IHSG-Rupiah Sudah Berdarah-darah, Hari Ini Bakal Lebih Menegangkan?
- Pasar keuangan Indonesia babak belur pada perdagangan kemarin, IHSGÂ dan rupiah jatuh
- Wall Street melemah di tengah kekhawatiran perang
- Data ekonomi, kebijakan pemerintah serta isu rating akan menjadi penggerak pasar hari ini
Jakarta, CNBC Indonesia- Pasar keuangan dalam negeri lunglai pada akhir perdagangan kemarin. Baik bursa saham maupun rupiah kompak tertekan.
Pasar keuangan Indonesia diperkirakan masih menghadapi tekanan pada hari ini. Selengkapnya mengenai proyeksi pasar keuangan Indonesia hari ini bisa dibaca pada halaman 3 artikel ini.
Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) hancur lebur pada Rabu (3/6/2026). Dalam 5,5 jam perdagangan , IHSG mengalami guncangan hebat hingga membukukan sejumlah catatan buruk.
IHSG terpantau ditutup turun sebesar 4,11% ke level 5.941,07 dari penutupan hari sebelumnya, bahkan di tengah sesi perdagangan kedua IHSG sempat menyentuh level 5.842,00 terendah sejak 31 Mei 2021 pada era Covid-19 ketika virus Covid Delta marak di Indonesia.
Tekanan jual melanda hampir seluruh penjuru pasar saham Indonesia pada perdagangan hari ini. Sebanyak 692 saham atau sekitar 84% emiten ditutup di zona merah, sementara hanya 69 saham yang menguat dan 54 saham bergerak stagnan.
Nilai transaksi mencapai Rp25,3 triliun dengan volume 40,2miliar saham, sementara kapitalisasi pasar menyusut menjadi Rp10.478 triliun. Investor asing mencatat net sell sebesar Rp 983,29 miliar.
Sektor bahan baku dan kesehatan menjadi yang paling terpukul dengan penurunan masing-masing 9,23% dan 6,37%. Dari sisi indeks, pelemahan terdalam berasal dari saham-saham berkapitalisasi besar seperti Bank Central Asia (BBCA), Bank Rakyat Indonesia (BBRI), Amman Mineral Internasional (AMMN), Telkom Indonesia (TLKM), dan Bank Mandiri (BMRI).
Di tengah gejolak tersebut, investor asing tercatat membukukan jual bersih (net sell) Rp525,4 miliar, dengan BBCA dan Chandra Asri Pacific (TPIA) menjadi saham yang paling banyak dilepas.
Beralih ke pasar valas Nilai tukar rupiah ditutup anjlok terhadap dolar Amerika Serikat (AS) pada perdagangan Rabu (3/6/2026) dan mencatatkan rekor level terendah baru.
Melansir data Refinitiv, mata uang Garuda ditutup melemah ke level Rp17.940/US$.
Posisi ini menandai tembusnya level psikologis baru di Rp17.900/US$, sekaligus semakin mendekatkan rupiah ke level psikologis berikutnya di Rp18.000/US$.
Sepanjang perdagangan, rupiah sudah berada dalam tekanan sejak pembukaan. Pada awal perdagangan, rupiah dibuka melemah 0,22% di level Rp17.870/US$, sebelum depresiasi semakin dalam hingga penutupan perdagangan.
Pelemahan rupiah pada perdagangan hari kemarin dipicu kombinasi sentimen eksternal dan domestik. Dari global, dolar AS kembali menguat karena meningkatnya permintaan terhadap aset safe haven setelah ketegangan di kawasan Teluk memanas. Komando Pusat AS menyebut Iran meluncurkan rudal balistik ke sejumlah negara di kawasan tersebut, sementara militer AS dilaporkan melakukan serangan balasan ke Pulau Qeshm. Kondisi ini mendorong penguatan dolar dan menekan mata uang negara berkembang, termasuk rupiah.
Â
Dari dalam negeri, tekanan datang dari menyusutnya surplus neraca perdagangan Indonesia. Data Badan Pusat Statistik (BPS) menunjukkan surplus perdagangan April 2026 turun tajam menjadi sekitar US$90 juta dari US$3,32 miliar pada Maret 2026.
Secara kumulatif, surplus Januari-April 2026 juga merosot menjadi US$5,64 miliar dari US$11,07 miliar pada periode yang sama tahun sebelumnya.
Merespons kondisi tersebut, Bank Indonesia menegaskan akan terus mengoptimalkan seluruh instrumen kebijakan untuk menjaga stabilitas nilai tukar rupiah, termasuk memperluas penggunaan skema Local Currency Transaction (LCT) dengan sejumlah negara mitra guna mengurangi ketergantungan terhadap dolar AS.
