Ironi Industri Tembakau RI: Jadi Mesin Ekonomi, Nasib Kian Terjepit
Jakarta, CNBC Indonesia - Industri pengolahan kembali menunjukkan kekuatannya sebagai motor utama pertumbuhan ekonomi Indonesia pada awal 2026. Namun, di balik kinerja manufaktur yang semakin solid, terdapat kontras tajam di mana industri mesin dan perlengkapan melesat sementara industri pengolahan tembakau justru masih terpuruk.
Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat industri pengolahan tumbuh 5,04% secara tahunan (year-on-year/yoy) pada kuartal I-2026.
Artinya, sektor manufaktur Indonesia telah tumbuh di atas level 5% selama empat kuartal berturut-turut, menandakan fondasi industri nasional semakin kokoh.
Jika menghitung setoran pajak seperti pajak penghasilan (PPh) ataupun pajak pertambahan nilai (PPN) maka kontribusi industri tembakau lebih besar lagi.
Angka tersebut bisa terlihat dari Laporan Keuangan beberapa perusahaan rokok (terbuka) terbesar di Indonesia. Laporan Keuangan dari beberapa perusahaan tembakau Tbk, menunjukkan 72-75% pendapatan mereka dikembalikan ke negara dalam bentuk cukai dan pajak, baik PPN, pajak daerah hingga PPh.
Proporsi setoran ke negara terhadap total pendapatan yang diperoleh perusahaan rokok terbilang sangat besar bila dibandingkan dengan industri lainnya.
Sebagai perbandingan, raksasa tambang PT Alamtri Resources Indonesia menyetor US$ 248 juta kepada penerimaan negara pada 2025 dalam bentuk PPh hingga royalti. Nilai tersebut hanya 13% dari total pendapatan mereka yang menembus US$ 1,87 miliar.
Raksasa jamu Indonesia PT Industri Jamu Dan Farmasi Sido Muncul menyetor Rp 515,68 miliar kepada negara dalam bentuk PPN hingga PPh. Jumlah tersebut hanya 12,6% dari total pendapatan mereka.
(mae/mae) Add
source on Google