Lanjut ke mata uang Garuda, nilai tukar rupiah mengakhiri perdagangan awal pekan ini dengan pelemahan tipis terhadap dolar Amerika Serikat (AS).
Dari pasar saham AS, bursa Wall Street kompak menguat pada perdagangan Senin atau Selasa dini hari waktu Indonesia.
Indeks menguat karena investor berharap kesepakatan pada akhirnya akan tercapai antara Amerika Serikat dan Iran.
Indeks S&P melonjak 1,02% dan ditutup di 6.886,24, level penutupan tertinggi sejak sebelum perang dimulai. Nasdaq Composite naik 1,23% ke 23.183,74. Sementara Dow Jones Industrial Average terapresiasi 301,68 poin atau 0,63% menjadi 48.218,25.
Indeks berisi 30 saham itu berhasil berbalik arah setelah sempat turun lebih dari 400 poin atau sekitar 0,9% di awal sesi. S&P 500 sempat melemah 0,4% di titik terendah sesi, sedangkan Nasdaq sempat turun 0,5%.
Saham-saham teknologi menjadi pendorong utama pasar, dengan saham perangkat lunak seperti Oracle melonjak hampir 13%, sementara Palantir Technologies naik lebih dari 3%. Kenaikan tersebut membantu S&P 500 menghapus seluruh penurunan sejak perang Iran dimulai.
Pasar saham bergerak lebih tinggi setelah Presiden Donald Trump mengatakan, Iran sangat ingin membuat kesepakatan.
Komentar itu muncul setelah Trump mengumumkan blokade Selat Hormuz, sementara perundingan damai antara AS dan Iran pada akhir pekan berakhir tanpa kesepakatan.
Blokade terhadap seluruh lalu lintas maritim keluar-masuk pelabuhan Iran mulai berlaku Senin. Komando Pusat AS menyatakan AS tidak akan menghalangi kapal yang menggunakan selat tersebut untuk menuju pelabuhan non-Iran.
Gagalnya negosiasi di Islamabad kembali memicu kekhawatiran bahwa perang Iran akan berlangsung lebih lama dari perkiraan, yang dapat mendorong harga minyak lebih tinggi dan terus menekan ekonomi global.
Minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) naik 2,6% menjadi US$99,08 per barel. Sementara Brent internasional melonjak 4,37% menjadi US$99,36 per barel.
Wakil Presiden JD Vance meninggalkan Islamabad tanpa kesepakatan dengan pihak Iran, dengan alasan Iran tidak bersedia menghentikan upaya memperoleh senjata nuklir. Namun kedua pihak tampak berselisih lebih jauh dari sekadar isu itu, karena Iran menuntut kendali atas Selat Hormuz, reparasi perang, serta pencairan aset yang dibekukan.
Mediator dari Pakistan, Mesir, dan Turki akan melanjutkan pembicaraan antara kedua negara dalam beberapa hari ke depan, menurut laporan Axios.
Trump, yang mengumumkan blokade laut setelah negosiasi gagal, juga tengah mempertimbangkan untuk melanjutkan serangan militer, menurut laporan Wall Street Journal.
"Investor kini kembali ke titik awal untuk menilai ulang valuasi wajar saham karena sudah jelas belum ada tanda-tanda konflik Timur Tengah akan berakhir," kata Clark Bellin, Presiden dan CIO Bellwether Wealth, kepada CNBC Indonesia.
"Selat Hormuz sangat penting bagi harga minyak dan sentimen pasar secara keseluruhan, dan jelas ketegangan antara AS dan Iran terkait jalur air ini akan terus meningkat pekan ini."imbuhnya.
Harapan berakhirnya perang secara cepat membantu tiga indeks utama mencatat pekan terbaik sejak November, setelah diumumkannya gencatan senjata dua pekan antara AS dan Iran. Pekan lalu, S&P 500 naik 3,6%, Nasdaq melonjak sekitar 4,7%, dan Dow menguat 3%.
BlackRock juga menaikkan prospek saham AS, dengan menyebut dampak makroekonomi perang yang masih "terkendali" serta laba perusahaan yang solid dapat menjadi landasan positif bagi kenaikan pasar selanjutnya.
Pergerakan pasar finansial dan komoditas global pada hari ini diwarnai oleh berbagai rilis data makroekonomi utama dari kawasan Asia seperti Neraca Perdagangan China, PPI AS, serta dinamika geopolitik yang masih memanas karena tidak ditemukannya titik tengah negosiasi perang Iran-AS.
