MARKET DATA

10 Komoditas Impor Utama RI dari Iran: Ada Tekstil - Jam

Emanuella Bungasmara Ega Tirta,  CNBC Indonesia
15 January 2026 13:35
FILE PHOTO: Iran's national flags are seen on a square in Tehran February 10, 2012, a day before the anniversary of the Islamic Revolution. REUTERS/Morteza Nikoubazl/File Photo
Foto: Iran (REUTERS/Morteza Nikoubazl/)

Jakarta, CNBC Indonesia- Sepanjang Januari-November 2025, impor Indonesia dari Iran tercatat US$7,66 juta atau sekitar Rp 129 miliar (US$ 1=Rp 16.870). Nilai tersebut turun 30,75% (secara tahunan/year on year/yoy).

Di balik kontraksi ini, terdampak ledakan pertumbuhan di sejumlah pos kecil, terutama pada kelompok tekstil industri, karet, dan bahan kimia. Namun lonjakan itu tidak mengubah arah utama perdagangan.

Komoditas dengan pertumbuhan tercepat justru datang dari pos yang sebelumnya hampir tidak ada. Tekstil industri berlapis (HS 59) melonjak 6.931%, zat albumina dan perekat (HS 35) naik 6.003%, dan jam serta arloji (HS 91) tumbuh 2.800%. Kertas (HS 48) meningkat 1.610%, sementara karet (HS 40) bertambah 1.318%.

Namun secara nilai, semua pos itu masih berada di lapisan bawah. HS 59 hanya US$0,0002 juta, HS 35 US$0,0007 juta, dan HS 91 US$0,0001 juta. Bahkan karet yang tumbuh paling konsisten hanya US$0,038 juta. Pertumbuhan ini mencerminkan pembukaan jalur transaksi baru, bukan arus impor yang besar.

Bobot perdagangan tetap berada di komoditas lama. Buah dan buah bertempurung (HS 08) sendiri menyumbang US$5,05 juta, sekitar dua pertiga dari total impor Indonesia dari Iran. Di bawahnya, besi dan baja (HS 72) bernilai US$0,78 juta, mesin dan peralatan mekanis (HS 84) US$0,70 juta, dan bahan kimia organik (HS 29) US$0,44 juta. Empat kelompok ini saja sudah mencakup hampir seluruh nilai impor.

Yang menarik, sebagian komoditas bernilai besar justru melemah. Mesin dan peralatan mekanis turun 77,2%, bahan bakar mineral menyusut 33,8%, dan buah turun 5,2%. Artinya, kontraksi impor tidak berasal dari hilangnya transaksi kecil, melainkan dari melemahnya arus utama.

Mekanismenya menunjukkan perubahan sifat perdagangan. Jalur lama berbasis komoditas besar dan pasokan reguler melemah. Di saat yang sama, muncul pembelian kecil pada bahan antara seperti karet, plastik, tekstil industri, dan perekat, yang biasanya terkait kebutuhan produksi spesifik atau proyek tertentu.

Iran Bergejolak

Seperti diketahui, Iran tengah bergejolak karena dihantam krisis ekonomi hingga politik. Kondisi ini dikhawatirkan berimbas pada hubungan dagang Indonesia dan Iran.

Gelombang demonstrasi yang melanda Iran memasuki fase paling berdarah dalam beberapa dekade terakhir. Di tengah pemadaman komunikasi dan pengerahan besar-besaran aparat keamanan, kelompok pemantau hak asasi melaporkan jumlah korban tewas telah menembus angka 2.000 orang, sementara warga untuk pertama kalinya dalam beberapa hari terakhir kembali bisa menghubungi dunia luar.


Menurut Human Rights Activists News Agency yang berbasis di Amerika Serikat, hingga Selasa (13/1/2026), jumlah korban jiwa akibat protes nasional di Iran mencapai sedikitnya 2.003 orang. Angka ini jauh melampaui korban dalam setiap putaran unjuk rasa atau kerusuhan lain di Iran selama puluhan tahun, bahkan mengingatkan pada kekacauan yang menyertai Revolusi Islam 1979.

CNBC Indonesia Research

(emb/emb)



Most Popular