Perdamaian dan Stimulus Ekonomi, Sanggupkah Bangkitkan Rupiah-IHSG?
Dari pasar saham AS, bursa Wall Street ditutup beragam pada perdagangan Senin atau Selasa dini hari waktu Indonesia.
Indeks S&P 500 ditutup melemah pada Senin, terbebani penurunan saham-saham teknologi. Wall Street juga mencermati perkembangan terbaru negosiasi perang Iran serta menanti rilis data inflasi yang menjadi perhatian utama the Federal Reserve (The Fed).
Indeks pasar luas S&P 500 turun 0,37% ke level 7.472,79, sementara Nasdaq Composite merosot 1,32% dan berakhir di 26.166,60. Sebaliknya, Dow Jones Industrial Average naik 148,01 poin atau 0,29%, didorong lonjakan hampir 4% saham Caterpillar.
Saham-saham teknologi raksasa menjadi beban utama pasar. Alphabet anjlok 5% akibat kekhawatiran terkait hengkangnya talenta kecerdasan buatan (AI). Amazon dan Meta Platforms masing-masing turun 4,8% dan 2,3%, sedangkan Microsoft melemah 3%.
Sementara itu, SpaceX menjadi salah satu saham dengan kinerja terburuk setelah anjlok 16%, mencatat penurunan harian ketiga berturut-turut.
Di sisi lain, Micron Technology menjadi salah satu bintang pasar dengan kenaikan hampir 7% menjelang laporan keuangan kuartalan yang akan dirilis Rabu setelah penutupan perdagangan. Saham produsen chip lainnya juga menguat, dengan Advanced Micro Devices (AMD) naik lebih dari 2% dan Intel melesat 5%.
Harga minyak dunia berbalik turun pada Senin setelah mediator dari Qatar dan Pakistan menyatakan pejabat AS dan Iran telah menyepakati peta jalan untuk mencapai kesepakatan final dalam waktu 60 hari. Tekanan terhadap harga minyak semakin besar setelah Departemen Keuangan AS mengizinkan penjualan minyak Iran selama 60 hari.
Kontrak berjangka minyak Brent untuk pengiriman Agustus turun 3,31% dan ditutup di US$77,90 per barel. Sementara itu, minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) AS untuk pengiriman Juli melemah 2,32% ke US$74,82 per barel.
Ujian utama pasar pekan ini adalah rilis data Personal Consumption Expenditures (PCE) Mei pada Kamis mendatang. PCE merupakan indikator inflasi favorit The Fed.
Menurut ekonom yang disurvei FactSet, inflasi inti (core PCE), yang tidak memasukkan komponen makanan dan energi yang volatil, diperkirakan meningkat dibandingkan April.
Setelah pertemuan The Fed pekan lalu yang bernada hawkish, ekspektasi kenaikan suku bunga kini maju menjadi secepatnya pada Oktober. Investor pun fokus penuh pada setiap data inflasi yang dapat menjadi sinyal bahwa bank sentral AS akan segera kembali menaikkan suku bunga.
Meski pasar saham sedang tertekan, Tom Hainlin, Kepala Strategi Investasi Nasional di U.S. Bank Asset Management Group, menilai kondisi pasar masih relatif mendukung, terutama untuk saham-saham berkapitalisasi besar di AS.
"Jika melihat siapa yang memiliki fundamental, transparansi, dan kinerja laba terbaik, jawabannya masih Amerika Serikat saat ini. Apalagi konflik Timur Tengah belum benar-benar berakhir, arus pasokan minyak belum sepenuhnya normal, dan AS masih memiliki pasokan energinya sendiri," kata Hainlin, dikutip dari CNBC International.
Dia menambahkan selama konsumen masih memperoleh pendapatan dan yakin dengan keamanan pekerjaannya sehingga tetap mau berbelanja, serta perusahaan masih percaya ekonomi berada dalam kondisi baik dan terus berekspansi untuk masa depan, maka fondasi ekonomi masih cukup kuat.
(evw/evw) Addsource on Google