Tekanan pada pasar keuangan diperkirakan masih akan menyelimuti perdagangan terakhir pekan ini, Jumat (22/5/2026). Selengkapnya mengenai proyeksi pasar hari ini bisa dibaca pada halaman 3 artikel ini.
IHSG ditutup merosot 3,54% ke level 6.094,94 pada perdagangan Kamis kemarin. Koreksi tajam ini membuat IHSG kehilangan 223,56 poin dibandingkan posisi penutupan sebelumnya di level 6.318,50.
Sejak awal sesi, IHSG sebenarnya sempat bergerak di zona hijau dan menyentuh level tertinggi harian di 6.378,81. Namun, tekanan jual kemudian membesar dan membawa IHSG turun hingga menyentuh titik terendah harian di 6.080,95.
Aktivitas perdagangan terbilang ramai. Nilai transaksi pasar mencapai Rp18,03 triliun, dengan volume perdagangan 33,45 miliar saham dan frekuensi transaksi sebanyak 2,11 juta kali.
Aksi jual oleh investor asing pun kembali mewarnai IHSG. Asing tercatat melakukan net sell sebesar Rp544,8 miliar.
Tekanan jual terjadi nyaris merata di seluruh papan perdagangan. Sebanyak 700 saham melemah, hanya 91 saham menguat, sementara 168 saham stagnan.
Kapitalisasi pasar Bursa Efek Indonesia juga turun menjadi Rp10.553 triliun, seiring anjloknya mayoritas saham berkapitalisasi jumbo.
Dari sisi sektoral, seluruh sektor berada di zona merah. Sektor utilitas menjadi yang paling dalam koreksinya, yakni 7,80%, disusul sektor energi yang turun 6,87%, dan sektor bahan baku yang melemah 6,09%.
Dari sisi penggerak indeks, saham PT Amman Mineral Internasional Tbk (AMMN) menjadi penopang terbesar IHSG dengan kontribusi positif 2,13 poin.
Setelah itu, PT Indofood Sukses Makmur Tbk (INDF) menyumbang 1,42 poin, PT Sumber Alfaria Trijaya Tbk (AMRT) 1,34 poin, dan PT Charoen Pokphand Indonesia Tbk (CPIN) 1,26 poin.
Sementara itu, penekan terbesar IHSG datang dari saham PT Astra International Tbk (ASII) yang membebani indeks hingga 14,96 poin. PT Bumi Resources Minerals Tbk (BRMS) menekan 14,26 poin, PT Bayan Resources Tbk (BYAN) 11,52 poin, serta PT Mora Telematika Indonesia Tbk (MORA) sebesar 11,21 poin.
Tekanan juga datang dari saham-saham berkapitalisasi besar lainnya seperti PT Barito Pacific Tbk (BRPT), PT Telkom Indonesia (Persero) Tbk (TLKM), PT Chandra Asri Pacific Tbk (TPIA), hingga PT Merdeka Gold Resources Tbk (MDKA).
Dari pasar mata uang, nilai tukar rupiah berbalik melemah terhadap dolar AS pada penutupan perdagangan Kamis (21/5/2026).
Sepanjang perdagangan, rupiah bergerak cukup volatil. Rupiah mengawali perdagangan di level Rp17.600/US$, lalu sempat melemah lebih dalam hingga menyentuh Rp17.685/US$. Namun, tekanan sedikit berkurang menjelang penutupan perdagangan.
Penguatan indeks dolar AS di pasar global turut menjadi salah satu penekan rupiah pada perdagangan Kamis. Greenback kembali diburu pelaku pasar seiring ekspektasi bahwa bank sentral AS atau The Federal Reserve berpeluang menaikkan suku bunga.
Risalah rapat terakhir The Fed yang dirilis Rabu menunjukkan sebagian besar pembuat kebijakan mendukung kenaikan suku bunga jika inflasi tetap bertahan di atas target 2%.
Mengacu data LSEG, pasar kini memperkirakan peluang sebesar 70% untuk kenaikan suku bunga The Fed sebesar 25 basis poin pada Desember. Pasar juga sudah sepenuhnya memperhitungkan peluang kenaikan suku bunga paling lambat pada Maret 2027.