Rangkaian data tersebut penting karena dapat mempengaruhi arah pergerakan rupiah, IHSG, obligasi, hingga harga komoditas. Terlebih, pasar global masih mencari kepastian soal kekuatan pertumbuhan ekonomi dunia di tengah potensi suku bunga yang akan disinyalir higher for longer akibat perang di Timur Tengah sehingga meningkatkan harga minyak dunia.
Perkembangan Perang
Militer Amerika Serikat mulai memberlakukan blokade terhadap kapal-kapal yang keluar dari pelabuhan Iran pada Senin sementara Teheran mengancam akan membalas terhadap pelabuhan negara-negara tetangganya di kawasan Teluk setelah perundingan akhir pekan di Islamabad untuk mengakhiri perang mengalami kegagalan.
Seorang pejabat AS mengatakan komunikasi dengan Iran masih terus berlangsung, dan terdapat kemajuan dalam upaya mencapai kesepakatan. Perdana Menteri Pakistan Shehbaz Sharif juga menyatakan bahwa upaya penyelesaian konflik masih berjalan.
Namun, harga minyak kembali naik menembus US$100 per barel, tanpa tanda-tanda pembukaan cepat Selat Hormuz untuk meredakan gangguan pasokan terbesar yang pernah terjadi, serta meningkatnya kekhawatiran terhadap ketahanan gencatan senjata dua pekan yang dicapai pekan lalu.
Trump mengatakan Iran telah menghubungi AS pada Senin dan ingin mencapai kesepakatan, tetapi ia tidak akan menyetujui perjanjian apa pun yang memungkinkan Teheran memiliki senjata nuklir.
"Iran tidak akan memiliki senjata nuklir. Kita tidak bisa membiarkan sebuah negara memeras atau mengancam dunia," kata Trump dikutip dari Reuters.
Sejak Amerika Serikat dan Israel memulai perang pada 28 Februari, Iran secara efektif menutup Selat Hormuz bagi semua kapal kecuali miliknya sendiri, dengan menyatakan bahwa pelayaran hanya diizinkan di bawah kendali Iran dan dengan pembayaran biaya tertentu.
Trump mengatakan Washington akan memblokir kapal-kapal Iran dan kapal mana pun yang membayar biaya tersebut, serta kapal-kapal "serangan cepat" Iran yang mendekati blokade akan dimusnahkan.
Brigadir Jenderal Reza Talaei-Nik, juru bicara Kementerian Pertahanan Iran, memperingatkan bahwa upaya militer asing untuk mengawasi selat itu akan memperparah krisis dan ketidakstabilan terhadap keamanan energi global.
Sekutu NATO termasuk Inggris dan Prancis mengatakan mereka tidak akan terseret ke dalam konflik dengan ikut serta dalam blokade tersebut. Mereka justru menekankan pentingnya membuka kembali jalur laut itu, yang biasanya dilalui sekitar seperlima pasokan minyak dunia.
Penjual Ritel Indonesia
Bank Indonesia melaporkan bahwa kinerja penjualan eceran nasional pada Februari 2026 mengalami pertumbuhan sebesar 6,5% (yoy), lebih tinggi dibandingkan pertumbuhan pada Januari yang tercatat sebesar 5,7% (yoy).
Secara bulanan, Indeks Penjualan Riil (IPR) juga mencatatkan pemulihan yang signifikan dengan tumbuh sebesar 4,1% (mtm), berbalik dari kondisi kontraksi sebesar 2,7% (mtm) pada bulan sebelumnya.
Pertumbuhan ini utamanya ditopang oleh peningkatan permintaan pada kelompok suku cadang dan aksesori, serta kelompok makanan, minuman, dan tembakau. Selain itu, subkelompok sandang turut berkontribusi positif seiring dengan persiapan masyarakat memasuki periode Ramadan.
Tren kenaikan ini diprakirakan akan berlanjut secara masif pada Maret 2026 dengan proyeksi pertumbuhan mencapai 9,3% (mtm), didorong oleh tingginya konsumsi rumah tangga selama momentum perayaan Idulfitri 1447 H.
