Badai Sentimen Datang, IHSG & Rupiah Terancam Tersungkur Terus?
Pekan ini dibuka dengan serangkaian rilis data yang langsung menyentuh denyut utama pasar inflasi domestik, neraca dagang, hingga indikator tenaga kerja Amerika Serikat.
Arah pergerakan aset berisiko akan sangat bergantung pada apakah tekanan harga mereda dan apakah ekonomi global masih cukup kuat menahan suku bunga tinggi.
Di saat yang sama, harga energi yang masih tinggi dan gangguan rantai pasok global menjaga tekanan biaya tetap hidup. Kondisi ini membuat pelaku pasar cenderung menahan posisi sambil menunggu kepastian dari data yang masuk satu per satu.
Berikut agenda ekonomi sepanjang pekan ini:
Perkembangan Perang
residen Donald Trump mengatakan pada Minggu bahwa Amerika Serikat akan mencoba "membebaskan" kapal-kapal kargo yang terjebak akibat penutupan Selat Hormuz sejak perang dengan Iran dimulai.
Upaya tersebut, yang oleh Trump dalam unggahannya di Truth Social disebut sebagai "Project Freedom", dijadwalkan dimulai pada Senin. Presiden menyatakan bahwa operasi ini hanya difokuskan untuk mengevakuasi kapal sipil dari negara-negara yang tidak terlibat konflik, agar dapat kembali beroperasi secara normal.
"Saya telah meminta perwakilan saya untuk memberi tahu mereka bahwa kami akan berupaya semaksimal mungkin untuk mengeluarkan kapal dan awaknya dengan aman dari selat tersebut," ujar Trump. "Dalam semua kasus, mereka menyatakan tidak akan kembali sampai wilayah itu aman untuk navigasi."
Trump tidak merinci bagaimana AS akan menjalankan operasi tersebut, termasuk peran militer AS di dalamnya. Belum jelas pula apakah Iran akan mengizinkan operasi ini tanpa gangguan di tengah konflik yang masih berlangsung, serta kapan selat tersebut akan kembali dibuka untuk pelayaran normal.
Gedung Putih dan Department of Defense belum memberikan tanggapan atas permintaan informasi lebih lanjut.
Sejak perang pecah, Selat Hormuz sebagian besar tidak dapat dilalui, membuat banyak kapal kargo terjebak dan mengganggu rantai pasok global. Sekitar 20% pasokan minyak mentah dunia melewati jalur ini, sehingga penutupan tersebut mendorong lonjakan harga minyak dan bensin, termasuk di AS.
Upaya terbaru ini tampaknya bukan untuk memulihkan kebebasan navigasi sepenuhnya, melainkan hanya memungkinkan kapal-kapal yang terjebak untuk keluar dengan aman. Iran dilaporkan menghambat pelayaran dengan menembaki kapal yang mencoba melintas serta menempatkan ranjau di jalur tersebut.
Neraca Perdagangan dan Inflasi Indonesia
Badan Pusat Statistik dijadwalkan merilis data inflasi dan neraca perdagangan Maret pada Senin (4/5). Inflasi Indonesia diperkirakan naik secara bulanan pada April 2026, salah satunya karena ada lonjakan harga BBM non-subsidi.
Konsensus pasar yang dihimpun CNBC Indonesia dari 13 institusi memperkirakan Indeks Harga Konsumen (IHK) pada April 2026 akan mengalami inflasi 0,43% secara bulanan (month-to-month/mtm) dengan median inflasi tahunan 2,72% (year-on-year/yoy).
Sementara itu, inflasi inti pada April 2026 diperkirakan berada di level 2,40% yoy.
Sebagai catatan, pada Maret 2026 Indonesia mengalami inflasi 0,41% (mtm), sementara secara tahunan inflasi tercatat 3,48% (yoy) dan inflasi inti mencapai 2,63% (yoy).
