MARKET DATA
Newsletter

Bos Baru The Fed Buka Suara, Saatnya BI Tentukan Nasib Bunga Hari Ini

mae,  CNBC Indonesia
22 April 2026 06:15
FILE - In this Oct. 14, 2020 file photo, the American Flag hangs outside the New York Stock Exchange in New York.Stocks were posting strong gains in early trading Thursday, May 13, 2021, following three days of losses and the biggest one-day drop in
Foto: Gubernur Bank Indonesia, Perry Warjiyo saat memberikan Pengumuman Hasil Rapat Dewan Gubernur Bulanan Bulan September 2024. (Tangkapan Layar Youtube Bank Indonesia)

Dari pasar saham AS, bursa Wall Street melemah pada perdagangan Selasa atau Rabu dini hari waktu Indonesia.

Saham-saham melemah karena investor khawatir kesepakatan damai antara AS dan Iran tidak akan tercapai sebelum gencatan senjata berakhir pada Rabu.

S&P 500 ditutup turun 0,63% ke 7.064,01, sementara Nasdaq Composite melemah 0,59% ke 24.259,96. Dow Jones Industrial Average melandai 293,18 poin atau 0,59% ke 49.149,38.

Menjelang penutupan pasar, kecemasan meningkat di Wall Street setelah muncul laporan bahwa perjalanan Wakil Presiden JD Vance untuk bergabung dalam negosiasi dengan Iran ditunda karena kurangnya komitmen dari Teheran. Hal ini dilaporkan The New York Times dan Axios yang mengutip pejabat AS.

 

Tak lama setelah bursa ditutup, Presiden Donald Trump mengatakan gencatan senjata akan diperpanjang sampai proposal dari Iran diajukan.

Sebelumnya, Trump mengatakan bahwa ia memperkirakan AS dan Iran akan mencapai kesepakatan hebat.

Namun ia juga menegaskan militer AS siap mengebom Iran bila kesepakatan tidak ditandatangani sebelum tenggat gencatan senjata, dan ia tidak ingin memperpanjangnya.

Komentar itu muncul setelah Trump menulis di Truth Social bahwa Iran telah berulang kali melanggar gencatan senjata.

Harga minyak berbalik naik setelah sempat turun tajam dalam beberapa hari terakhir karena harapan adanya kesepakatan. Kontrak berjangka West Texas Intermediate naik 2,81% ke US$92,13 per barel, sementara Brent Crude naik 3,14% ke US$98,48 per barel.

 

"Sulit membangun kepercayaan dalam situasi ini," kata Brian Mulberry, analis pasar, kepada CNBC International.

Dia menilai sejarah panjang hubungan dengan Iran menimbulkan keraguan apakah kesepakatan akan bertahan lama.

Meski begitu, ia tetap memperkirakan persoalan penguasaan Strait of Hormuz akan selesai pada akhir pekan ini.

Indeks-indeks utama sebelumnya juga melemah pada Senin karena pelaku pasar waspada menjelang berakhirnya gencatan senjata. Nasdaq mengakhiri reli 13 hari, yang merupakan kenaikan terpanjang sejak 1992.

Pada pekan sebelumnya, S&P 500 dan Nasdaq sempat mencetak beberapa rekor intraday dan penutupan tertinggi sepanjang masa berkat harapan perang Iran segera berakhir. Bahkan S&P 500 sempat ditutup di atas level 7.100 untuk pertama kalinya.

Meski begitu, sejumlah pelaku Wall Street tetap optimistis terhadap prospek saham ke depan.

"Apa yang terlihat sekarang adalah laba kuartal I yang sangat kuat," kata Mulberry, sembari menyoroti pertumbuhan laba dua digit dan pendapatan perusahaan yang tetap solid.

Pada Selasa, hasil kuartal I UnitedHealth Group melampaui ekspektasi pasar sehingga sahamnya melonjak sekitar 7%. Perusahaan juga menaikkan proyeksi laba.

Sementara itu, saham Amazon naik 0,7% setelah perusahaan sepakat berinvestasi hingga US$25 miliar di startup kecerdasan buatan Anthropic.

(mae/mae) Add logo_svg as a preferred
source on Google


Most Popular
Features