Dunia Dikepung Kabar Genting Saat Hormuz Memanas, Harga Minyak Terbang
Bursa saham Amerika Serikat (AS) Wall Street pesta pora pada perdagangan terakhir pekan lalu, Jumat (17/4/2026).
Saham melonjak tajam setelah Iran menyatakan Selat Hormuz sepenuhnya terbuka, menyusul pengumuman gencatan senjata antara Israel dan Lebanon.
Indeks S&P 500 Index naik 1,2% dan ditutup di 7.126,06, menembus level 7.100 untuk pertama kalinya dalam sejarah.
Indeks Nasdaq Composite menguat 1,52% ke 24.468,48, mencatat kenaikan hari ke-13 berturut-turut dan menjadi reli terpanjang sejak 1992. Kedua indeks mencetak rekor intraday maupun penutupan baru.
Dow Jones Industrial Average melonjak 868,71 poin atau 1,79% ke 49.447,43. Russell 2000 juga mencetak rekor baru, dengan kenaikan lebih dari 2%.
Harapan akan tercapainya perdamaian mendorong saham mencetak rekor sepanjang pekan lalu. Tiga indeks utama Wall Street semuanya mencatat kenaikan solid. Dow naik 3,2% dalam sepekan, S&P 500 naik 4,5%, dan Nasdaq melonjak 6,8%.
Presiden AS Donald Trump, yang berterima kasih kepada Iran atas pembukaan selat tersebut lewat unggahan di Truth Social, juga mengatakan Iran setuju untuk tidak pernah menutup jalur pelayaran itu lagi. Dalam unggahan terpisah, ia menyebut blokade Angkatan Laut AS terhadap pelabuhan Iran akan "TETAP BERLAKU SEPENUHNYA" hingga tercapai kesepakatan damai dengan Teheran.
Namun, pembukaan Selat Hormuz bisa saja terbatas. Kantor berita Iran Tasnim melaporkan kapal dan kargo yang terkait dengan negara-negara bermusuhan tidak akan diizinkan melintas. Tasnim juga menyebut selat akan ditutup kembali jika blokade AS tetap berlanjut.
Masih belum jelas apakah kapal-kapal akan dikenakan biaya tol untuk melintasi jalur air tersebut.
Saham sektor-sektor yang rentan terhadap penutupan Selat Hormuz, seperti perusahaan kapal pesiar dan maskapai penerbangan, ikut rebound. Saham Boeing naik 2%, sementara Royal Caribbean melonjak 7%. Saham Amazon dan Airbnb juga menguat.
Investor kini disebut mulai melihat melewati konflik ini.
"Saya pikir pasar telah menarik kembali skenario terburuk, dan melihat jalur bagi AS dan Iran untuk mengakhiri konflik serta menjaga Selat Hormuz tetap terbuka. Selama itu masih menjadi skenario paling mungkin, pasar akan mendiskontokannya." kata Anthony Saglimbene, kepala strategi pasar di Ameriprise Financial.
Dow Future Ambruk
Kendati Wall Street menguat pekan lalu tetapi bayang-bayang pelemahan sudah nampak dari Dow Futures.
Kontrak futures saham anjlok pada Minggu malam setelah ketegangan antara Amerika Serikat dan Iran meningkat selama akhir pekan menyusul penyitaan kapal kargo berbendera Iran.
Kontrak berjangka Dow Jones Industrial Average turun 425 poin atau 0,9%. Kontrak berjangka S&P 500 melemah 8%, bersamaan dengan kontrak berjangka Nasdaq-100 yang juga turun.
Dow futures adalah kontrak berjangka yang mencerminkan perkiraan pergerakan indeks Dow Jones Industrial Average sebelum bursa saham AS dibuka.
Dow futures sering dipakai untuk melihat sentimen pasar global saat bursa saham AS masih tutup.
Dow Futures melemah setelah Presiden Donald Trump pada Minggu mengatakan AS telah menembaki dan menyita kapal kargo berbendera Iran di Teluk Oman. Hal ini terjadi setelah Iran menolak bergabung dalam putaran baru pembicaraan damai di Pakistan yang direncanakan oleh AS.
Trump mengatakan kapal Iran tersebut berada di bawah sanksi Departemen Keuangan AS karena riwayat aktivitas ilegal sebelumnya. Kami kini menguasai penuh kapal itu dan sedang memeriksa muatannya.
Trump juga mengancam akan menghancurkan seluruh pembangkit listrik dan jembatan di Iran jika negara itu tidak menyepakati kesepakatan dengan AS. Gencatan senjata antara kedua negara dijadwalkan berakhir pekan ini.
(mae/mae) Addsource on Google