengklasifikasian ulang Indonesia dari Pasar Berkembang (emerging market) menjadi Pasar Perbatasan (frontier market)," tulis MSCI.
Pasar Tunggu Inflasi PCE AS
Dari Amerika Serikat, perhatian pasar akan tertuju pada rilis data personal consumption expenditure atau PCE periode Mei 2026. Data ini dijadwalkan keluar pada Kamis malam nanti waktu Indonesia.
Rilis tersebut mencakup PCE utama dan core PCE, yakni indeks harga yang tidak memasukkan komponen pangan dan energi. Core PCE menjadi perhatian utama karena indikator ini merupakan acuan inflasi favorit The Federal Reserve dalam membaca tekanan harga di perekonomian AS.
Pada rilis sebelumnya, indeks harga PCE AS periode April 2026 naik 3,8% secara tahunan (yoy). Realisasi tersebut menjadi level tertinggi sejak Mei 2023 dan sesuai dengan ekspektasi pasar.
Sementara itu, core PCE AS naik 3,3% (yoy) pada April 2026, lebih tinggi dibandingkan Maret 2026 yang sebesar 3,2% (yoy). Angka tersebut juga masih jauh di atas target inflasi The Fed sebesar 2%.
Dengan kondisi tersebut, pasar akan mencermati apakah inflasi PCE pada Mei 2026 mulai melandai atau justru kembali panas, terutama setelah lonjakan harga energi akibat konflik Timur Tengah.
Data inflasi PCE akan langsung mempengaruhi arah dolar AS dan imbal hasil obligasi pemerintah AS. Dua instrumen tersebut masih menjadi kompas utama aliran modal asing ke negara berkembang, termasuk Indonesia.
Jika PCE dan core PCE kembali panas, ekspektasi kenaikan suku bunga The Fed berpotensi semakin kuat. Kondisi ini biasanya membuat dolar AS menguat dan yield Treasury AS naik, sehingga dapat menambah tekanan bagi rupiah, SBN, dan aset berisiko di pasar negara berkembang.
Klaim Pengangguran AS Ikut Dinanti
Selain inflasi PCE, pasar juga akan mencermati rilis klaim awal pengangguran mingguan Amerika Serikat (AS). Data ini juga dijadwalkan keluar pada Kamis malam waktu Indonesia.
Data klaim pengangguran menjadi penting karena memberi gambaran terbaru mengenai kondisi pasar tenaga kerja AS. Jika klaim pengangguran naik tajam, hal itu bisa menjadi sinyal bahwa pasar tenaga kerja mulai melemah. Sebaliknya, klaim yang masih rendah menunjukkan permintaan tenaga kerja masih cukup kuat.
Pada rilis terakhir, jumlah warga AS yang mengajukan klaim tunjangan pengangguran turun 4.000 menjadi 226.000 pada pekan kedua Juni 2026. Angka tersebut turun dari posisi tertinggi dalam empat bulan pada pekan sebelumnya dan relatif sejalan dengan ekspektasi pasar yang sebesar 225.000.
Namun, klaim lanjutan atau continuing claims justru naik 24.000 menjadi 1,81 juta pada pekan pertama Juni 2026. Posisi ini menjadi yang tertinggi dalam hampir tiga bulan.
Kenaikan continuing claims menunjukkan semakin banyak warga AS yang masih menerima tunjangan pengangguran setelah pengajuan awal. Data ini biasanya dibaca sebagai sinyal bahwa sebagian pencari kerja mulai membutuhkan waktu lebih lama untuk kembali mendapatkan pekerjaan.
Energy Forum
CNBC Indonesia hari ini akan menghadirkan Energy Forum yang menjadi forum strategis untuk mempertemukan regulator, legislatif, dan pelaku usaha. Forum ini membahas peran sektor energi dalam memperkuat ketahanan energi nasional di tengah dinamika geopolitik global dan volatilitas harga energi. CNBC Indonesia Energy Forum menjadi ruang dialog untuk mengkaji dampak gejolak energi dunia terhadap pasokan energi Indonesia.
Melalui diskusi lintas pemangku kepentingan, forum ini mendorong penguatan produksi migas domestik, perbaikan iklim investasi, serta harmonisasi kebijakan guna menjaga ketahanan energi nasional di tengah ketidakpastian pasar energi global.
CNBC Indonesia Energy Forum dengan tema "Mitigation Strategies for National Resilience in Response to Global Energy Shocks" akan digelar pada, Kamis 25 Juni 10.00 hingga 13:30 WIB.
Hadir sebagai pembicara utama Menteri ESDM Bahlil Lahadalia.
Berikut sejumlah agenda dan rilis data yang terjadwal untuk hari ini:
- Inflas PCE AS
- Klaim pengangguran awal AS
- CNBC Energy Forum
-
Kementerian PPN/Bappenas bersama Indonesia SDGs Center Network (ISCN) menyelenggarakan SDGs Center Conference 2026
-
Paparan Publik Tahunan (Public Expose) PT DFI Retail Nusantara Tbk
-
Coda dan Kementerian Ekonomi Kreatif (EKRAF) akan menandatangani Nota Kesepahaman guna membuka jalan nyata bagi pengembang gim dan talenta kreatif Indonesia untuk bersaing di pasar global.
-
Menteri Koordinator Bidang Infrastruktur memimpin Rapat Koordinasi tentang Penguatan Tata Kelola Ekosistem Kebandarudaraan di kantor Kemenko Infra, Jakarta Pusat
-
Komisi V DPR menggelar rapat dengar pendapat dengan eselon I Kementerian Perumahan dan Kawasan Permukiman
-
Konferensi pers RUPST PT Allo Bank Indonesia Tbk. tahun buku 2025 di Auditorium Utama Menara Bank Mega, Jakarta Selatan
-
Peluncuran New Zealand Made with Care yang diselenggarakan oleh New Zealand Trade and Enterprise (NZTE) di AEON BSD City, Kabupaten Tangerang.
-
L'Oréal Groupe bersama Shopee menghadirkan House of Beauty Hyper Brand Day yang akan diselenggarakan di Park Hyatt Jakarta Pusat.
Berikut sejumlah agenda emiten di dalam negeri pada hari ini:
Berikut sejumlah indikator perekonomian nasional:
CNBC INDONESIA RESEARCH
Sanggahan: Artikel ini adalah produk jurnalistik berupa pandangan CNBC Indonesia Research. Analisis ini tidak bertujuan mengajak pembaca untuk membeli, menahan, atau menjual produk atau sektor investasi terkait. Keputusan sepenuhnya ada pada diri pembaca, sehingga kami tidak bertanggung jawab terhadap segala kerugian maupun keuntungan yang timbul dari keputusan tersebut.