Kepala ekonom Bank Maybank Indonesia, Juniman, menjelaskan kenaikan inflasi bulanan disumbang beras, gula, minyak goreng, daging sapi, daging ayam, gandum, kedelai, dan cabai merah.
Kenaikan harga BBM nonsubsidi (Pertamax Turbo, Pertamina Dex, dan Dexlite) juga mengalami kenaikan.
"Pelemahan rupiah turut mendorong kenaikan inflasi impor. Sementara itu, seiring penurunan harga emas dunia, harga emas dan perhiasan mengalami penurunan pada bulan Maret," tutur Juniman, kepada CNBC Indonesia.
Sebagai catatan, pemerintah menaikkan sejumlah harga BBM non-subsidi per 18 April 2026. Harga Pertamax Turbo melonjak 48,1% dari Rp13.100 per liter menjadi Rp19.400 per liter.
Tak hanya itu, Dexlite juga naik 66,2% dari Rp14.200 per liter menjadi Rp23.600 per liter. Sementara Pertamina Dex naik 64,8% dari Rp14.500 per liter menjadi Rp23.900 per liter.
Sementara iitu data BPS menunjukkan pada Februari 2026, surplus tercatat sebesar US$1,28 miliar, turun tajam dari US$3,09 miliar pada periode yang sama tahun lalu dan berada di bawah ekspektasi pasar.
Pergerakan ini dipicu oleh impor yang tumbuh 10,85% secara tahunan menjadi US$20,89 miliar, sementara ekspor hanya naik 1,01%. Kenaikan ekspor ditopang oleh lemak dan minyak nabati serta mesin listrik, sementara ekspor migas tertekan akibat penurunan tajam minyak mentah.
Jika pola ini berlanjut, ruang surplus berpotensi tetap tipis. Kondisi tersebut akan memengaruhi persepsi terhadap kekuatan eksternal Indonesia, terutama di tengah kebutuhan pembiayaan impor yang masih tinggi.
PMI Manufaktur RI
Hari ini, S&P Global juga akan mengumumkan aktivitas manufaktur Indonesia pada April 2026. Data Purchasing Managers' Index (PMI) yang dirilis S&P Global bulan lalu menunjukkan PMI Indonesia berada di 50,1 pada Maret 2026. Angka ini adalah yang terendah sejak Juli 2025 atau delapan bulan terakhir.
Kendati melandai, PMI Indonesia masih dalam fase ekspansif selama delapan bulan beruntun.
PMI menggunakan angka 50 sebagai titik mula. Jika di atas 50, maka artinya dunia usaha sedang dalam fase ekspansi. Sementara di bawah itu artinya kontraksi.
PMI ambruk karena terjadii penurunan baik pada volume produksi maupun pesanan baru sepanjang Maret.
Data Maret menunjukkan adanya penurunan kembali pada tingkat produksi setelah empat bulan berturut-turut mengalami pertumbuhan dan lonjakan signifikan pada Februari.
Cadangan Devisa
Bank Indonesia akan mengumumkan data cadangan devisa April pada Jumat (8/5/2026). Cadangan devisa ini diperkirakan akan turun karena operasi moneter yang dilakukan BI pada April 2026 untuk menahan kejatuhan rupiah.
Sebagai catatan, cadangan devisa (cadev) Indonesia tersisa US$ 148,2 miliar pada Maret 2026, merosot sekitar US$ 3,7 miliar dibanding catatan bulan sebelumnya US$ 151,9 miliar.
Factory Orders dan Sinyal Industri AS
Dari Amerika Serikat, data factory orders Maret akan dirilis pada Senin malam waktu Indonesia. Pada Februari, indikator ini stagnan setelah sebelumnya tumbuh 0,4%.
Kondisi tersebut menggambarkan sektor manufaktur yang mulai kehilangan momentum. Permintaan yang melemah dapat berdampak pada produksi dan investasi, terutama ketika biaya pembiayaan masih tinggi.
Jika kontraksi berlanjut, pasar akan mulai menyesuaikan ekspektasi terhadap daya tahan ekonomi AS di kuartal kedua.
