MARKET DATA
Newsletter

Dunia Dikepung Kabar Genting Saat Hormuz Memanas, Harga Minyak Terbang

mae,  CNBC Indonesia
20 April 2026 06:20
Gubernur Bank Indonesia, Perry Warjiyo saat menyampaikan Hasil Rapat Dewan Gubernur Bulan Januari 2025 dengan Cakupan Triwulanan pada Rabu (15/1/2025). (REUTERS/Willy Kurniawan)
Foto: Gubernur Bank Indonesia, Perry Warjiyo saat menyampaikan Hasil Rapat Dewan Gubernur Bulan Januari 2025 dengan Cakupan Triwulanan pada Rabu (15/1/2025). (REUTERS/Willy Kurniawan)

Pasar keuangan Indonesia diperkirakan masih volatile sepanjang pekan ini setelah Iran kembali memblokade Selat Hormuz setelah sempat menyampaikan gencatan senjata.

Di luar dinamika perang, pelaku pasar akan menyoroti keputusan suku bunga Bank Indonesia yang diumumkan pada Rabu pekan ini.

Berikut sejumlah sentiment pasar hari ini dan sepanjang pekan ke depan:

Perkembangan Perang, Hormuz Kembali Ditutup

Pengiriman melalui Selat Hormuz terhenti total pada Minggu setelah Iran kembali menegaskan kendali atas jalur perairan strategis yang menjadi kunci pasokan energi global, hanya beberapa hari sebelum gencatan senjata rapuh dengan Amerika Serikat dijadwalkan berakhir.

 Negosiator utama Iran mengatakan pembicaraan terbaru dengan AS menunjukkan kemajuan, sementara Presiden Donald Trump menyebut ada "percakapan yang sangat baik" dengan Teheran.

 Namun, kedua pihak tidak memberikan rincian spesifik. Kepala negosiator Iran, Mohammad Baqer Qalibaf, mengatakan kedua negara masih memiliki perbedaan besar terkait isu nuklir dan Selat Hormuz, dua hambatan utama dalam negosiasi.

 

Amerika Serikat menyatakan telah menyita kapal kargo Iran yang mencoba menerobos blokade, sementara Iran mengancam akan membalas. Situasi ini memicu kekhawatiran gencatan senjata kedua negara bisa runtuh sebelum berakhir pekan ini.

Iran juga menolak putaran baru perundingan damai yang direncanakan AS di Islamabad, sehingga prospek perdamaian makin tidak pasti.

Ketegangan ini membuat harga minyak melonjak. Minyak Brent crude naik sekitar 7% ke US$96,85 per barel, sementara futures S&P 500 turun 0,9% di awal perdagangan Asia.

Perang yang kini memasuki pekan kedelapan disebut telah memicu guncangan pasokan energi global paling parah dalam sejarah, terutama akibat gangguan di Selat Hormuz, jalur penting bagi sekitar 20% pasokan minyak dunia.

Pada Sabtu, Iran yang sebelumnya mengumumkan akan mengizinkan kapal melintas di Hormuz, berbalik arah dengan menuduh Washington melanggar perjanjian gencatan senjata karena tetap mempertahankan blokade terhadap pelabuhan-pelabuhan Iran.

Setelah dua kapal berbendera India melaporkan diserang saat mencoba melintasi selat tersebut pada Sabtu, data pelayaran menunjukkan lalu lintas di jalur sempit itu berhenti total sejak Minggu pagi.

Satu kapal tanker milik China dan satu kapal pengangkut gas milik India sempat terlihat bergerak ke arah timur pada Minggu pagi. Namun keduanya diduga dipaksa berbalik arah, dan tidak ada kapal lain yang masuk maupun keluar dari Teluk sejak tengah malam GMT, menurut data pelacakan kapal MarineTraffic.

