Pasar keuangan Indonesia diperkirakan masih akan bergerak volatil pada hari ini, Kamis (30/4/2026). Perdagangan hari ini juga menjadi perdagangan terakhir pada pekan ini karena pasar keuangan domestik akan libur pada Jumat (1/5/2026) dalam rangka Hari Buruh.
Selengkapnya mengenai sentimen pasar hari ini bisa dibaca pada halaman 3 artikel ini.
IHSG ditutup menguat 0,41% ke level 7.101,22 pada perdagangan Rabu kemarin. Penguatan ini sekaligus menjadi pembalikan arah setelah IHSG melemah dalam tujuh hari perdagangan beruntun.
Sepanjang perdagangan kemarin, sebanyak 379 saham menguat, 282 saham melemah, dan 154 saham tidak bergerak. Nilai transaksi mencapai Rp17,24 triliun, dengan melibatkan 42,97 miliar saham dalam 2,45 juta kali transaksi.
Investor asing masih mencatat aksi jual bersih atau net sell sebesar Rp1,19 triliun di pasar saham domestik.
Mengutip data IDX, penguatan IHSG ditopang sejumlah saham berkapitalisasi besar. PT Telkom Indonesia (Persero) Tbk. (TLKM) menjadi penopang utama setelah naik 1,77% dan menyumbang 5,22 poin terhadap IHSG.
Selain TLKM, PT Impack Pratama Industri Tbk. (IMPC) melesat 7,44% dan memberi kontribusi 4,84 poin. PT Pacific Strategic Financial Tbk. (APIC) juga naik 14,50% dengan kontribusi 4,06 poin, disusul PT GoTo Gojek Tokopedia Tbk. (GOTO) yang menguat 3,77% dan menyumbang 3,93 poin.
Dari sisi sektoral, mayoritas sektor berada di zona hijau. Penguatan terbesar dicatatkan sektor industrial yang naik 2,41%, disusul infrastruktur 1,48%, barang konsumen primer 1,45%, dan finansial 1,04%.
Sektor teknologi juga menguat 0,82%, barang konsumen non-primer naik 0,84%, energi naik 0,45%, properti dan real estat menguat 0,39%, serta transportasi dan logistik naik 0,31%.
Meski begitu, tekanan masih terlihat di beberapa sektor. Sektor bahan baku melemah 1,08%, sementara sektor kesehatan terkoreksi tipis 0,09%.
Di sisi pemberat, PT Chandra Asri Pacific Tbk. (TPIA) menjadi penekan utama IHSG setelah turun 4,50% dan menyeret indeks sebesar 5,17 poin. PT Dian Swastatika Sentosa Tbk. (DSSA) juga melemah 2,55% dan menekan IHSG 3,97 poin.
Dari pasar mata uang, nilai tukar rupiah ditutup melemah terhadap dolar AS pada perdagangan Rabu kemarin.
Tekanan terhadap rupiah sudah terlihat sejak awal perdagangan. Rupiah dibuka melemah 0,26% ke level Rp17.255/US$, kemudian pelemahannya sempat semakin dalam hingga menyentuh Rp17.335/US$.
Pelemahan rupiah pada perdagangan kemarin masih banyak dipengaruhi faktor eksternal, terutama arah dolar AS di pasar global menjelang pengumuman suku bunga bank sentral AS atau The Federal Reserve.
Dolar AS cenderung menguat pada perdagangan Rabu, seiring sikap investor yang menunggu keputusan suku bunga The Fed. Pertemuan kali ini juga menjadi perhatian karena diperkirakan menjadi salah satu momen terakhir Jerome Powell sebagai Ketua The Fed.
Selain agenda The Fed, ketidakpastian perang di Timur Tengah masih menjadi sumber tekanan bagi pasar global.
Harga minyak naik pada perdagangan Selasa karena investor menilai konflik Iran belum menunjukkan tanda-tanda penyelesaian. Kabar Uni Emirat Arab memangkas hubungan dengan OPEC turut menambah perhatian pasar terhadap arah pasokan energi global.
Kenaikan harga minyak juga menekan pasar obligasi AS. Harga obligasi turun, sementara imbal hasilnya naik, karena investor khawatir harga energi yang tinggi dapat kembali mendorong tekanan inflasi.
Kondisi tersebut membuat ruang gerak rupiah semakin terbatas. Ketika dolar AS menguat dan investor memilih aset aman, mata uang negara berkembang seperti rupiah biasanya menjadi lebih rentan tertekan.
