Setelah Kisruh OPEC, Dunia Cemas Menunggu Pengumuman Genting The Fed
Memasuki perdagangan Rabu (29/4/2026), pelaku pasar keuangan Tanah Air akan mencermati sejumlah sentimen penting dari luar negeri. Fokus utama pasar hari ini tertuju pada perkembangan terbaru negosiasi Amerika Serikat (AS)-Iran, arah harga minyak dunia, keputusan Bank Sentral Jepang atau Bank of Japan (BOJ), serta keputusan suku bunga The Federal Reserve.
Sentimen-sentimen tersebut menjadi penting karena pasar global masih berada dalam fase sensitif. Dolar AS kembali diburu sebagai aset aman, harga minyak masih bergerak tinggi, sementara pelaku pasar menunggu arah kebijakan bank sentral utama dunia.
UAE Keluar dari OPEC
UEA resmi keluar dari OPEC pada Selasa, mengguncang kelompok produsen minyak dunia di tengah krisis energi akibat perang Iran. Langkah ini dinilai melemahkan pengaruh OPEC sekaligus memperlebar jarak antara Abu Dhabi dan Arab Saudi sebagai pemimpin de facto kartel minyak.
Keluarnya UEA membuka peluang negara itu menaikkan produksi saat jalur ekspor Teluk kembali normal, karena tak lagi terikat kuota OPEC. Menteri Energi UEA Suhail Al Mazrouei menyebut keputusan tersebut diambil usai meninjau strategi energi nasional dan kebutuhan energi global ke depan.
Analis menilai langkah ini berpotensi menekan harga minyak dalam jangka menengah karena UEA memiliki kapasitas produksi cadangan besar, salah satu yang terbesar setelah Saudi. Jika UEA memompa lebih banyak minyak, dominasi Riyadh dalam menjaga keseimbangan pasar bisa mulai terganggu.
Keputusan ini juga menegaskan rivalitas UEA dan Saudi yang makin terbuka, mulai dari kebijakan minyak hingga perebutan investasi dan pengaruh di kawasan Teluk.
Jorge León, Kepala Analisis Geopolitik Rystad Energy menjelaskan UEA selama ini merupakan anggota OPEC paling berpengaruh setelah Arab Saudi. Bersama Riyadh, UEA termasuk sedikit negara yang memiliki kapasitas produksi cadangan signifikan untuk memengaruhi harga dan merespons guncangan pasokan.
Kapasitas cadangan adalah produksi menganggur yang bisa segera diaktifkan saat terjadi krisis besar. Arab Saudi dan UEA bersama-sama menguasai mayoritas kapasitas cadangan global yang mencapai lebih dari 4 juta barel per hari, sehingga sangat menentukan saat pasar mengalami tekanan.
"Kepergian UEA menghilangkan salah satu pilar utama yang menopang kemampuan OPEC mengelola pasar," kata León. Ia menilai OPEC akan menjadi "secara struktural lebih lemah" akibat keputusan tersebut.
Langkah ini juga menjadi pukulan bagi Arab Saudi karena mengurangi kemampuannya mengendalikan OPEC sebagai organisasi, kata David Goldwyn, mantan utusan khusus Departemen Luar Negeri AS untuk urusan energi internasional.
Meski Riyadh masih memiliki pengaruh besar lewat kapasitas cadangannya sendiri, posisi tawarnya kini dinilai lebih lemah tanpa UEA sebagai anggota.
Keputusan UEA keluar dari OPEC mulai berlaku Jumat ini, setelah berminggu-minggu serangan rudal dan drone dari sesama anggota OPEC, Iran. Serangan Teheran terhadap pelayaran di Selat Hormuz telah membatasi ekspor minyak UEA dan mengancam fondasi ekonominya.
Perkembangan Perang
Presiden AS Donald Trump disebut tidak puas dengan proposal terbaru Iran untuk mengakhiri perang yang sudah berlangsung sekitar dua bulan.
Proposal terbaru Iran disebut ingin menunda pembahasan soal program nuklir hingga perang berakhir dan persoalan jalur pelayaran di Teluk diselesaikan terlebih dahulu. Namun, posisi ini sulit diterima Washington karena AS ingin isu nuklir Iran dibahas sejak awal proses negosiasi.
Seorang pejabat AS mengatakan Trump tidak senang dengan proposal tersebut karena pembahasan program nuklir justru ingin dikesampingkan lebih dulu oleh Iran. Sementara itu, Gedung Putih menegaskan tidak akan bernegosiasi melalui media dan menyebut AS sudah jelas mengenai garis merahnya.
