Pasar keuangan Indonesia diperkirakan akan menghadapi sedikit tekanan pada hari in dan sepanjang pekan ke depan di tengah banyaknya pengumuman penting pekan ini. Selengkapnya mengenai proyeksi pasar hari ini dan satu pekan ke depan bisa dibaca pada halaman 3 artikel ini.
Nyaris seluruh sektor perdagangan menguat, dengan hanya sektor kesehatan dan teknologi yang melemah. Adapun penguatan tertinggi dibukukan oleh sektor barang baku, energi, konsumer primer, konsumer non-primer dan industri.
Penguatan rupiah juga terjadi di tengah berlangsungnya aksi demonstrasi mahasiswa di Jakarta. Meski demikian, tekanan dari faktor domestik tersebut belum mampu menahan penguatan rupiah pada perdagangan Jumat.
Sementara di pasar obligasi, imbal hasil Surat Berharga Negara tenor 10 tahun kembali mengalami penguatan secara signifikan ke level 7,165%, menguat dari hari sebelumnya yang ditutup di level 7,442%.
Penurunan imbal hasil ini mengindikasikan bahwa kepercayaan dari investor domestik maupun asing mulai kembali ke pasar obligasi tanah air setelah mengalami penjualan secara ekstrem pada pekan lalu hingga mencapai 7,479% pada perdagangan Rabu (10/6/2026).
Bursa saham Amerika Serikat (AS) atau Wall Street ditutup menguat pada perdagangan hari Jumat. Sentimen positif pasar didorong oleh lonjakan saham SpaceX pada hari perdana perdagangannya, serta optimisme investor terhadap potensi kesepakatan damai antara Amerika Serikat dan Iran.
Indeks S&P 500 ditutup menguat 0,5% pada level 7.431,46, sementara Nasdaq Composite naik 0,31% menjadi 25.888,84. Indeks Dow Jones Industrial Average juga mencatat kenaikan sebesar 353,51 poin, atau 0,7%, dan berakhir pada level 51.202,26.
Kejayaan Debut Saham SpaceX
Perusahaan produsen roket milik Elon Musk, Space Exploration Technologies Corp (SpaceX), resmi melantai di bursa Nasdaq dengan harga pembukaan $150 per saham di bawah kode emiten SPCX. Angka ini berada di atas harga penawaran umum perdana (IPO) yang ditetapkan sebesar $135. Saham perusahaan tersebut melonjak lebih dari 20% sesaat setelah pembukaan dan ditutup menguat 19,22% di level $160,95.
Kinerja positif dari SpaceX ini berhasil meningkatkan kepercayaan investor, sehingga memicu pandangan di kalangan pelaku pasar Wall Street bahwa sejumlah saham lainnya di pasar mungkin masih berada di bawah nilai wajarnya (undervalued).
"Pesta IPO, yang kini tampak berubah menjadi lonjakan besar, sudah diprediksi sejak lama," ujar Mark Klein, CEO dan Presiden SuRo Capital. "SpaceX akan menjadi indikator utama (bellwether)."
Ia juga menambahkan jika melihat pasar IPO ke depan, banyak perusahaan yang ingin go public, namun Anda mungkin akan melihat beberapa perusahaan besar memilih untuk wait and see karena besarnya modal yang saat ini hanya mengalir ke segelintir perusahaan."
Dinamika Saham Teknologi dan Kecerdasan Buatan (AI)
Perdagangan saham pada sektor teknologi ditutup bervariasi, meskipun sebelumnya sempat menguat seiring dengan antisipasi kesuksesan IPO SpaceX. SpaceX saat ini juga dianggap sebagai proksi bagi minat investasi di sektor kecerdasan buatan (AI) melalui unit bisnisnya, xAI.