Beralih ke pasar obligasi, imbal hasil Surat Berharga Negara (SBN) tenor 10 tahun naik tajam pada penutupan perdagangan Rabu. Yield SBN 10 tahun melonjak 2,63% ke level 6,957%, semakin mendekati level psikologis 7%.
Sebagai catatan, kenaikan imbal hasil mengindikasikan harga SBN sedang turun. Kondisi ini biasanya terjadi ketika pelaku pasar cenderung melepas atau menjual SBN di pasar sekunder.
Dari bursa saham AS, bursa Wall Street mayoritas melemah pada perdagangan Rabu atau Kamis dini hari.
Bursa melemah seiring harga minyak melanjutkan reli di tengah blokade pelabuhan Iran oleh United States, serta setelah The Fed mempertahankan suku bunga acuannya tidak berubah. Pelaku pasar juga menunggu laporan laba kuartalan dari empat perusahaan "Magnificent Seven."
Indeks Dow Jones melemah 280,12 poin atau 0,57% ke level 48.861,81, mencatat penurunan lima hari berturut-turut.
S&P 500 turun tipis 0,04% ke 7.135,95 sementara sebaliknya Nasdaq Composite naik tipis 0,04% ke 24.673,24.
Harga minyak kembali naik pada Rabu setelah The Wall Street Journal melaporkan bahwa Presiden Donald Trump telah meminta stafnya bersiap untuk blokade berkepanjangan terhadap Iran.
Harga kemudian melonjak lebih tinggi setelah Axios melaporkan bahwa Trump menolak proposal Iran untuk membuka kembali Selat Hormuz dan menegaskan blokade angkatan laut AS akan tetap berlaku hingga tercapai kesepakatan terkait program nuklir negara tersebut.
Kontrak berjangka minyak West Texas Intermediate naik 7,17% menjadi US$107,16 per barel. Sementara itu, minyak acuan global Brent crude melonjak 6,78% ke US$118,80 per barel.
Harga minyak yang tinggi akan mendorong inflasi secara keseluruhan dalam jangka pendek, kata Ketua The Fed Jerome Powell dalam konferensi pers usai rapat kebijakan April.
Dalam rapat tersebut Komite Pasar Terbuka Federal (FOMC) memutuskan dengan suara 8-4 untuk mempertahankan suku bunga di kisaran 3,5%-3,75%. Ini merupakan pertama kalinya sejak Oktober 1992 empat anggota FOMC menyatakan dissent, meski dengan alasan yang berbeda-beda.
Rapat tersebut kemungkinan menjadi yang terakhir bagi Powell sebagai ketua sebelum masa jabatannya berakhir pada Mei. Meski demikian, Powell mengatakan ia akan tetap menjabat sebagai gubernur The Fed untuk waktu yang belum ditentukan. Sementara itu, Kevin Warsh, yang dinominasikan oleh Trump, tampaknya akan menggantikan Powell. Pasar sebelumnya memang tidak mengharapkan perubahan suku bunga.
The Fed juga bisa menjadi kurang agresif menurunkan suku bunga jika Powell tetap sebagai gubernur, karena hal itu berarti gubernur yang ditunjuk Trump hanya akan berjumlah tiga dari tujuh anggota Dewan Gubernur, bukan mayoritas.
Kemudian pada Rabu, empat raksasa teknologi "Magnificent Seven" dijadwalkan merilis laporan kinerja setelah penutupan pasar: Alphabet, Amazon, Meta Platforms, dan Microsoft. Investor memiliki ekspektasi tinggi agar perusahaan-perusahaan ini menunjukkan pendapatan yang mampu membenarkan belanja besar mereka di bidang kecerdasan buatan (AI).
"Meski kinerja laba kemungkinan besar akan melampaui ekspektasi, fokus pasar kini tertuju pada panduan ke depan, baik terkait pertumbuhan maupun laju investasi," ujar Chris Brigati, CIO SWBC.
Sektor teknologi sebelumnya tertekan setelah OpenAI dilaporkan gagal mencapai target pendapatan dan pertumbuhan pengguna. Namun pada Rabu, saham Seagate Technology dan NXP Semiconductors masing-masing melonjak lebih dari 11% dan 25% setelah melaporkan kinerja yang melampaui ekspektasi serta memberikan panduan pendapatan yang positif.
Memasuki perdagangan terakhir pekan ini, pelaku pasar keuangan Tanah Air akan mencermati sejumlah sentimen penting dari luar negeri.