Di sisi lain, Presiden AS Donald Trump mengatakan negosiasi dengan Iran sudah berada di tahap akhir. Namun, Trump juga menyebut AS bisa mengambil langkah lebih keras jika kesepakatan tidak tercapai.
Dari pasar saham AS, bursa Wall Street menguat, bahkan Indeks Dow Jones Industrial Average naik ke rekor penutupan tertinggi pada Kamis atau Jumat dini hari waktu Indonesia.
Bursa menguat seiring menurunnya harga minyak dan optimisme pelaku akan adanya penyelesaian konflik di Timur Tengah.
Indeks saham Dow Jones naik 276,31 poin atau 0,55% menjadi ditutup pada rekor 50.285,66. Sementara itu, S&P 500 menguat 0,17% ke 7.445,72 dan Nasdaq Composite menanjak 0,09% menjadi 26.293,10.
Harga minyak turun pada Kamis karena investor berharap AS dan Iran dapat mencapai kesepakatan yang mencegah kembali pecahnya perang di Timur Tengah.
Kontrak berjangka West Texas Intermediate (WTI) turun hampir 2% dan ditutup di US$96,35 per barel. Harga minyak Brent juga melemah lebih dari 2% ke US$102,58 per barel.
Harga minyak sempat melonjak setelah Reuters melaporkan bahwa pemimpin tertinggi Iran mengeluarkan arahan untuk mempertahankan uranium yang diperkaya tetap berada di dalam negeri. Langkah tersebut dinilai semakin mempersulit prospek penyelesaian perang AS-Iran.
Kenaikan awal harga minyak kemudian diikuti lonjakan imbal hasil obligasi AS karena pasar khawatir terhadap kenaikan inflasi. Namun, imbal hasil obligasi Treasury tenor 10 tahun dan obligasi 30 tahun akhirnya kembali turun, masing-masing melemah kurang dari 1 basis poin ke 4,564% dan turun lebih dari 2 basis poin ke 5,09%.
Saham-saham sebelumnya juga menguat pada Rabu, mengakhiri tren penurunan tiga hari berturut-turut untuk S&P 500, seiring meredanya harga minyak dan imbal hasil obligasi. Sentimen investor membaik setelah Presiden Donald Trump mengatakan pemerintahannya berada pada "tahap akhir" negosiasi dengan Iran.
CEO The Wealth Alliance, Robert Conzo, mengatakan jika inflasi meningkat akibat harga minyak bertahan di US$100 atau lebih, maka pasar bisa menghadapi kekhawatiran jangka pendek dan risiko dari berbagai berita utama.
Namun, ia menilai level indeks volatilitas Cboe (VIX) yang berada di sekitar 17 menunjukkan investor masih cukup nyaman, didukung perkembangan kecerdasan buatan (AI), laba perusahaan yang kuat, dan tingkat pengangguran yang rendah.
"Semua mata tertuju pada tercapainya kesepakatan," ujar Conzo.
Pelaku pasar juga mencermati laporan kuartalan terbaru dari Nvidia. Perusahaan chip tersebut berhasil melampaui ekspektasi Wall Street untuk laba dan proyeksi kinerja, sekaligus mengumumkan kenaikan dividen tunai kuartalan menjadi 25 sen per saham. Namun, investor kini sudah terbiasa melihat Nvidia melampaui perkiraan di tengah booming AI.
Meski demikian, saham Nvidia justru turun 1,8%.
"Orang-orang mengatakan, 'Kami mengharapkan lebih,'" kata Conzo. "Mereka menginginkan lebih sampai titik di mana ekspektasi itu menjadi tidak realistis.
Pelaku pasar perlu mencermati sejumlah agenda penting pada perdagangan terakhir pekan ini. Setelah IHSG ambruk selama delapan hari beruntun, pelaku pasar belum menemukan katalis baru agar IHSG bisa bangkit dari "mati suri".
Dari dalam negeri, Bank Indonesia dijadwalkan merilis Neraca Pembayaran Indonesia kuartal I-2026 dan perkembangan uang beredar April 2026, yang akan memberi gambaran terbaru mengenai ketahanan eksternal dan likuiditas ekonomi domestik.
Sementara dari eksternal, fokus tertuju pada data inflasi Jepang setelah negara tersebut mencatat surplus perdagangan pada April. Selain itu, pasar juga masih mencermati sorotan lembaga pemeringkat global terhadap rencana sentralisasi ekspor sumber daya alam Indonesia melalui Danantara.
