Rupiah dan IHSG Hari Ini Hadapi Ujian Berat dari AS, Ada Apa Lagi?
Memasuki perdagangan Kamis (25/6/2026), pelaku pasar keuangan Tanah Air akan mencermati sejumlah sentimen penting dari dalam dan luar negeri.
Dari dalam negeri, perhatian masih tertuju MSCI setelah pengumuman mereka yang mempertahankan Indonesia dalam klasifikasi Emerging Market. Sementara dari eksternal, pasar menanti rilis inflasi PCE dan klaim pengangguran mingguan yang dapat mempengaruhi arah dolar AS, yield Treasury, serta aliran modal ke negara berkembang.
Lonjakan indeks dolar hingga menembus posisi 101,609 menjadi tekanan berat bagi rupiah dan IHSG untuk bangkit. Belum lagi jika data inflasi PCE Amerika kembali menguat maka tekanan makin besar.
OJK: Investor Global Masih Percaya RI
Otoritas Jasa Keuangan (OJK) menyambut positif hasil kajian MSCI 2026 Market Classification Review yang kembali menempatkan Indonesia dalam kategori Emerging Market atau pasar berkembang.
Ketua Dewan Komisioner OJK Friderica Widyasari Dewi mengatakan keputusan tersebut menunjukkan investor global masih percaya terhadap ketahanan ekonomi Indonesia.
"Hal ini menunjukkan kepercayaan investor global terhadap ketahanan ekonomi nasional," ujar Friderica mengutip unggahan media sosial Instagram-nya, Rabu (24/6/2026).
Wanita yang akrab disapa Kiki ini mengatakan OJK akan terus mendorong stabilitas sektor jasa keuangan serta langkah reformasi untuk meningkatkan transparansi, integritas, dan daya saing pasar keuangan Indonesia.
"Kami menghargai pengakuan MSCI atas komitmen Indonesia dalam memperkuat integritas pasar modal, sekaligus mencatat area yang masih menjadi perhatian sebagai bagian dari evaluasi yang membangun," sebutnya.
Kiki menuturkan OJK akan secara konsisten melanjutkan langkah reformasi integritas, terutama dalam aspek penegakan ketentuan. Hal ini dilakukan untuk memastikan seluruh kebijakan yang sudah disiapkan dapat diimplementasikan dengan baik.
Selain itu, dia juga mengapresiasi pemerintah, Komisi XI DPR RI, SRO, pelaku industri, investor, dan seluruh pihak yang dinilai telah bersinergi dalam menjaga pasar keuangan domestik.
"Capaian ini adalah bukti nyata komitmen bersama untuk membangun pasar keuangan yang lebih transparan, berintegritas, dan kompetitif di tingkat global," sebutnya.
Kiki juga berpesan kepada jajaran direksi Bursa Efek Indonesia yang baru agar semakin memperkuat tata kelola, menjaga integritas pasar, dan meneruskan agenda reformasi.
Pemerintah: Status RI Masih Aman di MSCI
Pemerintah juga merespons hasil review MSCI yang mempertahankan Indonesia dalam kategori Emerging Market.
Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto menegaskan pasar modal Indonesia masih dalam kondisi aman setelah MSCI tidak menurunkan klasifikasi Indonesia menjadi Frontier Market.
Sebelumnya, MSCI sempat memberi catatan bahwa pasar modal Indonesia dapat menghadapi risiko penurunan klasifikasi apabila sejumlah persoalan sistemik di pasar modal tidak diselesaikan.
Penurunan status dari Emerging Market ke Frontier Market menjadi perhatian besar karena berpotensi memicu keluarnya dana asing dari pasar saham Indonesia, terutama dari investor institusi global yang menggunakan dana pasif dan mengikuti indeks MSCI.
Meski MSCI masih memberikan catatan dan akan melakukan evaluasi lagi pada November 2026, Airlangga menilai proses evaluasi tersebut bukan masalah.
"Kalau dia mau evaluasi ya silahkan aja. Tiap 3 bulan evaluasi tidak ada masalah. Memangnya bisa kita bilang gak usah ada evaluasi lagi?" ujar Airlangga ketika ditemui wartawan di Jakarta, Rabu (24/6/2026).
Sebagai catatan, MSCI telah mengumumkan hasil MSCI 2026 Market Classification Review pada Rabu dini hari waktu Indonesia. Dalam laporan tersebut, pasar ekuitas Indonesia dipastikan tetap berada dalam kategori Emerging Markets.
Namun, MSCI tetap menyoroti kekhawatiran investor institusi global terkait transparansi struktur kepemilikan saham dan dugaan perilaku perdagangan terkoordinasi di pasar saham Indonesia.
Dua isu tersebut dinilai dapat membatasi kemampuan investor untuk menilai free float yang sebenarnya dan menggunakan harga pasar sebagai acuan dalam menyusun portofolio maupun mereplikasi indeks.
Di sisi lain, MSCI juga mengakui reformasi transparansi yang telah diumumkan OJK, Bursa Efek Indonesia (BEI), dan Kustodian Sentral Efek Indonesia (KSEI).
Reformasi tersebut mencakup peningkatan keterbukaan pemegang saham dengan kepemilikan di atas 1%, klasifikasi investor yang lebih rinci, pengenalan kerangka High Shareholding Concentration (HSC), serta peta jalan kenaikan minimum free float menjadi 15%.