Fokus utama pasar hari ini tertuju pada hasil keputusan suku bunga The Federal Reserve, rilis PMI Manufaktur China, inflasi Personal Consumption Expenditures atau PCE Amerika Serikat (AS), serta data klaim pengangguran AS.
The Fed Makin Terpecah
kembali mempertahankan suku bunga di level 3,50-3,75%. Keputusan ini diambil di tengah besarnya perpecahan suara dalam tubuh The Fed.
Dalam rapat yang kemungkinan menjadi pertemuan terakhir Ketua Jerome Powell sebagai pimpinan,gelombang pejabat menentang pernyataan bahwa pemangkasan suku bunga lebih lanjut masih mungkin dilakukan.
Suara anggota FOMC terbelah dengan hasil 8-4, di mana para pejabat memiliki alasan berbeda atas pilihan mereka. Jumlah dissenting vote (suara berbeda) in adalah yang tetringgi sejak Oktober 1992.
Gubernur Stephen Miran kembali menyampaikan dissent demi mendukung pemangkasan suku bunga 25 basis poin, seperti yang ia lakukan sejak bergabung ke bank sentral pada September 2025.
Tiga suara "tidak" lainnya berasal dari Presiden Fed regional: Beth Hammack dari Cleveland, Neel Kashkari dari Minneapolis, dan Lorie Logan dari Dallas. Mereka setuju suku bunga ditahan, tetapi menolak adanya bias dovish dalam pernyataan resmi.
Masalah utama ketidaksepakatan adalah kalimat berikut:
"Dalam mempertimbangkan besaran dan waktu penyesuaian tambahan terhadap target suku bunga dana federal, Komite akan secara hati-hati menilai data yang masuk, prospek yang berkembang, dan keseimbangan risiko."
Frasa tersebut mengindikasikan langkah berikutnya kemungkinan penurunan suku bunga, karena penggunaan kata "tambahan" menunjukkan aksi terakhir The Fed adalah pemangkasan.
Perdebatan utama soal sinyal pemangkasan ke depan. Sejumlah pejabat khawatir inflasi masih tinggi, apalagi terdorong lonjakan harga energi. The Fed kini menyebut inflasi "masih tinggi," bukan lagi "agak tinggi."
Inflasi AS tercatat 3,3% (Maret 2026), tertinggi sejak 2024, sementara pasar tenaga kerja masih solid namun melambat.
Rapat ini kemungkinan terakhir bagi Jerome Powell sebagai ketua. Kevin Warsh diperkirakan segera menggantikan, meski Powell memberi sinyal tetap bertahan sebagai gubernur hingga investigasi internal selesai.
Rapat KSSK
Komite Stabilitas Sistem Keuangan (KSSK) akan menggelar konferensi pers hasil rapat berkala KSSK II Tahun 2026. Konferensi pers akan dihadiri sejumlah pejabat mulai dari Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa, Gubernur BI Perry Warjiyo, Ketua Otoritas Jasa Keuangan Friderica Widyasari Dewi, hingga Kepala Lembaga Penjamin Simpanan (LPS) Anggito Abimanyu.
Menarik disimak seperti apa pernyataan dari KSSK di tengah melambungnya harga minyak serta memanasnya perang. Perlu ditunggu juga apa ada kebijakan baru dari pemerintah, OJK hingga BI dalam mengantisipasi dampak perang.
Perkembangan Perang
Presiden Donald Trump membahas cara mengurangi dampak blokade pelabuhan Iran yang berpotensi berlangsung berbulan-bulan dengan perusahaan minyak,
Pembicaraan dengan eksekutif minyak pada Selasa terjadi setelah kebuntuan dalam upaya menyelesaikan konflik, yang mendorong United States menekan ekspor minyak Iran melalui blokade laut guna memaksa pembukaan kembali Selat Hormuz.
Di tengah saling ancam antara Washington dan Teheran, Pakistan berupaya menjadi mediator untuk mencegah eskalasi, sambil kedua pihak terus bertukar pesan terkait potensi kesepakatan.
Trump mengatakan Iran bisa menghubungi jika ingin berunding, namun juga menyindir bahwa Teheran "tidak mampu bertindak dengan benar."
Gedung Putih menyebut Trump dan eksekutif minyak membahas langkah untuk menstabilkan pasar minyak global serta opsi melanjutkan blokade selama berbulan-bulan sambil meminimalkan dampak bagi konsumen AS.
Harga minyak melonjak lebih dari 6% pada Rabu, dengan kontrak Brent mencapai level tertinggi dalam satu bulan, didorong prospek blokade jangka panjang.
