MARKET DATA
Newsletter

Bos Baru The Fed Buka Suara, Saatnya BI Tentukan Nasib Bunga Hari Ini

mae,  CNBC Indonesia
22 April 2026 06:15
Gubernur Bank Indonesia, Perry Warjiyo saat memberikan Pengumuman Hasil Rapat Dewan Gubernur Bulanan Bulan September 2024. (Tangkapan Layar Youtube Bank Indonesia)
Foto: Gubernur Bank Indonesia, Perry Warjiyo saat memberikan Pengumuman Hasil Rapat Dewan Gubernur Bulanan Bulan September 2024. (Tangkapan Layar Youtube Bank Indonesia)

Pelaku pasar akan mencermati sejumlah sentimen pasar hari ini, baik yang datang dari dalam ataupun luar negeri.

Kebijakan suku bunga dan dampak keputusan MSCI diperkirakan akan menjadi sentimen terbesar dari dalam negeri sementara hearing calon Chairman The Fed yang baru, Kevin Warsh, serta perkembangan perang akan menjadi penggerak pasar dari luar negeri.

Perkembangan Perang, Trump Perpanjang Gencatan Senjata

Presiden Donald Trump resmi memperpanjang gencatan senjata antara Amerika Serikat dan Iran pada Selasa waktu setempat. Trump beralasan pemerintah Teheran kini sedang terpecah secara serius sehingga perlu tambahan waktu untuk merumuskan proposal damai.

Trump mengatakan gencatan senjata yang semula berakhir Rabu akan terus berlaku sampai para pemimpin Iran menyerahkan proposal terpadu guna mengakhiri konflik dengan AS dan Israel.

Langkah ini muncul di tengah mandeknya jalur diplomasi. Rencana kunjungan Wakil Presiden JD Vance ke Pakistan untuk putaran kedua perundingan damai dilaporkan ditunda.

Media pemerintah Iran Tasnim News Agency juga menyebut delegasi Teheran menolak hadir dalam negosiasi lanjutan karena menilai AS menghambat tercapainya kesepakatan.

Ketegangan pun belum reda. Penasihat Ketua Parlemen Iran Mohammad Baqer Qalibaf menilai keputusan Trump hanya siasat untuk membeli waktu sebelum serangan baru dilancarkan. Ia juga menegaskan blokade pelabuhan Iran oleh U.S. Navy setara dengan aksi pengeboman dan layak dibalas secara militer.

Dalam wawancara dengan CNBC sebelumnya, Trump sempat mengatakan tidak ingin memperpanjang gencatan senjata.

Namun beberapa jam kemudian ia berubah sikap dan menyebut keputusan itu diambil atas permintaan Panglima Pakistan Asim Munir dan Perdana Menteri Shehbaz Sharif.

Trump juga menegaskan militer AS tetap siaga penuh dan blokade terhadap Iran tetap berjalan selama proses negosiasi berlangsung.

Bagi pasar global, fokus utama kini tertuju pada Strait of Hormuz, jalur vital perdagangan minyak dunia. Iran sebelumnya menutup akses selat tersebut di awal perang. Trump menyatakan gencatan senjata hanya bisa bertahan jika jalur pelayaran itu dibuka penuh.

Meski perang belum berakhir, keputusan Trump memperpanjang gencatan senjata sementara meredakan risiko lonjakan baru harga energi dan gejolak pasar keuangan global.

Calon Chairman Fed Warsh Janjikan Independen

Kevin Warsh menjalani sidang konfirmasi di Senat AS sebagaic alon Chairman bank sentral AS The Federal Reserve (The Fed) yang baru. Dia menegaskan The Fed akan tetap independen dari White House jika ia terpilih.

Warsh menghadapi pertanyaan soal kebijakan moneter, kekayaan pribadinya, hingga kedekatannya dengan Presiden Donald Trump. Jika lolos, ia akan menjadi Ketua The Fed terkaya dalam sejarah.

Warsh menegaskan dirinya tidak pernah berjanji kepada Presiden rump untuk memangkas suku bunga jika resmi memimpin bank sentral AS. Pernyataan itu disampaikan dalam sidang konfirmasi di Senat AS, saat pasar global tengah menyoroti masa depan arah kebijakan moneter Negeri Paman Sam.

Warsh menyebut Trump tidak pernah meminta komitmen soal level suku bunga, meski sebelumnya Trump berkali-kali menyatakan berharap Warsh akan menurunkan bunga jika terpilih.

