MARKET DATA

RI- China Makin Doyan Pakai Yuan, Bye Dolar Amerika

Elvan Widyatama,  CNBC Indonesia
13 April 2026 16:50
U.S. Dollar and Chinese Yuan banknotes are seen in this illustration taken January 30, 2023. REUTERS/Dado Ruvic/Illustration
Foto: REUTERS/DADO RUVIC

Jakarta, CNBC Indonesia - Dominasi dolar Amerika Serikat (AS) dalam transaksi perdagangan dan keuangan global hingga kini masih belum tergantikan. Di tengah ketidakpastian global yang kembali meningkat, mata uang Negeri Paman Sam itu tetap menjadi pilihan utama pelaku pasar dan dunia usaha, terutama karena likuiditasnya yang paling besar dan statusnya sebagai aset aman.

Hal ini disampaikan oleh Chief Economist BCA David Sumual yang menilai dominasi dolar dalam transaksi global memang masih sangat besar. Namun, di saat yang sama, dia melihat mulai ada tambahan penggunaan yuan China dalam aktivitas perdagangan internasional.

"Kalau kita lihat, penggunaan USD masih besar. Untuk impor itu masih 90,7%, bahkan secara global peran dolar juga masih dominan. Tetapi ada peningkatan permintaan mata uang yuan karena mereka minta dibayar dalam yuan," ujar David dalam acara Central Bank Forum 2026 di Jakarta, Senin (13/4/2026).

David menjelaskan, dominasi dolar memang belum tergeser. Menurut dia, dalam perdagangan dunia, dolar masih menjadi mata uang paling likuid dan masih menjadi acuan utama bagi banyak transaksi internasional.

"Tiongkok suka dibayar dengan yuan jadi kebutuhan yuan penting di luar negeri. Likuiditas yuan mungkin bisa terpengaruh kalau jangka panjang seperti ini terus," imbuh David.

Dia menilai langkah pemerintah menerbitkan dim sum bond menjadi instrumen menarik yang bisa menambah pasokan yuan.

Pada Oktober 2025, penerbitan Dim Sum Bonds menarik minat investor onshore (domestik) Cina dengan total final orderbook mencapai 18 miliar yuan (Rp39,6 triliun).

Karena itu, ketika tensi geopolitik meningkat dan pelaku pasar menghindari risiko, arus dana global dengan cepat kembali mengarah ke dolar AS.

Meski begitu, David melihat mulai ada perubahan secara perlahan. Tambahan penggunaan yuan mulai terlihat seiring makin besarnya hubungan dagang Indonesia dengan China.

Dia menuturkan bahwa aktivitas perdagangan Indonesia kini makin terdiversifikasi. Kalau dulu lebih banyak bergantung pada Jepang dan AS, kini porsi perdagangan dengan China dan India semakin besar.

Ekspor Indonesia ke China menurutnya naik sekitar 24%, sementara impor dari China naik 74%.

Pasar ekspor terbesar IndonesiaFoto: BPS
Pasar ekspor terbesar Indonesia

Kondisi itu kemudian mendorong bertambahnya kebutuhan yuan di luar negeri. David menjelaskan, sebagian transaksi dengan China kini memang diminta dibayar dalam yuan. Karena itu, permintaan terhadap mata uang China tersebut ikut meningkat.

Hal ini juga terlihat dari menguatnya mata uang yuan terhadap rupiah Garuda. Melansir Refinitiv, pergerakan rupiah terhadap yuan China terus mengalami pelemahan. Secara year to date (ytd), rupiah sudah melemah sekitar 4,9% terhadap yuan, dengan kurs per siang ini, Senin (13/4/2026), di level Rp2.505/CNY.

Artinya, pelemahan nilai tukar rupiah terhadap yuan sudah jauh lebih dalam dibandingkan terhadap dolar AS sejak awal tahun 2026.

Meski demikian, David juga menyinggung bahwa pemerintah telah menyiapkan beberapa inisiatif untuk menambah likuiditas yuan, termasuk melalui instrumen seperti dimsum bonds.

Menurut dia, langkah seperti ini menjadi bagian dari upaya diversifikasi untuk mengurangi ketergantungan yang terlalu besar pada dolar AS dalam transaksi internasional.

Namun demikian, David menegaskan bahwa peran dolar sampai saat ini masih belum tergantikan. Secara global, kata dia, porsi penggunaan dolar dalam transaksi dunia masih berada di kisaran 89%, sehingga hampir semua mata uang tetap menjadikan dolar sebagai acuan utama.

"Bahkan mata uang dunia yang paling likuid itu USD," ujar David.

Artinya, tambahan penggunaan yuan memang mulai terlihat, tetapi arahnya masih lebih sebagai upaya diversifikasi bertahap, bukan pengganti dominasi dolar dalam waktu dekat. Di tengah gejolak geopolitik seperti sekarang, posisi dolar justru kembali menguat karena statusnya sebagai aset aman global.

Berdasarkan survei Bank for International Settlements (BIS) menunjukkan pangsa yuan di pasar valas global naik menjadi 8,5% pada 2025 dari 7% pada 2022. Meski demikian, dolar AS masih tetap mendominasi dengan porsi 89,2% transaksi dunia. Artinya, dolar masih menjadi mata uang utama dunia, tetapi penggunaan yuan mulai perlahan bertambah.

CNBC INDONESIA RESEARCH

[email protected]

(evw/evw)



Most Popular