Saham unggulan AI, Nvidia, ditutup sedikit lebih tinggi. Saham teknologi lainnya seperti Advanced Micro Devices (AMD) dan Alphabet masing-masing mencetak kenaikan sebesar 4,7% dan 0,5%. Di sisi lain, saham Broadcom dan perusahaan perangkat lunak AI Palantir Technologies ditutup di zona merah, senada dengan pergerakan saham Amazon dan Meta Platforms.
"Menurut pandangan saya, tema AI justru semakin kuat," ungkap Jeff Kilburg, CEO KKM Financial. "Tidak ada yang bergerak dalam garis lurus, dan kami melihat beberapa kendala di Nasdaq, yang mungkin lebih dipengaruhi oleh ketegangan geopolitik dibandingkan efek IPO SpaceX. Namun saya menilai dominasi saham-saham ['Magnificent Seven'] akan tetap berlanjut."
Terlalu Dini untuk 'Buy the Dip'?
Menanggapi kondisi pasar saat ini, Analis UBS Michel Lerner menilai masih terlalu dini untuk memastikan apakah volatilitas pasar baru-baru ini merupakan kesempatan untuk membeli di harga bawah (buy the dip) pada saham-saham momentum, atau apakah ini justru sinyal bahwa pasar akan kembali ke "norma historisnya."
Saham-saham momentum, teknologi AS, maupun teknologi global tercatat telah memberikan imbal hasil yang sangat kuat, namun kepemimpinan pasar saat ini menjadi semakin sempit. Tercatat hanya sekitar satu dari tiga saham yang berkinerja melampaui pasar dalam tiga bulan terakhir di bursa AS. Angka tersebut merupakan rasio terendah dalam lebih dari 30 tahun terakhir.
Di tengah sikap bank sentral yang semakin hawkish, tingkat suku bunga yang lebih tinggi dapat menjadi tekanan bagi saham-saham teknologi.
"Mengingat rilis angka inflasi yang lebih tinggi, terdapat risiko terulangnya skenario tahun 1999-2000, yakni ketika The Fed menaikkan suku bunga secara agresif hingga mencapai puncak gelembung dotcom (dotcom bubble)," jelas Lerner.
Pergerakan pasar keuangan pada hari ini dan satu pekan depan diperkirakan masih akan dibayangi ketidakpastian global yang meningkat akibat konflik di Timur Tengah. Setelah harga minyak dunia melonjak tajam dan volatilitas pasar meningkat dalam beberapa pekan terakhir, investor kini menunggu sejumlah data ekonomi penting yang dapat memberi petunjuk mengenai arah pertumbuhan ekonomi global, prospek suku bunga, hingga stabilitas nilai tukar.
Fokus utama pasar akan tertuju pada rapat suku bunga Bank Indonesia dan The Federal Reserve (The Fed), data konsumsi Amerika Serikat, serta sederet indikator ekonomi China yang selama ini menjadi barometer permintaan komoditas dunia. Bagi Indonesia, kombinasi data tersebut akan berpengaruh terhadap pergerakan rupiah, IHSG, pasar obligasi, hingga prospek sektor komoditas seperti batu bara, nikel, dan minyak sawit mentah (CPO).
Perkembangan Perang
sinyal perang berakhir semakin kencang.
Amerika Serikat dan Iran dikabarkan telah mencapai kesepakatan untuk mengakhiri perang mereka. Presiden AS Donald Trump menyatakan kesepakatan telah selesai, sementara Perdana Menteri Pakistan Shehbaz Sharif mengatakan perjanjian tersebut mencakup penghentian permanen operasi militer, termasuk di Lebanon.
Kesepakatan itu juga disebut akan membuka kembali Selat Hormuz, mengakhiri blokade laut AS terhadap Iran, dan memperpanjang gencatan senjata. Penandatanganan resmi dijadwalkan berlangsung di Swiss pada Jumat mendatang.
