MARKET DATA
Newsletter

RI Dihantam 2 Badai Besar: MSCI Depak 18 Saham & Inflasi AS Memanas

mae,  CNBC Indonesia
13 May 2026 06:32
OJK Kembali "Kopdar" Dengan MSCI
Foto: CNBC Indonesia TV

Hari ini menjadi perdagangan terakhir pada pekan ini sebelum libur panjang peringatan Kenaikan Yesus Kristus. Pelaku pasar perlu mencermati sejumlah sentimen yang akan menjadi penggerak pasar hari ini, baik dari dalam ataupun luar energi,

Sentimen luar negeri akan datang dari perkembangan perang dan data inflasi AS. Rebalancing MSCI akan menjadi penggerak terbesar sentimen hari ini dari dalam negeri.

1. Rebalancing MSCI

Penyedia indeks global Morgan Stanley Capital International (MSCI) resmi mengumumkan hasil tinjauan berkala (semi-annual index review) untuk Mei 2026. Seluruh perubahan komposisi indeks tersebut akan efektif setelah penutupan perdagangan pada 29 Mei 2026 dan mulai tercermin pada perdagangan 1 Juni 2026.

Rebalancing MSCI selalu menjadi perhatian utama pelaku pasar karena berpotensi memicu perubahan signifikan pada arus dana asing. Pasalnya, banyak manajer investasi global, termasuk reksa dana indeks dan exchange traded fund (ETF), menggunakan indeks MSCI sebagai acuan dalam menyusun portofolio.

Dengan demikian, setiap saham yang masuk berpotensi memperoleh tambahan aliran modal, sedangkan saham yang dikeluarkan cenderung menghadapi tekanan jual jangka pendek akibat aksi penyesuaian portofolio investor pasif.

Enam Saham Big Caps RI Terdepak dari MSCI Standard

Dalam evaluasi kali ini, tidak ada satu pun saham Indonesia yang berhasil masuk ke MSCI Global Standard Index. Sebaliknya, MSCI justru mengeluarkan enam emiten berkapitalisasi besar dari indeks utama tersebut.

Keenam saham yang resmi terdepak adalah:

PT Amman Mineral Internasional Tbk (AMMN)
PT Barito Renewables Energy Tbk (BREN)
PT Chandra Asri Pacific Tbk (TPIA)
PT Dian Swastatika Sentosa Tbk (DSSA)
PT Petrindo Jaya Kreasi Tbk (CUAN)
PT Sumber Alfaria Trijaya Tbk (AMRT)

Keluarnya saham-saham tersebut menandakan evaluasi ketat MSCI terhadap faktor kapitalisasi pasar free float, likuiditas, serta keberlanjutan ukuran perusahaan sesuai metodologi indeks global.

AMRT Turun Kelas, Small Cap Juga Dirombak Besar

Di kategori MSCI Global Small Cap Index Indonesia, MSCI hanya menambahkan satu saham, yakni AMRT. Artinya, saham pengelola jaringan minimarket Alfamart tersebut tidak sepenuhnya keluar dari indeks MSCI, melainkan mengalami penurunan klasifikasi dari Global Standard ke Small Cap.

Namun, di luar perpindahan AMRT, MSCI juga menghapus 13 emiten dari indeks Small Cap Indonesia.

Dengan demikian, total terdapat 19 perubahan penghapusan pada indeks MSCI Indonesia. Karena AMRT hanya berpindah kategori, jumlah saham yang benar-benar keluar dari seluruh indeks MSCI mencapai 18 emiten.

Secara historis, perubahan komposisi MSCI kerap memicu lonjakan volume perdagangan dan volatilitas harga saham yang terdampak, terutama menjelang tanggal efektif implementasi.

Saham-saham yang dikeluarkan berpotensi mengalami tekanan jual karena investor institusi global harus menyesuaikan portofolio mereka. Sebaliknya, saham yang tetap bertahan atau memperoleh bobot lebih besar dapat menjadi tujuan aliran modal asing.

2. Perkembangan Perang

Presiden AS Donald Trump menyatakan tidak membutuhkan bantuan Presiden China Xi Jinping untuk mengakhiri perang dengan Iran, meskipun peluang tercapainya perdamaian semakin mengecil.

Trump mengatakan AS akan menyelesaikan konflik "dengan damai atau cara lain." Perang tersebut telah mengganggu jalur pelayaran di Strait of Hormuz, yang biasanya dilalui sekitar 20% pasokan minyak dunia.

