Rekor Langka di RI! IHSG Hijau Royo-Royo Saat BI Rate & Pertamax Naik
Pasar keuangan Indonesia pada hari ini masih akan dihadapkan dengan dinamika mulai dari perang hingga investor yang terus mencermati ketahanan fiskal dalam negeri maupun kelanjutan makroekonomi global.
1. Perang Memanas, Harga Minyak Malah Jatuh
Amerika Serikat (AS) melancarkan serangan terhadap Iran pada Selasa setelah Presiden Donald Trump menyebut Teheran menembak jatuh helikopter Apache AS di Selat Hormuz. Trump mengatakan AS merespons dengan serangan yang "sangat kuat", meski menegaskan dua pilot helikopter tersebut selamat.
Media Iran melaporkan serangan menghantam Pulau Qeshm dan wilayah Sirik di sekitar Selat Hormuz. Sementara itu, seorang pejabat AS menyebut helikopter Apache dijatuhkan oleh drone serang milik Iran.
Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araqchi tidak membahas langsung insiden itu, namun memperingatkan kehadiran pasukan asing meningkatkan risiko bentrokan. Iran juga membantah melakukan operasi udara ofensif di Selat Hormuz dalam 24 jam terakhir dan mengancam akan merespons jika kembali mendapat serangan.
Insiden tersebut berpotensi menghambat upaya perdamaian AS-Iran yang sebelumnya disebut Trump hampir tercapai. Militer AS menyatakan dua awak helikopter berhasil diselamatkan di perairan dekat Oman dan berada dalam kondisi stabil.
Di saat bersamaan, Israel menyerang kota pelabuhan Tyre di Lebanon selatan dan menewaskan sedikitnya delapan orang. Serangan itu memperumit upaya memperluas gencatan senjata di kawasan, di tengah masih berlangsungnya konflik antara Israel, Hezbollah, dan Iran.
Selat Hormuz juga tetap menjadi titik sengketa utama. Iran masih membatasi pelayaran di jalur vital energi dunia tersebut, sementara AS mempertahankan tekanan terhadap Teheran. Trump menegaskan kesepakatan damai harus memastikan Iran tidak dapat mengembangkan senjata nuklir, sedangkan Iran menuntut pencabutan sanksi dan pengakuan atas kendalinya di Selat Hormuz.
Meski panas lagi, harga minyak jatuh pada Selasa setelah Menteri Energi AS Chris Wright mengatakan lalu lintas kapal di Selat Hormuz meningkat signifikan.
Pada perdagangan Selasa kemarin, kontrak berjangka minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) turun 3,4% dan ditutup pada US$88,20 per barel.
Sementara itu, minyak brent jatuh 2,98% ke US$ 91,45 per barel. Harga peutupan kemarin adalah yang terendah sejak 20 April 2026 atau dalam tujuh pekan.
2. Harga BBM Non-Subsidi Naik, Pertamax Melonjak
PT Pertamina resmi melakukan penyesuaian harga Bahan Bakar Minyak (BBM) non subsidi mulai Rabu, 10 Juni 2026. Kenaikan ini hanya berselang 10 hari setelah pemerintah menaikkan harga BBM non-subsidi naik per 1 juni 2026.
Berdasarkan situs PT Pertamina Patra Niaga, Pertamina resmi menaikkan harga BBM Pertamax (RON 92) menjadi Rp 16.250 per liter mulai Rabu, 10 Juni 2026 untuk daerah DKI Jakarta dan sekitarnya. Harga BBM Pertamax ini naik Rp 3.950 per liter dari sebelumnya ditetapkan Rp 12.300 per liter pada 1 Juni 2026.
Ini merupakan kenaikan harga BBM Pertamax perdana setelah lonjakan harga minyak dunia akibat perang Israel-Iran pecah sejak 28 Februari 2026 lalu. Ketika harga BBM non subsidi lainnya sudah mengalami kenaikan harga sejak 18 April 2026 lalu, harga BBM Pertamax masih belum mengalami penyesuaian harga.
Sementara harga BBM Pertamax Green (setara RON 95) kini juga dibanderol Rp 17.000 per liter, naik dari sebelumnya Rp 12.900 per liter.
Adapun untuk harga Pertamax Turbo tetap dibanderol Rp 20.750 per liter, tidak berubah, masih sama berlaku sejak 1 Juni 2026.
Untuk BBM Pertamax di Pertashop dibanderol Rp 16.150 per liter.
