Ironi Petani Amerika: Rugi, Hidup Menderita, Tapi Tetap Bela Trump
Jakarta, CNBC Indonesia - Petani Amerika Serikat (AS) tengah menghadapi tekanan berlapis yang mengancam keberlanjutan usaha mereka.
Ironisnya, di tengah kondisi yang kian sulit, sebagian besar petani di wilayah pedesaan tetap menunjukkan loyalitas politik terhadap Presiden Donald Trump. Berikut tantangan utama yang kini membayangi petani AS.
Biaya Produksi Melonjak, Margin Kian Tergerus
Tekanan pertama datang dari sisi biaya produksi yang meningkat tajam. Dalam lima tahun terakhir, harga benih, tenaga kerja, dan bunga pinjaman melonjak signifikan.
Situasi semakin diperparah oleh kebijakan tarif yang diberlakukan pemerintahan Donald Trump.
Kenaikan harga baja dan aluminium mendorong lonjakan harga alat pertanian seperti traktor dan sprayer. Bahkan, produsen alat berat seperti John Deere mengaku menanggung ratusan juta dolar biaya tambahan akibat tarif.
Akibatnya, banyak petani kini membutuhkan lahan hingga empat kali lebih luas untuk menghasilkan keuntungan yang sama seperti sebelumnya. Bertani menjadi semakin sulit dijangkau, terutama bagi generasi baru.
Perang Dagang dan Perang Lainnya
Selain biaya yang membengkak, petani juga kehilangan pasar akibat perang dagang. Negara-negara mitra dagang merespons kebijakan tarif AS dengan langkah balasan. Salah satu yang paling berdampak adalah China yang menghentikan impor kedelai dari Amerika Serikat.
Secara keseluruhan, sektor pertanian menjadi industri yang paling terpukul oleh kebijakan retaliasi. Kenaikan tarif membuat harga produk pertanian AS menjadi kurang kompetitif di pasar global, dibandingkan sektor lain seperti elektronik dan kimia.
Selain perang dagang dengan China, Perang Amerika-Iran yang mengganggu operasional Selat Hormuz turut menambahkan beban para petani.
Dengan banyaknya tekanan dari berbagai arah, sebagian petani yang putus asa akhirnya memilih untuk mengakhiri hidupnya.
Pemilik Kerr Auction, sebuah tempat jual beli alat pertanian bekas, menyebut bahwa di masa sulit seperti sekarang, semakin banyak traktor yang dijual oleh keluarga petani. Dimana traktor-traktor tersebut sebelumnya dimiliki oleh petani yang mengakhiri hidupnya.
Efek Domino ke Ekonomi Desa & Ancaman Keberlanjutan
Dampak krisis ini tidak hanya dirasakan oleh petani, tetapi juga menjalar ke seluruh ekonomi pedesaan. Meski hanya sekitar 6% populasi rural yang bekerja sebagai petani, sektor ini menjadi fondasi bagi berbagai bisnis lokal, mulai dari pabrik pengolahan, perbankan, hingga ritel.
Ketika petani terpukul, aktivitas ekonomi lokal ikut melemah. Banyak keluarga di pedesaan kini menghadapi tekanan finansial serius, bahkan kesulitan memenuhi kebutuhan darurat.
Hasil survei dari YouGov dan The Economist membawa pada kesimpulan bahwa 27% orang di daerah pedesaan AS mengaku tidak mampu membayar biaya tak terduga sebesar US$1.000.
Loyalitas di Tengah Tekanan: Percaya Pemerintah, Tapi Butuh Bantuan
Meski tekanan ekonomi terus meningkat, banyak petani di Amerika Serikat tetap menunjukkan dukungan kuat terhadap Presiden Donald Trump. Survei menunjukkan tingkat kepuasan terhadap Trump justru paling tinggi di kalangan pemilih pedesaan dibanding kelompok lain.
Walau masih mempercayai pemerintah, para petani dan pihak-pihak pendukung petani tetap menuntut langkah konkret yang dapat meringankan beban pertanian AS.
Di balik itu, ada dilema yang dirasakan petani. Mereka pada dasarnya tidak ingin bergantung pada bantuan pemerintah, namun tekanan ekonomi memaksa mereka untuk tetap menerima subsidi.
Kehidupan di pedesaan yang telah lama akrab dengan ketidakpastian memang membentuk ketahanan dan optimisme tersendiri. Bagi banyak petani, bertani bukan sekadar soal untung-rugi, melainkan cara hidup yang sulit ditinggalkan.
Â
(mae/mae) Addsource on Google