Menurut sejumlah sumber, isu program nuklir Iran akan dibahas lebih lanjut dalam perundingan selama 60 hari. Sebagai bagian dari rancangan kesepakatan, AS akan mencairkan aset Iran senilai US$25 miliar, sementara Iran berkomitmen tidak mengembangkan senjata nuklir.
Meski demikian, proses perdamaian sempat terganggu oleh serangan Israel ke Lebanon yang memicu kecaman dari Iran dan kritik dari Trump. Israel menegaskan tidak terlibat dalam kesepakatan AS-Iran dan tetap ingin mempertahankan kebebasan operasi militernya di Lebanon.
Perang yang telah berlangsung sejak akhir Februari itu menewaskan ribuan orang, terutama di Iran dan Lebanon, serta memicu lonjakan harga energi global akibat terganggunya pelayaran di Selat Hormuz.
Selain perang berikut beberapa sentimen yang akan menggerakkan pasar hari ini:
1. Utang Luar Negeri RI
Agenda pekan depan dimulai pada Senin (15/6/2026) dengan rilis Statistik Utang Luar Negeri Indonesia (SULNI) periode April 2026.
Data ini akan menjadi perhatian karena dirilis di tengah gejolak pasar global yang masih tinggi. Berdasarkan laporan Bank Indonesia sebelumnya, posisi utang luar negeri Indonesia pada triwulan I-2026 mencapai US$433,4 miliar atau sekitar Rp7.685 triliun.
Kenaikan utang luar negeri terjadi ketika banyak negara berkembang menghadapi tekanan akibat tingginya suku bunga global, penguatan dolar AS, dan meningkatnya risiko geopolitik. Dalam kondisi seperti ini, investor biasanya memberi perhatian lebih besar terhadap kebutuhan pembiayaan eksternal suatu negara.
Bank Indonesia sebelumnya menilai struktur utang Indonesia masih relatif aman karena didominasi tenor jangka panjang. Selain itu, kenaikan utang lebih banyak berasal dari sektor publik yang masih membutuhkan pendanaan untuk berbagai program pemerintah dan proyek strategis nasional.
Pasar akan melihat apakah posisi utang luar negeri kembali bertambah pada April dan bagaimana komposisi antara sektor pemerintah serta swasta. Stabilitas utang luar negeri menjadi salah satu faktor penting dalam menjaga kepercayaan investor asing terhadap aset-aset domestik, terutama obligasi pemerintah dan rupiah.
2. Libur Dalam Negeri & Antisipasi Kebijakan Bank of Japan
Pada hari Selasa (16/6/2026), Indonesia memasuki libur Tahun Baru Islam 1448 Hijriah serta Hari Penampahan Galungan di Bali. Aktivitas perdagangan di pasar keuangan domestik akan lebih sepi dibanding hari normal.
Meski demikian, perhatian pelaku pasar regional akan tertuju pada Jepang seiring rilis BoJ Interest Rate Decision. Pada pertemuan April 2026 lalu, Bank of Japan mempertahankan suku bunga kebijakan jangka pendeknya di level 0,75%, yang merupakan level tertinggi sejak September 1995.
Keputusan tersebut diambil melalui pemungutan suara dengan hasil 6-3 di tengah ketidakpastian konflik Iran dan lonjakan harga energi. Tiga anggota dewan, yakni Hajime Takata, Naoki Tamura, dan Junko Nakagawa, menyatakan dissenting opinion dan mengusulkan kenaikan suku bunga hingga ke level 1,0%.
Dalam pandangan kuartalannya, BoJ menaikkan prospek inflasi inti tahun fiskal (FY) 2026 menjadi 2,8% dari sebelumnya 1,9% karena dipicu kenaikan harga minyak mentah yang mengerek biaya energi dan barang.
Di sisi lain, proyeksi pertumbuhan FY2026 dipangkas dari 1,0% menjadi 0,5% akibat melemahnya momentum domestik. Pada pertemuan pekan ini, konsensus pasar dan perkiraan Trading Economics memproyeksikan BoJ akan menaikkan suku bunga acuannya menjadi 1,0%.
