MARKET DATA
Newsletter

Ekspor Via DSI Baru 2027, Harga Minyak Turun: Bisa Bantu IHSG Bangkit?

Elvan Widyatama,  CNBC Indonesia
22 May 2026 06:17
Bendera Amerika ditampilkan di layar di lantai Bursa Saham New York (NYSE) di Kota New York, AS, 22 September 2025. (REUTERS/Jeenah Moon/File Foto)
Foto: Bendera Amerika ditampilkan di layar di lantai Bursa Saham New York (NYSE) di Kota New York, AS, 22 September 2025. (REUTERS/Jeenah Moon)

Dari pasar saham AS, bursa Wall Street menguat, bahkan Indeks Dow Jones Industrial Average naik ke rekor penutupan tertinggi pada Kamis atau Jumat dini hari waktu Indonesia.

Bursa menguat seiring menurunnya harga minyak dan optimisme pelaku akan adanya penyelesaian konflik di Timur Tengah.

Indeks saham Dow Jones naik 276,31 poin atau 0,55% menjadi ditutup pada rekor 50.285,66. Sementara itu, S&P 500 menguat 0,17% ke 7.445,72 dan Nasdaq Composite menanjak 0,09% menjadi 26.293,10.

Harga minyak turun pada Kamis karena investor berharap AS dan Iran dapat mencapai kesepakatan yang mencegah kembali pecahnya perang di Timur Tengah.

Kontrak berjangka West Texas Intermediate (WTI) turun hampir 2% dan ditutup di US$96,35 per barel. Harga minyak Brent juga melemah lebih dari 2% ke US$102,58 per barel.

 

Harga minyak sempat melonjak setelah Reuters melaporkan bahwa pemimpin tertinggi Iran mengeluarkan arahan untuk mempertahankan uranium yang diperkaya tetap berada di dalam negeri. Langkah tersebut dinilai semakin mempersulit prospek penyelesaian perang AS-Iran.

Kenaikan awal harga minyak kemudian diikuti lonjakan imbal hasil obligasi AS karena pasar khawatir terhadap kenaikan inflasi. Namun, imbal hasil obligasi Treasury tenor 10 tahun dan obligasi 30 tahun akhirnya kembali turun, masing-masing melemah kurang dari 1 basis poin ke 4,564% dan turun lebih dari 2 basis poin ke 5,09%.

Saham-saham sebelumnya juga menguat pada Rabu, mengakhiri tren penurunan tiga hari berturut-turut untuk S&P 500, seiring meredanya harga minyak dan imbal hasil obligasi. Sentimen investor membaik setelah Presiden Donald Trump mengatakan pemerintahannya berada pada "tahap akhir" negosiasi dengan Iran.

CEO The Wealth Alliance, Robert Conzo, mengatakan jika inflasi meningkat akibat harga minyak bertahan di US$100 atau lebih, maka pasar bisa menghadapi kekhawatiran jangka pendek dan risiko dari berbagai berita utama.

Namun, ia menilai level indeks volatilitas Cboe (VIX) yang berada di sekitar 17 menunjukkan investor masih cukup nyaman, didukung perkembangan kecerdasan buatan (AI), laba perusahaan yang kuat, dan tingkat pengangguran yang rendah.

"Semua mata tertuju pada tercapainya kesepakatan," ujar Conzo.

Pelaku pasar juga mencermati laporan kuartalan terbaru dari Nvidia. Perusahaan chip tersebut berhasil melampaui ekspektasi Wall Street untuk laba dan proyeksi kinerja, sekaligus mengumumkan kenaikan dividen tunai kuartalan menjadi 25 sen per saham. Namun, investor kini sudah terbiasa melihat Nvidia melampaui perkiraan di tengah booming AI.

Meski demikian, saham Nvidia justru turun 1,8%.

"Orang-orang mengatakan, 'Kami mengharapkan lebih,'" kata Conzo. "Mereka menginginkan lebih sampai titik di mana ekspektasi itu menjadi tidak realistis.

(evw/evw) Add logo_svg as a preferred
source on Google


Most Popular
Features