Konflik ini telah menelan biaya sekitar US$25 miliar bagi militer AS, menurut pejabat senior Pentagon-estimasi resmi pertama dari biaya perang tersebut.
Iran berjanji akan terus mengganggu lalu lintas di Selat Hormuz selama masih mendapat ancaman, yang berpotensi memperparah gangguan pasokan minyak global. Konflik ini telah menewaskan ribuan orang dan mengguncang ekonomi dunia.
Teheran juga memperingatkan akan melakukan "aksi militer yang belum pernah terjadi sebelumnya" jika blokade terus berlanjut. Trump menegaskan Iran tidak boleh memiliki senjata nuklir, sementara Iran menyatakan program nuklirnya bersifat damai.
Trump bahkan menyindir Iran di media sosial: "Mereka tidak tahu bagaimana menandatangani kesepakatan non-nuklir. Lebih baik segera sadar!"
PMI Manufaktur China
Data RatingDog China Manufacturing PMI untuk April 2026 dijadwalkan keluar pada Kamis (30/4/2026).
Pada Maret 2026, PMI Manufaktur China turun ke level 50,8, dari 52,1 pada Februari. Angka tersebut masih berada di atas level 50, yang berarti sektor manufaktur China masih berada di zona ekspansi. Namun, penurunan ini menunjukkan laju ekspansi mulai melambat.
Data PMI China penting bagi pasar Asia karena China merupakan salah satu motor utama permintaan komoditas dan rantai pasok kawasan. Ketika aktivitas manufaktur China menguat, permintaan terhadap energi, logam, batu bara, dan bahan baku industri biasanya ikut terdorong.
Sebaliknya, jika PMI China kembali melemah, pasar bisa khawatir permintaan dari ekonomi terbesar kedua dunia tersebut mulai kehilangan tenaga. Kondisi ini dapat menekan harga komoditas dan
Inflasi PCE Amerika
Sentimen berikutnya datang dari AS. Pasar akan mencermati rilis Personal Consumption Expenditures atau PCE Price Index AS. Data ini penting karena PCE merupakan salah satu ukuran inflasi yang paling diperhatikan The Fed.
Terlebih, bank sentral AS baru saja menggelar rapat Federal Open Market Committee atau FOMC, sehingga data inflasi ini akan menjadi bahan utama pasar untuk membaca arah suku bunga berikutnya.
Pada Februari 2026, indeks harga PCE AS naik 0,4% secara bulanan, sesuai ekspektasi pasar dan lebih tinggi dibandingkan kenaikan Januari yang sebesar 0,3%. Kenaikan bulanan ini menjadi yang paling tajam dalam satu tahun terakhir.
Kenaikan tersebut terutama didorong oleh harga barang yang melonjak 0,7%, setelah stagnan pada Januari. Harga kendaraan bermotor dan suku cadang, barang rekreasi, bensin, pakaian, serta makanan menjadi beberapa komponen yang ikut mendorong kenaikan harga.
Sementara itu, inflasi sektor jasa justru melambat menjadi 0,2%, dari sebelumnya 0,4%. Perlambatan ini dipengaruhi oleh meredanya tekanan harga pada layanan kesehatan, jasa keuangan, dan jasa rekreasi.
Dari sisi inflasi inti, core PCE yang tidak memasukkan komponen makanan dan energi juga naik 0,4% secara bulanan, setelah meningkat 0,3% pada Januari. Secara tahunan, inflasi PCE utama berada di 2,8%, sama seperti bulan sebelumnya dan sesuai ekspektasi pasar.
Adapun core PCE tahunan bertahan di 3,0%. Angka ini masih berada di atas target inflasi The Fed sebesar 2%, sehingga menunjukkan tekanan harga di AS belum sepenuhnya mereda.
Bagi pasar, data PCE kali ini akan menjadi ujian penting. Jika inflasi PCE kembali lebih panas dari perkiraan, ekspektasi pemangkasan suku bunga The Fed dapat semakin berkurang. Kondisi tersebut berpotensi membuat dolar AS tetap kuat dan menekan mata uang negara berkembang, termasuk rupiah.
Sebaliknya, jika data PCE menunjukkan tekanan harga mulai melandai, pasar bisa kembali berharap The Fed memiliki ruang lebih besar untuk melonggarkan kebijakan pada semester berikutnya. Skenario ini dapat memberi sentimen positif bagi obligasi, saham, dan aset emerging market.
Klaim Pengangguran AS
Sentimen berikutnya masih datang dari AS. Pasar juga akan mencermati klaim awal tunjangan pengangguran AS yang menjadi salah satu indikator paling cepat untuk membaca kondisi pasar tenaga kerja AS.