3. Pabrik China Melambat, Sinyal Permintaan Komoditas Mengendur
Masih pada Selasa, China dijadwalkan merilis data produksi industri atau Industrial Production.
Pada April 2026, produksi industri China hanya tumbuh 4,1% secara tahunan, melambat dibandingkan 5,7% pada Maret dan jauh di bawah ekspektasi pasar sebesar 5,9%. Pertumbuhan tersebut menjadi yang paling rendah sejak Juli 2023.
Perlambatan terjadi pada sektor manufaktur dan pertambangan. Produksi manufaktur hanya tumbuh 4,0%, turun dari 6,0% pada bulan sebelumnya. Sementara sektor pertambangan melambat menjadi 3,8% dari sebelumnya 5,7%.
Bagi Indonesia, data ini penting karena China merupakan tujuan utama ekspor berbagai komoditas nasional. Aktivitas pabrik yang lebih lambat berpotensi mengurangi kebutuhan bahan baku industri, mulai dari batu bara, nikel, tembaga hingga berbagai produk mineral lainnya.
Pasar akan mencari petunjuk apakah pelemahan tersebut hanya bersifat sementara akibat dampak perang Iran atau sudah mengarah pada perlambatan ekonomi yang lebih luas.
4. Konsumen China Kehilangan Tenaga
Selain sektor industri, China juga akan merilis data penjualan ritel atau retail sales.
Data terakhir memberikan sinyal yang jauh lebih lemah dibanding sektor manufaktur. Penjualan ritel pada April hanya tumbuh 0,2% secara tahunan, turun tajam dari 1,7% pada Maret dan jauh di bawah perkiraan pasar sebesar 2,0%.
Pelemahan terlihat pada sejumlah sektor utama. Penjualan kendaraan bermotor anjlok 15,3%, peralatan rumah tangga turun 15,1%, bahan bangunan turun 13,8%, sementara furnitur turun 10,4%.
Kondisi tersebut memperlihatkan rumah tangga China masih berhati-hati dalam melakukan belanja barang bernilai besar. Di sisi lain, konsumsi jasa masih relatif lebih baik dengan pendapatan sektor katering tumbuh 2,2%.
Bagi pasar komoditas global, lemahnya konsumsi China menjadi perhatian besar. Pemulihan ekonomi China selama ini diharapkan datang dari sisi konsumsi domestik. Jika belanja masyarakat terus melemah, permintaan terhadap berbagai produk impor dan bahan baku industri berpotensi tertahan lebih lama.
5. Konsumen Amerika Serikat Masih Bertahan
Perhatian pasar global kemudian beralih ke Amerika Serikat pada Rabu (17/6/2026) melalui rilis data retail sales.
Penjualan ritel AS pada April meningkat 0,5% dibanding bulan sebelumnya. Angka tersebut sama dengan ekspektasi pasar meskipun lebih rendah dibanding kenaikan 1,6% pada Maret.
Kenaikan terbesar berasal dari stasiun pengisian bahan bakar yang naik 2,8%, seiring lonjakan harga energi akibat konflik Iran. Penjualan elektronik naik 1,4%, sementara penjualan makanan dan minuman meningkat 0,8%.
Di sisi lain, penjualan furnitur turun 2,0%, pakaian turun 1,5%, dan kendaraan bermotor berkurang 0,5%.
Pasar akan mencermati apakah konsumen AS masih mampu menjaga belanja di tengah tekanan inflasi energi yang meningkat. Konsumsi rumah tangga menyumbang sekitar dua pertiga aktivitas ekonomi Amerika Serikat sehingga data ini sering menjadi indikator awal kesehatan ekonomi terbesar dunia tersebut.
Jika konsumsi tetap kuat, peluang perlambatan ekonomi AS menjadi lebih kecil. Kondisi tersebut dapat memengaruhi ekspektasi pasar terhadap arah kebijakan suku bunga Federal Reserve.