BI Akan Umumkan NPI Kuartal I-2026
Bank Indonesia (BI) dijadwalkan merilis Laporan Neraca Pembayaran Indonesia (NPI) kuartal I-2026 pada Jumat (22/5/2026). Data ini akan menjadi perhatian pasar untuk membaca ketahanan eksternal Indonesia di tengah tekanan rupiah, harga minyak tinggi, dan dolar AS yang masih kuat.
Pada kuartal IV-2025, NPI mencatat surplus US$6,1 miliar, membaik dibandingkan kuartal III-2025 yang defisit US$4,0 miliar.
Namun, transaksi berjalan pada kuartal IV-2025 mencatat defisit US$2,5 miliar atau 0,7% dari PDB. Posisi ini berbalik dari kuartal sebelumnya yang masih surplus US$4,0 miliar atau 1,1% dari PDB.
Sementara itu, transaksi modal dan finansial mencatat surplus US$8,3 miliar, berbalik dari defisit US$8,0 miliar pada kuartal III-2025. Surplus ini terutama ditopang oleh aliran masuk investasi langsung dan investasi portofolio.
Secara keseluruhan 2025, transaksi berjalan mencatat defisit US$1,5 miliar atau 0,1% dari PDB, lebih rendah dibandingkan defisit 2024 sebesar US$8,6 miliar atau 0,6% dari PDB.
Pasar akan mencermati apakah NPI kuartal I-2026 masih mampu mencatat surplus. Data ini menjadi penting karena tekanan eksternal meningkat akibat perang di Timur Tengah, harga minyak yang tinggi, dan penguatan dolar AS. Bank Indonesia sebelumnya memperkirakan defisit transaksi berjalan 2026 berada di kisaran 0,5%-1,3% dari PDB.
Perkembangan Uang Beredar April 2026
Bank Indonesia juga dijadwalkan mengumumkan perkembangan uang beredar dalam arti luas atau M2 untuk periode April 2026 pada Jumat (22/5/2026).
Data ini akan dicermati untuk melihat kondisi likuiditas di perekonomian, terutama setelah BI menaikkan suku bunga acuan sebesar 50 basis poin menjadi 5,25%.
Pada Maret 2026, M2 Indonesia tumbuh 9,7% secara tahunan menjadi Rp10.355,1 triliun. Pertumbuhan ini lebih cepat dibandingkan Februari 2026 yang sebesar 8,7%.
Kenaikan M2 terutama didorong oleh uang beredar sempit atau M1 yang tumbuh 14,4%, serta uang kuasi yang naik 5,2%.
Selain itu, pertumbuhan M2 juga dipengaruhi oleh tagihan bersih kepada pemerintah pusat dan penyaluran kredit, yang masing-masing naik 39,2% dan 8,9%.
Data M2 April akan menjadi perhatian karena dapat memberi gambaran apakah likuiditas masih tetap kuat di tengah tekanan rupiah, kenaikan suku bunga, dan kebutuhan pembiayaan ekonomi domestik.
Ekspor Melalui PT Danantara Sumberdaya Digeser Mulai 1 Januari 2026
Pemerintah memutuskan untuk menyerahkan sepenuhnya ekspor komoditas strategis Indonesia ke BUMN khusus ekspor, yakni PT Danantara Sumberdaya Indonesia alias PT DSI pada 1 Januari 2027.
Hal ini disampaikan oleh Menteri Perdagangan Budi Santoso selepas menghadiri sosialisasi pembentukan BUMN ekspor kepada para eksportir di sektor SDA di Kantor Kemenko Perekonomian, Jakarta, Kamis (21/5/2026).
Dengan keputusan ini, maka masa transisi pelaksanaan ekspor terpusat di PT DSI untuk komoditas batu bara, minyak mentah kelapa sawit, dan ferro alloy menjadi lebih panjang, karena masa transisinya tetap akan dilakukan per 1 Juni 2026.