Harapan terhadap proses damai sebelumnya mulai memudar setelah Trump membatalkan rencana kunjungan utusan khususnya, Steve Witkoff, dan menantunya, Jared Kushner, ke Islamabad, Pakistan, pada akhir pekan lalu. Padahal, Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araqchi sempat bolak-balik ke Islamabad untuk membahas peluang negosiasi.
Araqchi juga melanjutkan lawatan ke Oman dan Rusia. Pada Senin, dia bertemu Presiden Rusia Vladimir Putin dan mendapat dukungan dari salah satu sekutu lama Iran tersebut.
Mandeknya proses diplomasi membuat harga minyak kembali naik pada awal perdagangan Asia, Selasa (28/4/2026). Pelaku pasar menilai yang paling penting saat ini bukan lagi sekadar pernyataan politik, melainkan kelancaran arus fisik minyak mentah melalui Selat Hormuz.
Fawad Razaqzada, analis pasar City Index dan FOREX.com, mengatakan bagi pelaku pasar minyak, yang paling penting saat ini bukan retorika, melainkan aliran aktual minyak mentah melalui Selat Hormuz. Menurutnya, arus tersebut saat ini masih terbatas.
Sedikitnya enam tanker bermuatan minyak Iran dipaksa kembali ke Iran oleh blokade AS dalam beberapa hari terakhir. Data pelacakan kapal menunjukkan dampak perang terhadap lalu lintas pelayaran semakin nyata.
Sebelum perang, sekitar 125 hingga 140 kapal biasanya keluar-masuk Selat Hormuz setiap hari. Namun, dalam satu hari terakhir hanya tujuh kapal yang melintas, dan tidak ada yang membawa minyak untuk pasar global.
Kondisi ini membuat Selat Hormuz kembali menjadi titik paling sensitif bagi pasar energi dunia. Jika arus minyak masih terganggu, harga minyak berisiko tetap tinggi dan tekanan inflasi global bisa bertahan lebih lama.
Goldman Sachs Prediksi Harga Minyak Bisa Tembus US$120
Sentimen berikutnya masih datang dari pasar energi. Goldman Sachs memperingatkan bahwa harga minyak berpotensi mendekati US$120 per barel pada akhir tahun ini jika perang AS-Iran terus berlarut-larut.
Peringatan ini muncul seiring memudarnya harapan damai antara AS dan Iran. Mandeknya negosiasi membuat pengiriman minyak dari kawasan Teluk berisiko terus terganggu lebih lama, terutama karena lalu lintas pelayaran melalui Selat Hormuz masih sangat terbatas.
Analis komoditas Goldman Sachs menaikkan proyeksi harga minyak mereka. Dalam skenario dasar, Brent kini diperkirakan rata-rata berada di US$90 per barel pada tiga bulan terakhir tahun ini. Angka tersebut naik dari proyeksi sebelumnya sebesar US$80 per barel.
Harga minyak sudah melambung 50% sejak perang meletus pada akhir Februari 2026.
Namun, dalam skenario yang lebih buruk, harga minyak bisa jauh lebih tinggi. Goldman memperkirakan Brent dapat mencapai rata-rata hampir US$120 per barel pada kuartal IV jika ekspor tidak kembali normal hingga akhir Juli dan kapasitas produksi di Teluk turun berkelanjutan sebesar 2,5 juta barel per hari.
Untuk minyak mentah AS West Texas Intermediate atau WTI, Goldman kini memperkirakan harga rata-rata sekitar US$83 per barel pada kuartal terakhir tahun ini dalam skenario dasar. Proyeksi tersebut naik dari perkiraan sebelumnya sebesar US$75 per barel.
Kenaikan proyeksi ini terjadi ketika harga minyak kembali bergerak tinggi. Brent sempat naik hingga US$109,32 per barel sejak awal pekan ini, level tertinggi sejak sebelum kedua pihak menyepakati gencatan senjata bulan ini. Sementara itu, WTI naik ke sekitar US$96,16 per barel.
Kenaikan harga minyak terutama dipicu oleh kembali memudarnya harapan pembicaraan damai. AS sebelumnya berencana mengirim delegasi ke Islamabad untuk membahas peluang perdamaian, tetapi rencana tersebut dibatalkan Presiden Donald Trump pada akhir pekan lalu karena dinilai terlalu banyak memakan waktu perjalanan.
Menteri Luar Negeri Iran juga telah meninggalkan Pakistan beberapa jam sebelumnya. Hingga kini, lalu lintas pelayaran melalui Selat Hormuz masih nyaris terhenti hampir dua bulan sejak perang dimulai.
Pada Senin pagi, hanya satu kapal tanker gas cair yang melintasi selat tersebut bersama dua kapal kargo menuju Oman dan satu kapal menuju India. Namun secara umum, lalu lintas melalui jalur krusial yang biasanya sangat ramai itu masih sangat dibatasi.
