MARKET DATA

Investor Waspada: Hari Ini Ada Pidato Trump & Serbuan Data Amerika

Elvan Widyatama,  CNBC Indonesia
02 April 2026 06:20
USA-TRUMP/
Foto: REUTERS/Elizabeth Frantz

Pasar keuangan Tanah Air pada perdagangan hari ini akan mencermati sejumlah hasil dan yang akan merilis data perekonomian dari dalam dan luar negeri. Mulai dari inflasi Maret 2026, neraca perdagangan Indonesia, kondisi manufaktur domestik, hingga sederet indikator ekonomi Amerika Serikat yang akan memberi petunjuk baru mengenai arah ekonomi global.

Perdagangan hari ini juga menjadi yang terakhir di pekan ini bagi pasar keuangan Indonesia. Pasalnya, Jumat nasional (3/4/2026) ditetapkan sebagai hari libur Jumat Agung dalam kalender libur dan kalender libur Bursa 2026.

Dengan demikian, pelaku pasar akan lebih mencermati berbagai data yang rilis hari ini untuk menata posisi sebelum jeda akhir pekan panjang.

Inflasi Maret 2026

Badan Pusat Statistik (BPS) melaporkan inflasi Indonesia pada Maret 2026 melandai dibandingkan bulan sebelumnya. Padahal, periode ini bertepatan dengan Ramadhan dan Idulfitri yang biasanya mendorong peningkatan konsumsi masyarakat.Idulfitri yang biasanya mendorong peningkatan konsumsi masyarakat. Idulfitri yang biasanya mendorong kenaikan konsumsi masyarakat.Idulfitri yang biasanya mendorong kenaikan konsumsi masyarakat.

BPS mencatat inflasi bulanan pada Maret 2026 sebesar 0,41%, sementara secara tahunan inflasi tercatat 3,48%. Angka inflasi tahunan ini turun dibandingkan Februari 2026 yang mencapai 4,86%.

Meski melandai dibandingkan bulan sebelumnya, inflasi Maret 2026 masih jauh lebih tinggi dibandingkan periode yang sama tahun lalu. Pada Maret 2025, inflasi tahunan Indonesia tercatat hanya sebesar 1,03%.

Deputi Bidang Statistik Distribusi dan Jasa BPS Ateng Hartono mengatakan perkembangan tersebut menunjukkan harga-harga secara konsumen umum masih mengalami kenaikan.Ateng Hartono mengatakan perkembangan tersebut menunjukkan harga-harga secara konsumen umum masih mengalami kenaikan. Ateng Hartono mengatakan perkembangan tersebut menunjukkan harga-harga konsumen secara umum masih mengalami kenaikan.Ateng Hartono mengatakan perkembangan tersebut menunjukkan harga-harga konsumen secara umum masih mengalami kenaikan.

Artinya masih terjadi kenaikan indeks harga konsumen atau IHK dari 107,22 pada Maret 2025 menjadi 110,95 pada Maret 2026, kata Ateng Hartono dalam konferensi pers di kantor pusat BPS, Jakarta, Rabu (1/4/2026).IHK dari 107,22 pada Maret 2025 menjadi 110,95 pada Maret 2026, kata Ateng Hartono dalam konferensi pers di kantor pusat BPS, Jakarta, Rabu (1/4/2026). IHK dari 107,22 pada Maret 2025 menjadi 110,95 pada Maret 2026,” kata Ateng Hartono dalam konferensi pers di kantor pusat BPS, Jakarta, Rabu (1/4/2026).IHK dari 107,22 pada Maret 2025 menjadi 110,95 pada Maret 2026," kata Ateng Hartono dalam konferensi pers di kantor pusat BPS, Jakarta, Rabu (1/4/2026).

Data BPS menunjukkan tekanan inflasi tahunan pada Maret 2026 terutama berasal dari tiga kelompok pengeluaran utama. Kelompok perumahan, udara, listrik, dan bahan bakar rumah tangga mencatat inflasi 7,24% dengan andil 1,08% terhadap IHK.IHK.