 Dari pasar obligasi, imbal hasil Surat Berharga Negara (SBN) justru melemah ke 6,709% dari 6,716% pada hari sebelumnya. Imbal hasil yang melandai menandai adanya kenaikan harga yang didorong meningkatnya permintaan beli.
Dari bursa saham AS, bursa Wall Street ditutup melemah pada Rabu (waktu setempat) atau Kamis dini hari waktu Indonesia.
Bursa melemah seiring harga minyak dan imbal hasil obligasi pemerintah AS naik di tengah kekhawatiran konflik AS-Iran akan terus mendorong inflasi.
Indeks Dow Jones Industrial Average yang berisi 30 saham unggulan turun 620,72 poin atau 1,21% ke posisi 50.687,07. Indeks S&P 500 melemah 0,74% ke level 7.553,68, sementara Nasdaq Composite yang didominasi saham teknologi turun 0,89% ke 26.853,98.
Harga minyak naik setelah AS dan Iran melancarkan serangan baru. Kontrak minyak West Texas Intermediate (WTI) naik 2,41% dan ditutup di US$96,02 per barel, sedangkan Brent menguat 1,89% ke US$97,81 per barel.
Presiden Donald Trump mengatakan pada Rabu bahwa Iran telah setuju untuk tidak memiliki senjata nuklir, namun ia menambahkan bahwa mereka bisa berubah pikiran.
Pernyataan Trump muncul setelah konflik di Timur Tengah semakin memanas dan mendorong harga minyak lebih tinggi.
Pada Selasa malam, militer Kuwait mengatakan melalui media sosial bahwa sistem pertahanan udara mereka mencegat target-target musuh.
Komando Pusat AS (U.S. Central Command) kemudian menyatakan pasukan Amerika berhasil menggagalkan serangan rudal balistik dan drone Iran. AS juga melakukan "serangan untuk membela diri" di Pulau Qeshm sebagai respons atas upaya serangan Iran di kawasan Timur Tengah.
Kenaikan harga minyak turut mendorong naik imbal hasil obligasi pemerintah AS. Imbal hasil obligasi tenor 10 tahun mendekati 4,5%, sementara tenor 30 tahun hampir menyentuh 5%.
Yield naik lebih tinggi setelah data tenaga kerja ADP Mei menunjukkan hasil kuat, serta aktivitas sektor jasa AS yang masih berekspansi meski melambat tipis bulan lalu.
"Apa yang terjadi hari ini adalah koreksi pasar terhadap anggapan bahwa suku bunga akan mudah dipangkas ketika ekonomi justru terlihat semakin menguat," kata Shawn Snyder, ahli strategi ekonomi dari Potomac Fund Management, dikutip dari CNBC International.
The Federal Reserve diperkirakan masih akan menaikkan suku bunga setidaknya seperempat poin persentase hingga akhir tahun, berdasarkan CME FedWatch Tool.
"Anda belum melihat pelemahan permintaan seperti yang sebelumnya diperkirakan sebagian orang," tambah Snyder.
Penurunan saham-saham terkait kecerdasan buatan (AI) juga membebani pasar secara keseluruhan. Saham Nvidia dan Dell Technologies turun lebih dari 3%, sementara Oracle merosot lebih dari 5%. Saham Microsoft juga melemah sekitar 3%.
Setelah hancur lebur kemarin, IHSG diperkirakan masih akan menghadapi sejumlah tekanan pada hari ini. Sejumlah sentimen besar baik dari dalam ataupun luar negeri akan menjadi penggerak pasar hari ini.
Ambruknya Wall Street, kenaikan lagi harga minyak, menguatnya dolar AS serta masih tangguhnya ekonomi AS bisa kembali menekan pasar keuangan Indonesia hari ini.
Dari dalam negeri, tekanan juga bisa datang dari isu rating S&P hingga kebijakan baru pemerintah.
Berikut sejumlah sentimen pasar hari ini:
1.. RUU P2SK Selangkah Lagi Jadi UU, DPR Siap Ketok Palu Hari Ini
Revisi Undang-Undang Pengembangan dan Penguatan Sektor Keuangan (P2SK) memasuki tahap akhir sebelum resmi menjadi undang-undang. Setelah disepakati dalam rapat Panitia Kerja (Panja) Komisi XI DPR bersama pemerintah, draf revisi tersebut dijadwalkan dibawa ke Sidang Paripurna DPR pada hari ini, Kamis (4/6/2026) untuk pengambilan keputusan tingkat II.
Revisi UU P2SK merupakan salah satu perubahan regulasi terbesar di sektor keuangan dalam beberapa tahun terakhir. Tercatat terdapat 1.212 Daftar Inventarisasi Masalah (DIM) yang dibahas, terdiri dari 805 DIM batang tubuh dan 407 DIM penjelasan.