Harga minyak telah melonjak lebih dari 20% sejak 17 April 2026 seiring mandeknya perundingan damai AS-Iran dan penerapan blokade laut oleh Washington di Selat Hormuz. Pada Maret lalu, Brent beberapa kali sempat mendekati US$120 per barel, meski kemudian kembali turun.
"Harga tetap di bawah puncak akhir Maret, kemungkinan karena ekspektasi pasar akan pembukaan kembali Selat Hormuz telah mengurangi premi risiko dan menyebabkan pengurangan stok," tulis analis Goldman, mengutip Financial Times, Selasa (28/4/2026).
Meski begitu, pasar berjangka jangka panjang masih menunjukkan ekspektasi bahwa harga minyak akan turun. Kontrak Brent untuk Desember 2025, misalnya, diperdagangkan di sekitar US$85,80 per barel.
Goldman juga mencatat perang dapat meninggalkan bekas jangka panjang pada kapasitas produksi Teluk sekitar 500.000 barel per hari, terutama akibat kerugian di Irak.
Keputusan Suku Bunga The Fed
Sentimen besar berikutnya datang dari bank sentral Amerika Serikat. The Federal Reserve menggelar rapat Federal Open Market Committee (FOMC) selama dua hari, yakni Selasa-Rabu (28-29 April 2026).
Keputusan suku bunga The Fed akan diumumkan pada Rabu malam waktu AS atau Kamis dini hari waktu Indonesia.
Agenda ini menjadi salah satu sentimen paling penting bagi pasar global karena akan menentukan arah dolar AS, yield obligasi AS, hingga selera risiko investor terhadap aset negara berkembang.
Berdasarkan pantauan CME FedWatch Tool, pelaku pasar sepenuhnya memperkirakan The Fed akan menahan suku bunga acuannya. Probabilitas The Fed mempertahankan suku bunga di level saat ini, yakni 3,50%-3,75%, tercatat mencapai 100% untuk FOMC April ini.
Ekspektasi tersebut muncul karena inflasi AS masih berada di atas target The Fed. Di sisi lain, lonjakan harga energi akibat konflik Timur Tengah membuat bank sentral AS sulit bergerak terlalu cepat untuk melonggarkan kebijakan.
Meski keputusan suku bunga hampir pasti ditahan, perhatian pasar tidak berhenti di angka suku bunga saja. Investor akan mencermati pernyataan The Fed, terutama terkait pandangan bank sentral terhadap inflasi, harga energi, pasar tenaga kerja, dan risiko perlambatan ekonomi.
Jika The Fed memberi sinyal masih akan menahan suku bunga tinggi lebih lama, dolar AS berpotensi tetap kuat. Kondisi tersebut bisa kembali menekan mata uang Asia, termasuk rupiah, serta membuat arus modal ke emerging market lebih terbatas.
Sebaliknya, jika pernyataan The Fed mulai terdengar lebih lunak karena mempertimbangkan risiko perlambatan ekonomi, pasar bisa membaca adanya peluang penurunan suku bunga pada semester berikutnya. Skenario ini dapat memberi ruang bagi penguatan obligasi dan aset berisiko, termasuk saham di emerging market.
Bank Sentral Jepang Putuskan Tahan Suku Bunga
Bank Sentral Jepang atau Bank of Japan (BOJ) memutuskan untuk menahan suku bunga acuannya di level 0,75% pada Selasa (28/4/2026).
Keputusan ini sejalan dengan ekspektasi pasar. Namun, hasil rapat BOJ kali ini tidak sepenuhnya bulat. Keputusan menahan suku bunga diambil melalui voting 6-3, dengan tiga anggota dewan kebijakan memilih untuk menaikkan suku bunga ke level 1%.
Perbedaan pandangan di internal BOJ menunjukkan tekanan inflasi di Jepang mulai menjadi perhatian serius. Anggota yang mendukung kenaikan suku bunga menilai ketegangan di Timur Tengah telah membuat risiko harga bergerak ke atas, terutama karena lonjakan harga minyak.
BOJ juga memangkas proyeksi pertumbuhan ekonomi Jepang untuk tahun fiskal 2026 menjadi 0,5%, dari sebelumnya 1%. Sebaliknya, proyeksi inflasi inti dinaikkan tajam menjadi 2,8%, dari sebelumnya 1,9%.
Kenaikan proyeksi inflasi ini menunjukkan BOJ melihat perang Iran dan lonjakan harga energi sebagai risiko besar bagi perekonomian Jepang. Bank sentral memperingatkan bahwa kenaikan harga minyak mentah akibat krisis Timur Tengah dapat menekan laba perusahaan dan pendapatan riil rumah tangga.
