RI Dihantam 2 Badai Besar: MSCI Depak 18 Saham & Inflasi AS Memanas
Dari bursa AS, Wall Street ditutup beragam pada perdagangan Selasa atau Rabu dini hari waktu Indonesia.
Indeks S&P 500 ditutup melemah tertekan oleh penurunan saham-saham teknologi dan lonjakan harga minyak, setelah pelaku pasar merespons data inflasi konsumen Amerika Serikat yang lebih tinggi dari perkiraan pada April.
Indeks S&P 500, turun 0,16% ke level 7.400,96. Sementara itu, Nasdaq Composite merosot 0,71% ke 26.088,20. Di sisi lain, Dow Jones Industrial Average naik 56,09 poin atau 0,11% dan berakhir di 49.760,56.
Saham Micron Technology, yang sehari sebelumnya memimpin reli hingga membawa S&P 500 dan Nasdaq mencetak rekor tertinggi, berbalik turun 3,6%.
Padahal, saham ini telah melonjak lebih dari 37% dalam sepekan dan sekitar 53% dalam sebulan terakhir seiring reli saham produsen chip memori.
Saham Advanced Micro Devices (AMD) dan Qualcomm juga melemah masing-masing 2% dan 11%. Pada April, AMD sempat melesat lebih dari 74%, sedangkan Qualcomm naik lebih dari 39%.
Sementara itu, kontrak berjangka minyak West Texas Intermediate melonjak 4,19% dan ditutup di US$102,18 per barel. Minyak Brent Crude naik 3,42% ke US$107,77 per barel.
Kenaikan tersebut memperpanjang penguatan sehari sebelumnya setelah Presiden Donald Trump menyebut gencatan senjata antara AS dan Iran yang telah berlangsung sebulan sebagai sesuatu yang "sangat lemah" dan "nyaris kolaps", setelah menolak proposal balasan dari Teheran yang dianggap "tidak dapat diterima" untuk mengakhiri perang.
Dalam proposal terbarunya, Iran menuntut kompensasi perang, kedaulatan penuh atas Strait of Hormuz, pencairan aset Iran yang dibekukan, serta pencabutan sanksi ekonomi.
Dengan harga energi yang tinggi, investor kini mencermati dampak perang Iran terhadap inflasi dan belanja konsumen, yang masih menyumbang sekitar dua pertiga dari perekonomian AS.
Pada April, Consumer Price Index naik 0,6% secara bulanan, sehingga laju inflasi tahunan mencapai 3,8%.
Kenaikan bulanan ini sesuai ekspektasi, namun lebih tinggi dari perkiraan ekonom yang disurvei Dow Jones, yaitu 3,7% secara tahunan. Angka tersebut merupakan tingkat inflasi tertinggi sejak Mei 2023.
"Ini memang belum seperti longsoran besar, tetapi pergerakannya naik secara konsisten," kata Thomas Martin, Senior Portfolio Manager di Globalt Investments kepada CNBC International.
Ia menambahkan bahwa inflasi kemungkinan akan terus meningkat selama konflik di Timur Tengah berlanjut dan negosiasi antara AS dan Iran belum menunjukkan kemajuan berarti.
"Ketika harga bensin dan berbagai kebutuhan lain terus naik, semakin banyak konsumen yang akan tertekan. Kondisinya menunjukkan bahwa rumah tangga AS masih akan menghadapi tantangan ke depan," ujarnya.
(mae/mae) Addsource on Google