Sedangkan untuk BBM Solar non subsidi tidak mengalami perubahan, seperti Pertamina Dex dibanderol Rp 24.800 per liter, Dexlite Rp 23.000, sama seperti berlaku sejak 1 Juni 2026.
Sedangkan untuk BBM bersubsidi seperti Pertalite (RON 90) dan Solar bersubsidi masih tetap atau tidak mengalami perubahan, masing-masing dibanderol Rp 10.000 dan Rp 6.800 per liter.
3. Rapat Pembelian Kembali Saham Perbankan BUMN
Wakil Ketua DPR RI, Sufmi Dasco Ahmad, menyelenggarakan pertemuan koordinasi bersama jajaran direktur bank Himbara, Kepala BP BUMN sekaligus Chief Operating Officer BPI Danantara Dony Oskaria, serta Menteri Sekretaris Negara Prasetyo Hadi.
Rapat tertutup yang berlangsung di Gedung Nusantara III DPR RI ini secara spesifik membahas dinamika pasar saham yang tengah bergejolak, khususnya tren pelemahan nilai saham pada perbankan BUMN.
Dasco memaparkan bahwa perbankan pelat merah pada dasarnya memiliki landasan fundamental operasional dan rekam jejak kinerja yang sangat solid. Pelemahan yang terjadi lebih banyak didorong oleh sentimen negatif dari situasi pasar global yang kemudian berdampak sistemik pada bursa domestik.
Oleh karena itu, pertemuan ini ditujukan untuk mendiskusikan peluang dan momentum yang tepat bagi pihak perbankan guna melakukan aksi pembelian kembali atau buyback atas saham-saham mereka yang terkoreksi.
Rapat strategis ini turut dihadiri oleh pimpinan tertinggi institusi keuangan negara, termasuk Direktur Utama Bank Rakyat Indonesia, Bank Negara Indonesia, Bank Mandiri, Taspen, hingga Indonesia Investment Authority.
Wakil Ketua DPR RI, Sufmi Dasco bertemu pimpinan Bank Himbara. (Dok. Istimewa) Foto: Wakil Ketua DPR RI, Sufmi Dasco bertemu pimpinan Bank Himbara. (Dok. Istimewa) |
Setelah pertemuan, IHSG dibuka menguat 1% hingga mampu ditutup naik tajam sebesar 7,57% di level 5746,65 dari penutupan hari sebelumnya yang menjadikan hal ini katalis penting pivotnya tren bearish menjadi bullish bursa.
Area 5.500 yang merupakan support penting yang dengan mudah kembali di-reclaim sehingga membuat area ini menjadi area krusial untuk melanjutkan tren kenaikan, dengan catatan pada hari ini IHSG mampu ditutup di level 5.800 untuk melanjutkan tren kenaikan lanjutan yang dengan mudah dapat dilakukan.
Kenaikan IHSG sebesar 7,57% pada hari kemarin adalah salah satu yang tertinggi sejak 2000 atau Era Reformasi.
4. BI Rate Mendadak Naik 25 bps ke 5,50%
Bank Indonesia secara resmi menetapkan kenaikan suku bunga acuan atau BI Rate sebesar 25 basis poin sehingga berada di posisi 5,50%. Keputusan ini diambil melalui Rapat Dewan Gubernur Mingguan sebagai respons langsung atas depresiasi nilai tukar Rupiah yang pelemahannya telah melampaui batas proyeksi awal bank sentral.
Sejalan dengan itu, suku bunga Deposit Facility juga dikerek sebesar 25 basis poin menjadi 4,50%, dan suku bunga Lending Facility naik 25 basis poin menjadi 6,25%.
Gubernur Bank Indonesia, Perry Warjiyo, menerangkan bahwa langkah kenaikan 50 basis poin pada bulan sebelumnya terbukti belum optimal dalam menahan arus modal keluar.
Terjadi anomali arus dana pada Sekuritas Rupiah Bank Indonesia yang justru mencatatkan outflow di bulan Juni, bertolak belakang dengan tren inflow pada instrumen SBN dan saham.
Kenaikan BI Rate ini dieksekusi agar nilai tukar Rupiah kembali stabil serta menjaga agar laju inflasi pada tahun depan tetap berada dalam koridor sasaran. Pasca pengumuman kebijakan tersebut, nilai tukar Rupiah merespons positif dengan ditutup menguat 0,66% pada level Rp18.050 per Dolar AS.