Kemudian, kelompok perawatan pribadi dan jasa lainnya mengalami inflasi sebesar 15,32% dengan andil 1,02%, sedangkan kelompok makanan, minuman, dan tembakau mencatat inflasi 3,34% dengan andil 0,99%.

Menurut BPS, tingginya inflasi pada kelompok perawatan pribadi dan jasa lainnya terutama disebabkan oleh kenaikan harga emas perhiasan.

“Untuk kelompok perawatan pribadi dan jasa lainnya yang mengalami inflasi cukup tinggi terutama terjadi pada komoditas emas perhiasan, ini year on year ya,” ujar Ateng.Ateng.

Di luar kelompok tersebut, inflasi pada kelompok pengeluaran lain relatif masih rendah, umumnya di bawah 2%. Misalnya, kelompok kesehatan mengalami inflasi 1,49% dengan andil 0,05%, kelompok penyediaan makanan dan minuman/restoran sebesar 1,42% dengan andil 0,14%, serta kelompok pendidikan sebesar 1,14% dengan andil 0,06%.

Perkembangan inflasi Maret 2026 ini lebih rendah dibandingkan perkiraan pelaku pasar. Konsensus yang dihimpun CNBC Indonesia dari 12 lembaga sebelumnya memperkirakan inflasi bulanan Maret 2026 mencapai 0,60%, dengan median inflasi tahunan sebesar 3,68%.CNBC Indonesia dari 12 institusi sebelumnya memperkirakan inflasi bulanan Maret 2026 mencapai 0,60%, dengan median inflasi tahunan sebesar 3,68%.

Neraca Dagang RI Surplus

Kinerja perdagangan luar negeri Indonesia kembali mencatatkan hasil positif pada Februari 2026. BPS melaporkan neraca perdagangan Indonesia masih mencatat surplus sebesar US$1,27 miliar. Capaian ini memperpanjang tren surplus perdagangan menjadi 70 bulan berturut-turut sejak Mei 2020.

Nilai surplus tersebut terbentuk dari kinerja ekspor yang mencapai US$22,17 miliar, lebih tinggi dibandingkan impor sebesar US$20,89 miliar. Dengan selisih tersebut, neraca perdagangan Indonesia tetap bertahan di zona positif di tengah dinamika perekonomian global yang masih bergejolak.

Surplus perdagangan pada Februari 2026 juga lebih tinggi dibandingkan pencapaian Januari 2026 yang sebesar US$960 juta. Artinya, kinerja perdagangan Indonesia menunjukkan perbaikan pada bulan kedua tahun ini.

Deputi Bidang Statistik Distribusi dan Jasa BPS Ateng Hartono mengatakan surplus Februari terutama ditopang oleh sektor nonmigas yang mencatatkan surplus sebesar US$2,19 miliar. Komoditas utama penyumbang surplus nonmigas antara lain lemak dan minyak hewani atau nabati, bahan bakar mineral, serta besi dan baja.Ateng Hartono mengatakan surplus Februari terutama ditopang oleh sektor nonmigas yang mencatatkan surplus sebesar US$2,19 miliar. Komoditas utama penyumbang surplus nonmigas antara lain lemak dan minyak hewan atau nabati, bahan bakar mineral, serta besi dan baja.

“Pada Februari 2026 mencatat surplus US$1,27 miliar. Surplus selama 70 bulan berturut-turut sejak Mei 2020,” kata Ateng dalam konferensi pers, Rabu (1/4/2026).Ateng dalam konferensi pers, Rabu (1/4/2026).

Di sisi lain, neraca perdagangan migas masih mencatat defisit sebesar US$920 juta. Defisit ini terutama berasal dari perdagangan minyak mentah, hasil minyak, dan gas, yang nilai impornya masih lebih besar dibandingkan ekspor.impornya masih lebih besar dibandingkan ekspor.

