Rupiah dan IHSG Hari Ini Hadapi Ujian Berat dari AS, Ada Apa Lagi?
Dari pasar saham Amerika Serikat (AS), bursa Wall Street ditutup beragam pada perdagangan Rabu atau Kamis dini hari waktu Indonesia.
Saham ditutup bervariasi di tengah aksi jual saham teknologi yang dipimpin oleh pelemahan saham Micron Technology. Pelaku pasar kini menantikan laporan keuangan perusahaan pembuat chip memori tersebut yang dijadwalkan dirilis setelah penutupan pasar.
Indeks Nasdaq Composite melemah 0,43% ke level 25.476,64. Sementara itu, S&P 500 turun tipis 0,10% menjadi 7.358,22. Berbeda dengan dua indeks tersebut, Dow Jones Industrial Average justru naik 182,06 poin atau 0,35% ke posisi 51.848,90.
Harga minyak juga melanjutkan tren penurunan. Kontrak berjangka Brent turun 4,33% dan ditutup di US$73,74 per barel, level terendah sejak sebelum Amerika Serikat dan Israel melancarkan serangan udara ke Iran pada akhir Februari.
Sementara itu, West Texas Intermediate (WTI) merosot 3,92% menjadi US$70,34 per barel, setelah sempat menyentuh level terendah sejak awal Maret.
Turunnya harga minyak turut mendorong penurunan imbal hasil (yield) obligasi pemerintah AS. Yield US Treasury tenor 10 tahun kembali turun ke bawah level 4,5%.
Saham-saham sektor energi ikut tertekan. Saham Exxon Mobil, Chevron, ConocoPhillips, dan SLB masing-masing terkoreksi lebih dari 2%. Sementara ETF sektor energi Energy Select Sector SPDR (XLE) turun lebih dari 1%.
Di sektor semikonduktor, saham Micron sempat memangkas pelemahannya, namun tetap ditutup turun 0,3%. Saham produsen memori lainnya, Sandisk, anjlok 2,5%. Pada sesi sebelumnya, kedua saham tersebut telah merosot hingga 13%. Sementara itu, VanEck Semiconductor ETF (SMH) ditutup melemah tipis.
Micron dijadwalkan mengumumkan kinerja keuangan terbarunya setelah penutupan perdagangan Rabu.
Berdasarkan konsensus analis yang dihimpun FactSet, perusahaan diperkirakan membukukan laba sebesar US$20,83 per saham dengan pendapatan mencapai US$35,75 miliar.
Pergerakan pasar pada Rabu terjadi setelah aksi jual besar-besaran di sektor teknologi menyeret S&P 500 dan Nasdaq pada perdagangan Selasa.
Investor melepas saham-saham yang terkait industri semikonduktor, sehingga ETF chip SMH ditutup anjlok sekitar 7%.
"Penurunan saham teknologi merupakan koreksi yang sehat karena banyak saham di sektor ini sudah mengalami kenaikan yang terlalu tinggi," kata Rick Gardner, Chief Investment Officer di RGA Investments.
Menurutnya, koreksi tersebut menunjukkan investor mulai menyadari bahwa ekspektasi laba perusahaan teknologi sudah sangat tinggi. Hal itu membuat perusahaan akan menghadapi tantangan lebih besar untuk memenuhi harapan pasar ketika musim laporan keuangan dimulai kembali pada Juli. Ia menilai pelemahan ini lebih merupakan proses penyesuaian ulang ekspektasi investor.
Sepanjang 2026, saham Micron mencatat reli luar biasa. Sahamnya sempat mencetak rekor tertinggi sepanjang masa pada Senin dan ditutup di level US$1.051,77 pada Selasa. Namun, Jay Woods, Chief Market Strategist di Freedom Capital Markets, memperingatkan saham tersebut masih berpotensi terkoreksi setelah laporan keuangan dirilis.
Menurut Woods, harga saham Micron bisa turun hingga sekitar US$1.000. Meski terlihat sebagai penurunan yang cukup besar, level tersebut akan menjadi perhatian para pelaku pasar karena sejalan dengan posisi rata-rata pergerakan (moving average) 20 hari.
Di sisi lain, saham Alphabet sempat menguat, tetapi akhirnya ditutup turun 0,2% setelah S&P Global mengumumkan bahwa perusahaan induk Google tersebut akan segera menggantikan Verizon sebagai salah satu anggota indeks Dow Jones Industrial Average.
(evw/evw) Addsource on Google