Tragedi Shanxi Ungkap Sisi Gelap Industri Batu Bara China, Dunia Cemas
Jakarta, CNBC Indonesia- Ledakan mengguncang tambang Liushenyu di Provinsi Shanxi pada 22 Mei 2026, perhatian publik China langsung tertuju pada satu wilayah yang selama puluhan tahun menjadi jantung industri batu bara negeri tersebut.
Sedikitnya 82 orang meninggal dunia, lebih dari 120 lainnya terluka, menjadikannya kecelakaan tambang paling mematikan di China dalam lebih dari 15 tahun terakhir.
Melansir BBC, beberapa hari kemudian, insiden lain kembali terjadi. Sebuah operasi tambang ilegal di Huize, Provinsi Yunnan, runtuh dan menewaskan lima orang. Dua kejadian dalam rentang waktu yang sangat singkat memunculkan pertanyaan yang sempat dianggap selesai oleh banyak pihak terkait apakah sektor batu bara China benar-benar telah meninggalkan masa kelamnya.
Â
Vidio google earth menujukkan lokasi kejadian setelah ledakan gas di tambang batu bara Liushenyu di Kabupaten Qinyuan, Provinsi Shanxi, Tiongkok, Sabtu (23/5/2026). (via REUTERS TV) Foto: Vidio google earth menujukkan lokasi kejadian setelah ledakan gas di tambang batu bara Liushenyu di Kabupaten Qinyuan, Provinsi Shanxi, Tiongkok, Sabtu (23/5/2026). (via REUTERS TV) |
Â
China saat ini merupakan negara dengan pembangunan energi terbarukan terbesar di dunia. Ladang surya membentang di Xinjiang, turbin angin tumbuh di berbagai wilayah utara, dan kapasitas energi bersih terus bertambah setiap tahun. Namun di saat yang sama, batu bara masih menjadi fondasi utama sistem energi negara tersebut.
International Energy Agency (IEA) memperkirakan konsumsi batu bara China mencapai 4,953 miliar ton pada 2025. Angka itu setara sekitar 56% konsumsi batu bara dunia. Dengan kata lain, dari setiap 100 ton batu bara yang dibakar di planet ini, sekitar 56 ton berada di China.
Dominasi itu tidak berhenti pada sisi konsumsi. China juga merupakan produsen batu bara terbesar dunia sekaligus importir terbesar dunia. Posisi tersebut membuat keputusan yang diambil Beijing memiliki dampak langsung terhadap harga batu bara global, termasuk pasar ekspor Indonesia.
Besarnya ketergantungan itu terlihat dari struktur konsumsi energi China. Sekitar 3,09 miliar ton batu bara digunakan untuk pembangkit listrik dan panas pada 2025. Volume tersebut setara sekitar 62% dari seluruh konsumsi batu bara nasional. Sisanya digunakan oleh sektor industri, termasuk baja, semen, kimia, pupuk, dan berbagai industri berat lainnya.
Â
Meski energi terbarukan berkembang pesat, penurunan konsumsi batu bara berlangsung sangat lambat. IEA memperkirakan konsumsi China masih berada di kisaran 4,77 miliar ton pada 2030. Penurunannya hanya sekitar 181 juta ton dibandingkan 2025. Dalam ukuran ekonomi sebesar China, angka tersebut nyaris menyerupai fase datar.
Karena itulah kawasan penghasil batu bara tetap memiliki posisi strategis.
Empat provinsi utama menghasilkan sekitar 81% produksi batu bara nasional. Inner Mongolia menyumbang sekitar 30%, Shanxi 22%, Shaanxi 18%, dan Xinjiang 11%.
Selama bertahun-tahun Shanxi dikenal sebagai pusat industri batu bara China. Wilayah ini memiliki cadangan batu bara kokas yang sangat besar dan menjadi pemasok penting bagi industri baja nasional. Pada masa ledakan ekonomi China awal 2000-an, keuntungan dari batu bara mengalir deras dari wilayah ini. Bersamaan dengan itu, kecelakaan tambang juga menjadi berita yang berulang.