"Jadi dalam 3 bulan pertama itu ekspornya dilakukan oleh eksportir yang existing, tetapi dokumennya nanti qq, qq ke BUMN Ekspor. Nah, setelah itu, 3 bulan berikutnya, itu sifatnya, apa ya, kayak hybrid gitu. Jadi, kalau eksportir yang sudah siap dialihkan ke BUMN Ekspor, maka bisa sepenuhnya dialihkan ke BUMN Ekspor sampai paling lambat tanggal 31 Desember," tegas Budi dalam konferensi pers di Jakarta, Kamis (21/5/2026).
Sebelumnya pemerintah berencana menyerahkan ekspor penuh untuk PT DSI per 1 September 2026, sebagaimana tertuang dalam rancangan Permendag yang dibahas di kantor Kemenko Perekonomian kemarin pagi.
Berikut ini rancangan awal lengkapnya:Berikut ini rancangan awal lengkapnya:
Masa transisi yang dijadwalkan pada 1 Juni-31 Agustus 2026, dengan rincian:
a. Perizinan Berusaha berupa Persetujuan Ekspor yang telah diterbitkan kepada pelaku usaha masih berlaku paling lama sampai tanggal 31 Agustus 2026;
b. Persetujuan Ekspor yang diajukan oleh pelaku usaha antara 1 Juni - 31 Agustus 2026 diterbitkan dengan masa berlaku paling lama sampai tanggal 31 Agustus 2026;
c. Ekspor dilakukan melalui BUMN Ekspor.
- Menggunakan Persetujuan Ekspor milik pelaku usaha;
- Eksportir atas nama PT Danantara Sumber Daya Indonesia; dan
- Pada PEB, pelaku usaha tertulis sebagai pemilik barang, BUMN Ekspor sebagai Eksportir.
d. Dalam periode transisi, BUMN Ekspor agar menyiapkan kesiapan administrasi dokumen ekspor untuk dapat diimplementasikan pada tanggal 1 September 2026.
Adapula ketentuan terkait dengan mulainya aktivitas ekspor PT DSI mulai 1 September 2026 sebagai berikut:
a. Ekspor hanya dapat dilakukan oleh BUMN Ekspor;
b. BUMN Ekspor harus memiliki Persetujuan Ekspor dengan syarat Hak Ekspor;
c. Hak Ekspor BUMN Ekspor didapat dari hasil DMO atau hasil pengalihan Hak Ekspor pelaku usaha yang melakukan DMO.
Peraturan ini nantinya akan mencabut Permendag Nomor 26 Tahun 2024 tentang Ketentuan Ekspor Produk Turunan Kelapa Sawit. Peraturan Menteri ini mulai berlaku pada tanggal 1 Juni 2026.
Lembaga Rating Soroti Sentralisasi Ekspor SDA
Rencana pemerintah melakukan sentralisaisi ekspor lewat satu badan mulai disorot lembaga pemeringkat global.
Dalam skema baru tersebut, PT Danantara Sumberdaya Indonesia (DSI) akan menjadi pengekspor tunggal untuk sejumlah komoditas utama seperti minyak kelapa sawit, batu bara, dan ferroalloy. Masa transisi berlangsung tiga bulan mulai 1 Juni 2026 dan dapat diperpanjang hingga enam bulan.
Selama masa transisi, eksportir wajib melaporkan volume, nilai, dan harga barang kepada Danantara Sumber Daya Indonesia.
Namun, S&P Global Ratings memperingatkan kebijakan ini dapat menimbulkan risiko terhadap ekspor, penerimaan negara, dan neraca pembayaran Indonesia.
"Faktor-faktor ini menciptakan ketidakpastian penurunan yang lebih besar terhadap peringkat Indonesia," tulis S&P dikutip dari Reuters Kamis (21/5/2026).
S&P juga menilai investasi dapat terdampak jika perubahan aturan ini menurunkan kepercayaan dunia usaha dan sentimen investasi.
Sementara itu, Moody's menilai rencana sentralisasi ekspor dapat mendukung aliran devisa masuk, tetapi juga meningkatkan risiko distorsi pasar dan membebani sentimen investor.
Jepang Catat Surplus Dagang di April
Neraca perdagangan Jepang berbalik mencatat surplus pada April 2026. Berdasarkan data Ministry of Finance Japan, neraca perdagangan Jepang surplus JPY301,9 miliar pada April 2026.
