Minyak Tumbang, Deal AS-Iran Makin Dekat: RI Bisa Bernapas Lega?
Perdagangan pekan ini akan berlangsung pendek karena ada libur Idul Adha pada Rabu dan Kamis (27-28 Mei 2026). Mengingat pendeknya perdagangan, pelaku pasar mesti mencermati sejumlah sentimen pekan ini.
Sentimen luar negeri masih akan berfokus pada perkembangan perang iran yang akan memasuki bulan ke empat. Dari dalam negeri, kebijakan pemerintah dan data ekonomi akan menjadi salah satu penggerak sentimen.
1. Perkembangan Perang
Perang Iran akan melewati periode tiga bulan pada pekan ini.
Amerika Serikat dan Iran mulai menunjukkan kemajuan dalam pembicaraan damai untuk mengakhiri perang dan membuka kembali Selat Hormuz. Namun, kedua negara masih berselisih soal stok uranium Iran dan rencana pungutan biaya kapal di jalur strategis tersebut.
Menteri Luar Negeri AS Marco Rubio mengatakan ada "tanda positif" menuju kesepakatan, tetapi menegaskan AS menolak sistem pungutan di Selat Hormuz. Presiden Donald Trump juga menegaskan jalur itu harus tetap terbuka dan bebas untuk pelayaran internasional.
Selat Hormuz sendiri merupakan jalur vital yang dilalui sekitar 20% pasokan minyak dan LNG dunia, tetapi aktivitas pelayaran nyaris berhenti sejak perang pecah pada 28 Februari lalu.
Negosiasi juga masih terhambat isu uranium yang diperkaya. AS meminta Iran menyerahkan stok uranium karena khawatir dipakai untuk senjata nuklir, sementara Iran bersikeras program nuklirnya untuk tujuan damai.
Trump meminta tim negosiatornya tidak terburu-buru mencapai kesepakatan dan menegaskan blokade AS terhadap pelabuhan Iran akan tetap berlaku sampai perjanjian resmi ditandatangani. Ia juga menghadapi kritik dari sejumlah tokoh Partai Republik seperti Mike Pompeo dan Ted Cruz yang menilai kesepakatan itu terlalu menguntungkan Iran.
2. Dampak Data dan Kebijakan Pemerintah
Pekan lalu, pemerintah mengeluarkan kebijakan besar yakni pembentukan badan ekspor komoditas strategis. Dampak kebijakan ini diperkirakan masih akan menjadi perhatian pelaku pasar pekan ini, terutama karena masih banyak aturan turunan yang belum keluar.
Kebijakan baru ini menjadi perhatian besar pasar karena dikhawatirkan berdampak besar terhadap kinerja perusahaan.
Pemerintah memutuskan untuk menyerahkan sepenuhnya ekspor komoditas strategis Indonesia ke BUMN khusus ekspor, yakni PT Danantara Sumberdaya Indonesia alias PT DSI pada 1 Januari 2027, mundur dari sebelumnya 1 September 2026.
Pemerintah akan mulai menerapkan mekanisme ekspor melalui badan khusus mulai bulan depan, dengan masa transisi hingga 31 Desember 2026. Selama periode tersebut, perusahaan masih diperbolehkan menjual langsung kepada pembeli, namun seluruh dokumentasi ekspor wajib melalui badan usaha milik negara (BUMN).
Setelah masa transisi berakhir, pemerintah akan melakukan evaluasi sebelum kebijakan diterapkan penuh mulai Januari 2027. Langkah ini dilakukan untuk memperkuat pengawasan ekspor, menekan praktik underinvoicing, transfer pricing, hingga mencegah pelarian devisa ke luar negeri.
Pekan lalu, Bank Indonesia juga mengeluarkan data penting yakni Neraca Pembayaran Indonesia (NPI) dan Transaksi Berjalan.
NPI kuartal I-2026 mengalami defisit sebesar US$9,1 miliar.
Angka ini menjadi catatan yang cukup mengejutkan karena bukan hanya menunjukkan tekanan besar pada sektor eksternal, tetapi juga menjadi defisit terdalam sejak pencatatan data NPI kuartalan yang tersedia di BI sejak 2004.
Transaksi berjalan Indonesia juga kembali mencatat defisit cukup dalam pada kuartal I-2026. Bank Indonesia mencatat, transaksi berjalan mengalami defisit sebesar US$4,0 miliar atau setara 1,1% dari Produk Domestik Bruto (PDB).
Dengan posisi tersebut, defisit transaksi berjalan pada kuartal I-2026 menjadi yang terdalam sejak kuartal IV-2019. Saat itu, transaksi berjalan Indonesia mencatat defisit US$8,04 miliar.
3. Inflasi PCE Amerika Serikat
Amerika Serikat (AS) akan merilis data inflasi pengeluaran pribadi atau PCE untuk periode April pada Kamis (28/5/2026). Inflasi ini merupakan guidance utama The Fed alam menentukan kebijakan suku bunga.