Sementara itu, Iran memperkuat kendalinya atas Selat Hormuz dengan menjalin kerja sama dengan Iraq dan Pakistan untuk menyalurkan minyak dan LNG. Negara lain juga dikabarkan mempertimbangkan langkah serupa.

Trump dijadwalkan membahas konflik ini dengan Xi Jinping pekan ini. Washington menuntut Iran menghentikan program nuklir dan membuka kembali Selat Hormuz, sedangkan Teheran menuntut kompensasi perang, pencabutan sanksi, dan penghentian konflik di seluruh kawasan.

Menyusul ketidakpastian perang, harga minyak kembali melonjak. Pada perdagangan Selasa (12/5/2026), kontrak berjangka minyak West Texas Intermediate melonjak 4,19% dan ditutup di US$102,18 per barel. Minyak Brent Crude naik 3,42% ke US$107,77 per barel.

Kenaikan ini berimbas juga pada lonjakan indeks dolar. Indeks dolar ditutup di 98, 298 pada perdagangan kemarin, dari 97,955 pada perdagangan sebelumnya.

Kenaikan indeks ini menandai investor tengah memburu dolar AS dan menjual instrument non-dolar. Kondisi ini bisa memicu outflow dari Indonesia dan menekan rupiah.

3. Inflasi Amerika Melonjak

Inflasi Amerika Serikat naik lebih tinggi dari perkiraan pada April 2026, dipicu terutama oleh lonjakan harga energi. Indeks Harga Konsumen (CPI) meningkat 0,6% secara bulanan dan 3,8% secara tahunan, sedikit di atas ekspektasi pasar. Sementara itu, inflasi inti yang tidak memasukkan makanan dan energi naik 0,4% bulanan dan 2,8% tahunan, masih jauh di atas target 2% Federal Reserve.

Inflasi tahunan yang menembus 3,8% adalah yang tertinggi sejak Mei 2023.

Kenaikan harga energi sebesar 3,8% menyumbang lebih dari 40% dari total inflasi, dengan harga bensin melonjak 28,4% dibanding tahun lalu. Harga pangan juga naik 0,5%, sedangkan biaya perumahan, pakaian, tiket pesawat, dan furnitur turut mengalami kenaikan. Di sisi lain, harga kendaraan baru dan biaya layanan kesehatan justru sedikit menurun.

Data ini juga menunjukkan tekanan terhadap daya beli masyarakat. Upah riil rata-rata per jam turun 0,5% pada April dan 0,3% dibandingkan setahun sebelumnya, yang berarti inflasi kembali menggerus kenaikan pendapatan pekerja.

Setelah laporan dirilis, pasar meningkatkan peluang kenaikan suku bunga Federal Reserve menjadi sekitar 30% hingga akhir tahun. Meski demikian, ekonomi AS masih dinilai cukup tangguh, didukung belanja konsumen yang tetap kuat, laba perusahaan yang solid, dan proyeksi pertumbuhan ekonomi kuartal II sebesar 3,7%.

4. Royalti Ditunda, Penerimaan Besar Tak Jadi Masuk

Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa mengaku akan mendapatkan potensi penerimaan yang berlimpah dari hasil kebijakan kenaikan tarif royalti komoditas tambang seperti batu bara hingga nikel.
Mulanya, kebijakan itu kata Purbaya akan berlaku pada Juni 2026. Namun, Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia memutuskan untuk menunda kebijakan itu sampai batas waktu yang belum ditentukan.

"Kalau angka yang baru diterapkan, income saya akan meningkat dengan signifikan tanpa menciptakan keributan. Tapi itu tergantung Pak Bahlil nanti berapa hitungannya. Saya tunggu dari Pak Bahlil," kata Purbaya di kantornya, Jakarta, Selasa (12/5/2026).

"Tapi hitungan kita sejujurnya lebih tinggi dibandingkan kalau kita terapkan langkah-langkah yang sebelumnya," tegasnya.

Ketika dikonfirmasi seberapa besar nilai potensi penerimaan negara bukan pajak (PNBP) dari royalti komoditas tambang itu, Purbaya mengatakan bisa mencapai lebih dari Rp 200 triliun. "Yang disebutkan sih lebih," ungkapnya.

Meski begitu, ia menegaskan, keputusan penundaan itu sepenuhnya ada di tangan Menteri ESDM Bahlil Lahadalia, sehingga Kementerian Keuangan akan mengikuti. Namun, ia berencana mengusulkan kebijakan yang baru untuk mengompensasi potensi penerimaan yang tak jadi terpungut itu.

(mae/mae) Add logo_svg as a preferred
source on Google


Most Popular
Features