Media pemerintah China pernah menyebut pertumbuhan ekonomi dari sektor batu bara pada masa tersebut sebagai "GDP yang berlumuran darah". Antara 1980 hingga 2010, rata-rata hampir 5.900 orang meninggal setiap tahun akibat kecelakaan tambang batu bara di China.
Â
Gelombang reformasi keselamatan yang dilakukan Beijing kemudian menghasilkan perubahan besar. Ribuan tambang kecil ditutup. Teknologi pemantauan gas diperluas. Mekanisasi meningkat. Tingkat kematian tambang turun lebih dari 90% dibandingkan era 1990-an.
Ledakan Liushenyu menjadi pengingat bahwa persoalan lama belum sepenuhnya hilang.
Temuan awal investigasi mengungkap serangkaian pelanggaran serius. Otoritas menemukan terowongan yang tidak tercantum dalam peta resmi. Sejumlah pekerja tidak terdaftar secara resmi. Banyak pekerja tidak membawa perangkat pelacak yang diwajibkan regulator. Kesaksian pekerja bahkan menyebut alat pelacak sengaja tidak digunakan karena perusahaan menambang lapisan batu bara yang belum memperoleh izin.
Jika temuan tersebut terbukti seluruhnya, masalah utama bukan berada pada teknologi tambang. Persoalannya berada pada kepatuhan terhadap aturan keselamatan.
Kasus ini muncul ketika struktur industri batu bara China sedang mengalami pergeseran geografis. Pertumbuhan produksi baru semakin bergerak ke arah barat laut, terutama Xinjiang.
IEA menunjukkan Xinjiang menjadi wilayah dengan pertumbuhan tercepat. Selain menjadi basis tambang baru, kawasan ini juga berkembang sebagai pusat hilirisasi batu bara atau coal-to-chemicals. Hingga Oktober 2025, lebih dari 20 proyek besar sedang dibangun di Xinjiang. Produk yang dihasilkan mencakup metanol, bahan bakar sintetis, gas sintetis, hingga bahan baku petrokimia. Seluruh proyek tersebut berpotensi menambah konsumsi batu bara lebih dari 165 juta ton dalam beberapa tahun mendatang.
Arah pembangunan tersebut memperlihatkan bagaimana batu bara China sedang bergeser fungsi. Pada dekade sebelumnya batu bara identik dengan pembangkit listrik. Kini batu bara juga diposisikan sebagai bahan baku industri kimia strategis yang digunakan untuk mengurangi ketergantungan terhadap impor minyak dan gas.
Â
Dalam konteks itu, tragedi Shanxi muncul pada saat yang sensitif. Beijing sedang berupaya menurunkan emisi karbon sekaligus menjaga keamanan energi nasional. Dua tujuan tersebut tidak selalu berjalan mulus secara bersamaan.
Pemerintah China menargetkan porsi batu bara dalam sistem listrik turun dari sekitar 55% pada 2024 menjadi 43% pada 2030. Pada periode yang sama, porsi energi terbarukan diproyeksikan naik dari 37% menjadi 49%.
Namun selama kebutuhan listrik nasional terus tumbuh, batu bara masih memegang fungsi penting sebagai sumber daya cadangan ketika produksi tenaga surya, angin, dan hidro tidak mencukupi. IEA bahkan memperkirakan konsumsi batu bara untuk pembangkit listrik masih berada di atas 3 miliar ton pada akhir dekade ini.
Kondisi tersebut menjelaskan mengapa kecelakaan di Shanxi tidak hanya menjadi berita lokal. Bagi pasar global, insiden tersebut membuka kembali diskusi mengenai sisi lain dari industri yang memasok lebih dari separuh konsumsi batu bara dunia.
China sedang bergerak menuju energi yang lebih bersih. Namun perjalanan itu berlangsung di atas fondasi batu bara yang masih sangat besar. Selama fondasi tersebut tetap menopang sistem energi nasional, tekanan produksi akan tetap ada.
CNBCÂ Indonesia Research
(emb/emb) Addsource on Google