Seperti diketahui, indeks harga PCE Amerika Serikat naik 3,5% secara tahunan (year-on-year/yoy) pada Maret 2026, tertinggi sejak Mei 2023 dan sesuai ekspektasi pasar. Secara historis, inflasi PCE AS rata-rata berada di level 3,28% sejak 1960 hingga 2026, dengan rekor tertinggi 11,6% pada Maret 1980 dan terendah minus 1,47% pada Juli 2009.
Secara bulanan (month-to-month/mtm), indeks harga PCE AS naik 0,7% pada Maret 2026, sejalan dengan perkiraan pasar dan lebih tinggi dibanding kenaikan Februari sebesar 0,4%. Ini menjadi kenaikan bulanan tertinggi sejak Juni 2022.
Kenaikan terutama dipicu lonjakan harga barang sebesar 1,4%, didorong kenaikan harga bensin dan energi lainnya hingga 20,9%. Sementara itu, inflasi sektor jasa meningkat menjadi 0,3% dari sebelumnya 0,2%, terutama akibat kenaikan biaya layanan transportasi.
Adapun indeks inti PCE (core PCE), yang tidak memasukkan komponen makanan dan energi, naik 0,3% setelah meningkat 0,4% pada Februari. Secara tahunan, indeks PCE utama mencapai 3,5%, sedangkan core PCE naik menjadi 3,2%.
4. Pidato Pejabat The Fed
Pejabat Federal Reserve (The Fed) dijadwalkan menghadiri sejumlah agenda penting pekan ini yang akan menjadi perhatian pasar global. Gubernur Lisa D. Cook akan membahas dampak AI terhadap ekonomi dan sistem keuangan di Stanford, sementara Wakil Ketua Philip N. Jefferson berbicara soal perkembangan ekonomi global dan AS di konferensi Bank of Japan di Tokyo.
Pada Jumat (29/5), Wakil Ketua The Fed Michelle W. Bowman dijadwalkan menyampaikan pidato mengenai kebijakan moneter di Islandia. Sementara Minggu (31/5), Gubernur Christopher J. Waller akan membahas stablecoin di Kroasia, dan Jerome H. Powell memberikan pidato dalam acara penghargaan John F. Kennedy Profile in Courage Award di Boston. Pasar juga menantikan sejumlah rilis data suku bunga dan likuiditas AS sepanjang pekan ini.
Pidato The Fed menjadi perhatian pasar karena akan menjadi petunjuk suku bunga ke depan. Terlebih, The Fed memiliki chairman baru Kevin Warsh yang resmi dilantik pada pekan lalu.
5. Harga Minyak Jatuh
Di awal perdagangan pekan ini, Senin (25/5/206) pukul 06.10 WIB, harga minyak mentah acuan global Brent sempat turun hingga 5,2% ke level US$98,12 per barel, sementara West Texas Intermediate (WTI) berada di kisaran US$92 per barel.
Trump mengatakan dalam unggahan di media sosial bahwa ia tidak akan "terburu-buru" mencapai kesepakatan, yang menurutnya "bahkan belum sepenuhnya dinegosiasikan." Persetujuan final atas kesepakatan tersebut kemungkinan masih membutuhkan waktu beberapa hari, menurut pejabat senior AS.
Pelemahan ini berbanding terbalik dengan pekan lalu.
Pada perdagangan terakhir pekan lalu Jumat (22/5/2026), harga minyak brent ditutup menguat 0,94% ke US$103,54 per barel.
Sementara itu, minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) naik 0,26% menjadi US$96,60 per barel. Kedua kontrak sempat melonjak lebih dari 3% pada awal sesi perdagangan.
6. Data China
Dari Asia, China kembali menjadi pusat perhatian pasar komoditas. Investor menunggu data PMI manufaktur resmi NBS dan PMI manufaktur Caixin/RatingDog yang akan dirilis pada Sabtu (30//5/2026).
PMI manufaktur resmi China sebelumnya berada di level 50,3. Angka itu masih menandakan ekspansi walau lajunya mulai melunak. Sementara PMI manufaktur versi swasta melonjak ke 52,2, tertinggi sejak akhir 2020.
Ada detail yang diperhatikan pelaku pasar komoditas: harga input pabrik China naik tajam akibat gangguan rantai pasok dan kenaikan harga minyak. Aktivitas pembelian bahan baku juga meningkat.
Permintaan industri China yang tetap kuat menjadi penyangga penting bagi batu bara, nikel, tembaga, hingga CPO Indonesia.
Pasar juga akan melihat data ISM Manufacturing PMI Amerika Serikat pada awal Juni. Angka sebelumnya bertahan di 52,7, tertinggi sejak 2022. Namun tekanan biaya produksi mulai naik akibat lonjakan harga energi selama konflik Iran.
source on Google