Dari jumlah tersebut, 709 DIM dipertahankan tanpa perubahan, sementara sisanya mencakup perubahan redaksional, perubahan substansi, penambahan materi baru, hingga penghapusan sejumlah ketentuan.
Berdasarkan agenda DPR, Rapat Paripurna Ke-20 Masa Persidangan V Tahun Sidang 2025-2026 akan secara khusus membahas dan mengambil keputusan terhadap RUU Perubahan atas Undang-Undang Nomor 4 Tahun 2023 tentang Pengembangan dan Penguatan Sektor Keuangan. Persetujuan dalam paripurna akan menjadi tahapan terakhir sebelum beleid tersebut resmi berlaku.
Pada Rabu (3/6/2026), pemerintah bersama Komisi XI DPR RI resmi menyepakati sejumlah poin penting dalam revisi Undang-Undang Pengembangan dan Penguatan Sektor Keuangan (UU P2SK). Salah satu poin utama ialah pembentukan Satuan Tugas Pencegahan dan Penanganan Pinjaman Daring serta Judi Daring di tengah maraknya praktik pinjol ilegal dan judi online yang meresahkan masyarakat.
Purbaya mengatakan revisi UU P2SK juga akan mengatur penerbitan surat utang oleh Danantara. Selain itu, beleid baru tersebut memberikan perlindungan hukum bagi pejabat dan pegawai Bank Indonesia, termasuk dewan gubernur BI saat menjalankan tugasnya.
Tak hanya itu, RUU P2SK turut mengatur dana pertanggungan wajib kecelakaan lalu lintas guna memperjelas skema santunan bagi korban kecelakaan di jalan raya.
Dalam beleid anyar ini, pemerintah juga memasukkan aturan pembentukan Pusat Finansial Internasional Indonesia atau Indonesia Financial Center. Kawasan ini direncanakan berada di Bali dalam bentuk Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) dengan berbagai insentif berstandar global, termasuk opsi pajak hingga 0% untuk menarik investasi asing.
Di sisi kelembagaan, Otoritas Jasa Keuangan (OJK) mendapat tambahan kewenangan besar. OJK nantinya akan mengawasi pasar modal, derivatif keuangan, bursa karbon, bursa mineral, hingga komoditas strategis. OJK juga akan mengawasi dana publik lain seperti dana haji dan Tapera serta memperkuat pengawasan terhadap aset kripto.
Pemerintah dan DPR juga sepakat memperkuat tata kelola OJK melalui pemberian perlindungan hukum bagi dewan komisioner, pejabat, hingga pegawai OJK. Revisi UU P2SK turut menambah kursi baru Dewan Komisioner OJK yang khusus membawahi pengawasan bursa mineral dan komoditas strategis.
RUU P2SK tersebut selanjutnya akan dibawa ke rapat paripurna DPR untuk disahkan menjadi undang-undang. Beberapa poin penting yang diatur dalam RUU P2SK:
- Pemerintah dan DPR sepakat membentuk Satgas Pencegahan dan Penanganan Pinjaman Daring serta Judi Daring dalam revisi UU P2SK.
- RUU P2SK terbaru akan mengatur penerbitan surat utang oleh Danantara.
- Pegawai, pejabat, hingga dewan gubernur Bank Indonesia akan mendapat perlindungan hukum saat menjalankan tugas.
- RUU P2SK juga mengatur dana pertanggungan wajib kecelakaan lalu lintas untuk memperjelas santunan bagi korban kecelakaan.
- Pemerintah memasukkan aturan pembentukan Pusat Finansial Internasional Indonesia atau Indonesia Financial Center dalam UU P2SK.
- Pusat finansial internasional itu direncanakan berada di Bali dalam bentuk KEK dengan insentif pajak hingga 0% untuk menarik investor asing.
- OJK mendapat tambahan tugas mengawasi pasar modal, derivatif, bursa karbon, bursa mineral, dan komoditas strategis.
- OJK juga akan mengawasi dana publik lain seperti dana haji dan Tapera serta memperkuat pengawasan aset kripto.
- Pemerintah dan DPR sepakat memperkuat tata kelola OJK, termasuk perlindungan hukum bagi dewan komisioner, pejabat, dan pegawai OJK.
- RUU P2SK menambah kursi baru Dewan Komisioner OJK untuk pengawasan bursa mineral dan komoditas strategis
Dalam rapat Komisi XI dan pemerintah, terdapat 17 pokok materi muatan dan pengaturan dalam RUU perubahan P2SK yang telah disepakatii dalam pembahasan panja.