6. RDG BI Jadi Sorotan Utama Pasar Domestik
Agenda terbesar dari dalam negeri berlangsung pada Rabu-Kamis (17-18 Juni 2026) melalui Rapat Dewan Gubernur Bank Indonesia.
Perhatian investor tertuju pada arah kebijakan suku bunga setelah BI secara mengejutkan menaikkan BI Rate secara mendadak sebesar 25 basis poin menjadi 5,5% pada 9 Juni lalu. Dalam kurun waktu kurang dari 30 hari, BI sudah mengerek suku bunga sebesar 50 bps.
Sebagai catatan, BI sudah menaikkan suku bunga pada RDG bulanan 20 Mei sebesar 25 bps.
Bank sentral menyebut langkah tersebut diambil untuk menjaga stabilitas rupiah yang menghadapi tekanan akibat gejolak global dan konflik di Timur Tengah.
Kenaikan tersebut membuat pasar kini menunggu sinyal lanjutan dari BI. Investor akan mencermati apakah bank sentral masih membuka peluang pengetatan tambahan atau memilih menahan suku bunga sambil mengevaluasi dampak kebijakan yang baru ditempuh.
Selain keputusan suku bunga, pasar juga akan mengamati pandangan BI mengenai kondisi rupiah, inflasi, arus modal asing, serta prospek pertumbuhan ekonomi nasional pada semester kedua tahun ini.
7. The Fed dan Taruhan Besar Pasar Global
Pada Rabu waktu AS atau Kamis dini hari waktu Indonesia (18/6/2026), perhatian dunia akan tertuju pada keputusan suku bunga Federal Reserve mengingat inflasi di AS kian memburuk hingga mencapai level 4,2% pada Mei 2026.
Sebelumnya, bank sentral AS mempertahankan Fed Funds Rate di kisaran 3,5%-3,75% untuk tiga pertemuan berturut-turut, namun pada pekan ini FOMC akan dipimpin oleh ketua The Fed yang baru yakni Kevin Warsh yang baru saja diangkat.
Risalah rapat terakhir memperlihatkan sebagian besar pejabat The Fed masih mengkhawatirkan inflasi yang bertahan di atas target 2%. Bahkan sejumlah anggota menilai opsi kenaikan suku bunga tetap perlu tersedia apabila tekanan harga kembali meningkat.
Situasi tersebut membuat pasar berada dalam posisi yang sensitif. Konflik Timur Tengah telah mendorong harga energi naik dalam beberapa bulan terakhir. Jika kenaikan harga minyak berlanjut, tekanan inflasi dapat kembali meningkat dan mempersempit ruang pelonggaran moneter.
Investor akan memerhatikan proyeksi terbaru The Fed, terutama terkait inflasi, pertumbuhan ekonomi, serta jumlah pemangkasan suku bunga yang masih mungkin dilakukan hingga akhir tahun.
Keputusan dan pernyataan The Fed berpotensi memengaruhi hampir seluruh kelas aset global, mulai dari dolar AS, obligasi pemerintah AS, mata uang emerging market, hingga harga komoditas dunia.
Secara keseluruhan, sentimen pasar pekan depan akan banyak ditentukan oleh kombinasi tiga kekuatan besar, yakni kondisi ekonomi China, ketahanan konsumsi Amerika Serikat, dan arah kebijakan bank sentral.
