MARKET DATA
Newsletter

Badai Sentimen Datang, IHSG & Rupiah Terancam Tersungkur Terus?

Emanuella Bungasmara Ega Tirta,  CNBC Indonesia
04 May 2026 06:35
Seorang pria berjalan di Wall Street di luar Bursa Saham New York (NYSE) di Kota New York, AS, 7 April 2025. (REUTERS/Brendan McDermid//File Foto)
Foto: Ilustrasi Trading (Dok MIFX)

Reli pasar saham Amerika Serikat (AS) diperkirakan akan kembali diuji pada pekan ini seiring investor mencermati gelombang baru laporan kinerja emiten serta data ketenagakerjaan terbaru. Hal ini terjadi di tengah lonjakan harga minyak dan sikap bank sentral yang semakin agresif.

Indeks utama Wall Street pada akhir pekan lalu ditutup beragam setelah bangkit tajam sepanjang April dari kekhawatiran dampak ekonomi perang Timur Tengah. Kinerja laba perusahaan yang kuat menjadi penopang utama optimisme pasar, sekaligus meredam berbagai tekanan eksternal.

Indeks S&P 500 naik 0,29% dan ditutup di level 7.230,12.

Sementara itu,Nasdaq Com

posite menguat 0,89% hingga mencapai rekor tertinggi sepanjang masa di 25.114,44. Kedua indeks tersebut sama-sama mencetak rekor penutupan baru.

Di sisi lain, Dow Jones Industrial Average justru melemah 152,87 poin atau 0,31% ke posisi 49.499,27.

Indeks acuan S&P 500 dan Nasdaq Composite mencatat kenaikan bulanan terbesar sejak 2020. Sepanjang April, S&P 500 melonjak lebih dari 10%, sementara Nasdaq melesat lebih dari 15%, dan keduanya melanjutkan kenaikan di awal Mei.

Namun, di balik reli tersebut, mulai muncul tarik-menarik sentimen.

"Di satu sisi kita melihat lonjakan laba perusahaan, tapi di sisi lain ada tekanan dari kenaikan harga minyak dan imbal hasil obligasi," ujar Angelo Kourkafas dari Edward Jones, dikutip dari Refinitiv.Ia menilai pasar berpotensi memasuki fase konsolidasi setelah reli kuat sepanjang April.

Harga minyak sempat melonjak tajam, dengan Brent menembus US$120 per barel sebelum akhirnya terkoreksi.

Lonjakan ini dipicu konflik AS-Israel dengan Iran yang mengganggu pasokan global. Meski sempat ada harapan dari gencatan senjata, ketegangan yang masih berlangsung membuat pasar tetap waspada.

"Setiap hari yang berlalu, risiko ekonomi semakin besar," kata Jeff Buchbinder dari LPL Financial.

Dia mengingatkan, jika harga minyak tetap di atas US$120 dalam beberapa bulan ke depan, dampaknya terhadap ekonomi global bisa jauh lebih serius.

Musim Laporan Keuangan Memanas

Lebih dari 100 perusahaan dalam indeks S&P 500 dijadwalkan merilis laporan keuangan pekan ini. Secara keseluruhan, laba emiten diperkirakan melonjak 27,8% pada kuartal I-2026 dibandingkan tahun sebelumnya. Ini menjadi pertumbuhan tercepat sejak akhir 2021.

Sejumlah raksasa teknologi sebelumnya telah merilis kinerja dengan hasil beragam.

 

Saham Alphabet melonjak berkat pertumbuhan kuat bisnis cloud, sementara Microsoft dan Meta Platforms justru melemah setelah hasil yang kurang memuaskan pasar.

Pekan ini, perhatian akan tertuju pada laporan dari Palantir Technologies, The Walt Disney Company, serta McDonald's.

Selain itu, kinerja Advanced Micro Devices (AMD) juga menjadi sorotan utama. Saham AMD telah melonjak lebih dari 80% sejak akhir Maret, seiring euforia sektor semikonduktor dan kecerdasan buatan.

"Ini sektor yang mendominasi pergerakan pasar saat ini. Setiap data baru akan sangat krusial," ujar Michael O'Rourke dari JonesTrading.

Data Tenaga Kerja Jadi Kunci, Harapan Pemangkasan Bunga Memudar

Selain laporan keuangan, investor juga menanti data ketenagakerjaan AS untuk April yang akan dirilis 8 Mei. Ekonom memperkirakan penambahan 60.000 lapangan kerja.

Angka ini melambat dari 178.000 pada Maret, namun lebih baik dibanding penurunan tajam pada Februari.

"Pasar tenaga kerja memang melambat, tapi masih cukup bertahan," kata Buchbinder.

Data ini menjadi krusial di tengah memudarnya harapan pemangkasan suku bunga. Rapat terbaru Federal Reserve menunjukkan perpecahan internal, dengan sejumlah pejabat menilai risiko inflasi masih tinggi dan bahkan membuka peluang kenaikan suku bunga.

 

Sikap hawkish tersebut, ditambah lonjakan harga minyak, mendorong imbal hasil obligasi pemerintah AS naik ke level tertinggi dalam sebulan. Yield obligasi tenor 10 tahun tercatat di kisaran 4,38%.

Kenaikan yield ini berpotensi menjadi ancaman bagi pasar saham, karena meningkatkan biaya pinjaman bagi konsumen dan dunia usaha.

"Jika yield 10 tahun menembus 4,5%, investor akan mulai mempertanyakan valuasi saham," ujar Kourkafas.

(emb/emb) Add logo_svg as a preferred
source on Google


Most Popular
Features