Adapun 17 pokok metari muatan dan pengaturan dalam RUU Perubahan UU P2SK sebagai berikut:
1. Kelembagaan Lembaga Penjamin Simpanan (LPS)
2. Kelembagaan OJK
3. Kelembagaan BI
4. Evaluasi kinerja LPS, OJK, dan Bank Indonesia ole DPR
5. Cakupan perluasan usaha perbankan dan perbankan syariah
6. Demutualisasi Bursa Efek di Pasar Modal
7. Transfer margin dalam transaksi di pasar keuangan
8. Surat Utang Danantara
9. Perusahaan asuransi dan asuransi syariah dalam resolusi
10. Dana pertanggungan wajib kecelakaan lalu lintas
11. Bursa mineral dan komoditas strategis
12. Aset kripto
13. Satuan tugas pencegahan dan penanganan pinjaman daring dan perjudian daring
14. Pusat finansial internasional Indonesia
15. Penanganan piutang macet kepada UMKM
16. Penyelidikan dan penyidikan di sektor jasa keuangan serta mekanisme keadilan restoratif
17. Bank dalam penyehatan
2. S&P Bertemu Airlangga
Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto menerima kunjungan perwakilan lembaga pemeringkat Standard & Poor's (S&P) Global di Kantor Kemenko Perekonomian, Jakarta, Rabu (3/6/2026).
Dalam pertemuan tersebut, S&P diwakili oleh Kim Eng Tan selaku Managing Director Sovereign Ratings S&P Asia Pasifik. Agenda utama diskusi berkaitan dengan prospek dan ketahanan ekonomi Indonesia di tengah berbagai risiko global yang masih membayangi.
Airlangga menyampaikan bahwa pemerintah memanfaatkan pertemuan tersebut untuk menjelaskan kondisi perekonomian nasional yang dinilai tetap solid meski dihadapkan pada tantangan eksternal seperti ketegangan geopolitik, perlambatan ekonomi dunia, dan gangguan rantai pasok global.
"Pertemuan ini menjadi momentum penting untuk menegaskan ketahanan ekonomi Indonesia di tengah situasi global yang masih penuh ketidakpastian," ujar Airlangga melalui akun Instagram resminya.
Menurut Airlangga, stabilitas ekonomi Indonesia ditopang oleh kombinasi kebijakan fiskal dan moneter yang terukur, kuatnya konsumsi domestik, serta membaiknya kinerja sektor eksternal.
Ia menegaskan bahwa sejumlah indikator utama masih menunjukkan tren positif. "Inflasi tetap terkendali, investasi terus tumbuh positif, dan program hilirisasi mulai memberikan dampak nyata terhadap peningkatan nilai tambah industri nasional," katanya.
Dalam kesempatan itu, pemerintah juga memaparkan berbagai agenda strategis yang tengah dijalankan untuk menjaga momentum pertumbuhan, mulai dari percepatan hilirisasi industri, penguatan ketahanan energi dan pangan, hingga peningkatan daya saing manufaktur. "Langkah-langkah tersebut menjadi bagian dari transformasi ekonomi Indonesia agar semakin kuat menghadapi tekanan global sekaligus mampu tumbuh lebih kompetitif dalam jangka panjang," ujar Airlangga. Ia menambahkan, pemerintah tetap optimistis prospek ekonomi Indonesia akan terjaga seiring berlanjutnya reformasi struktural dan pembangunan yang inklusif serta berkelanjutan.
3. Mantan Kepala BGN Jadi Tersangka
Kejaksaan Agung menggeledah kantor Badan Gizi Nasional (BGN) di Jakarta pada Rabu (3/6/2026). Hingga kini, institusi tersebut belum mengungkap perkara yang menjadi dasar penggeledahan. Plh Kapuspenkum Kejagung Mochamad Jeffry hanya membenarkan bahwa tim penyidik dari Jaksa Agung Muda Tindak Pidana Khusus (Jampidsus) melakukan penggeledahan di kantor lembaga yang mengelola program Makan Bergizi Gratis (MBG) tersebut.
Penggeledahan itu berlangsung sehari setelah Presiden Prabowo Subianto merombak jajaran pimpinan BGN. Kepala BGN Dadan Hindayana dicopot dari jabatannya bersama dua wakil kepala lembaga tersebut, yakni Brigjen Pol. Sony Sonjaya dan Mayjen TNI (Purn.) Lodewyk Pusung. Posisi Dadan kemudian digantikan oleh Nanik S Deyang yang sebelumnya menjabat sebagai Wakil Kepala BGN.
Dadan juga dijadikan tersangka dalam kasus tata kelola MBG.