Kondisi ini jauh lebih baik dibandingkan periode yang sama tahun lalu, ketika Jepang masih mencatat defisit JPY149,5 miliar. Realisasi tersebut juga jauh melampaui ekspektasi pasar yang memperkirakan Jepang masih akan mencatat defisit JPY29,7 miliar.
Surplus perdagangan April menjadi yang terbesar sejak November. Perbaikan ini terjadi karena pertumbuhan ekspor Jepang masih lebih kuat dibandingkan impor.
Ekspor Jepang melonjak 14,8% secara tahunan/year on year (yoy) menjadi hampir rekor tertinggi di JPY10.507,3 miliar. Pertumbuhan ekspor ini lebih cepat dibandingkan Maret yang naik 11,5% yoy, sekaligus menjadi laju pertumbuhan terkuat dalam tiga bulan terakhir.
Realisasi ekspor juga lebih tinggi dari konsensus pasar yang memperkirakan kenaikan 9,3%. Kinerja ekspor Jepang ditopang oleh permintaan yang kuat dari China, Amerika Serikat, negara-negara ASEAN, dan Uni Eropa.
Sementara itu, impor Jepang naik 9,7% yoy menjadi JPY10.205,4 miliar. Pertumbuhan impor ini sedikit melambat dibandingkan Maret yang naik 10,9%, tetapi masih lebih tinggi dari ekspektasi pasar sebesar 8,3%.
Permintaan impor Jepang masih cukup kuat, salah satunya ditopang oleh stimulus besar yang digelontorkan pemerintah Jepang pada akhir 2025. Kenaikan impor April juga menjadi kenaikan bulan ketiga berturut-turut, meski lajunya menjadi yang paling lambat dalam periode tersebut.
Data ini menjadi perhatian pasar karena Jepang merupakan salah satu ekonomi utama Asia.
Pengumuman Inflasi Jepang
Jepang akan mengumumkan data inflasi pada Jumat ini. Data ini penting dicermati karena Jepang cukup rentan terhadap kenaikan harga energi, terutama setelah harga minyak dunia terdorong oleh gangguan jalur perdagangan di Selat Hormuz.
Pada Maret 2026, inflasi tahunan Jepang naik menjadi 1,5%, dari 1,3% pada Februari. Kenaikan terutama terlihat pada biaya transportasi yang naik 2,1%, jauh lebih tinggi dibandingkan Februari sebesar 0,5%.
Inflasi inti juga naik menjadi 1,8%, dari sebelumnya 1,6%, meski masih berada di bawah target Bank of Japan sebesar 2%.
Data inflasi kali ini akan menjadi perhatian pasar untuk melihat seberapa besar dampak kenaikan harga energi terhadap ekonomi Jepang. Jika tekanan harga kembali meningkat, ruang Bank of Japan untuk mempertahankan kebijakan longgar bisa semakin terbatas.
PMI Manufaktur AS Menguat
Aktivitas manufaktur Amerika Serikat (AS) kembali menguat pada Mei 2026. Berdasarkan data awal S&P Global, PMI Manufaktur AS naik ke level 55,3, dari 54,5 pada April.
Realisasi ini lebih tinggi dari ekspektasi pasar yang memperkirakan PMI turun ke 53,8. Angka tersebut juga menandai ekspansi manufaktur terkuat sejak Mei 2022.
Penguatan PMI ditopang oleh kenaikan output yang tumbuh paling cepat dalam lebih dari empat tahun. Penciptaan lapangan kerja di sektor manufaktur juga naik ke level tertinggi sejak Juni 2025.
Meski begitu, pertumbuhan pesanan baru mulai melambat, walaupun masih menjadi yang terkuat kedua dalam empat tahun terakhir. Sebagian permintaan datang dari aksi penumpukan stok oleh konsumen di tengah kekhawatiran gangguan pasokan akibat konflik Timur Tengah.
Persediaan input juga naik paling tajam dalam 11 bulan. Namun, kenaikan ini sebagian mencerminkan upaya perusahaan membangun stok pengaman karena kekhawatiran terhadap harga dan pasokan.
Klaim Pengangguran AS Turun
Jumlah warga AS yang mengajukan tunjangan pengangguran turun 3.000 menjadi 209.000 pada pekan kedua Mei atau 16 Mei, sejalan dengan ekspektasi pasar sebesar 210.000. Sementara itu, klaim pengangguran berkelanjutan (continuing jobless claims), yang menjadi indikator jumlah pengangguran yang masih menerima bantuan, naik 6.000 menjadi 1.782.000, sedikit di bawah perkiraan 1.790.000.