Di sisi lain, Warsh justru menyiapkan agenda reformasi besar di tubuh The Fed. Menurut dia, bank sentral perlu memperbaiki kerangka kebijakan inflasi dan cara berkomunikasi ke pasar. Ia menilai terlalu banyak pejabat The Fed yang memberi sinyal prematur soal arah bunga, sehingga berpotensi membingungkan investor.

"Apa yang dibutuhkan The Fed adalah reformasi kerangka kerja dan reformasi komunikasi," ujar Warsh, dikutip dari Reuters.

Dia juga menginginkan rapat kebijakan berlangsung lebih terbuka, penuh debat, dan tidak sekadar formalitas.

Meski begitu, Warsh belum mau menjawab apakah suku bunga saat ini perlu dipangkas. Ia menolak memberi panduan ke depan atau forward guidance sebelum resmi menjabat.

 Warsh juga mengatakan tidak akan memecat para presiden bank regional The Fed, meski sebelumnya pernah menyerukan perubahan rezim di bank sentral. Menurutnya, yang dimaksud adalah perubahan kebijakan, bukan pergantian pejabat.

Ia mengkritik terlalu banyak pejabat The Fed yang sering memberi komentar soal arah suku bunga. Menurutnya, hal itu tidak membantu dan rapat kebijakan seharusnya lebih terbuka dengan perdebatan nyata.

Warsh juga tidak berjanji akan mempertahankan tradisi konferensi pers usai setiap rapat kebijakan The Fed, dengan alasan pencarian kebenaran lebih penting daripada sekadar pengulangan komunikasi publik.

Proses konfirmasi Warsh sendiri masih menghadapi hambatan politik. Senator Republik Thom Tillis menahan proses nominasi sampai penyelidikan terhadap Ketua The Fed saat ini, Jerome Powell, dihentikan. Jika berlarut-larut, Powell berpotensi tetap bertahan lebih lama di kursi pimpinan The Fed.

Bagi pasar keuangan global, sidang ini menjadi sinyal penting yakni apakah The Fed ke depan tetap independen, atau justru bergerak lebih agresif menurunkan suku bunga di bawah kepemimpinan baru.

Keputusan Suku Bunga BI

Hari ini, Bank Indonesia (BI) akan mengumumkan kebijakan suku bunga. Pelaku pasar memperkirakan bank sentral masih akan menahan suku bunga acuannya pada pertemuan kali ini. 

Konsensus yang dihimpun CNBC Indonesia dari 14 lembaga/institusi menunjukkan hasil yang kompak. Seluruh responden memproyeksikan BI akan kembali mempertahankan BI Rate di level 4,75% pada pertemuan RDG kali ini.

Pada RDG BI terakhir di Maret 2026, BI kembali memutuskan untuk mempertahankan BI Rate sebesar 4,75%. Keputusan tersebut menjadi kali keenam BI menahan suku bunga acuannya secara berturut-turut. Jika kembali dipertahankan pada RDG April ini, maka langkah tersebut akan menjadi kali ketujuh secara beruntun. 

Dalam pernyataan resminya pada Maret lalu, BI menegaskan keputusan tersebut diarahkan untuk memperkuat stabilitas nilai tukar rupiah di tengah memburuknya kondisi global akibat perang di Timur Tengah, sekaligus menjaga pencapaian sasaran inflasi.



Dampak MSCI ke Bursa

Morgan Stanley Capital International (MSCI) telah memberikan pengumuman yang menilai reformasi pasar modal Indonesia pada 20 April 2026. Pengumuman ini merupakan tindak lanjut dari rilis sebelumnya pada 27 Januari 2026, saat pembekuan rebalancingnya atas indeks Indonesia.

Dalam tinjauan indeks Mei 2026, MSCI memutuskan mempertahankan kebijakan sementara yang telah berlaku untuk sekuritas Indonesia. Kebijakan tersebut mencakup pembekuan peningkatan Foreign Inclusion Factors (FIF) dan Number of Shares (NOS), serta tidak menambahkan saham baru ke indeks MSCI Investable Market Indexes (IMI).


Selain itu, salah satu langkah MSCI yang konsisten dengan perlakuannya terhadap sekuritas yang diidentifikasi serupa di pasar lain adalah menghapus sekuritas yang diidentifikasi oleh otoritas Indonesia sebagai bagian dari kerangka kerja High Shareholding Concentration (HSC) yang baru.

