MARKET DATA
Newsletter

Rekor Langka di RI! IHSG Hijau Royo-Royo Saat BI Rate & Pertamax Naik

Gelson Kurniawan,  CNBC Indonesia
10 June 2026 06:20
Ilustrasi Wall Street. (AP/Richard Drew)
Foto: (AP/Richard Drew)

Bursa saham AS, Wall Street beragam pada perdagangan Selasa atau Rabu dini hari waktu Indonesia.

Indeks S&P 500, turun 0,26% dan ditutup di level 7.386,65. Sementara itu, Nasdaq Composite terkoreksi 0,97% ke posisi 25.678,82. Berbeda dengan keduanya, Dow Jones Industrial Average naik 86,10 poin atau 0,17% menjadi 50.872,11.

ETF sektor semikonduktor, iShares Semiconductor ETF (SMH), turun 1% setelah sempat melonjak 6% pada Senin. Sebelumnya, ETF tersebut anjlok 10% pada Jumat lalu, menjadi penurunan harian terburuk dalam enam tahun, akibat kekhawatiran investor bahwa reli saham chip yang didorong tren kecerdasan buatan (AI) sudah terlalu tinggi dan terlalu cepat.

Saham Micron Technology turun 1% setelah melonjak 10% sehari sebelumnya. Pekan lalu, saham Micron sempat jatuh sekitar 20% hanya dalam dua hari, termasuk anjlok 13% pada Jumat. Sementara itu, Broadcom, yang juga mengalami penurunan tajam dalam dua hari pekan lalu, turun 1% setelah reli pemulihannya pada Senin kehilangan tenaga.

 

Pasar sempat menguat pada awal perdagangan karena harga energi turun di tengah harapan adanya penghentian konflik yang lebih permanen di Timur Tengah.

Kontrak berjangka minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) turun 3,4% dan ditutup pada US$88,20 per barel.

Penurunan terjadi setelah Menteri Energi AS Chris Wright mengatakan lalu lintas kapal di Selat Hormuz meningkat signifikan.

Selain itu, Presiden Donald Trump menyatakan kesepakatan antara AS dan Iran kemungkinan dapat tercapai dalam dua atau tiga hari yang akan memungkinkan Selat Hormuz dibuka kembali segera.

Meski saham-saham energi dalam S&P 500 turun 1,6%, penurunan harga minyak secara umum memberi sentimen positif bagi pasar.

Sektor material dan konsumen diskresioner memimpin penguatan, sementara sektor properti juga terdorong oleh data penjualan rumah bekas yang lebih baik dari perkiraan. Sebaliknya, sektor teknologi informasi turun hampir 2%.

 

CEO Infrastructure Capital Advisors, Jay Hatfield, mengatakan investor mulai mengalihkan dana dari saham pertumbuhan jangka panjang ke saham yang lebih sensitif terhadap siklus ekonomi seperti Home Depot, yang berpotensi diuntungkan jika Selat Hormuz kembali beroperasi normal.

Menurut Hatfield, selain karena Juni biasanya bukan bulan yang kuat bagi pasar saham, tekanan jual belakangan ini juga dipicu oleh rencana IPO SpaceX yang dijadwalkan akhir pekan ini.

"Saya rasa semua orang sedikit gugup. Pasar kemungkinan akan bergerak fluktuatif sampai IPO SpaceX berlalu," kata Hatfield kepada CNBC International.

Di sisi lain, OpenAI secara rahasia mengajukan dokumen IPO pada Senin malam, yang semakin meningkatkan antusiasme terhadap tema investasi AI. Sementara itu, SpaceX dijadwalkan melantai di bursa pada Jumat dan disebut-sebut sebagai IPO terbesar sepanjang sejarah.

Sebagian investor menilai IPO tersebut dapat memperpanjang reli pasar yang ditopang AI. Namun, ada pula yang khawatir valuasi SpaceX yang mencapai US$1,75 triliun justru bisa menjadi penanda puncak euforia tren AI saat ini.

(gls/gls) Add logo_svg as a preferred
source on Google


Most Popular
Features