 Memasuki pekan kedelapan, perang ini menciptakan guncangan pasokan energi global paling parah dalam sejarah, mendorong lonjakan harga minyak akibat penutupan de facto Selat Hormuz, yang sebelum perang dilalui sekitar seperlima pengiriman minyak dunia.

 Sementara itu, ketidakpastian menyelimuti upaya mediasi yang dimotori Pakistan untuk mengakhiri konflik, yang telah menewaskan ribuan orang sejak dimulai pada 28 Februari melalui gelombang serangan udara AS dan Israel ke Iran, serta kemudian meluas ke Lebanon.

 Perundingan di Islamabad, negosiasi langsung pertama antara AS dan Iran dalam beberapa dekade, berakhir tanpa kesepakatan pekan lalu. Namun persiapan tampak dilakukan untuk melanjutkan pembicaraan, menjelang berakhirnya gencatan senjata pada Rabu mendatang.

Harga Minyak Kembali Melonjak

Harga minyak mentah melonjak dalam perdagangan awal pekan ini, Senin (20/4/2026) per 06.01 WIB. Kontrak berjangka West Texas Intermediate (WTI) meonjak 6,9% menjadi US$89,61 per barel. Sementara Brent internasional juga menguat 5,6% ke US$95,49 per barel.

Kenaikan ini berbanding terbalik degan Jumat di mana harga minyak ambruk 10% dalam sehari apda Jumat (18/4/2026).

Lonjakan harga minyak membuat indeks dolar kembali menguat. Indeks dolar pada Senin pagi ada di 98.24 setelah sempat melandai di 98,08.

Menguatnya indeks dolar menandai investor tengah memburu dolar dan menjual instrument non-denominasi dolar. Hal ini bisa berdampak pada rupiah.

Keputusan Suku Bunga People's Bank of China (PBoC)

Mengawali pekan ini, otoritas moneter Tiongkok dijadwalkan untuk merilis keputusan suku bunga acuan atau Loan Prime Rate (LPR) pada hari ini, Senin (20/4/2026).

Pada periode Maret sebelumnya, PBoC memutuskan untuk mempertahankan LPR tenor satu tahun di level 3,0% dan tenor lima tahun di 3,5% selama sepuluh bulan berturut-turut.

Keputusan tersebut mencerminkan kehati-hatian pemerintah Tiongkok yang saat ini lebih memprioritaskan stabilitas makroekonomi dibandingkan menyuntikkan stimulus secara agresif. Pelaku pasar mengekspektasikan PBoC akan kembali mempertahankan sikap menahan suku bunga ini.

Hal tersebut dilatarbelakangi oleh tingginya harga minyak dunia dan ketegangan di Timur Tengah yang mengaburkan prospek inflasi ke depan.

Di sisi lain, target pertumbuhan ekonomi Tiongkok yang dipatok lebih rendah pada kisaran 4,5% hingga 5% untuk tahun 2026 turut mengurangi urgensi pelonggaran moneter yang luas, mengingat masih adanya tantangan struktural dari pelemahan sektor properti dan sentimen konsumen domestik yang masih tertahan.

Penjualan Ritel Amerika Serikat

Dari Amerika Serikat, rilis data penjualan ritel untuk periode Maret akan diumumkan pada Selasa (21/4/2026). Indikator ini sangat dinantikan karena merepresentasikan kekuatan daya beli konsumen yang merupakan motor utama penggerak perekonomian AS.

Berdasarkan rilis sebelumnya, penjualan ritel secara bulanan (month-over-month/MoM) pada Februari 2026 mencatatkan kenaikan sebesar 0,6%. Angka ini berbalik dari kontraksi 0,1% pada bulan Januari dan berhasil melampaui proyeksi pasar yang berada di level 0,5%.

Kinerja bulanan ini merupakan yang terkuat dalam tujuh bulan terakhir, ditopang oleh peningkatan pada pusat perbelanjaan (3%), toko perawatan pribadi dan kesehatan (2,3%), serta pakaian (2%).