Direktur Penyidikan pada Jaksa Agung Muda Bidang Tindak Pidana Khusus Kejagung Syarief Sulaeman Nahdi menjelaskan program MBG yang dimulai pada 6 Januari 2025 memakan anggaran Rp 85,7 triliun pada tahun 2025 dan Rp 286 triliun pada tahun 2026 yang bersumber dari APBN.
Menurut Syarief, terjadi kerugian yang tidak mendukung operasional pelaksanaan MBG di antaranya:
a. Pengadaan motor listrik sebanyak 21.801 dengan total pengadaan sebesar Rp 1 triliun
b. Pengadaan 32 ribu pasang sepatu
c. Pengadaan tablet sebanyak 31 ribu
d. Pengadaan televisi 75 inch sebanyak 5.400 unit
4.. IHSG Ambruk, Cetak Rekor Buruk
Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) mengalami tekanan luar biasa pada perdagangan Rabu (3/6/2026). Indeks ditutup anjlok 4,11% ke level 5.941,07 dan bahkan sempat menyentuh 5.842, level terendah sejak Mei 2021 saat Indonesia masih menghadapi gelombang pandemi Covid-19 varian Delta.
Jika dibandingkan dengan rekor tertinggi sepanjang masa di level 9.134,70 pada 20 Januari 2026, IHSG telah terkoreksi hampir 35% hanya dalam waktu kurang dari enam bulan.
Koreksi tajam tersebut menghapus nilai kapitalisasi pasar dalam jumlah sangat besar. Total kapitalisasi Bursa Efek Indonesia menyusut dari Rp16.632 triliun pada puncaknya menjadi Rp10.770 triliun. Dengan kata lain, sekitar Rp5.862 triliun nilai pasar emiten di Indonesia menguap dalam kurun waktu kurang dari lima bulan, mencerminkan derasnya aksi jual yang dilakukan investor di tengah meningkatnya ketidakpastian.
Secara global, kinerja pasar saham Indonesia kini menjadi salah satu yang terburuk. Sepanjang tahun berjalan, IHSG telah merosot sekitar 30%, jauh lebih dalam dibandingkan banyak bursa utama dunia yang justru mencatat penguatan.
Bahkan indeks saham India, yang menjadi salah satu pasar dengan kinerja terburuk berikutnya, hanya turun sekitar 12% sepanjang tahun ini. Kontras tersebut menunjukkan tekanan yang terjadi di Indonesia lebih banyak dipengaruhi faktor domestik dibanding gejolak pasar global.
Pelaku pasar menyoroti beberapa faktor yang memicu gelombang pelepasan saham.
Salah satunya adalah munculnya spekulasi terkait laporan pemeringkatan terbaru dari S&P Global Ratings yang dikhawatirkan memuat penilaian kurang positif terhadap kondisi ekonomi dan ruang fiskal Indonesia. Sentimen tersebut diperparah setelah Moody's dan S&P memangkas peringkat Danantara Investment Management serta memberikan prospek negatif, sehingga memunculkan kekhawatiran terhadap keberlanjutan arus investasi jangka panjang.
Tekanan terhadap pasar saham juga datang dari pelemahan nilai tukar rupiah yang terus berlanjut hingga menembus Rp17.940 per dolar AS. Kondisi ini meningkatkan risiko kerugian bagi investor asing karena mereka harus menghadapi dua tekanan sekaligus, yakni penurunan harga saham dan depresiasi nilai tukar. Kombinasi kedua faktor tersebut mendorong arus keluar modal dan memperbesar tekanan jual di pasar domestik.
Meski koreksi yang terjadi saat ini tergolong ekstrem, sejarah menunjukkan pasar saham Indonesia pernah mengalami penurunan yang lebih dalam. Pada awal pandemi Covid-19 tahun 2020, IHSG sempat jatuh hampir 38%, sementara saat krisis finansial global 2008 indeks ambruk hampir 60%.
Namun, penurunan mendekati 35% dalam waktu kurang dari setengah tahun tetap menempatkan episode saat ini sebagai salah satu koreksi terdalam dan tercepat dalam sejarah pasar modal Indonesia pascareformasi.
Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa menilai anjloknya Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) lebih banyak dipicu oleh maraknya sentimen dan rumor negatif yang beredar di pasar. Menurutnya, berbagai spekulasi yang berkembang telah memengaruhi persepsi investor terhadap kondisi ekonomi Indonesia, meski fundamental ekonomi nasional dinilai masih tetap kuat.
Purbaya mencontohkan rumor terkait kemungkinan penurunan peringkat kredit Indonesia oleh lembaga pemeringkat internasional. Ia menyebut isu tersebut berkembang luas di pasar menjelang kedatangan perwakilan Standard & Poor's (S&P) ke Indonesia.