Kenaikan BI rate kemarin dilakukan hanya berselang 20 hari dari keputusan hasil Rapat Dewan Gubernur (RDG) pada 20 Mei 2026.
Pada Mei 2026, BI menaikkan suku bunga sebesar 50 bps menjadi 5,25%.
Sejak BI rate diperkenalkan pada Juli 2005, sebelum kemarin, BI hanya dua kesempatan menaikkan bunga acuan dua kali dalam sebulan yakni pada 2013 dan 2018.
5. Margin Operasional DSI
Chief Operating Officer Badan Pengelola Investasi Danantara, Dony Oskaria, menepis persepsi publik yang menganggap PT Danantara Sumberdaya Indonesia beroperasi sebagai calo dalam sistem ekspor komoditas strategis.
Ketetapan status lembaga sebagai perantara tunggal untuk ekspor tiga komoditas strategis memberikan hak bagi institusi untuk menarik margin, sebagaimana diatur sah dalam Pasal 3 Ayat 4 Peraturan Pemerintah Nomor 24 Tahun 2026.
Regulasi tersebut mengizinkan BUMN Ekspor menentukan margin pada tingkat kewajaran. Dony menekankan bahwa margin ini murni berfungsi untuk membiayai operasional layanan sertifikasi dan pendampingan, bukan manipulasi selisih harga jual produk eksportir ke pembeli asing.
Melalui fasilitas ini, pemerintah menjamin para pengusaha memiliki landasan hukum yang kuat, serta mendapat kepastian absolut bahwa seluruh dokumen muatan maupun harga jual telah memenuhi kriteria dan acuan harga internasional.
Seluruh proses pelaksanaan ekspor via lembaga ini dikelola dengan tingkat akuntabilitas maksimal sehingga seluruh lapisan masyarakat bebas mengawasi kinerja lembaganya.
Wakil Kepala Badan Gizi Nasional (BGN) Bidang Komunikasi dan Investigasi, Nanik Sudaryati Deyang melakukan pertemuan dengan COO Danantara, Dony Oskaria Selasa (19/5/2026). (Instagram/nanik_deyang) Foto: Wakil Kepala Badan Gizi Nasional (BGN) Bidang Komunikasi dan Investigasi, Nanik Sudaryati Deyang melakukan pertemuan dengan COO Danantara, Dony Oskaria Selasa (19/5/2026). (Instagram/nanik_deyang) |
6. Neraca Perdagangan Tiongkok Mei 2026
Surplus neraca perdagangan Tiongkok mencatat tren ekspansi yang signifikan menjadi US$105,43 miliar pada bulan Mei 2026, lebih tinggi dibandingkan raihan US$102,72 miliar pada periode yang sama tahun lalu.
Angka surplus ini membuktikan ketahanan sektor perdagangan dengan melampaui batas estimasi pasar di titik US$92,1 miliar, sekaligus mencetak level tertinggi sejak awal tahun.
Kinerja positif ini dimotori oleh lonjakan nilai ekspor sebesar 19,4% menuju rekor US$376,78 miliar, yang dipicu percepatan produksi manufaktur global dalam menimbun pasokan guna mengantisipasi inflasi energi akibat krisis Timur Tengah.
Sejalan dengan laju ekspor, volume impor turut melesat tajam sebesar 27,4% menyentuh angka US$271,35 miliar seiring masifnya intervensi pemerintah untuk memulihkan daya beli domestik.
Secara spesifik, surplus perdagangan bilateral dengan Amerika Serikat meningkat menjadi US$26,02 miliar. Secara akumulatif sejak awal tahun hingga bulan Mei, total surplus perdagangan Tiongkok berhasil mencapai nilai US$451,71 miliar dengan ekspor tumbuh 15,5% dan impor terekspansi di rasio 24,5%.
7. Indeks Keyakinan Konsumen Indonesia Mei 2026
Hari ini BI akan mengumumkan data Indeks Keyakinan Konsumen Indonesia per Mei 026.
Sebagai catatan, Indeks Keyakinan Konsumen tercatat di level 123,0 pada bulan April 2026, hanya naik tipis dari level 122,9 pada bulan Maret dan masih tertahan di sekitar level terendah dalam lima bulan terakhir.
Laporan Bank Indonesia menunjukkan persepsi terhadap kondisi ekonomi saat ini sedikit membaik, yang tercermin dari kenaikan sub-indeks sebesar 1,1 poin menjadi 116,5.