Jika klaim pengangguran naik tajam, pasar bisa menilai tekanan di pasar tenaga kerja mulai meningkat. Sebaliknya, jika klaim tetap rendah, hal itu menunjukkan perusahaan masih relatif enggan melakukan pemutusan hubungan kerja.
Pada pekan yang berakhir 18 April 2026, jumlah warga AS yang mengajukan klaim awal tunjangan pengangguran naik 6.000 menjadi 214.000. Angka ini sedikit di atas posisi sebelumnya, tetapi masih tidak jauh dari ekspektasi pasar yang berada di 212.000.
Sementara itu, klaim lanjutan pengangguran naik 12.000 menjadi 1,821 juta pada pekan sebelumnya. Data ini sering dilihat sebagai gambaran jumlah pengangguran yang masih menerima tunjangan dan belum kembali bekerja.
Meski naik, klaim awal maupun klaim lanjutan masih berada di bawah rata-rata tahun sebelumnya. Kondisi ini menunjukkan aktivitas PHK di AS masih relatif rendah, sejalan dengan pandangan The Fed bahwa pasar tenaga kerja belum menunjukkan pelemahan besar.
Berikut sejumlah agenda dan rilis data yang terjadwal untuk hari ini:
-
Center for Indonesia's Strategic Development Initiatives (CISDI) akan menyelenggarakan Konferensi Pers: Konflik Kepentingan dan Bobroknya Penegakan Hukum di Balik Penambahan Lapisan Cukai Rokok
-
Pemaparan Kinerja BRI Triwulan I Tahun 2026
-
Bank Indonesia (BI) berkolaborasi dengan Otoritas Jasa Keuangan (OJK) dan industri akan melakukan peluncuran Pusat Inovasi Digital Indonesia (PIDI)
-
Konferensi Pers Hasil Rapat Berkala KSSK II Tahun 2026
-
Rapat Koordinasi Nasional Kadin Bidang Perdagangan di Hotel Ritz-Carlton Mega Kuningan, Jakarta Selatan. Turut hadir Menteri Perdagangan dan Ketua Umum Kadin.
- RatingDog PMI Manufaktur China April 2026
- Indeks Kepercayaan Konsumen Jepang
- Pertumbuhan PDB Uni Eropa
- Inflasi IHK Uni Eropa
- Suku Bunga Bank Sentral Inggris (BoE)
- Pertumbuhan PDB AS
- Klaim awal pengangguran AS
- Inflasi PCE AS
Berikut sejumlah agenda emiten di dalam negeri pada hari ini:
Rencana RUPS:
- PT Citra Borneo Utama Tbk (CBUT)
- PT Sawit Sumbermas Sarana Tbk (SSMS)
- PT Bank Neo Commerce Tbk (BBYB)
- Lippo Karawaci Tbk (LPKR)
- PT Multi Spunindo Jaya Tbk (MSJA)
- Lippo Cikarang Tbk (LPCK)
- PT Communication Cable Systems Indonesia Tbk (CCSI)
- Ricky Putra Globalindo Tbk (RICY)
- Bumi Resources Minerals Tbk (BRMS)
- BPD Nusa Tenggara Timur (BNTT)
Pembayaran Dividen Tunai
- PT Wahana Ottomitra Multiartha Tbk (WOMF)
- PT Bank Danamon Indonesia Tbk (BDMN)
- Adira Dinamika Multi Finance Tbk (ADMF)
- PT Cisarua Mountain Dairy Tbk (CMRY)
Cum Dividen
- PT Ultrajaya Milk Industry & Trading Company Tbk (ULTJ)
- Kedawung Setia Industrial Tbk (KDSI)
- PT Sinar Terang Mandiri Tbk (MINE)
- PT Chitose Internasional Tbk (CINT)
- Central Omega Resources Tbk (DKFT)
- PT Trisula Textile Industries Tbk (BELL)
-
Berikut sejumlah indikator perekonomian nasional:
CNBC INDONESIA RESEARCH
Sanggahan: Artikel ini adalah produk jurnalistik berupa pandangan CNBC Indonesia Research. Analisis ini tidak bertujuan mengajak pembaca untuk membeli, menahan, atau menjual produk atau sektor investasi terkait. Keputusan sepenuhnya ada pada diri pembaca, sehingga kami tidak bertanggung jawab terhadap segala kerugian maupun keuntungan yang timbul dari keputusan tersebut.