Terkait dengan stabilitas harga, Bank Indonesia memperkirakan adanya tekanan inflasi pada Mei 2026. Hal ini tercermin dari kenaikan Indeks Ekspektasi Harga Umum (IEH) menjadi 157,4 yang dipicu oleh meningkatnya harga bahan baku.
Namun, untuk jangka menengah, yakni pada Agustus 2026, tekanan harga diprakirakan akan relatif stabil dengan indeks berada di level 157,2, menunjukkan kondisi pasar yang mulai berangsur normal pasca-hari besar keagamaan.
Rilis Data Neraca Perdagangan Tiongkok Maret 2026
Pada hari ini, pasar keuangan global saat ini tengah menantikan rilis data neraca perdagangan Tiongkok untuk bulan Maret 2026. Perhatian para pelaku pasar tertuju pada apakah momentum ekonomi Tiongkok yang kuat di awal tahun dapat dipertahankan. Pengumuman ini menjadi kabar penting bagi Indonesia karena China merupakan mitra dagang terbesar.
Sebelumnya, pada periode Januari hingga Februari 2026, Tiongkok mencatatkan surplus neraca perdagangan sebesar US$ 213,62 miliar, sebuah angka yang secara signifikan melampaui ekspektasi pasar.
Kinerja positif tersebut didukung oleh lonjakan ekspor sebesar 21,8% secara tahunan menjadi US$ 656,58 miliar, serta peningkatan impor sebesar 19,8% menjadi US$ 442,96 miliar.
Lonjakan ekspor ini tercatat sebagai pertumbuhan pengiriman tercepat sejak Oktober 2021, yang didorong oleh kuatnya permintaan global dan solidnya aktivitas awal tahun meskipun terdapat tekanan dari penerapan tarif oleh Amerika Serikat.
Sebagai langkah penyesuaian terhadap pelemahan permintaan dari Amerika Serikat, sektor manufaktur di Tiongkok telah mengalihkan fokus ekspor mereka ke kawasan Asia Tenggara, Afrika, dan Amerika Latin.
Sementara itu, pertumbuhan impor yang kuat mencerminkan solidnya permintaan domestik selama musim liburan, dengan peningkatan signifikan pada komoditas utama seperti minyak mentah dan batu bara.
Untuk rilis data Maret 2026, konsensus pasar memperkirakan surplus neraca perdagangan Tiongkok dapat berada di kisaran US$ 112 miliar, dibandingkan dengan periode rilis laporan sebelumnya yang tercatat sebesar US$ 90,98 miliar
Rilis data gabungan ekspor dan impor ini akan diawasi secara ketat oleh analis ekonomi untuk membaca ketahanan ekonomi Tiongkok, terutama menjelang rencana pembicaraan tingkat tinggi antara Amerika Serikat dan Tiongkok.
PPIÂ Amerika Serikat
Selain data perdagangan dari kawasan Asia, rilis data ekonomi dari Amerika Serikat juga menjadi fokus penting, khususnya Indeks Harga Produsen (PPI) untuk bulan Maret 2026 yang akan diumumkan hari ini. Laporan ini merupakan indikator makroekonomi pokok untuk mengukur tekanan inflasi di tingkat hulu.
Pada bulan sebelumnya, yaitu Februari 2026, data PPI menunjukkan peningkatan sebesar 0,7% secara bulanan. Angka ini lebih tinggi dari proyeksi konsensus awal dan menandai kenaikan terbesar dalam tujuh bulan terakhir.
Kenaikan tersebut utamanya didorong oleh lonjakan harga barang pokok, termasuk sayuran segar, bahan bakar diesel, dan bahan bakar penerbangan.
Secara tahunan, inflasi produsen utama pada bulan Februari telah melonjak hingga 3,4%, yang merupakan titik tertinggi dalam kurun waktu satu tahun terakhir.
Para pelaku pasar dan investor akan mencermati rilis data PPI bulan Maret untuk menilai lintasan inflasi Amerika Serikat ke depannya. Jika angka yang dirilis kembali menunjukkan tren penguatan atau bertahan pada level yang tinggi melebihi proyeksi konsensus, hal ini dapat mengindikasikan bahwa tekanan inflasi di tingkat produsen masih cukup persisten.
Kondisi tersebut pada akhirnya akan memberikan implikasi lanjutan terhadap harga di tingkat konsumen serta dapat mempengaruhi arah kebijakan suku bunga.
Rilis data ekonomi dari dua negara dengan ekonomi terbesar di dunia ini diproyeksikan akan memberikan landasan informasi yang signifikan bagi arah pergerakan pasar.
