Ekspor Via DSI Baru 2027, Harga Minyak Turun: Bisa Bantu IHSG Bangkit?
- Pasar keuangan RI kembali babak belur, IHSG ambruk lebih dari 3% dan rupiah kembali melemah
- Wall Street kompak menguat di tengah optimisme berakhirnya perang Iran
- Data Neraca Pembayaran Indonesia, perkembangan uang beredar, dan rencana sentralisasi ekspor sumber daya alam yang mendapat respons negatif dari lembaga pemeringkat global akan menjadi penggerak pasar hari ini
Jakarta, CNBC Indonesia - Pasar keuangan Indonesia kembali tertekan pada perdagangan Kamis (21/5/2026). Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) ambruk, rupiah kembali melemah terhadap dolar Amerika Serikat (AS), sementara yield Surat Berharga Negara (SBN) tenor 10 tahun naik.
Tekanan pada pasar keuangan diperkirakan masih akan menyelimuti perdagangan terakhir pekan ini, Jumat (22/5/2026). Selengkapnya mengenai proyeksi pasar hari ini bisa dibaca pada halaman 3 artikel ini.
IHSG ditutup merosot 3,54% ke level 6.094,94 pada perdagangan Kamis kemarin. Koreksi tajam ini membuat IHSG kehilangan 223,56 poin dibandingkan posisi penutupan sebelumnya di level 6.318,50.
Sejak awal sesi, IHSG sebenarnya sempat bergerak di zona hijau dan menyentuh level tertinggi harian di 6.378,81. Namun, tekanan jual kemudian membesar dan membawa IHSG turun hingga menyentuh titik terendah harian di 6.080,95.
Aktivitas perdagangan terbilang ramai. Nilai transaksi pasar mencapai Rp18,03 triliun, dengan volume perdagangan 33,45 miliar saham dan frekuensi transaksi sebanyak 2,11 juta kali.
Aksi jual oleh investor asing pun kembali mewarnai IHSG. Asing tercatat melakukan net sell sebesar Rp544,8 miliar.
(evw/evw) Add
source on Google