MARKET DATA

Menyerahlah Mr. Trump! China Memang Gak Bisa Dilawan

Kanthi Malikhah,  CNBC Indonesia
22 April 2026 15:00
Presiden AS Donald Trump dan Presiden Tiongkok Xi Jinping saat mengadakan pertemuan bilateral di Bandara Internasional Gimhae, di sela-sela KTT Kerja Sama Ekonomi Asia-Pasifik (APEC), di Busan, Korea Selatan, 30 Oktober 2025. REUTERS/Evelyn Hockstein
Foto: Presiden AS Donald Trump dan Presiden Tiongkok Xi Jinping saat mengadakan pertemuan bilateral di Bandara Internasional Gimhae, di sela-sela KTT Kerja Sama Ekonomi Asia-Pasifik (APEC), di Busan, Korea Selatan, 30 Oktober 2025. REUTERS/Evelyn Hockstein

Jakarta, CNBC Indonesia - Tekanan tarif dari Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump sempat diperkirakan akan menghambat kinerja ekspor China. Namun realitanya justru berbanding terbalik.

Data terbaru menunjukkan ekspor China tetap tumbuh solid sebesar 14,7% pada kuartal pertama tahun 2026, selain itu surplus perdagangan mencetak rekor $1,2 triliun pada 2025, dengan total ekspor menembus $3,8 triliun.

Hal ini didorong oleh diversifikasi pasar, peningkatan kompleksitas produk, serta lonjakan permintaan global terhadap komponen teknologi. Ketahanan ini menegaskan bahwa mesin ekspor China tidak hanya mampu bertahan dari perang dagang, tetapi juga bertransformasi menjadi lebih kuat dan adaptif.

Pergeseran Struktural

Kekuatan ekspor China hari ini tidak lagi bertumpu pada volume murah, melainkan pada peningkatan kompleksitas produksi. Ketergantungan terhadap pasar Amerika Serikat terus menurun, sementara penetrasi di sektor bernilai tambah tinggi justru meningkat signifikan.

Lalu lintas remitansiFoto: Economist

Di industri otomotif, pangsa ekspor global China melonjak dari 4,5% menjadi 11,4% dalam periode 2014-2024. Di sektor elektronik, peningkatan terjadi dari 20,7% menjadi 26,1%.

Berdasarkan data Harvard University, indeks kompleksitas ekspor juga naik dari 0,29 menjadi 0,36. Hal ini mencerminkan kemampuan China dalam memproduksi barang yang semakin canggih. Sebaliknya, Amerika Serikat justru mengalami penurunan dalam indikator yang sama.

Adaptasi Rantai Pasok

Penurunan ekspor China ke Amerika Serikat tidak berarti kehilangan pasar, melainkan perubahan arah. Pada 2025, ekspor China ke AS turun lebih dari $100 miliar, tetapi ekspor ke negara lain justru melonjak sekitar $300 miliar.

Negara eksportirFoto: Economist

Namun, banyak negara yang meningkatkan impor dari China juga mencatat lonjakan ekspor ke pasar Amerika, mengindikasikan peran mereka dalam rantai pasok global yang semakin terintegrasi.

Vietnam menjadi contoh paling menonjol, dimana impor dari China naik sekitar $36 miliar, sementara ekspornya ke Amerika Serikat meningkat hingga $57 miliar. Pola ini menggarisbawahi bahwa sebagian arus perdagangan global kini tidak lagi langsung, melainkan melalui jalur perantara yang lebih kompleks.

Melansir dari The Economist, estimasi ini menggunakan persamaan kode produk, dengan membandingkan barang yang diimpor dari China dan yang diekspor ke Amerika Serikat.

Wilayah tujuan eksporFoto: Economist

AI Dorong Ekspor Teknologi

Gelombang kecerdasan buatan atau AI menjadi katalis baru bagi ekspor China. Dalam kuartal pertama 2026, ekspor chip memori mencapai $46 miliar atau melonjak 174% secara tahunan dan untuk pertama kalinya menjadi komoditas ekspor terbesar.

Lonjakan ini didorong oleh pembangunan masif pusat data global dan meningkatnya kebutuhan infrastruktur digital. Permintaan terhadap semikonduktor, baterai, dan komponen elektronik.

Keunggulan Harga

Selain volume dan teknologi, keunggulan China juga terletak pada harga. Selama 41 bulan berturut-turut, negara ini mengalami deflasi harga pabrik, yang secara efektif menurunkan biaya produksi dan meningkatkan daya saing ekspor.

Di saat yang sama, nilai tukar yuan secara riil melemah sekitar 15% sejak awal 2022 menurut IMF. Kombinasi ini membuat produk China semakin kompetitif di pasar global.

Struktur energi domestik turut memperkuat posisi tersebut. Ketergantungan pada batu bara lokal membuat produsen China relatif terlindungi dari lonjakan harga energi global, berbeda dengan banyak pesaingnya di Asia.

Tekanan Eksternal

Meski tetap kuat, ekspor China mulai menghadapi tekanan baru dari faktor eksternal. Konflik di Iran menekan ekspor ke kawasan Teluk hingga turun 52% secara tahunan pada Maret 2026.

Ekspor China dan currencyFoto: Economist

Sementara itu, Uni Eropa mulai meningkatkan kebijakan proteksionis, termasuk tarif terhadap kendaraan listrik China. Dengan surplus perdagangan terhadap UE mencapai $291 miliar pada 2025 atau naik 120% sejak 2020, tekanan regulasi diperkirakan akan terus meningkat.

Di balik kekuatan ekspor China, daya saing globalnya justru lahir dari lemahnya permintaan domestik. Konsumsi dalam negeri yang tertahan menekan impor dan mendorong produsen untuk mencari pasar eksternal, sehingga memperbesar surplus perdagangan. Pada 2025, net ekspor menyumbang 1,6 poin persentase dari total pertumbuhan ekonomi sebesar 5%.

Dengan target pertumbuhan 4,5-5% pada 2026, pemerintah tidak berada di bawah tekanan besar untuk mendorong stimulus domestik, selama sektor eksternal tetap menopang ekonomi.

 

(mae/mae) Add logo_svg as a preferred
source on Google



Most Popular