Kebijakan Baru Penahapan Campuran Bahan Bakar Nabati (BBN) hingga 2030
Menteri ESDM, Bahlil Lahadalia, resmi mewajibkan pencampuran Bahan Bakar Nabati (BBN) ke dalam BBM komersial melalui Kepmen ESDM Nomor 113.K/EK.05/MEM.E/2026. Kebijakan yang berlaku mulai 3 Maret 2026 ini dirancang untuk mencapai swasembada energi dan mempercepat pemanfaatan energi terbarukan melalui target bertahap hingga tahun 2030.
Untuk implementasi Biodiesel pada Solar bersubsidi, target pencampuran ditetapkan sebesar 40% (B40) pada 2026, lalu meningkat ke 50% (B50) secara nasional pada periode 2027-2030.
Sementara untuk Solar non-subsidi, implementasi B40 berlaku untuk tahun 2026-2027, dan naik ke B50 pada 2028-2030. Selain itu, pencampuran Diesel Biohidrokarbon pada Solar umum diwajibkan 5% pada 2026-2027 dan naik menjadi 10% pada 2028-2030 di tingkat nasional.
Di sektor bensin umum, Bioetanol ditargetkan mencapai campuran 5% (E5) pada 2026 di enam provinsi Pulau Jawa, dan diperluas ke Bali pada 2027. Persentase ini ditingkatkan menjadi 10% (E10) pada 2028, dengan tambahan wilayah implementasi di Lampung pada periode 2029-2030.
Untuk sektor penerbangan komersial, Bioavtur akan mulai dicampurkan sebesar 1% pada 2027-2028 dan meningkat menjadi 5% pada 2029-2030, dengan fokus implementasi awal di Bandara Internasional Soekarno-Hatta dan I Gusti Ngurah Rai.
Tiga Jalur Dampak Geopolitik dan Pertahanan Makroekonomi
Eskalasi konflik antara Amerika Serikat, Israel, dan Iran memberikan tekanan pada ekonomi global yang merambat ke Indonesia melalui tiga jalur utama.
Pertama adalah jalur finansial, di mana ketidakpastian memicu sentimen risk-off.Modal asing bergerak keluar dari negara berkembang menuju aset safe haven di AS, yang secara otomatis menguatkan indeks dolar (DXY) dan menekan nilai tukar Rupiah.
Kedua, jalur komoditas; potensi gangguan pelayaran di Selat Hormuz menaikkan harga minyak mentah dunia. Namun, hal ini memberikan kompensasi tidak langsung bagi Indonesia melalui kenaikan harga komoditas ekspor andalan seperti batu bara, CPO, nikel, dan emas.
Ketiga, jalur perdagangan; gangguan rantai pasok dan logistik maritim berpotensi memicu stagflasi global, yaitu kondisi perlambatan pertumbuhan ekonomi yang disertai dengan lonjakan inflasi.
Di tengah tekanan tersebut, fundamental ekonomi domestik dinilai tetap solid. Inflasi yang sempat meninggi pada awal tahun akibat efek basis rendah dari pencabutan subsidi listrik kini mulai melandai dan berada pada target sasaran BI, yakni 2,5% ± 1%.
Keputusan pemerintah untuk tidak menaikkan harga BBM bersubsidi juga dinilai krusial untuk menjaga daya beli sekaligus menstabilkan Rupiah. Dengan indikator produksi yang masih ekspansif, pertumbuhan ekonomi kuartal I-2026 diyakini mampu mencapai 5,2%.
Sebagai bentuk respons mitigasi, Bank Indonesia menyiagakan pemantauan pasar 24 jam dengan mengoptimalkan kantor perwakilan di London dan New York, serta melakukan intervensi likuiditas secara terukur di pasar spot, Non-Deliverable Forward (NDF) global, maupun Domestic NDF (DNDF).
 Foto: Bank Indonesia Presentasi Opening Speech Deputi Senior Bank Indonesia Destry Damayanti |
Dinamika Arus Modal dan Strategi Operasional Pasar
Pelemahan nilai tukar Rupiah yang sempat menembus level Rp17.100 per dolar AS lebih dominan didorong oleh keluarnya investor jangka pendek akibat meningkatnya kepekaan terhadap sentimen risiko.
