MARKET DATA
Newsletter

Awas! Gencatan Senjata Terancam, Fed Beri Sinyal Keras Soal Suku Bunga

Emanuella Bungasmara Ega Tirta,  CNBC Indonesia
09 April 2026 06:25
Pedagang Christopher Lagana bekerja di lantai Bursa Efek New York, Jumat, 11 April 2025.
Foto: Ilustrasi Trading (Dok MIFX)

Dari pasar saham Amerika Serikat (AS), bursa Wall Street melonjak pada Rabu setelah Trump menangguhkan serangan terhadap Iran selama dua minggu, menghentikan sementara konflik lima minggu yang sempat menutup jalur air penting bagi pasokan energi global.

Indeks Dow Jones Industrial Average melonjak 1.325,46 poin, atau 2,85%, ke 47.909,92. Ini merupakan kinerja harian terbaik sejak April 2025, ketika Trump pertama kali melunakkan kebijakan tarif awalnya.

Indeks S&P 500 naik 2,51% ke 6.782,81, sementara Nasdaq Composite melesat 2,80% ke 22.635,00.

Harga minyak mentah West Texas Intermediate anjlok lebih dari 16% dan ditutup di US$94,41 per barel, penurunan harian terbesar sejak April 2020. Sementara acuan global Brent crude untuk pengiriman Juni turun sekitar 13% ke US$94,75.

 

"Saya setuju untuk menangguhkan pengeboman dan serangan terhadap Iran selama dua minggu," Kami menerima proposal 10 poin dari Iran, dan percaya ini bisa menjadi dasar yang layak untuk negosiasi." tulis Trump di Truth Social.

Trump mengatakan gencatan senjata "dua arah" tersebut bergantung pada kesediaan Iran membuka kembali Selat Hormuz.

Dewan Keamanan Nasional Tertinggi Iran telah menyetujui pembukaan kembali jalur tersebut selama dua minggu selama semua serangan dihentikan, menurut pernyataan Menteri Luar Negeri Iran.

Pernyataan itu juga menyebutkan bahwa lalu lintas kapal harus dikoordinasikan dengan angkatan bersenjata Iran. Israel juga menyetujui gencatan senjata tersebut, menurut laporan media.

"Bukan hal yang mengejutkan bahwa ada jeda dalam konflik Iran. Pasar kini jauh lebih piawai membaca langkah Trump berikutnya," kata Jay Woods, kepala strategi pasar di Freedom Capital Markets, dikutip dari CNBC International.

"Kekhawatirannya sekarang adalah apakah periode 'dua minggu' yang sudah sering terjadi ini akan benar-benar menghasilkan solusi." imbuhnya.

 

Saham kembali mendapat dorongan setelah Trump menyatakan bahwa AS akan bekerja sama dengan Iran untuk mengeluarkan material nuklir dari negara tersebut, serta membahas pelonggaran tarif dan sanksi.

Namun demikian, ketidakpastian masih membayangi terkait akses melalui Selat Hormuz.

Pada Rabu, kantor berita pemerintah Iran Fars melaporkan bahwa lalu lintas tanker minyak di selat tersebut terhenti setelah serangan Israel ke Lebanon. Ketua parlemen Iran, Mohammad Bagher Ghalibaf, juga menyatakan bahwa AS telah melanggar kesepakatan gencatan senjata dua minggu, menyoroti meningkatnya ketidakpercayaan antara kedua negara.

Reli pasar dipimpin oleh saham-saham yang sebelumnya paling tertekan sejak konflik dimulai. Produsen semikonduktor yang rentan terhadap gangguan rantai pasok naik tajam, dengan VanEck Semiconductor ETF melonjak lebih dari 5%. Saham Broadcom naik hampir 5%, sementara Micron Technology melesat lebih dari 7%.

Pasar internasional yang lebih bergantung pada impor energi mengungguli AS, dengan iShares MSCI Emerging Markets ETF naik lebih dari 5%. Saham Korea Selatan melonjak lebih dari 10%. Saham berkapitalisasi kecil yang lebih sensitif terhadap siklus ekonomi juga naik hampir 3%.

Di sisi lain, saham energi yang sebelumnya melonjak sejak konflik dimulai justru melemah. Saham Exxon Mobil dan Chevron masing-masing turun lebih dari 4%.

Kenaikan ini menambah optimisme bahwa pasar saham akhirnya menemukan titik dasar setelah aksi jual bulan lalu, meskipun banyak pihak masih yakin volatilitas belum akan mereda mengingat sensitivitas pasar terhadap perkembangan geopolitik.

(emb/emb)


Most Popular
Features