Mei Jadi Bulan Pahit bagi IHSG & Rupiah, Saatnya Move On!
Pasar keuangan Indonesia hari ini akan dibuka kembali setelah libur dua hari. Mengingat hari ini menjadi perdagangan terakhir pada pekan ini maka pelaku pasar perlu mencermati sejumlah sentimen.
Sentimen terbesar akan datang dari luar negeri yakni perkembangan perang. Setelah tiga bulan, perang kini memasuki gencatan senjata periode baru.
IHSG dan Rupiah di Mei Babak Belur
Kutukan buruk IHSG di Mei dan tahun ini belum berakhir. Secara bulanan, IHSG sudah jatuh 11,8% di Mei tahun ini. Rekor ini akan menjadi yang terburuk sejak Mei 2000 atau 26 tahun terakhir.
Ambruknya IHSG secara bulanan juga akan memperpanjang tren negatifnya di mana bursa saham Indonesia tak sekalipun mencatat zona hijau secara bulanan sepanjang tahun ini.Â
Rekor IHSGÂ tak berhenti di situ karena sepanjang perdagangan Mei 2026, IHSGÂ lebih banyak berada di zona merah yakni 9 hari dibandingkan hijau (6).
Sepanjang tahun ini, IHSGÂ sudah ambruk 29% yang merupakan terburuk di dunia.
Rupiah juga tak kalah buruk. Sepanjang Mei 2026, sudah ambruk 2,7% atau terburuk sejak Oktober 2024. Sepanjang tahun ini, nilai tukar rupiah hampir selalu melemah secara bulanan. Pengecualian terjadi pada Februari 2026.
Perkembangan Perang
Amerika Serikat (AS) dan Iran dikabarkan mencapai kesepakatan untuk memperpanjang gencatan senjata selama 60 hari serta membuka kembali pelayaran di Selat Hormuz, menurut sumber Reuters. Namun, Presiden AS Donald Trump disebut belum menyetujui kesepakatan tersebut, sementara Iran mengatakan perjanjian itu belum final.
Kesepakatan itu juga mencakup pencabutan blokade pelabuhan Iran oleh AS dan pelonggaran sebagian sanksi minyak Iran. Kabar ini langsung menekan harga minyak karena pasar berharap jalur energi penting dunia tersebut kembali normal.
Â
Di tengah negosiasi, ketegangan masih terjadi. Militer AS mengaku menembak jatuh lima drone Iran di Bandar Abbas, sementara Kuwait mencegat rudal balistik yang ditembakkan ke wilayahnya. Iran memperingatkan akan memberi respons lebih keras jika serangan berulang.
Konflik AS-Iran yang telah berlangsung tiga bulan sejauh ini telah menewaskan ribuan orang dan mengguncang pasar energi global.
Inflasi PCE Amerika
Inflasi pengeluaran warga AS yang dikenal dengan indeks harga PCE Amerika Serikat naik 3,8% secara tahunan (year-on-year/yoy) pada April 2026. Ini adalah level tertinggi sejak Mei 2023 dan sejalan dengan ekspektasi pasar.
Rata-rata perubahan tahunan indeks harga PCE di AS tercatat sebesar 3,29% sejak 1960 hingga 2026, dengan rekor tertinggi mencapai 11,60% pada Maret 1980 dan rekor terendah -1,47% pada Juli 2009.
Sementara itu, inflasi inti PCE (core PCE) di AS naik 3,3% (YoY) pada April 2026, lebih tinggi dibandingkan 3,2% pada Maret. Angka tersebut masih jauh di atas target inflasi The Fed sebesar 2% dan sesuai dengan perkiraan analis.
Indeks harga inti PCE adalah panduan utama The Fed dalam menilai inflasi I AS.
Secara bulanan (month-to-month/mtm), inflasi PCE AS naik 0,4% pada April 2026, lebih rendah dari ekspektasi pasar sebesar 0,5%, setelah melonjak 0,7% pada Maret.
Belanja pribadi masyarakat Amerika Serikat naik 0,5% secara bulanan (mtm) pada April 2026 atau bertambah US$111,1 miliar. Angka ini melambat dibanding kenaikan 1% pada Maret yang telah direvisi naik, namun tetap sesuai dengan ekspektasi pasar.
Sebaliknya, pendapatan pribadi masyarakat Amerika Serikat tercatat tidak berubah secara bulanan (mtm) pada April 2026, lebih rendah dari ekspektasi pasar yang memperkirakan kenaikan 0,4%, setelah sebelumnya naik 0,5% pada Maret yang direvisi sedikit lebih rendah.
Klaim Pengangguran AS Naik
Jumlah warga Amerika Serikat yang mengajukan klaim tunjangan pengangguran naik 5.000 menjadi 215.000 pada pekan ketiga Mei atau 22 Mei 2026, sedikit lebih tinggi dari ekspektasi pasar yang memperkirakan kenaikan hanya 1.000.
Sementara itu, klaim pengangguran berkelanjutan (continuing jobless claims) naik 15.000 menjadi 1,786 juta pada pekan kedua Mei, sejalan dengan perkiraan pasar sebesar 1,780 juta.
Meski mengalami kenaikan tipis, jumlah klaim tersebut masih jauh di bawah rata-rata tahun sebelumnya dan memperpanjang periode stabilitas sejak penurunan klaim awal dalam beberapa bulan terakhir. Kondisi ini menunjukkan pasar tenaga kerja AS masih tetap kuat dan memberi ruang bagi The Federal Reserve untuk mempertahankan kebijakan moneter ketat lebih lama.
(mae/mae) Addsource on Google