Perang Mereda, IHSG-Rupiah Malah Dikepung 7 Ancaman Baru Pekan Ini
Bursa saham Amerika Serikat (AS) atau Wall Street ditutup menguat pada perdagangan hari Jumat. Sentimen positif pasar didorong oleh lonjakan saham SpaceX pada hari perdana perdagangannya, serta optimisme investor terhadap potensi kesepakatan damai antara Amerika Serikat dan Iran.
Indeks S&P 500 ditutup menguat 0,5% pada level 7.431,46, sementara Nasdaq Composite naik 0,31% menjadi 25.888,84. Indeks Dow Jones Industrial Average juga mencatat kenaikan sebesar 353,51 poin, atau 0,7%, dan berakhir pada level 51.202,26.
Kejayaan Debut Saham SpaceX
Perusahaan produsen roket milik Elon Musk, Space Exploration Technologies Corp (SpaceX), resmi melantai di bursa Nasdaq dengan harga pembukaan $150 per saham di bawah kode emiten SPCX. Angka ini berada di atas harga penawaran umum perdana (IPO) yang ditetapkan sebesar $135. Saham perusahaan tersebut melonjak lebih dari 20% sesaat setelah pembukaan dan ditutup menguat 19,22% di level $160,95.
Kinerja positif dari SpaceX ini berhasil meningkatkan kepercayaan investor, sehingga memicu pandangan di kalangan pelaku pasar Wall Street bahwa sejumlah saham lainnya di pasar mungkin masih berada di bawah nilai wajarnya (undervalued).
"Pesta IPO, yang kini tampak berubah menjadi lonjakan besar, sudah diprediksi sejak lama," ujar Mark Klein, CEO dan Presiden SuRo Capital. "SpaceX akan menjadi indikator utama (bellwether)."
Ia juga menambahkan jika melihat pasar IPO ke depan, banyak perusahaan yang ingin go public, namun Anda mungkin akan melihat beberapa perusahaan besar memilih untuk wait and see karena besarnya modal yang saat ini hanya mengalir ke segelintir perusahaan."
Dinamika Saham Teknologi dan Kecerdasan Buatan (AI)
Perdagangan saham pada sektor teknologi ditutup bervariasi, meskipun sebelumnya sempat menguat seiring dengan antisipasi kesuksesan IPO SpaceX. SpaceX saat ini juga dianggap sebagai proksi bagi minat investasi di sektor kecerdasan buatan (AI) melalui unit bisnisnya, xAI.
Saham unggulan AI, Nvidia, ditutup sedikit lebih tinggi. Saham teknologi lainnya seperti Advanced Micro Devices (AMD) dan Alphabet masing-masing mencetak kenaikan sebesar 4,7% dan 0,5%. Di sisi lain, saham Broadcom dan perusahaan perangkat lunak AI Palantir Technologies ditutup di zona merah, senada dengan pergerakan saham Amazon dan Meta Platforms.
"Menurut pandangan saya, tema AI justru semakin kuat," ungkap Jeff Kilburg, CEO KKM Financial. "Tidak ada yang bergerak dalam garis lurus, dan kami melihat beberapa kendala di Nasdaq, yang mungkin lebih dipengaruhi oleh ketegangan geopolitik dibandingkan efek IPO SpaceX. Namun saya menilai dominasi saham-saham ['Magnificent Seven'] akan tetap berlanjut."
Terlalu Dini untuk 'Buy the Dip'?
Menanggapi kondisi pasar saat ini, Analis UBS Michel Lerner menilai masih terlalu dini untuk memastikan apakah volatilitas pasar baru-baru ini merupakan kesempatan untuk membeli di harga bawah (buy the dip) pada saham-saham momentum, atau apakah ini justru sinyal bahwa pasar akan kembali ke "norma historisnya."
Saham-saham momentum, teknologi AS, maupun teknologi global tercatat telah memberikan imbal hasil yang sangat kuat, namun kepemimpinan pasar saat ini menjadi semakin sempit. Tercatat hanya sekitar satu dari tiga saham yang berkinerja melampaui pasar dalam tiga bulan terakhir di bursa AS. Angka tersebut merupakan rasio terendah dalam lebih dari 30 tahun terakhir.
Di tengah sikap bank sentral yang semakin hawkish, tingkat suku bunga yang lebih tinggi dapat menjadi tekanan bagi saham-saham teknologi.
"Mengingat rilis angka inflasi yang lebih tinggi, terdapat risiko terulangnya skenario tahun 1999-2000, yakni ketika The Fed menaikkan suku bunga secara agresif hingga mencapai puncak gelembung dotcom (dotcom bubble)," jelas Lerner.
(gls/gls) Addsource on Google