Penjualan kelompok kontrol-yang tidak memasukkan layanan makanan, dealer mobil, material bangunan, dan SPBU untuk keperluan perhitungan PDB-juga tumbuh 0,5%.

Secara tahunan (year-on-year/YoY), penjualan ritel Februari tumbuh 3,7%, mengonfirmasi bahwa konsumsi masyarakat AS masih cukup tangguh di tengah tingginya suku bunga.

Untuk rilis data bulan Maret, konsensus pasar memproyeksikan penjualan secara bulanan dapat melanjutkan tren pertumbuhan di atas 1%. Data ini akan dianalisis secara mendalam sebagai petunjuk tambahan bagi Federal Reserve dalam menentukan peta jalan penyesuaian suku bunga acuan.

Neraca Perdagangan dan Kinerja Ekspor-Impor Jepang

Di hari yang sama, Jepang dijadwalkan merilis data neraca perdagangan beserta rincian kinerja ekspor dan impor bulan Maret pada Selasa (21/4/2026). Berdasarkan catatan data bulan Februari, Jepang berhasil membukukan surplus yang berada di luar ekspektasi pasar sebesar JPY 57,3 miliar.

Kinerja ekspor bulan lalu mengalami perlambatan pertumbuhan secara signifikan menjadi 4,2%, yang utamanya terbebani oleh menurunnya permintaan dari mitra dagang utama seperti Tiongkok dan Amerika Serikat, serta adanya tekanan dari penyesuaian kebijakan tarif AS terhadap berbagai produk Jepang.

Sebaliknya, impor Jepang justru mencatatkan ekspansi sebesar 10,2%, didorong oleh solidnya permintaan domestik pasca implementasi paket stimulus pemerintah.

Pelaku pasar akan mengawasi rilis data terbaru ini untuk melihat apakah neraca perdagangan mampu bertahan di area surplus dan sejauh mana sektor ekspor terpengaruh oleh perlambatan aktivitas global.

Keputusan Suku Bunga Bank Indonesia (BI Rate)

Dari dalam negeri, agenda yang paling ditunggu oleh para pelaku pasar adalah pengumuman hasil Rapat Dewan Gubernur Bank Indonesia (RDG BI) pada Selasa dan Rabu pekan ini (21-22/4/2026). Pada pertemuan bulan sebelumnya, BI memutuskan untuk mempertahankan suku bunga acuan atau BI Rate di level 4,75%.

Langkah tersebut sejalan dengan fokus utama bank sentral untuk memitigasi dampak rambatan global dan menjaga stabilitas nilai tukar Rupiah. Posisi Rupiah sebelumnya sempat mengalami tekanan hingga menyentuh Rp16.985 per dolar AS pada pertengahan Maret, yang dipicu oleh sentimen penghindaran risiko di pasar global.

BI juga akan mempertimbangkan dinamika laju inflasi domestik yang meningkat menjadi 4,76% secara tahunan pada Februari lalu. Mengingat realisasi pertumbuhan ekonomi kuartal keempat 2025 yang solid di level 5,39%, Bank Indonesia dinilai masih memiliki ruang kebijakan yang memadai untuk mengelola stabilitas moneter.

Posisi Uang Beredar (M2) Indonesia

Melengkapi rilis data makroekonomi domestik, Bank Indonesia juga diproyeksikan merilis pembaruan data likuiditas perekonomian atau Uang Beredar dalam arti luas (M2) pada Kamis (23/4/2026).

Sebagai landasan historis, likuiditas perekonomian pada bulan Februari 2026 menunjukkan pertumbuhan sebesar 8,7% secara tahunan, mencapai posisi Rp10.089,9 triliun.