Dengan masih terjaganya surplus perdagangan, neraca eksternal Indonesia memperoleh tambahan penopang di tengah tekanan global yang masih tinggi. Bagi pasar, pencapaian ini penting karena surplus perdagangan yang konsisten dapat membantu menopang transaksi berjalan sekaligus memberi dukungan terhadap stabilitas nilai tukar rupiah.terjaganya surplus perdagangan, neraca eksternal Indonesia memperoleh tambahan penopang di tengah tekanan global yang masih tinggi. Bagi pasar, capaian ini penting karena surplus perdagangan yang konsisten dapat membantu menopang transaksi berjalan sekaligus memberi dukungan terhadap stabilitas nilai tukar rupiah.

PMI Manufaktur RI

Lembaga pemeringkat global S&P Global melaporkan aktivitas manufaktur Indonesia pada Maret 2026 masih dalam fase ekspansi. Indeks Purchasing Managers' Index (PMI) manufaktur tercatat sebesar 50,1, menandakan sektor industri masih tumbuh meski lajunya melambat tajam. Capaian ini menjadi level terendah sejak Juli 2025 atau delapan bulan terakhir.

Meski melandai, posisi PMI yang masih berada di atas level 50 menunjukkan aktivitas manufaktur Indonesia tetap bertahan di zona ekspansi selama delapan bulan berturut-turut. PMI menggunakan angka 50 sebagai ambang batas, di mana di atas 50 menandakan ekspansi, sedangkan di bawah 50 menunjukkan kontraksi.

Pelemahan PMI pada bulan Maret terutama dipicu turunnya volume produksi dan pesanan baru. Data Maret menunjukkan produksi kembali menurun setelah sebelumnya tumbuh selama empat bulan berturut-turut dan sempat melonjak signifikan pada bulan Februari. Laju penurunan ini tergolong moderat, tetapi menjadi yang terdalam sejak Juni 2025.

S&P Global mencatat pelemahan ini tidak lepas dari dampak perang di Timur Tengah. Pelaku usaha melaporkan konflik tersebut telah menekan harga dan pasokan bahan baku, yang kemudian mengganggu permintaan serta produksi barang manufaktur. Kondisi yang cenderung lesu juga membuat aktivitas pembelian, backlog pekerjaan, dan tenaga kerja ikut melambat.

Sementara itu, kepercayaan bisnis memang sedikit membaik, namun masih berada di bawah rata-rata jangka panjang.

Ekonom S&P Global Market Intelligence, Usamah Bhatti, mengatakan penurunan produksi pada Maret menjadi yang terdalam dalam sembilan bulan terakhir. Menurut dia, permintaan pelemahan juga dipicu oleh pembalikan tajam pada permintaan ekspor baru, yang turun pada tingkat paling dalam sejak November lalu.Usamah Bhatti, mengatakan penurunan produksi pada Maret menjadi yang terdalam dalam sembilan bulan terakhir. Menurut dia, pelemahan permintaan juga dipicu oleh pembalikan tajam pada permintaan ekspor baru, yang turun pada tingkat paling dalam sejak November lalu.

Dia menegaskan bahwa perang telah memberi tekanan besar pada harga dan pasokan bahan baku, sehingga membebani produksi dan permintaan, sekaligus mendorong biaya inflasi ke tingkat tertinggi dalam dua tahun.

Meski demikian, pelaku industri manufaktur Indonesia masih menunjukkan optimisme terhadap prospek satu tahun ke depan. Tingkat kepercayaan pada Maret tercatat cukup kuat dan sedikit meningkat dibandingkan Februari. Optimisme ini ditopang oleh harapan bahwa permintaan akan kembali pulih dan konflik di Timur Tengah tidak semakin memburuk, meskipun tingkat keyakinan tersebut masih berada di bawah rata-rata historis.

Pidato Trump

Presiden Donald Trump akan memberikan pidato mengenai perkembangan peran Iran pada Rabu pukul 0900 malam waktu setempat atau Kamis 08.00 WIB.

