MARKET DATA

Demi Amankan Gandum - Daging Rp 300 T, Xi Jinping & Trump Baikan

Emanuella Bungasmara Ega Tirta,  CNBC Indonesia
20 May 2026 14:50
Presiden China Xi Jinping memperlihatkan suasana kompleks bersejarah Zhongnanhai kepada Presiden Amerika Serikat Donald Trump usai pembicaraan mengenai perdagangan, Taiwan, dan Iran, Jumat (15/5/2026). (REUTERS/Evan Vucci/Pool)
Foto: Presiden China Xi Jinping memperlihatkan suasana kompleks bersejarah Zhongnanhai kepada Presiden Amerika Serikat Donald Trump usai pembicaraan mengenai perdagangan, Taiwan, dan Iran, Jumat (15/5/2026). (REUTERS/Evan Vucci/Pool)

Jakarta, CNBC Indonesia- Ketegangan dagang Amerika Serikat dan China belum benar-benar padam. Namun jalur pangan kini menjadi ruang kompromi baru. Beijing sepakat membeli produk pertanian Amerika Serikat minimal US$17 miliar per tahun atau sekitar Rp 300,9 triliun (US$1= Rp 17.700) di luar kedelai selama tiga tahun ke depan. Nilai itu muncul usai pertemuan Presiden AS Donald Trump dan Presiden China Xi Jinping di Beijing pekan lalu.

Kesepakatan tersebut langsung mengubah peta perdagangan pangan dunia. China selama ini merupakan importir pertanian terbesar global. Ketika perang dagang memuncak tahun lalu, pembelian produk pertanian AS anjlok tajam. Kini arus itu diputar kembali.

Gedung Putih menyebut total impor produk pertanian AS oleh China dapat mencapai US$28-30 miliar per tahun jika komitmen baru dijalankan penuh. Angka tersebut memang masih di bawah rekor US$38 miliar pada 2022. Namun jaraknya sangat jauh dibanding realisasi tahun lalu yang hanya sekitar US$8 miliar.

Untuk mengejar target sebesar itu, China harus membuka keran impor lebih lebar untuk gandum, jagung pakan, sorgum, kapas, kayu hingga produk daging. Reuters melaporkan Beijing sebelumnya sudah memenuhi komitmen pembelian 12 juta ton kedelai AS setelah kesepakatan Oktober lalu. Washington juga menyebut China akan membeli minimal 25 juta ton kedelai AS per tahun.

Perubahan arah pembelian ini membuat negara pemasok lain mulai waspada. Brasil selama beberapa tahun terakhir menikmati posisi dominan sebagai pemasok kedelai China. Pangsa pasarnya mencapai 73,6% pada 2025. Negeri Amerika Latin itu juga berkembang menjadi pemasok utama jagung China.

Menurut Vice President StoneX Singapore, Cheang Kang Wei, lonjakan pembelian dari AS kemungkinan besar tidak murni didorong faktor harga. China dinilai perlu mengalihkan pembelian dari negara lain demi kepentingan strategis dan politik.

 

Australia ikut masuk dalam radar tekanan. Negara tersebut sempat menjadi pemasok gandum terbesar China pada 2023 dan eksportir sorgum utama pada 2025. Jika produk AS kembali membanjiri pasar China, permintaan terhadap gandum dan sorgum Australia berpotensi melemah. Daging sapi premium Australia juga menghadapi tekanan setelah Beijing dan Washington membuka kembali pembahasan hambatan dagang untuk produk daging.

Kanada, Prancis, hingga Argentina menghadapi situasi serupa. Ketika China mengubah arah impor, negara-negara pemasok lama akan berebut mempertahankan pangsa pasar yang selama ini menjadi mesin ekspor mereka.

Di sisi kedelai, pasar melihat peluang AS cukup besar. Harga kedelai Amerika untuk pengiriman musim panen baru dinilai kompetitif dibanding pasokan Brasil. Trader minyak nabati di Asia mengatakan pembelian 25 juta ton kedelai AS bukan target yang sulit dicapai karena harga saat ini menarik untuk kebutuhan penggilingan maupun cadangan pemerintah.

Meski demikian, peran perusahaan negara China diperkirakan tetap dominan. COFCO dan Sinograin disebut akan menjadi pembeli utama kedelai AS selama tarif tambahan 10% belum dicabut Beijing. Ketergantungan China terhadap kedelai Amerika sendiri sudah turun tajam dalam beberapa tahun terakhir. Pada 2016, porsi kedelai AS mencapai 41% dari total impor China. Tahun 2024 tinggal sekitar seperlima.

Untuk jagung dan gandum, ruang impor China masih dibatasi kuota tarif rendah. China menetapkan kuota impor gandum 9,64 juta ton dan jagung 7,2 juta ton dengan tarif 1%. Impor di luar kuota dikenai bea masuk sangat tinggi hingga 65%.

Data bea cukai China menunjukkan pembelian jagung AS sepanjang 2025 hanya US$5 juta, turun drastis dari US$561,5 juta setahun sebelumnya. Impor gandum bahkan nyaris nol setelah sebelumnya mencapai 1,9 juta ton senilai US$600 juta pada 2024.

Sorgum menjadi komoditas yang lebih fleksibel karena tidak dibatasi kuota. Setelah hujan deras merusak panen di wilayah utara China pada 2025, Beijing membeli sedikitnya 2,5 juta ton sorgum AS sejak November untuk menutup kekurangan jagung domestik.

Di sektor daging, pasar China kembali penting bagi peternak Amerika. Produk seperti kaki ayam, telinga babi, dan jeroan memiliki permintaan tinggi di China meski konsumsi domestiknya kecil di AS. Beijing juga memperpanjang registrasi 425 fasilitas daging sapi AS dan menyetujui tambahan 77 fasilitas baru untuk lima tahun ke depan.

Namun China tetap menjaga perlindungan industri domestik. Sistem kuota impor daging sapi yang diberlakukan sejak Desember lalu mengenakan tarif 55% untuk impor di atas kuota dari negara pemasok utama, termasuk Amerika Serikat.

Selain pangan, daftar impor China diperkirakan meluas ke kapas dan kayu. Nilai impor kapas China dari AS tahun lalu turun tajam menjadi US$225,7 juta dari US$1,85 miliar pada 2024. Kesepakatan baru membuka peluang arus perdagangan itu kembali bergerak naik.

CNBC Indonesia Research

(emb/emb) Add logo_svg as a preferred
source on Google



Most Popular