"Meskipun pengumuman ini merupakan langkah ke arah yang benar, yang penting bagi investor institusional internasional adalah implementasi yang konsisten dan efek berkelanjutan dari langkah-langkah ini di seluruh pasar," tulis MSCI dalam laporan terbarunya.
MSCI menyatakan akan terus menilai cakupan, konsistensi, dan efektivitas reformasi tersebut dalam konteks penentuan free float dan investability pasar Indonesia.
"Jika kemajuan yang memadai tidak terlihat pada saat Tinjauan Indeks MSCI November 2026, MSCI akan mempertimbangkan berbagai opsi untuk perlakuan yang tepat bagi pasar Indonesia, yang berpotensi mencakup konsultasi tentang pengklasifikasian ulang Indonesia dari Pasar Berkembang (emerging market) menjadi Pasar Perbatasan (frontier market)," tulis MSCI.
Pasar Tunggu Inflasi PCE AS
Dari Amerika Serikat, perhatian pasar akan tertuju pada rilis data personal consumption expenditure atau PCE periode Mei 2026. Data ini dijadwalkan keluar pada Kamis malam nanti waktu Indonesia.
Rilis tersebut mencakup PCE utama dan core PCE, yakni indeks harga yang tidak memasukkan komponen pangan dan energi. Core PCE menjadi perhatian utama karena indikator ini merupakan acuan inflasi favorit The Federal Reserve dalam membaca tekanan harga di perekonomian AS.
Pada rilis sebelumnya, indeks harga PCE AS periode April 2026 naik 3,8% secara tahunan (yoy). Realisasi tersebut menjadi level tertinggi sejak Mei 2023 dan sesuai dengan ekspektasi pasar.
Sementara itu, core PCE AS naik 3,3% (yoy) pada April 2026, lebih tinggi dibandingkan Maret 2026 yang sebesar 3,2% (yoy). Angka tersebut juga masih jauh di atas target inflasi The Fed sebesar 2%.
Dengan kondisi tersebut, pasar akan mencermati apakah inflasi PCE pada Mei 2026 mulai melandai atau justru kembali panas, terutama setelah lonjakan harga energi akibat konflik Timur Tengah.
Data inflasi PCE akan langsung mempengaruhi arah dolar AS dan imbal hasil obligasi pemerintah AS. Dua instrumen tersebut masih menjadi kompas utama aliran modal asing ke negara berkembang, termasuk Indonesia.
Jika PCE dan core PCE kembali panas, ekspektasi kenaikan suku bunga The Fed berpotensi semakin kuat. Kondisi ini biasanya membuat dolar AS menguat dan yield Treasury AS naik, sehingga dapat menambah tekanan bagi rupiah, SBN, dan aset berisiko di pasar negara berkembang.
Klaim Pengangguran AS Ikut Dinanti
Selain inflasi PCE, pasar juga akan mencermati rilis klaim awal pengangguran mingguan Amerika Serikat (AS). Data ini juga dijadwalkan keluar pada Kamis malam waktu Indonesia.
Data klaim pengangguran menjadi penting karena memberi gambaran terbaru mengenai kondisi pasar tenaga kerja AS. Jika klaim pengangguran naik tajam, hal itu bisa menjadi sinyal bahwa pasar tenaga kerja mulai melemah. Sebaliknya, klaim yang masih rendah menunjukkan permintaan tenaga kerja masih cukup kuat.
Pada rilis terakhir, jumlah warga AS yang mengajukan klaim tunjangan pengangguran turun 4.000 menjadi 226.000 pada pekan kedua Juni 2026. Angka tersebut turun dari posisi tertinggi dalam empat bulan pada pekan sebelumnya dan relatif sejalan dengan ekspektasi pasar yang sebesar 225.000.
Namun, klaim lanjutan atau continuing claims justru naik 24.000 menjadi 1,81 juta pada pekan pertama Juni 2026. Posisi ini menjadi yang tertinggi dalam hampir tiga bulan.
Kenaikan continuing claims menunjukkan semakin banyak warga AS yang masih menerima tunjangan pengangguran setelah pengajuan awal. Data ini biasanya dibaca sebagai sinyal bahwa sebagian pencari kerja mulai membutuhkan waktu lebih lama untuk kembali mendapatkan pekerjaan.
Energy Forum
CNBC Indonesia hari ini akan menghadirkan Energy Forum yang menjadi forum strategis untuk mempertemukan regulator, legislatif, dan pelaku usaha. Forum ini membahas peran sektor energi dalam memperkuat ketahanan energi nasional di tengah dinamika geopolitik global dan volatilitas harga energi. CNBC Indonesia Energy Forum menjadi ruang dialog untuk mengkaji dampak gejolak energi dunia terhadap pasokan energi Indonesia.
Melalui diskusi lintas pemangku kepentingan, forum ini mendorong penguatan produksi migas domestik, perbaikan iklim investasi, serta harmonisasi kebijakan guna menjaga ketahanan energi nasional di tengah ketidakpastian pasar energi global.
CNBC Indonesia Energy Forum dengan tema "Mitigation Strategies for National Resilience in Response to Global Energy Shocks" akan digelar pada, Kamis 25 Juni 10.00 hingga 13:30 WIB.
Hadir sebagai pembicara utama Menteri ESDM Bahlil Lahadalia.
source on Google