Berikut sejumlah agenda dan rilis data yang terjadwal untuk hari ini:
- SULNI Indonesia April 2026
- Inflasi Arab Saudi Mei 2026
- Neraca Perdagangan Area Eropa April 2026
-
Presiden Prabowo Subianto menerima kunjungan kenegaraan Presiden Federasi Jerman di Istana Kepresidenan, Jakarta Pusat
-
Keterangan pers Menteri Investasi dan Hilirisasi/Kepala Badan Koordinasi Penanaman Modal sekaligus CEO Danantara Indonesia terkait hasil kunjungan ke Amerika Serikat dan sejumlah negara di Eropa & Asia
-
Rapat Koordinasi Pengendalian Inflasi di kantor Kementerian Dalam Negeri, Jakarta Pusat
-
Pertemuan Penasihat Khusus Presiden Bidang Ketenagakerjaan dengan Menteri Ketenagakerjaan di kantor Kementerian Ketenagakerjaan, Jakarta Selatan
-
Komisi XI DPR menggelar rapat kerja dengan Menteri Keuangan dilanjutkan dengan eselon I Kementerian Keuangan membahas RKA & RKP Kemenkeu Tahun 2027 di ruang rapat Komisi XI DPR, kompleks parlemen, Senayan, Jakarta Pusat.
Berikut sejumlah agenda emiten di dalam negeri pada hari ini:
-
Pemberitahuan RUPS Rencana Equity Development Investment Tbk (GSMF)
-
Pemberitahuan RUPS Rencana PT Jasnita Telekomindo Tbk (JAST)
-
Pemberitahuan RUPS Rencana PT Hatten Bali Tbk (WINE)
-
Pemberitahuan RUPS Rencana PT Charlie Hospital Semarang Tbk (RSCH)
-
Pemberitahuan RUPS Rencana Central Proteina Prima Tbk (CPRO)
-
Pemberitahuan RUPS Rencana PT Indonesian Tobacco Tbk (ITIC)
-
Pemberitahuan RUPS Rencana PT Batavia Prosperindo Trans Tbk (BPTR)
-
Pemberitahuan RUPS Rencana PT Pelayaran Jaya Hidup Baru Tbk (PJHB)
-
Pemberitahuan RUPS Rencana PT Lancartama Sejati Tbk (TAMA)
-
Pemberitahuan RUPS Rencana PT Rohartindo Nusantara Luas Tbk (TOOL)
-
Pemberitahuan RUPS Rencana PT Uni-Charm Indonesia Tbk (UCID)
-
Pemberitahuan RUPS Rencana PT Grand House Mulia Tbk (HOMI)
-
Pemberitahuan RUPS Rencana PT Trimitra Propertindo Tbk (LAND)
-
Pemberitahuan RUPS Rencana PT Utama Radar Cahaya Tbk (RCCC)
-
Pemberitahuan RUPS Rencana PT Indokripto Koin Semesta Tbk (COIN)
-
Pemberitahuan RUPS Rencana Sona Topas Tourism Industry Tbk (SONA)
-
Pemberitahuan RUPS Rencana PT Bliss Properti Indonesia Tbk (POSA)
-
Pemberitahuan RUPS Rencana PT Intan Baru Prana Tbk (IBFN)
-
Pemberitahuan RUPS Rencana PT Griptha Putra Persada Tbk (GRPH)
-
Pemberitahuan RUPS Rencana Baramulti Suksessarana Tbk (BSSR)
-
Pemberitahuan RUPS Rencana PT Puradelta Lestari Tbk (DMAS)
-
Pemberitahuan RUPS Rencana PT Puri Sentul Permai Tbk (KDTN)
-
Pemberitahuan RUPS Rencana PT Puri Global Sukses Tbk (PURI)
-
Pemberitahuan RUPS Rencana PT Citra Nusantara Gemilang Tbk (CGAS)
-
Pemberitahuan RUPS Rencana PT Xolare RCR Energy Tbk (SOLA)
-