"Jadi saya pikir banyak rumor di dalam negeri yang pasti ketika S&P datang ke sini, ada rumor S&P akan mendowngrade. Padahal saya baru mau ketemu nanti malam," ujarnya di Kompleks DPR RI, Rabu (3/6/2026). Menurutnya, jika melihat kondisi fiskal pemerintah saat ini, tidak ada masalah yang perlu dikhawatirkan.
Karena itu, Purbaya meminta investor tidak panik menghadapi gejolak pasar yang terjadi saat ini. Ia menilai aksi jual yang menekan IHSG lebih merupakan respons jangka pendek terhadap sentimen negatif dibandingkan refleksi kondisi ekonomi yang sebenarnya. "Jangan takut, fundamental ekonomi bagus. Jadi ini mungkin ada short, takutan orang yang ngapain deh. Fundamental ekonominya bagus, nggak ada masalah," katanya.
5. Indeks Dolar Naik, Harga Minyak Melonjak: Awas Rupiah Jebol Lagi
Indeks dolar AS kembali menguat tajam ke 99,529 pada perdagangan Rabu kemarin. Ini adalah posisi tertinggi sejak 7 April 2026 atau hampir sebulan. Kenaikan indeks dolar mencerminkan adanya aksi borong dolar yang bisa memicu capital outflow dari negara berkembang, termasuk indonesia.
Kondisi ini bisa memicu pelemahan rupiah lebih parah.
Dolar AS masih kencang karena kenaikan harga minyak yang terjadi terus menerus. Pada perdagangan Rabu kemarin, harga minyak naik setelah AS dan Iran melancarkan serangan baru. Kontrak minyak West Texas Intermediate (WTI) naik 2,41% dan ditutup di US$96,02 per barel, sedangkan Brent menguat 1,89% ke US$97,81 per barel.
Harga minyak yang naik dikhawatirkan bisa mengerek inflasi sehingga The Fed akan kesulitan memangkas suku bunga. Akibatnya, dolar menguat lagi.
Pelemahan rupiah pada perdagangan hari kemarin dipicu kombinasi tekanan global dan domestik.
Dari eksternal, dolar AS kembali menguat seiring meningkatnya ketegangan geopolitik di kawasan Teluk. Permintaan terhadap aset safe haven naik setelah Komando Pusat AS menyatakan Iran meluncurkan rudal balistik ke sejumlah negara di kawasan tersebut, sementara militer AS dilaporkan melakukan serangan balasan ke Pulau Qeshm. Kondisi ini mempersempit ruang penguatan mata uang negara berkembang, termasuk rupiah.
Dari dalam negeri, sentimen datang dari memburuknya kinerja perdagangan Indonesia. Data Badan Pusat Statistik (BPS) menunjukkan surplus neraca perdagangan April 2026 menyusut drastis menjadi sekitar US$90 juta, jauh lebih rendah dibandingkan surplus US$3,32 miliar pada Maret 2026. Secara kumulatif, surplus perdagangan periode Januari-April 2026 juga turun menjadi US$5,64 miliar dari US$11,07 miliar pada periode yang sama tahun sebelumnya, mencerminkan berkurangnya bantalan eksternal bagi nilai tukar rupiah.
Merespons kondisi tersebut, Bank Indonesia menegaskan akan terus berada di pasar dengan mengoptimalkan seluruh instrumen kebijakan yang dimiliki untuk menjaga stabilitas rupiah dan kecukupan likuiditas valas.
"Bank Indonesia akan terus mencermati perkembangan pasar keuangan global dan domestik serta senantiasa hadir di pasar dengan mengambil langkah-langkah yang diperlukan secara konsisten dan terukur guna menjaga stabilitas nilai tukar Rupiah dan memperkuat ketahanan eksternal," ujar Kepala Departemen Komunikasi BI Ramdan Denny Prakoso.
BI juga terus memperluas penggunaan mata uang lokal melalui skema Local Currency Transaction (LCT) dengan sejumlah negara mitra, serta mulai 2 Juni 2026 memberlakukan batas pembelian valas tanpa underlying sebesar US$25.000 per pelaku per bulan.
6. The Fed Beri Sinyal Hawkish
Pejabat memberi sinyal hawkish kebijakan ke depan.
Presiden Federal Reserve Cleveland, Beth Hammack, memperingatkan The Fed mungkin perlu segera menaikkan suku bunga jika tekanan inflasi terus meningkat. Ia menilai inflasi masih terlalu tinggi dan kebijakan moneter saat ini belum cukup ketat untuk membawa inflasi kembali ke target 2%.
Hammack mengatakan perang di Timur Tengah telah mengganggu pasar energi global dan berisiko membuat inflasi bertahan lebih lama, terutama jika harga energi tidak segera turun. Ia juga menegaskan ekonomi AS masih cukup kuat dengan pasar tenaga kerja yang stabil.