Angka ini sedikit melandai apabila dibandingkan dengan capaian bulan Januari yang sempat menyentuh pertumbuhan 10%. Ekspansi M2 pada bulan Februari tersebut utamanya didorong oleh pergerakan uang beredar dalam arti sempit (M1) yang tumbuh 14,4% secara tahunan, serta peningkatan uang kuasi sebesar 3,1%.

Di samping itu, laju pertumbuhan ini turut dipengaruhi oleh pos tagihan bersih kepada Pemerintah Pusat yang melonjak 25,6% secara tahunan, diiringi oleh penyaluran kredit perbankan yang tetap solid dengan pertumbuhan 8,9%.

Pelaku pasar akan menantikan pembaruan data M2 ini untuk mengukur ketersediaan likuiditas riil di masyarakat.

Laju Inflasi Nasional Jepang

Menutup rangkaian indikator utama, pemerintah Jepang akan mengumumkan data tingkat inflasi nasional untuk periode Maret pada Kamis 923/4/2026). Pada rilis data Februari lalu, tingkat inflasi tahunan Jepang melambat ke level 1,3%, yang sekaligus menandai titik terendahnya sejak awal tahun 2022.

Tren disinflasi ini turut terkonfirmasi oleh angka inflasi inti yang melandai ke level 1,6%, membawanya berada di bawah target resmi 2% yang ditetapkan oleh Bank of Japan.

Penurunan tekanan harga secara umum sebagian besar didorong oleh komponen biaya energi, khususnya tarif listrik dan gas yang masih mendapatkan intervensi subsidi dari otoritas setempat.

Rilis data inflasi bulan Maret ini akan dipantau ketat sebagai acuan bagi Bank of Japan dalam merumuskan langkah penyesuaian suku bunga di masa mendatang.

Calon Ketua The Fed Gelar Sidang dengan Kongres

Calon Ketua Federal Reserve pilihan Presiden Donald Trump, Kevin Warsh, dijadwalkan menghadapi Kongres Amerika Serikat dalam sidang konfirmasi di Komite Perbankan Senat pada Selasa (21/4/2026) pukul 10.00 pagi waktu Washington D.C. (EDT) atau 2100 WIB.

Dua setengah bulan setelah Presiden Donald Trump mengumumkan Kevin Warsh sebagai calon Ketua Federal Reserve, publik akhirnya akan melihat mantan bankir dan mantan gubernur The Fed itu menjawab pertanyaan mengenai bagaimana ia akan memimpin bank sentral Amerika Serikat.

Sidang penting tersebut akan digelar di Dirksen Senate Office Building, Washington, dan menjadi penentu awal apakah Warsh mendapat dukungan politik untuk memimpin bank sentral AS menggantikan Jerome Powell.

Profil Kevin Warsh. (CNBC Internasional)Foto: Profil Kevin Warsh. (CNBC Internasional)
Profil Kevin Warsh. (CNBC Internasional)

Pasar global diperkirakan mencermati jalannya sidang karena posisi Ketua The Fed sangat menentukan arah suku bunga dolar AS, pergerakan pasar saham, obligasi, hingga nilai tukar global termasuk rupiah.

Dalam sidang tersebut, Warsh diperkirakan akan dicecar sejumlah isu krusial, mulai dari arah kebijakan suku bunga The Fed, langkah menekan inflasi dan menjaga stabilitas harga, hingga komitmennya terhadap independensi bank sentral di tengah sorotan hubungan dekatnya dengan Presiden Trump.

Selain itu, anggota Senat juga diperkirakan menggali pandangan Warsh mengenai prospek ekonomi AS ke depan, termasuk risiko perlambatan pertumbuhan, kondisi tenaga kerja, dan tekanan harga energi.

Sidang ini menjadi sorotan besar karena dapat memberi sinyal baru mengenai arah kebijakan moneter AS ke depan. Jika Warsh dinilai lebih dovish atau hawkish dibanding Powell, pasar keuangan global berpotensi langsung bereaksi.

(mae/mae) Add as a preferred
source on Google


Most Popular
Features