Tanggal Pembayaran Dividen Tunai BISI International Tbk (BISI)
-
Tanggal Ex Dividen Tunai Pudjiadi Prestige Tbk (PUDP)
-
Tanggal DPS Dividen Tunai PT Mega Perintis Tbk (ZONE)
-
Tanggal DPS Dividen Tunai J Resources Asia Pasifik Tbk (PSAB)
-
Tanggal DPS Dividen Tunai Argha Karya Prima Ind Tbk (AKPI)
-
Tanggal DPS Dividen Tunai PT Malacca Trust Wuwungan Insurance Tbk (MTWI)
-
Tanggal Cum Dividen Tunai Interim PT Bank Central Asia Tbk (BBCA)
-
Tanggal DPS Dividen Tunai FKS Multi Agro Tbk (FISH)
-
Tanggal Ex Dividen Tunai PT Sumber Alfaria Trijaya Tbk (AMRT)
-
Tanggal Ex Dividen Tunai Midi Utama Indonesia Tbk (MIDI)
-
Tanggal Cum Dividen Tunai Selamat Sempurna Tbk (SMSM)
-
Tanggal DPS Dividen Tunai PT Hartadinata Abadi Tbk (HRTA)
-
Tanggal Ex Dividen Tunai Unilever Indonesia Tbk (UNVR)
-
Tanggal DPS Dividen Tunai Surya Toto Indonesia Tbk (TOTO)
-
Tanggal DPS Dividen Tunai Jaya Konstruksi Manggala Pratama Tbk (JKON)
-
Tanggal Ex Dividen Tunai PT Kencana Energi Lestari Tbk (KEEN)
-
Tanggal Ex Dividen Tunai PT Medco Energi Internasional Tbk (MEDC)
-
Tanggal Ex Dividen Tunai PT Mutuagung Lestari Tbk (MUTU)
-
Tanggal Ex Dividen Tunai PT Atlantis Subsea Indonesia Tbk (ATLA)
-
Tanggal Ex Dividen Tunai Indo Kordsa Tbk (BRAM)
-
Tanggal Ex Dividen Tunai Mayora Indah Tbk (MYOR)
-
Tanggal Ex Dividen Tunai PT Berkah Prima Perkasa Tbk (BLUE)
-
Tanggal Ex Dividen Tunai Jaya Real Property Tbk (JRPT)
-
Tanggal Cum Dividen Tunai PT Gihon Telekomunikasi Indonesia Tbk (GHON)
-
Tanggal Ex Dividen Tunai PT Bangun Kosambi Sukses Tbk (CBDK)
-
Tanggal Ex Dividen Tunai PT Pantai Indah Kapuk Dua Tbk (PANI)
-
Tanggal Cum Dividen Tunai PT Bali Towerindo Sentra Tbk (BALI)
-
Tanggal Cum Dividen Tunai PT Idea Indonesia Akademi Tbk (IDEA)
-
Tanggal Cum Dividen Tunai PT Batavia Prosperindo Internasional Tbk (BPII)
-
Tanggal Cum Dividen Tunai PT Indonesia Fibreboard Industry Tbk (IFII)
-
Tanggal Cum Dividen Tunai Kawasan Industri Jababeka Tbk (KIJA)
-
Tanggal Cum Dividen Tunai Tempo Scan Pacific Tbk (TSPC)
-
Tanggal Cum Dividen Tunai PT Ateliers Mecaniques D Indonesie Tbk (AMIN)
-
Tanggal Cum Dividen Tunai PT Surya Biru Murni Acetylene Tbk (SBMA)
-
Tanggal Cum Dividen Tunai PT Topindo Solusi Komunika Tbk (TOSK)
Berikut sejumlah indikator perekonomian nasional:
-
Sanggahan: Artikel ini adalah produk jurnalistik berupa pandangan CNBC Indonesia Research. Analisis ini tidak bertujuan mengajak pembaca untuk membeli, menahan, atau menjual produk atau sektor investasi terkait. Keputusan sepenuhnya ada pada diri pembaca, sehingga kami tidak bertanggung jawab terhadap segala kerugian maupun keuntungan yang timbul dari keputusan tersebut.
CNBC INDONESIA RESEARCH
[email protected]