Sementara itu, Presiden Federal Reserve New York, John Williams, menilai risiko inflasi akibat perang kemungkinan hanya bersifat sementara. Menurutnya, kenaikan harga energi merupakan efek satu kali dan belum ada alasan jelas bagi The Fed untuk mengubah suku bunga saat ini.
Meski begitu, pasar mulai memperkirakan peluang kenaikan suku bunga The Fed pada akhir tahun.
7. Data Tenaga Kerja AS
Perusahaan swasta AS menambah 122.000 lapangan kerja pada Mei 2026, tertinggi sejak Januari 2025 dan melampaui proyeksi pasar 117.000.
ADP menyebut pasar tenaga kerja AS masih solid menjelang musim perekrutan musim panas. Penambahan terbesar berasal dari sektor kesehatan dan pendidikan sebanyak 57.000 pekerjaan serta perdagangan dan transportasi 36.000 pekerjaan.
Sementara itu, usaha kecil menjadi penyumbang terbesar perekrutan. Pertumbuhan gaji pekerja tetap bertahan di 4,4%, sedangkan pekerja yang pindah kerja naik menjadi 6,6%.
8. Ekonomi AS Masih Ngebut, Aktivitas Sektor Jasa Sentuh Level Tertinggi 3 Bulan
Beralih ke sentimen global, dari negeri Paman Sam terpantau aktivitas sektor jasa Amerika Serikat kembali menunjukkan ketahanan yang kuat pada Mei 2026. Institute for Supply Management (ISM) melaporkan indeks PMI sektor jasa naik menjadi 54,5 dari 53,6 pada April dan melampaui ekspektasi pasar sebesar 53,8.
Angka di atas 50 menandakan ekspansi, sehingga kenaikan ini menunjukkan laju pertumbuhan sektor jasa AS menguat dan menjadi yang tertinggi dalam tiga bulan terakhir.
Perbaikan terutama ditopang oleh meningkatnya aktivitas bisnis dan permintaan baru. Indeks aktivitas bisnis naik menjadi 57,7 dari 55,9, sementara indeks pesanan baru melonjak ke 57,3 dari 53,5. Kenaikan juga terlihat pada komponen persediaan yang melesat ke 62,5 dari 53,1, mengindikasikan perusahaan jasa mulai menambah stok untuk mengantisipasi permintaan yang lebih tinggi dalam beberapa bulan ke depan.
Meski aktivitas usaha membaik, pasar tenaga kerja masih menunjukkan tanda-tanda pelemahan. Indeks ketenagakerjaan tercatat di 47,9, menandai kontraksi untuk bulan ketiga berturut-turut. Sejumlah pelaku usaha melaporkan masih menerapkan pembekuan perekrutan tenaga kerja baru atau memilih tidak menggantikan posisi yang kosong ketika karyawan keluar.
Di saat yang sama, tekanan inflasi kembali meningkat. Indeks harga yang dibayar melonjak ke 71,3, level tertinggi sejak Agustus 2022. Kenaikan harga paling banyak dilaporkan terjadi pada solar, bensin, minyak mentah, serta berbagai komoditas terkait energi. Produk-produk turunan minyak bumi juga mulai mengalami kenaikan harga yang lebih luas, sebuah tren yang belum terlihat pada bulan sebelumnya.
Laporan ini menunjukkan ekonomi AS masih memiliki daya tahan yang kuat meski suku bunga tetap tinggi. Permintaan yang solid menjaga aktivitas sektor jasa tetap ekspansif, namun pada saat bersamaan memunculkan tekanan harga yang berpotensi mempersulit upaya bank sentral AS dalam membawa inflasi kembali menuju target.
Simak Rilis Data dan Agenda Hari Ini
Berikut sejumlah agenda dan rilis data yang terjadwal untuk hari ini:
-
Agenda: 1. Pembicaraan Tingkat II/Pengambilan Keputusan terhadap RUU tentang Perubahan atas Undang-Undang Nomor 4 Tahun 2023 tentang Pengembangan dan Penguatan Sektor Keuangan;
