MARKET DATA
Newsletter

The Fed Tahan Suku Bunga, Purbaya dan BI Beberkan Strategi Hari Ini

Elvan Widyatama,  CNBC Indonesia
30 April 2026 06:21
U.S. Federal Reserve Chair Jerome Powell speaks during a press conference, following the issuance of the Federal Open Market Committee's statement on interest rate policy, in Washington, D.C., U.S., September 17, 2025. REUTERS/Elizabeth Frantz
Foto: REUTERS/Elizabeth Frantz

Memasuki perdagangan terakhir pekan ini, pelaku pasar keuangan Tanah Air akan mencermati sejumlah sentimen penting dari luar negeri.

Fokus utama pasar hari ini tertuju pada hasil keputusan suku bunga The Federal Reserve, rilis PMI Manufaktur China, inflasi Personal Consumption Expenditures atau PCE Amerika Serikat (AS), serta data klaim pengangguran AS.

The Fed Makin Terpecah

kembali mempertahankan suku bunga di level 3,50-3,75%. Keputusan ini diambil di tengah besarnya perpecahan suara dalam tubuh The Fed.

Dalam rapat yang kemungkinan menjadi pertemuan terakhir Ketua Jerome Powell sebagai pimpinan,gelombang pejabat menentang pernyataan bahwa pemangkasan suku bunga lebih lanjut masih mungkin dilakukan.

Suara anggota FOMC terbelah dengan hasil 8-4, di mana para pejabat memiliki alasan berbeda atas pilihan mereka. Jumlah dissenting vote (suara berbeda) in adalah yang tetringgi sejak Oktober 1992.

Gubernur Stephen Miran kembali menyampaikan dissent demi mendukung pemangkasan suku bunga 25 basis poin, seperti yang ia lakukan sejak bergabung ke bank sentral pada September 2025.

Tiga suara "tidak" lainnya berasal dari Presiden Fed regional: Beth Hammack dari Cleveland, Neel Kashkari dari Minneapolis, dan Lorie Logan dari Dallas. Mereka setuju suku bunga ditahan, tetapi menolak adanya bias dovish dalam pernyataan resmi.

Masalah utama ketidaksepakatan adalah kalimat berikut:

"Dalam mempertimbangkan besaran dan waktu penyesuaian tambahan terhadap target suku bunga dana federal, Komite akan secara hati-hati menilai data yang masuk, prospek yang berkembang, dan keseimbangan risiko."

Frasa tersebut mengindikasikan langkah berikutnya kemungkinan penurunan suku bunga, karena penggunaan kata "tambahan" menunjukkan aksi terakhir The Fed adalah pemangkasan.

Perdebatan utama soal sinyal pemangkasan ke depan. Sejumlah pejabat khawatir inflasi masih tinggi, apalagi terdorong lonjakan harga energi. The Fed kini menyebut inflasi "masih tinggi," bukan lagi "agak tinggi."

Inflasi AS tercatat 3,3% (Maret 2026), tertinggi sejak 2024, sementara pasar tenaga kerja masih solid namun melambat.

Rapat ini kemungkinan terakhir bagi Jerome Powell sebagai ketua. Kevin Warsh diperkirakan segera menggantikan, meski Powell memberi sinyal tetap bertahan sebagai gubernur hingga investigasi internal selesai.

Rapat KSSK

Komite Stabilitas Sistem Keuangan (KSSK) akan menggelar konferensi pers hasil rapat berkala KSSK II Tahun 2026. Konferensi pers akan dihadiri sejumlah pejabat mulai dari Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa, Gubernur BI Perry Warjiyo, Ketua Otoritas Jasa Keuangan Friderica Widyasari Dewi, hingga Kepala Lembaga Penjamin Simpanan (LPS) Anggito Abimanyu.

Menarik disimak seperti apa pernyataan dari KSSK di tengah melambungnya harga minyak serta memanasnya perang. Perlu ditunggu juga apa ada kebijakan baru dari pemerintah, OJK hingga BI dalam mengantisipasi dampak perang.

Perkembangan Perang

Presiden Donald Trump membahas cara mengurangi dampak blokade pelabuhan Iran yang berpotensi berlangsung berbulan-bulan dengan perusahaan minyak,

Pembicaraan dengan eksekutif minyak pada Selasa terjadi setelah kebuntuan dalam upaya menyelesaikan konflik, yang mendorong United States menekan ekspor minyak Iran melalui blokade laut guna memaksa pembukaan kembali Selat Hormuz.

Di tengah saling ancam antara Washington dan Teheran, Pakistan berupaya menjadi mediator untuk mencegah eskalasi, sambil kedua pihak terus bertukar pesan terkait potensi kesepakatan.

Trump mengatakan Iran bisa menghubungi jika ingin berunding, namun juga menyindir bahwa Teheran "tidak mampu bertindak dengan benar."

Gedung Putih menyebut Trump dan eksekutif minyak membahas langkah untuk menstabilkan pasar minyak global serta opsi melanjutkan blokade selama berbulan-bulan sambil meminimalkan dampak bagi konsumen AS.

Harga minyak melonjak lebih dari 6% pada Rabu, dengan kontrak Brent mencapai level tertinggi dalam satu bulan, didorong prospek blokade jangka panjang.

Konflik ini telah menelan biaya sekitar US$25 miliar bagi militer AS, menurut pejabat senior Pentagon-estimasi resmi pertama dari biaya perang tersebut.

Iran berjanji akan terus mengganggu lalu lintas di Selat Hormuz selama masih mendapat ancaman, yang berpotensi memperparah gangguan pasokan minyak global. Konflik ini telah menewaskan ribuan orang dan mengguncang ekonomi dunia.