Dengan kata lain, Jepang menghadapi risiko yang cukup sulit. Di satu sisi, inflasi berpotensi meningkat karena harga energi mahal. Namun di sisi lain, pertumbuhan ekonomi justru bisa melambat karena biaya energi menekan daya beli masyarakat dan keuntungan perusahaan.
Shigeto Nagai, Head of Japan Economics di Oxford Economics, menilai Jepang berpotensi menghadapi situasi seperti stagflasi ringan pada tahun ini. Menurutnya, pendapatan riil masyarakat Jepang sudah berada dalam tekanan dalam beberapa waktu terakhir, sementara inflasi masih berpotensi bertahan di atas 2%.
Data terbaru menunjukkan inflasi Jepang kembali naik pada Maret 2026. Inflasi utama meningkat menjadi 1,5%, dari 1,3% pada Februari. Sementara inflasi yang dipantau lebih ketat oleh BOJ naik menjadi 1,8% pada Maret, seiring meningkatnya kekhawatiran terhadap harga energi akibat perang Iran.
BOJ menyebut kenaikan harga minyak mentah diperkirakan akan mendorong harga, terutama pada komponen energi dan barang. Tekanan tersebut juga terjadi ketika perusahaan masih terus meneruskan kenaikan upah ke harga jual.
Bagi pasar global, keputusan BOJ penting karena dapat memengaruhi arah yen Jepang dan dolar AS. Jika pasar membaca BOJ semakin hawkish, yen berpotensi menguat dan tekanan dolar AS terhadap mata uang Asia bisa sedikit mereda.
Namun, jika yen tetap lemah, dolar AS berpotensi tetap kuat di kawasan. Kondisi tersebut dapat menambah tekanan pada mata uang Asia, termasuk rupiah.
Pengangguran Jepang Naik
Sentimen lain dari Jepang juga datang dari data pasar tenaga kerja. Tingkat pengangguran Jepang naik menjadi 2,7% pada Maret 2026, dari 2,6% pada Februari. Angka ini sedikit lebih tinggi dari ekspektasi pasar.
Berdasarkan data Ministry of Internal Affairs & Communications, jumlah pengangguran di Jepang bertambah 10 ribu orang menjadi 1,86 juta orang. Sementara itu, jumlah penduduk yang bekerja turun 120 ribu orang menjadi 68,15 juta orang, level terendah dalam 11 bulan.
Jumlah angkatan kerja juga menyusut 100 ribu orang menjadi 70,02 juta orang, terendah dalam tujuh bulan. Di sisi lain, jumlah penduduk di luar angkatan kerja naik 80 ribu orang menjadi 39,54 juta orang, tertinggi dalam tujuh bulan.
Bea Masuk LPG Bebas Pajak
Pemerintah memutuskan untuk membebaskan bea masuk bagi impor Liquified Petroleum Gas (LPG) sebagai bahan baku nafta yang merupakan penunjang produk plastik.
Kebijakan ini disampaikan oleh Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto dalam konferensi pers terkait percepatan program pemerintah untuk mendukung peningkatan pertumbuhan ekonomi, di kantor Kemenko Perekonomian, Selasa (28/4/2026).
Airlangga mengungkapkan sebelumnya tarif bea masuk yang dikenakan untuk impor LPG untuk bahan baku industri sebesar 5%, namun kini diputuskan untuk diturunkan menjadi 0%.
"Diberikan bea masuk 0% in periode 6 bulan nanti kita lihat situasi setelah 6 bulan seperti apa jadi kebijakan ini juga diambil negara lain seperti India jadi agar packaging ini agar tidak menaikkan bahan-bahan makanan," kata Airlangga dalam konferensi pers terkait percepatan program pemerintah untuk mendukung peningkatan pertumbuhan ekonomi, Selasa (28/4/2026).
Kebijakan ini, menurut Airlangga, diharapkan dapat menjaga harga makanan yang menggunakan packaging plastik. Dengan demikian, ini bagian dari upaya pemerintah menjaga inflasi.
PT Lotte Chemical Indonesia (LCI) sebelumnya meminta pemerintah menghapus tarif impor LPG sebagai bahan baku untuk industri. Saat ini, beban tarif 5% dinilai memberatkan daya saing industri domestik di tengah krisis pasokan bahan baku global akibat konflik di Timur Tengah.
Corporate Planning General Manager LCI Lee Dae Lo menyampaikan di negara lain, seperti Singapura, Malaysia, dan Thailand tidak mengenakan biaya impor LPG dari negara lain.
Konferensi Pers APBN KiTa Edisi April 2026 Batal
Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa menundar konferensi pers APBN KiTa yang membeberkan kinerja APBN Januari-Maret 2026. Sedianya konferensi pers digelar hari ini.
(evw/evw) Addsource on Google