Pertumbuhan Ekonomi Kuartal I-2026
Badan Pusat Statistik (BPS) akan mengumumkan data pertumbuhan ekonomi kuartal I-2026 pada Selasa (5/5/2026). Data ini sangat penting dalam melihat sejauh mana ketahanan ekonomi Tanah Air menghadapi guncangan global di awal tahun.
Pertumbuhan ekonomi pada kuartal I-2026 diperkirakan masih tinggi karena dampak Lebaran dan Ramadan serta libur panjang.
Sebagai catatan, Ramadan adalah puncak konsumsi di Indonesia. Pada kuartal I-2025, ekonomi Indonesia tumbuh 4,87% secara year-on-year (yoy), melambat dari periode yang sama tahun sebelumnya dan mencatat kontraksi 0,98% dibandingkan kuartal IV-2024 (q-to-q).
ISM Services dan JOLTS
Memasuki Selasa (5/5), dua indikator penting dari sektor jasa dan tenaga kerja akan dirilis. ISM Services PMI Maret berada di level 54, turun dari 56,1 pada Februari. Penurunan ini dipicu oleh melemahnya aktivitas bisnis dan penyerapan tenaga kerja.
Di saat yang sama, indeks harga dalam survei tersebut justru naik ke level tertinggi sejak 2022, didorong oleh kenaikan biaya energi dan gangguan logistik.
Untuk pasar tenaga kerja, lowongan kerja turun menjadi 6,882 juta pada Februari. Penurunan terjadi di berbagai sektor dan wilayah, mengindikasikan permintaan tenaga kerja mulai melandai.
Kombinasi perlambatan aktivitas dan tekanan biaya akan menjadi faktor penting dalam membaca arah inflasi ke depan.
Non-Farm Payrolls dan Tingkat Pengangguran AS
Menjelang akhir pekan, fokus pasar akan tertuju pada laporan ketenagakerjaan AS pada Jumat (8/5). Pada Maret, ekonomi AS menambah 178 ribu lapangan kerja, jauh di atas ekspektasi.
Kenaikan terutama terjadi di sektor kesehatan, konstruksi, dan transportasi. Di sisi lain, sektor pemerintahan federal dan aktivitas keuangan mencatat penurunan.
Tingkat pengangguran berada di 4,3%, dengan partisipasi angkatan kerja yang sedikit menurun. Data terbaru akan menentukan apakah pasar tenaga kerja masih cukup kuat atau mulai kehilangan tenaga.
Hasil yang terlalu kuat berpotensi menjaga tekanan suku bunga tetap tinggi. Sebaliknya, pelemahan signifikan akan membuka ruang penyesuaian ekspektasi kebijakan.
Kepercayaan Konsumen AS
Indeks sentimen konsumen awal Mei juga akan dirilis pada hari yang sama yakni Jumat. Pada April, indeks berada di 49,8, mencerminkan keyakinan yang masih rendah.
Perubahan kecil pada indikator ini sering kali berdampak besar terhadap ekspektasi konsumsi, yang menjadi tulang punggung ekonomi AS.
Data Perdagangan China
Menutup pekan ini, China akan merilis data perdagangan April pada Sabtu (9/5). Pada Maret, surplus perdagangan turun ke US$51,13 miliar, level terendah dalam lebih dari setahun.
Ekspor hanya tumbuh 2,5% akibat faktor musiman dan basis tinggi tahun lalu. Di sisi lain, impor melonjak 27,8% dan mencatat rekor tertinggi, didorong oleh kebutuhan bahan baku dan pembelian teknologi.
Lonjakan impor mencerminkan upaya mengamankan pasokan di tengah gangguan global. Namun, perlambatan ekspor tetap menjadi catatan penting bagi prospek permintaan global.
rilis terbaru akan menjadi penutup pekan yang menentukan arah sentimen, terutama bagi pasar komoditas dan negara dengan ketergantungan ekspor tinggi.
source on Google