MARKET DATA

China Sukses Jadi Pabrik Dunia, Tapi Rakyatnya Belum Percaya Diri

Elvan Widyatama,  CNBC Indonesia
13 June 2026 17:00
Ilustrasi bendera China. (VCG via Getty Images/VCG)
Foto: Ilustrasi bendera China. (VCG via Getty Images/VCG)

Jakarta, CNBC Indonesia - China kini menjadi salah satu kekuatan industri terbesar di dunia. Produk manufaktur China tidak hanya unggul di barang-barang murah, tetapi juga mulai mendominasi sektor yang lebih canggih dan bernilai tinggi.

Mengutip The Economist, pabrikan China kini telah menjadi pesaing serius di berbagai industri yang sebelumnya banyak dikuasai negara-negara maju. China berhasil menyalip produsen mobil Jerman, mengambil langkah lebih cepat dibanding pembuat kapal Korea Selatan, serta memperkecil jarak dengan perancang chip Amerika Serikat (AS).

Keberhasilan ini membuat banyak negara mulai khawatir. Sejumlah pemimpin dunia kini berupaya membatasi ketergantungan terhadap China, terutama pada industri-industri strategis.

Uni Eropa, misalnya, akan menggelar pertemuan akhir Juni ini untuk membahas langkah yang lebih tegas. Salah satu opsi yang dipertimbangkan adalah mewajibkan perusahaan Eropa untuk mendiversifikasi supplier, agar tidak terlalu bergantung pada komponen dari China.

Ekspor Kencang, Tapi Konsumen Masih Lemah

Bagi pemerintah China, lonjakan ekspor menjadi salah satu sumber kebanggaan.

Ekspor China tumbuh lebih dari 19% secara tahunan pada Mei. Kinerja perdagangan ini ikut membantu ekonomi China bertahan setelah pecahnya gelembung properti pada 2021.

Dominasi China dalam rantai pasok global juga memberi negara Tirai Bambu itu memiliki pengaruh geopolitik yang besar di tengah dunia yang semakin penuh persaingan.

Para pemimpin China percaya bahwa kekuatan sebuah negara sangat bergantung pada kemajuan teknologi dan kemampuan manufaktur. Jika pada era Mao Zedong kekuatan dikaitkan dengan industri berat dan militer, para penerusnya kini berharap ekspor berteknologi tinggi dapat membuat China semakin sulit ditinggalkan dunia.

Namun, kemajuan industri berteknologi tinggi ini belum sepenuhnya dirasakan oleh masyarakat China. Kepercayaan konsumen belum pulih sejak masa lockdown Covid-19 dan tekanan di sektor properti. Bahkan, reli pasar saham pada akhir 2024 belum cukup untuk mengangkat optimisme masyarakat.

Pada April, penjualan ritel China hanya naik 0,2% dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya, bahkan sebelum disesuaikan dengan inflasi.

Penjualan mobil juga anjlok lebih dari seperlima. Artinya, jika dilihat dari kesehatan ekonomi secara keseluruhan, bukan hanya dari kekuatan industrinya, model pertumbuhan China mulai menunjukkan kelemahan.

Ada beberapa alasan mengapa dominasi industri China tidak otomatis membuat ekonominya pulih kuat.

Pertama, keberhasilan ekspor China saat ini tidak banyak menciptakan lapangan kerja seperti masa lalu. Dulu, ledakan ekspor menarik jutaan pekerja migran ke pabrik-pabrik di wilayah pesisir. Kini, industri unggulan China tidak lagi banyak menyerap tenaga kerja karena semakin padat teknologi.

Harga ekspor juga naik lebih cepat dibandingkan volume ekspornya. Sementara itu, belanja untuk kendaraan listrik menghasilkan lebih sedikit lapangan kerja per yuan dibandingkan belanja dalam jumlah yang sama untuk mobil konvensional atau pembangunan rumah baru.

Porsi pekerja migran yang bekerja di sektor manufaktur turun dari hampir 37% pada 2010 menjadi 28% pada tahun lalu. Banyak dari mereka kini bekerja sebagai kurir pengantar makanan atau di sektor ekonomi gig lainnya. Dengan kata lain, mereka lebih banyak berada di jalur sepeda, bukan lagi di lini perakitan pabrik.

Industri Maju Belum Cukup Menopang Ekonomi

Masalah lain adalah industri teknologi tinggi China sangat terkonsentrasi di beberapa kota saja.

Konsentrasi ini memang menjadi salah satu kekuatan China karena membuat pemasok lebih mudah berspesialisasi, sumber daya manusia (SDM) berkumpul, dan ide-ide baru lebih cepat menyebar.

Namun, di sisi lain, kondisi ini memperlebar kesenjangan antara daerah yang maju dan daerah yang tertinggal. Model pertumbuhan lama China yang bertumpu pada pembangunan properti tersebar ke hampir seluruh wilayah negara, termasuk daerah-daerah yang sebenarnya kurang menjanjikan. Sementara itu, model baru berbasis industri teknologi tinggi jauh lebih selektif dalam memilih lokasi.

Akibatnya, porsi provinsi-provinsi pedalaman dalam industri China turun dari hampir 48% pada 2013 menjadi hanya 36% pada tahun lalu.

Dorongan besar-besaran ke industri teknologi tinggi juga menimbulkan masalah fiskal. Seharusnya, industri baru bisa memperluas basis pajak dan menambah pendapatan pemerintah daerah. Namun di China, aliran dana justru sering bergerak ke arah sebaliknya.

Pemerintah kota dan provinsi berlomba-lomba mendukung perusahaan lokal di sektor masa depan melalui insentif pajak dan subsidi. Langkah ini justru melemahkan kondisi keuangan mereka. Dukungan fiskal juga membuat terlalu banyak perusahaan masuk ke industri yang sedang populer, sehingga menekan keuntungan perusahaan yang sebenarnya lebih efisien.

Tahun lalu, konsultan AlixPartners memperkirakan hanya 15 dari 129 merek kendaraan listrik China yang akan layak secara finansial pada 2030.

Sekilas, keberhasilan ekspor China seharusnya membantu mengatasi lemahnya ekonomi domestik. Namun yang terjadi justru sebaliknya. Lemahnya belanja masyarakat di dalam negeri mendorong penurunan harga, suku bunga rendah, dan mata uang yang murah. Semua faktor ini membuat produk China semakin kompetitif di pasar global.

Di saat yang sama, ekspor yang kuat ikut menopang pertumbuhan ekonomi. Hal ini membuat pembuat kebijakan China dapat menunda langkah-langkah yang lebih sulit untuk memulihkan kepercayaan konsumen, seperti meningkatkan belanja sosial atau kembali menstabilkan pasar properti.

Ketika para pemimpin Eropa berusaha mengurangi ketergantungan pasokan dari China, para pemimpin China juga seharusnya melakukan hal serupa di dalam negeri. Bedanya, China bukan hanya perlu mendiversifikasi sumber pasokan, tetapi juga sumber permintaan ekonominya agar tidak terlalu bergantung pada ekspor dan manufaktur.

CNBC INDONESIA RESEARCH

[email protected]

(evw/evw) Add logo_svg as a preferred
source on Google



Most Popular