Hasil ini memperpanjang periode stabilitas sejak penurunan klaim awal pada awal tahun, sekaligus mempertahankan gambaran pasar tenaga kerja yang kuat dan memberi ruang bagi The Fed untuk tetap mempertahankan kebijakan moneter ketat.
Di sisi lain, klaim awal yang diajukan pegawai federal-yang menjadi perhatian akibat penutupan pemerintahan (government shutdown) yang menunda pengajuan asuransi pengangguran-naik 32 menjadi 424.
Perang Belum Jelas Tapi Harga Minyak Melandai
AS dan Iran masih bertahan pada posisi masing-masing terkait stok uranium Iran dan kontrol atas Selat Hormuz, meski Menteri Luar Negeri AS Marco Rubio menyebut ada "tanda-tanda positif" dalam negosiasi.
Presiden Donald Trump mengatakan AS pada akhirnya akan mengambil stok uranium Iran dan kemungkinan menghancurkannya. Sementara itu, Iran menolak mengirim uranium ke luar negeri dan tetap mengklaim kedaulatan atas Selat Hormuz, termasuk kemungkinan mengenakan biaya bagi kapal yang melintas.
Negosiasi masih menemui hambatan, terutama soal pengayaan uranium, sanksi, dan kontrol jalur minyak global tersebut. Trump juga kembali mengancam akan melanjutkan serangan militer jika Iran tidak memberikan "jawaban yang tepat".
Ketidakpastian ini membuat harga minyak bergerak volatil dan meningkatkan kekhawatiran terhadap ekonomi global. International Energy Agency memperingatkan pasar energi bisa masuk "zona merah" pada Juli-Agustus jika pasokan Timur Tengah tetap terganggu dan Selat Hormuz belum pulih sepenuhnya.
Sementara itu, lalu lintas kapal melalui Selat Hormuz masih terganggu parah akibat blokade Iran terhadap jalur laut tersebut, yang merupakan rute perdagangan penting bagi pasokan minyak global.
International Energy Agency memperingatkan pada Kamis bahwa pasar minyak akan memasuki "zona merah" musim panas ini jika Selat Hormuz tidak kembali dibuka. Kepala IEA, Fatih Birol, mengatakan persediaan minyak global akan terus menurun seiring meningkatnya permintaan selama musim perjalanan musim panas.
Berikut sejumlah agenda dan rilis data yang terjadwal untuk hari ini:
- CNBC Indonesia menggelar LPS Jogja Financial Forum 2026
- BI merilis Neraca pembayaran Indonesia Kuartal I-2026
- BI merilis Uang Beredar (M2) Indonesia
-
Olahraga dan diskusi bersama Direktur Utama Perum BULOG di Epic Wesoccer by Doorspace, Setiabudi, Jakarta Selatan.
-
Diskusi Media dengan topik "Inovasi Pembiayaan Perumahan bagi Pekerja Informal" yang akan diadakan di Wellspaces Kemang Coworking Space & Serviced Office, Jakarta Selatan.
-
Launching LRT Dukuh Atas PT Bank Syariah Indonesia (Persero) Tbk
-
Hari ketiga IPA ConVex di BSD City, Kabupaten Tangerang, Provinsi Banten.
-
Peluncuran terbaru MacBook Neo dalam acara bertajuk Neo Celebration di Digimap Pacific Place, Jakarta Selatan.
-
Grand Launching Eva Mulia Clinic Priority di Tebet, Jakarta Selatan.
Berikut sejumlah agenda emiten di dalam negeri pada hari ini:
Berikut sejumlah indikator perekonomian nasional:
CNBC INDONESIA RESEARCH
Sanggahan: Artikel ini adalah produk jurnalistik berupa pandangan CNBC Indonesia Research. Analisis ini tidak bertujuan mengajak pembaca untuk membeli, menahan, atau menjual produk atau sektor investasi terkait. Keputusan sepenuhnya ada pada diri pembaca, sehingga kami tidak bertanggung jawab terhadap segala kerugian maupun keuntungan yang timbul dari keputusan tersebut.