Teheran juga memperingatkan akan melakukan "aksi militer yang belum pernah terjadi sebelumnya" jika blokade terus berlanjut. Trump menegaskan Iran tidak boleh memiliki senjata nuklir, sementara Iran menyatakan program nuklirnya bersifat damai.

Trump bahkan menyindir Iran di media sosial: "Mereka tidak tahu bagaimana menandatangani kesepakatan non-nuklir. Lebih baik segera sadar!"

PMI Manufaktur China

Data RatingDog China Manufacturing PMI untuk April 2026 dijadwalkan keluar pada Kamis (30/4/2026).

Pada Maret 2026, PMI Manufaktur China turun ke level 50,8, dari 52,1 pada Februari. Angka tersebut masih berada di atas level 50, yang berarti sektor manufaktur China masih berada di zona ekspansi. Namun, penurunan ini menunjukkan laju ekspansi mulai melambat.

Data PMI China penting bagi pasar Asia karena China merupakan salah satu motor utama permintaan komoditas dan rantai pasok kawasan. Ketika aktivitas manufaktur China menguat, permintaan terhadap energi, logam, batu bara, dan bahan baku industri biasanya ikut terdorong.

Sebaliknya, jika PMI China kembali melemah, pasar bisa khawatir permintaan dari ekonomi terbesar kedua dunia tersebut mulai kehilangan tenaga. Kondisi ini dapat menekan harga komoditas dan

Inflasi PCE Amerika

Sentimen berikutnya datang dari AS. Pasar akan mencermati rilis Personal Consumption Expenditures atau PCE Price Index AS. Data ini penting karena PCE merupakan salah satu ukuran inflasi yang paling diperhatikan The Fed.

Terlebih, bank sentral AS baru saja menggelar rapat Federal Open Market Committee atau FOMC, sehingga data inflasi ini akan menjadi bahan utama pasar untuk membaca arah suku bunga berikutnya.

Pada Februari 2026, indeks harga PCE AS naik 0,4% secara bulanan, sesuai ekspektasi pasar dan lebih tinggi dibandingkan kenaikan Januari yang sebesar 0,3%. Kenaikan bulanan ini menjadi yang paling tajam dalam satu tahun terakhir.

Kenaikan tersebut terutama didorong oleh harga barang yang melonjak 0,7%, setelah stagnan pada Januari. Harga kendaraan bermotor dan suku cadang, barang rekreasi, bensin, pakaian, serta makanan menjadi beberapa komponen yang ikut mendorong kenaikan harga.

Sementara itu, inflasi sektor jasa justru melambat menjadi 0,2%, dari sebelumnya 0,4%. Perlambatan ini dipengaruhi oleh meredanya tekanan harga pada layanan kesehatan, jasa keuangan, dan jasa rekreasi.

Dari sisi inflasi inti, core PCE yang tidak memasukkan komponen makanan dan energi juga naik 0,4% secara bulanan, setelah meningkat 0,3% pada Januari. Secara tahunan, inflasi PCE utama berada di 2,8%, sama seperti bulan sebelumnya dan sesuai ekspektasi pasar.

Adapun core PCE tahunan bertahan di 3,0%. Angka ini masih berada di atas target inflasi The Fed sebesar 2%, sehingga menunjukkan tekanan harga di AS belum sepenuhnya mereda.

Bagi pasar, data PCE kali ini akan menjadi ujian penting. Jika inflasi PCE kembali lebih panas dari perkiraan, ekspektasi pemangkasan suku bunga The Fed dapat semakin berkurang. Kondisi tersebut berpotensi membuat dolar AS tetap kuat dan menekan mata uang negara berkembang, termasuk rupiah.

Sebaliknya, jika data PCE menunjukkan tekanan harga mulai melandai, pasar bisa kembali berharap The Fed memiliki ruang lebih besar untuk melonggarkan kebijakan pada semester berikutnya. Skenario ini dapat memberi sentimen positif bagi obligasi, saham, dan aset emerging market.

Klaim Pengangguran AS

Sentimen berikutnya masih datang dari AS. Pasar juga akan mencermati klaim awal tunjangan pengangguran AS yang menjadi salah satu indikator paling cepat untuk membaca kondisi pasar tenaga kerja AS.

Jika klaim pengangguran naik tajam, pasar bisa menilai tekanan di pasar tenaga kerja mulai meningkat. Sebaliknya, jika klaim tetap rendah, hal itu menunjukkan perusahaan masih relatif enggan melakukan pemutusan hubungan kerja.

Pada pekan yang berakhir 18 April 2026, jumlah warga AS yang mengajukan klaim awal tunjangan pengangguran naik 6.000 menjadi 214.000. Angka ini sedikit di atas posisi sebelumnya, tetapi masih tidak jauh dari ekspektasi pasar yang berada di 212.000.

Sementara itu, klaim lanjutan pengangguran naik 12.000 menjadi 1,821 juta pada pekan sebelumnya. Data ini sering dilihat sebagai gambaran jumlah pengangguran yang masih menerima tunjangan dan belum kembali bekerja.

Meski naik, klaim awal maupun klaim lanjutan masih berada di bawah rata-rata tahun sebelumnya. Kondisi ini menunjukkan aktivitas PHK di AS masih relatif rendah, sejalan dengan pandangan The Fed bahwa pasar tenaga kerja belum menunjukkan pelemahan besar.

(evw/evw) Add logo_svg as a preferred
source on Google


Most Popular
Features