Keputusan MSCI untuk mengeksekusi penghapusan emiten HSC pada Mei mendatang akan memicu restrukturisasi portofolio asing yang terukur. Penghapusan saham seperti BREN dan DSSA diproyeksikan akan memaksa likuidasi dana pasif sekitar Rp25,5 triliun.

Dengan posisi IHSG yang saat ini berada di level 7.500, ketiadaan pembeli di pasar negosiasi dapat memaksa harga kedua saham terkoreksi signifikan untuk menemukan titik ekuilibrium baru.


Berdasarkan bobot faktual kedua emiten yang mencapai 5,91%, koreksi ekstrem pada saham tersebut berpotensi memberikan beban tarikan ke bawah (index drag) sekitar 2,95% terhadap indeks komposit.

Namun, dana sebesar Rp25,5 triliun tersebut tidak akan keluar dari sistem bursa. Sesuai mekanisme rebalancing, likuiditas ini akan direalokasikan secara proporsional kepada 15 saham konstituen MSCI yang tersisa, di mana sektor perbankan menjadi penerima utama.

Dana masuk ini diestimasi mampu memberikan dorongan apresiasi (index boost) sekitar 0,81%. Secara kumulatif, dampak bersih dari rotasi ini akan menekan IHSG sebesar 2,14%.

Dalam perhitungan absolut dari basis 7.500, indeks diproyeksikan akan terkoreksi sekitar 160 poin menuju area ekuilibrium di kisaran 7.340 pada periode eksekusi rebalancing.


China Berencana Terbitkan Panda Bond di RI

Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa mengungkapkan keinginan pemerintah China untuk menerbitkan obligasi di Indonesia.
Hal ini disampaikan Purbaya usai bertemu Menteri Keuangan China Lan Foan di Washington Amerika Serikat pekan lalu dalam agenda pertemuan IMF-World Bank 2026.

"China juga bilang boleh gak kami terbitkan bond mereka di Indonesia. Saya bilang boleh,," kata Purbaya mengulangi permintaan Menkeu China kepada wartawan di kantornya, Selasa (21/4/2026)

Menurut Purbaya, ini adalah bentuk timbal balik karena pemerintah Indonesia akan menerbitkan Panda Bonds dalam waktu dekat. Obligasi tersebut bagian dari solusi menekan biaya utang Indonesia.

"Kita bilang juga kita ingin menerbitkan Panda Bond di sana, dia amat setuju dan bunganya di Cina itu murah, cuma 2,3%," jelasnya.

Pemerintah Siapkan Aturan Pajak Baru

Direktorat Jenderal Pajak Kementerian Keuangan telah merancang tiga peraturan menteri keuangan yang ditujukan untuk menggenjot penerimaan negara, hingga membuat rasio perpajakan bisa tembus kisaran 15% Produk Domestik Bruto (PDB) pada 2029.

Tiga rancangan peraturan menteri keuangan (RPMK) itu tertuang dalam Rencan Strategi Direktorat Jenderal Pajak (DJP) 2025-2029 yang ditetapkan oleh Direktur Jenderal Pajak Bimo Wijayanto sejak 19 Desember 2025.

RPMK itu di antaranya akan mengatur mekanisme pemungutan Pajak Pertambahan Nilai (PPN) atas penyerahan jasa jalan tol pada 2028, implementasi pajak karbon pada 2026, serta pemungutan pajak atas transaksi digital luar negeri yang telah diselesaikan sejak 2025.


Neraca Perdagangan Jepang

Hari ini, Jepang dijadwalkan merilis data neraca perdagangan beserta rincian kinerja ekspor dan impor bulan Maret. Berdasarkan catatan data bulan Februari, Jepang berhasil membukukan surplus yang berada di luar ekspektasi pasar sebesar JPY 57,3 miliar.

Kinerja ekspor bulan lalu mengalami perlambatan pertumbuhan secara signifikan menjadi 4,2%, yang utamanya terbebani oleh menurunnya permintaan dari mitra dagang utama seperti Tiongkok dan Amerika Serikat, serta adanya tekanan dari penyesuaian kebijakan tarif AS terhadap berbagai produk Jepang.

Sebaliknya, impor Jepang justru mencatatkan ekspansi sebesar 10,2%, didorong oleh solidnya permintaan domestik pasca implementasi paket stimulus pemerintah.

Pelaku pasar akan mengawasi rilis data terbaru ini untuk melihat apakah neraca perdagangan mampu bertahan di area surplus dan sejauh mana sektor ekspor terpengaruh oleh perlambatan aktivitas global.

(mae/mae) Add logo_svg as a preferred
source on Google


Most Popular
Features