2. Pandangan Fraksi-Fraksi atas Kerangka Ekonomi Makro dan Pokok-Pokok Kebijakan Fiskal RAPBN Tahun Anggaran 2027.
-
Rapat Dengar Pendapat Komisi VII DPR RI dengan Plt. Kepala BSN
-
RDP Komisi VI DPR dengan Kepala BP BUMN
-
Menteri Perdagangan akan menghadiri "Rapat Koordinasi Tingkat Menteri Bidang Pangan" dengan agenda "Penyesuaian Harga Eceran Tertinggi (HET) dan Harga Penjualan Dalam Negeri (Domestic Price Obligation/DPO) MINYAKITA" bertempat di Ruang Rapat Menteri Perdagangan, Gedung Utama Kemendag, Jakarta Pusat
-
Asosiasi Industri Minuman Ringan (ASRIM) akan mengadakan konferensi pers untuk membahas mengenai masa depan industri minuman kemasan di Indonesia serta potensi pertumbuhan dan tantangannya tahun 2026 bertempat di Hotel Bidakara, Jakarta Selatan
-
Peresmian Green Indonesia Future Initiative (GIFT) di kantor Kementerian Perencanaan Pembangunan Nasional/Bappenas, Jakarta Pusat. Turut hadir antara lain Presiden ke-6 RI, Penasihat Khusus Presiden Bidang Ekonomi, dan Menteri PPN/Kepala Bappenas
-
Launching AIcosystem bertajuk "Beyond Innovation, Impact for the Nation", yang akan diselenggarakan Telkom Landmark Tower 2, The Telkom Hub Jakarta
-
Pertemuan JCBC Indonesia - Malaysia, yang akan diakhiri dengan Joint Press Statement di Gedung Pancasila, Kemlu RI
-
AstraZeneca Indonesia bersama Rumah Sakit Kanker Dharmais menjalin kolaborasi strategis melalui implementasi Next-Generation Sequencing (NGS) guna mendukung diagnostik presisi di Indonesia dengan fokus pada kanker payudara dan kanker paru. Acara digelar di RS Kanker Dharmais, Jakarta Barat
-
Konferensi Pers Serial Original Netflix Night Shift for Cuties di Live House, Mbloc, Jakarta Selatan.
Berikut sejumlah agenda emiten di dalam negeri pada hari ini:
RUPS PT Unilever Indonesia Tbk
RUPS PT Mayora Indah Tbk
RUPS PT Pudjiadi Prestige Tbk
RUPS PT Sumber Alfaria Trijaya Tbk.
RUPS PT PP Properti Tbk.
RUPS PT Midi Utama Indonesia Tbk
RUPS PT Kencana Energi Lestari Tbk.
RUPS PT Global Digital Niaga Tbk
RUPS PT Bangun Kosambi Sukses Tbk
RUPS PT Pantai Indah Kapuk Dua Tbk.
RUPS PT Atlantis Subsea Indonesia Tbk
RUPS PT Yelooo Integra Datanet Tbk.
RUPS PT Maxindo Karya Anugerah Tbk
RUPS PT Bank Aladin Syariah Tbk
RUPS PT Berkah Prima Perkasa Tbk
RUPS PT Medco Energi Internasional Tbk
RUPS PT Sumber Mineral Global Abadi Tbk
RUPS PT Jaya Sukses Makmur Sentosa Tbk.
RUPS PT Sawit Sumbermas Sarana Tbk.
RUPS PT Multi Spunindo Jaya Tbk.
RUPS PT Mutuagung Lestari Tbk
RUPS PT Panca Budi Idaman Tbk
Tanggal Pembayaran Dividen Tunai Plaza Indonesia Realty Tbk
Tanggal cum Dividen Tunai PT Sinar Mas Agro Resources and Technology Tbk
Tanggal cum Dividen Tunai BISI INTERNATIONAL Tbk
Tanggal cum Dividen Tunai PT Palma Serasih Tbk.
Tanggal cum Dividen Tunai PT Nusa Raya Cipta Tbk.
Tanggal cum Dividen Tunai Intanwijaya Internasional Tbk
Tanggal cum Dividen Tunai Ekadharma International Tbk
Tanggal cum Dividen Tunai PT Perusahaan Gas Negara (Persero) Tbk
Tanggal cum Dividen Tunai PT Triputra Agro Persada Tbk.
Tanggal cum Dividen Tunai PT Mandiri Herindo Adiperkasa Tbk
Tanggal cum Dividen Tunai Gajah Tunggal Tbk
Tanggal cum Dividen Tunai PT Adaro Andalan Indonesia Tbk
Berikut sejumlah indikator perekonomian nasional:
Riset CNBC Indonesia
Sanggahan: Artikel ini adalah produk jurnalistik berupa pandangan CNBC Indonesia Research. Analisis ini tidak bertujuan mengajak pembaca untuk membeli, menahan, atau menjual produk atau sektor investasi terkait. Keputusan sepenuhnya ada pada diri pembaca, sehingga kami tidak bertanggung jawab terhadap segala kerugian maupun keuntungan yang timbul dari keputusan tersebut.
(emb/emb) Add
source on Google Next Article Mei Jadi Bulan Pahit bagi IHSG & Rupiah, Saatnya Move On!