Sentimen atas ketersediaan lapangan kerja dalam enam bulan terakhir menguat 1,0 poin ke level 108,8, sementara pandangan untuk pembelian barang tahan lama melonjak 3,4 poin menjadi 112,6.
Di sisi lain, indikator ekspektasi masa depan justru mengalami pelemahan. Sentimen pendapatan saat ini turun 1,1 poin menjadi 126,1, dan ekspektasi pendapatan enam bulan ke depan melandai 0,8 poin ke 136,9.
Prospek lapangan kerja di semester mendatang juga turun tipis 0,3 poin menjadi 127,7, disertai ekspektasi kegiatan usaha yang melemah 1,4 poin ke level 124,1. Pasar saat ini menantikan rilis data untuk bulan Mei yang dijadwalkan pada 10 Juni 2026.
8. Tingkat Inflasi China Mei 2026
Hari Ini, China akan mengumumkan data inflasi Mei 2026.
Laporan inflasi konsumen tahunan Tiongkok mengalami akselerasi menuju posisi 1,2% pada bulan April 2026, meningkat dari level 1,0% di bulan sebelumnya. Kenaikan harga pokok ini sukses melewati proyeksi moderat pasar yang memperkirakan inflasi hanya bergerak ke 0,8%.
Dorongan terbesar inflasi berasal dari komponen non-pangan yang merangkak naik 1,8%. Biaya operasional sektor transportasi memimpin lonjakan tersebut dengan meroket 4,6% yang disebabkan langsung oleh tekanan harga minyak global dan hambatan jalur logistik.
Kenaikan linier juga diamati pada indeks harga pakaian sebesar 1,5%, layanan kesehatan 2,2%, serta ongkos sektor pendidikan 1,3%. Bertolak belakang dengan hal itu, indeks kelompok pangan mengalami penyusutan biaya sebesar 1,6% sebagai imbas dari murahnya harga daging babi, sayuran segar, dan buah-buahan.
Secara umum, indeks inflasi inti yang meniadakan perhitungan energi dan makanan tetap stabil menunjukkan tren naik moderat sebesar 1,2%.
9. Neraca Dagang AS
Defisit perdagangan Amerika Serikat (AS) menyusut menjadi US$55,9 miliar pada April 2026 dari US$56,6 miliar pada Maret, lebih baik dari perkiraan pasar sebesar US$56,1 miliar.
Penyempitan defisit terjadi karena ekspor naik 2,6% menjadi rekor US$327,1 miliar, didorong oleh peningkatan ekspor barang modal, minyak mentah, produk energi, dan barang konsumsi. Ekspor komputer dan pesawat sipil menjadi penyumbang utama kenaikan.
Di sisi lain, impor naik 2,0% menjadi US$383 miliar, tertinggi dalam setahun, terutama karena meningkatnya pembelian komputer, semikonduktor, dan peralatan telekomunikasi.
Sementara itu, ekspor jasa turun tipis akibat melemahnya sektor perjalanan dan transportasi, sedangkan impor jasa meningkat karena kenaikan permintaan jasa transportasi, perjalanan, dan asuransi.
10. Tingkat Inflasi Amerika Serikat Mei 2026
Amerika Serikat juga akan merilis data inflasi Mei pada malam ini. Sebagai catatan, inflasi AS melonjak ke 3,8% (secara tahunan) untuk periode April 2026, menempatkannya pada titik inflasi tertinggi sejak Mei 2023.
Realisasi tersebut bergerak melewati garis estimasi pasar sebesar 3,7% dan naik dari posisi Maret i angka 3,3%. Komponen utama pendorong inflasi ini berasal dari indeks energi yang melonjak 17,9% akibat guncangan pasar komoditas dari perang dengan Iran.
Harga bensin melonjak hingga 28,4% sementara bahan bakar minyak mencetak rekor kenaikan ekstrem sebesar 54,3%. Tekanan biaya tambahan juga terpantau konsisten pada sektor hunian yang mencatat kenaikan 3,3% serta indeks bahan pangan dengan pertumbuhan 2,3%.
Di sisi lain, inflasi inti yang memisahkan fluktuasi indeks energi dan pangan mencatatkan penguatan tahunan di level 2,8%, melampaui proyeksi pasar. Percepatan ritme inflasi ini secara langsung meningkatkan kehati-hatian investor dalam memproyeksikan arah kebijakan pelonggaran moneter di tingkat global.
(gls/gls) Add
source on Google