Bank Indonesia saat ini berfokus menjaga perspektif fundamental agar investor jangka menengah-panjang, seperti dana pensiun dan Sovereign Wealth Fund, tetap bertahan di pasar domestik
Erwin menganalogikan pergerakan nilai tukar seperti suhu badan manusia; meski sedang "demam" akibat sentimen global, volatilitas Rupiah secara komparatif masih lebih rendah (4,75%) dibandingkan dengan mata uang negara berkembang lainnya.
Hal ini ditopang oleh fundamental kuat berupa inflasi yang terjaga, defisit transaksi berjalan yang ringan pada level 0,69%, serta cadangan devisa yang sangat memadai.
Untuk mengelola gejolak tersebut, BI mengimplementasikan strategi operasional secara bertahap. Arus modal asing kembali didorong masuk melalui lelang Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI) dengan harga yang terkalibrasi.
Di saat yang sama, ketersediaan likuiditas perbankan dan korporasi untuk memutar sektor riil tetap dijamin melalui instrumen FX Swap, Repo, dan pembelian Surat Berharga Negara (SBN) di pasar sekunder.
BI secara khusus mengimbau para pelaku usaha agar tidak membeli valuta asing secara mendadak di pasar spot. Perusahaan diharapkan disiplin memanfaatkan instrumen hedging sebagai asuransi untuk mengunci eksposur nilai tukar.
Transaksi valuta asing harus didasarkan pada kebutuhan riil aktivitas ekonomi, bukan spekulasi. Secara jangka menengah dan panjang, otoritas meyakini Rupiah memiliki kecenderungan untuk kembali menguat setelah ketidakpastian geopolitik mereda.
 Foto: Kepala Departemen Pengelolaan Moneter dan Aset Sekuritas (DPMA) Bank Indonesia, Erwin Gunawan Hutapea memberi pemaparan dalam acara Central Banking Forum 2026, di Grand Ballroom Hotel Mandarin Oriental, Jakarta, Senin (13/4/2026). (CNBC Indonesia/Tri Susilo) |
Berikut sejumlah agenda dan rilis data yang terjadwal untuk hari ini:
- Neraca Perdagangan China Maret 2026
- Ekspor China Maret 2026
- Impor China Maret 2026
- PPI AS Maret 2026
Direktur Utama Perum BULOG melakukan monitoring ketersediaan pangan di Pasar Minggu dan Pasar Grogol.
Rapat Panitia Kerja RUU Ketenagakerjaan antara Komisi IX DPR dengan Kamar Dagang dan Industri dan Asosiasi Pengusaha Indonesia di ruang rapat Komisi IX DPR, Senayan, Jakarta Pusat.
Bincang Bahari KKP terkait Sistem Ketelusuran dan Logistik Ikan Nasional (STELINA) di Media Center, KKP, Jakarta Pusat. Turut hadir Plt. Direktur Jenderal Penguatan Daya Saing Produk Kelautan dan Perikanan KKP.
Halal Bihalal Keluarga Besar Asosiasi Perusahaan Semen Seluruh Indonesia di Mangkuluhur Artotel Suites, Jakarta Selatan.
PT. Toyota Motor Manufacturing Indonesia (TMMIN) menggelar "Media Workshop on Indonesia Auto Industry Challenge in Electrification Era" yang akan diselenggarakan di The Orient Jakarta, Jakarta Pusat.
- Konferensi pers Kedutaan Besar Prancis untuk Indonesia terkait Borobudur Declaration di Résidence de France
Berikut sejumlah agenda emiten di dalam negeri pada hari ini:
- Pemberitahuan RUPS Rencana 31-12-2025 Pembangunan Jaya Ancol Tbk
- Tanggal cum Dividen Tunai Adira Dinamika Multi Finance Tbk
- Tanggal cum Dividen Tunai PT Nusantara Sejahtera Raya Tbk
Berikut sejumlah indikator perekonomian nasional:
-
Sanggahan: Artikel ini adalah produk jurnalistik berupa pandangan CNBC Indonesia Research. Analisis ini tidak bertujuan mengajak pembaca untuk membeli, menahan, atau menjual produk atau sektor investasi terkait. Keputusan sepenuhnya ada pada diri pembaca, sehingga kami tidak bertanggung jawab terhadap segala kerugian maupun keuntungan yang timbul dari keputusan tersebut.
CNBC INDONESIA RESEARCH
[email protected]