Trump mengatakan kemarin jika dia mengatakan pasukan AS akan menarik diri dari Iran dalam "dua hingga tiga minggu." Trump juga mengatakan bahwa presiden Iran meminta gencatan senjata, yang menurut Trump hanya akan mempertimbangkan ketika Selat Hormuz dibuka kembali.Hormuz dibuka kembali.

Tiga puluh tiga hari sejak dimulainya Operation Epic Fury, Amerika Serikat kini sudah berada dalam rentang waktu empat hingga enam minggu yang sebelumnya ditetapkan oleh presiden dan pemerintahannya untuk operasi gabungan AS-Israel tersebut. Pernyataan presiden bahwa AS akan meninggalkan Iran dalam "dua atau tiga minggu" justru akan membuat konflik militer melampaui batas atas perkiraan enam minggu, meskipun presiden menyatakan bahwa perang berjalan lebih cepat dari jadwal. Donald Trump juga mengatakan perang bisa berakhir lebih cepat jika kedua pihak mencapai kesepakatan.

Neraca Dagang AS Februari 2026

Dari Negeri Paman Sam, pelaku pasar juga akan menantikan rilis data neraca perdagangan Februari 2026 yang diumumkan diumumkan hari ini. Data ini penting untuk diperhatikan karena memberikan gambaran mengenai kekuatan permintaan domestik AS, daya saing ekspor, serta kontribusi sektor eksternal terhadap pertumbuhan ekonomi Negeri Paman Sam.

Pada rilis sebelumnya untuk Januari 2026, defisit neraca perdagangan barang dan jasa AS tercatat sebesar US$54,5 miliar, sangat tajam dibandingkan US$72,9 miliar pada Desember 2025.

Penyempitan defisit itu terjadi karena ekspor naik 5,5% menjadi US$302,1 miliar, sementara impor turun 0,7% menjadi US$356,6 miliar.

Perbaikan pada bulan Januari terutama ditopang oleh menyempitnya defisit perdagangan barang dari US$99,3 miliar menjadi US$81,8 miliar.

Pada saat yang sama, surplus perdagangan jasa naik dari US$26,3 miliar menjadi US$27,3 miliar. Kenaikan ekspor didorong oleh penguatan ekspor barang, terutama pada kelompok perlengkapan dan bahan industri serta barang modal.

Bagi pasar, rilis nanti akan menjadi petunjuk baru untuk membaca arah perdagangan eksternal AS di tengah-tengah global yang masih tinggi.

Klaim Awal Pengangguran AS

Masih dari AS, pelaku pasar juga akan menantikan rilis data klaim awal kegelapan yang diumumkan pada Kamis malam nanti.

Data mingguan ini penting dicermati karena menjadi salah satu indikator tercepat untuk membaca kondisi pasar tenaga kerja AS. Peningkatan klaim biasanya mencerminkan bertambahnya jumlah pekerja yang baru mengajukan tunjangan pengangguran, sedangkan penurunan klaim menunjukkan tekanan pemutusan hubungan kerja (PHK) masih terbatas.

Sebagai gambaran terakhir, pada rilis sebelumnya untuk pekan yang berakhir 21 Maret 2026 dan diumumkan 26 Maret 2026, jumlah klaim awal penurunan tercatat sebesar 210.000, naik 5.000 dari pekan sebelumnya yang sebesar 205.000.

Meski meningkat tipis, level tersebut masih tergolong rendah secara historis dan menunjukkan pasar tenaga kerja AS belum mengalami gelombang PHK besar-besaran.

Rata-rata bergerak empat mingguan, yang sering digunakan untuk melihat tren yang lebih stabil, bahkan turun tipis menjadi 210.500 dari 210.750 pada pekan sebelumnya.

Sementara itu, jumlah klaim berkelanjutan atau klaim berkelanjutan turun 32.000 menjadi 1,819 juta untuk pekan yang berakhir 14 Maret 2026, sekaligus menjadi level terendah sejak Mei 2024. Tingkat penurunan tanggung jawab juga tetap berada di 1,2%.

(evw/evw) Add as a preferred
source on Google


Most Popular
Features