MARKET DATA
NEWSLETTER

AS Mulai Blokade Selat Hormuz, China Bakal Umumkan Kabar Genting

Gelson Kurniawan,  CNBC Indonesia
14 April 2026 06:20
New York Stock Exchange NYSE bursa amerika serikat
Foto: Ilustrasi Trading (Dok MIFX)

Dari pasar saham AS, bursa Wall Street kompak menguat pada perdagangan Senin atau Selasa dini hari waktu Indonesia.

Indeks menguat karena investor berharap kesepakatan pada akhirnya akan tercapai antara Amerika Serikat dan Iran.

Indeks S&P melonjak 1,02% dan ditutup di 6.886,24, level penutupan tertinggi sejak sebelum perang dimulai. Nasdaq Composite naik 1,23% ke 23.183,74. Sementara Dow Jones Industrial Average terapresiasi 301,68 poin atau 0,63% menjadi 48.218,25.

Indeks berisi 30 saham itu berhasil berbalik arah setelah sempat turun lebih dari 400 poin atau sekitar 0,9% di awal sesi. S&P 500 sempat melemah 0,4% di titik terendah sesi, sedangkan Nasdaq sempat turun 0,5%.

Saham-saham teknologi menjadi pendorong utama pasar, dengan saham perangkat lunak seperti Oracle melonjak hampir 13%, sementara Palantir Technologies naik lebih dari 3%. Kenaikan tersebut membantu S&P 500 menghapus seluruh penurunan sejak perang Iran dimulai.



Pasar saham bergerak lebih tinggi setelah Presiden Donald Trump mengatakan, Iran sangat ingin membuat kesepakatan.

Komentar itu muncul setelah Trump mengumumkan blokade Selat Hormuz, sementara perundingan damai antara AS dan Iran pada akhir pekan berakhir tanpa kesepakatan.

Blokade terhadap seluruh lalu lintas maritim keluar-masuk pelabuhan Iran mulai berlaku Senin. Komando Pusat AS menyatakan AS tidak akan menghalangi kapal yang menggunakan selat tersebut untuk menuju pelabuhan non-Iran.

Gagalnya negosiasi di Islamabad kembali memicu kekhawatiran bahwa perang Iran akan berlangsung lebih lama dari perkiraan, yang dapat mendorong harga minyak lebih tinggi dan terus menekan ekonomi global.

Minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) naik 2,6% menjadi US$99,08 per barel. Sementara Brent internasional melonjak 4,37% menjadi US$99,36 per barel.

Wakil Presiden JD Vance meninggalkan Islamabad tanpa kesepakatan dengan pihak Iran, dengan alasan Iran tidak bersedia menghentikan upaya memperoleh senjata nuklir. Namun kedua pihak tampak berselisih lebih jauh dari sekadar isu itu, karena Iran menuntut kendali atas Selat Hormuz, reparasi perang, serta pencairan aset yang dibekukan.

Mediator dari Pakistan, Mesir, dan Turki akan melanjutkan pembicaraan antara kedua negara dalam beberapa hari ke depan, menurut laporan Axios.

Trump, yang mengumumkan blokade laut setelah negosiasi gagal, juga tengah mempertimbangkan untuk melanjutkan serangan militer, menurut laporan Wall Street Journal.

"Investor kini kembali ke titik awal untuk menilai ulang valuasi wajar saham karena sudah jelas belum ada tanda-tanda konflik Timur Tengah akan berakhir," kata Clark Bellin, Presiden dan CIO Bellwether Wealth, kepada CNBC Indonesia.

"Selat Hormuz sangat penting bagi harga minyak dan sentimen pasar secara keseluruhan, dan jelas ketegangan antara AS dan Iran terkait jalur air ini akan terus meningkat pekan ini."imbuhnya.

Harapan berakhirnya perang secara cepat membantu tiga indeks utama mencatat pekan terbaik sejak November, setelah diumumkannya gencatan senjata dua pekan antara AS dan Iran. Pekan lalu, S&P 500 naik 3,6%, Nasdaq melonjak sekitar 4,7%, dan Dow menguat 3%.

BlackRock juga menaikkan prospek saham AS, dengan menyebut dampak makroekonomi perang yang masih "terkendali" serta laba perusahaan yang solid dapat menjadi landasan positif bagi kenaikan pasar selanjutnya.

(gls/gls)


Most Popular
Features